RSS

Kompetensi Sosial Guru

01 Mar

       Guru dipandang memiliki status, peran, dan fungsi sangat tinggi dan mulia. Sebagai contoh, guru dipandang memiliki status, peran, dan fungsi yang setingkat dengan ‘manusia setengah dewa’. Guru memiliki status dan tugas yang paling sulit, karena pekerjaannya membuat siswa memahami to make one understand is the most difficult. Sedngkan untuk membuat seseorang mengerti merupakan pekerjaan yang paling sulit. [1]

Berkaitan dengan pernyataan di atas, Rubin Adi Abraham mengatakan: “bahwa guru merupakan penentu keberhasilan pelaksanaan pembelajaran karena guru merupakan pemimpin pembelajaran, fasilitator, dan sekaligus pusat inisiatif pembelajaran. Itulah sebabnya, guru harus senantiasa mengembangkan kemampuan dirinya. Sedangkan untuk memperolah hasil yang baik dalam suatu rangkaian kegiatan pendidikan dan pembelajaran, seorang guru dituntut untuk memiliki kualifikasi tertentu yang terkadang disebut dengan kompetensi.[2]

 

Dengan demikian dapat diketahui bahwa memang dibutuhkan sebuah pendekatan khusus bagi siswa dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki banyak kompetensi.

Kompetensi berasal dari bahasa inggris competency sebagai kata benda -

competence yang berarti kecakapan, kompetensi, dan kewenangan.[3]

Kompetensi guru juga berarti suatau kemampuan atau kecakapan yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang dimiliki dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan fungsi profesionalnya.[4] Dalam kaitannya dengan interaksi guru dan siswa maka dibutuhkan kecakapan atau kompetensi sosial guru.

Terdapat beberapa pengertian tentang kompetensi sosial guru sebagai berikut:

Menurut Suharsimi, kompetensi sosial berarti bahwa guru harus memiliki kemampuan berkomunikasi sosial dengan siswa, sesama guru, kepala sekolah, dan masyarakatnya.[5]

Suherli Kusmana mendefinisikan kompetensi sosial dengan kompetensi guru dalam berhubungan dengan pihak lain.[6]

Tampak bahwa kompetensi sosial memang harus dimiliki oleh seorang guru. Oleh karena itu, Rubin Adi Abraham mendefinisikan kompetensi sosial yaitu kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.[7]

Sedangkan dalam UURI UURI no.14 pasal 10  tentang Guru dan Dosen bahwa kompetensi sosial guru adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan siswa, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat.[8]

Pakar psikologi pendidikan Gadner (1983) menyebut kompetensi sosial itu sebagai social intellegence atau kecerdasan sosial . kecerdasan sosial merupakan salah satu dari 9 kecerdasan (logika, bahasa, musik, raga, uang, pribadi, alam skuliner) yang berhasil diidentifikasi oleh Gadner.[9]

Berdasarkan beberapa pengertian kompetensi sosial di atas, maka kompetensi sosial guru berarti kemampuan dan kecakapan seorang guru (dengan kecerdasan sosial yang dimiliki) dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain yakni siswa secara efektif dalam pelaksanaan proses pembelajaran.

Mengajar di depan kelas merupakan perwujudan interaksi dalam proses komunikasi. Sedangkan kompetensi sosial guru dianggap sebagai salah satu daya atau kemampuan guru untuk mempersiapkan siswa menjadi anggota masyarakat yang baik serta kemampuan untuk mendidik dan membimbing masyarakat dalam menghadapi masa yang akan datang.[10] Selain itu, guru dapat menciptakan belajar yang nyaman.[11]

Dapat disimpulkan  bahwa berkaitan dengan pelaksanaan proses pembelajaran, guru di tuntut untuk memiliki kompetensi sosial. Dalam melakukan pendekatan dengan siswa guru harus memperhatikan bagaimana berkomunikasi dan berinteraksi dengan siswa. Dengan demikian, guru akan di teladani oleh siswa.

  1. 2.      Karakteristik Guru yang Memiliki Kompetensi Sosial

Setelah pemaparan pengertian kompetensi sosial guru di atas, maka perlu diketahui karakteristik dari kompetensi soaial guru. Suharsimi Arikunto mengemukakan, kompetensi sosial mengharuskan guru memiliki kemampuan komunikasi dengan siswa.[12] Di bawah ini akan diuraikan beberapa pendapat mengenai karakteristik guru yang memiliki kompetensi sosial yang.

Menurut Musaheri, karakteristik guru yang memiliki kompetensi sosial adalah berkomunikasi secara santun dan bergaul secara efektif.[13]

1)      Berkomunikasi secara santun

Made Pidarta dalam bukunya Landasan Kependidikan, menuliskan pengertian komunikasi adalah proses penyampaian pikiran dan perasaan seseorang kepada orang lain atau sekelompok orang. Ada sejumlah alat yang dapat dipakai mengadakan komunikasi. Alat dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Melalui pembicaraan dengan segala macam nada seperti berbisik-bisik, halus, kasar, dan keras bergantung kepada tujuan pembicaraan dan sifat orang yang berbicara.
  2. Melalui mimik, seperti raut muka, pandangan, dan sikap.
  3. Dengan lambang, contohnya ialah bicara isyarat untuk orang tuna rungu, menempelkan telunjuk di depan mulut, menggelengkan kepala, menganggukkan kepala, membentuk huruf “O” dengan tujuan dengan tangan dan sebagainya.
  4. Dengan alat-alat, yaitu alat-alat eletronik, seperti radio, televisi, telepon dan sejumlah media cetak seperti, buku, majalah, surat kabar, brosur, dan sebagainya. [14]

 

Empat alat di atas bisa digunakan guru ketika proses pembelajaran berlangsung.

Dengan adanya komunikasi dalam pelaksanaan proses pembelajaran berarti bahwa guru memberikan dan membangkitkan kebutuhan sosial siswa. Siswa akan merasa bahagia karena adanya perhatian yang diberikan guru sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

Eggen dan Kauchack sebagaimana dikutip oleh Zuna Muhammad dan Salleh Amat dan dikutip kembali oleh Suparlan mengatakan, bahwa kemahiran berkomunikasi meliputi tiga hal yaitu, 1) model guru; sebagai orang yang tingkahlakunya mempengaruhi sikap danperilaku siswa. 2) Kepedulian atau empati guru; empati berarti guru harus memahami orang lain dari perspektif yang bersangkutan dan guru dapat merasa yangdirasakan oleh siswa. 3) Harapan.[15]

Dalam buku Quantum Teaching disebutkan prinsip komunikasi ampuh yaitu, menimbulkan kesan, mengarahkan fokus, spesifik, dan inklusif. [16]

  1. menimbulkan kesan

Guru dituntut kreatif memanfaatkan kemampuan otak sebagai tempat menimbulkan kesan. Maka, menjadi penting sekali bagi guru untuk menentukan kata yang tepat dalam memberikan penjelasan kepada siswa. Oleh karena itu, sebaiknya guru menyusun perkataan yang komunikatif agar memberi kesan yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Misalnya, …………………………………………

Pembentukan kesan pertama terhadap orang lain memiliki 3 kunci utama. Pertama, mendengar tentang kepribadian orang itu sebelumnya. Kedua, menghubungkan perilaku orang itu dengan cerita-cerita yang pernah didengar. Ketiga, mengaitkan dengan latar belakang situasi pada waktu itu.[17]

Maka dari itu, dalam pelaksanaan proses pembelajaran, guru memperhatikan hal ini. Guru harus mampu memberi kesan pertama yang positif dan tetap untuk hari-hari berikutnya. Sehingga motivasi belajar siswa dapat tetap terjaga.

  1. Mengarahkan fokus

Mengarahkan fokus siswa merupakan langkah ke dua yang menuntut guru untuk memusatkan perhatian siswa dalam mengingat pelajaran yang telah disampaikan sebelumnya. Misalnya, “Anak-anak, kemarin kita sudah belajar tentang 9 hal yang disunahkan ketika berpuasa. Bersiaplah untuk menyebutkannya jika Ibu menunjuk kalian.” Maka dengan cepat siswa akan berusaha untuk mengingat penjelasan guru tersebut.

  1. Inklusif

Guru juga harus memilih kata secara inklusif, komunikatif, dan mengajak siswa untuk berperan aktif seperti, “Mari kita….”

  1. Spesifik

Guru juga harus menggunakan bahasa yang spesifik dengan jumlah kata yang sedikit atau hemat bahasa. Hal tersebut bertujuan agar siswa dapat memahami penjelasan guru dengan baik dan benar.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa guru perlu memperhatikan hal-hal di atas agar pelaksanaan proses pembelajaran berlangsung maksimal dan tidak memunculkan suasana yang membosankan yang dapat berpengaruh negatif terhadap siswa.

Berkaitan dengan komunikasi secara santun, Les Giblin menawarkan 5 cara termpil untuk melakukan komunikasi sebagai berikut:[18]

  1. Ketahuilah apa yang ingin anda katakan
  2. Katakanlah dan duduklah
  3. Pandanglah pendengar
  4. Bicarakan apa yang menarik minat pendengar
  5. Janganlah berusaha membuat sebuah pidato

Guru dapat menggunakan 5 cara di atas dalam berkomunikasi dengan siswa. Siswa akan merasa aman dan tenang dalam belajar, dengan adanya guru yang dapat mengerti kondisi siswa.

2)      Bergaul secara efektif

Menurut Musaheri, bergaul secara efektif mencakup mengembangkan hubungan secara efektif dengan siswa yang memiliki ciri; mengembangkan hubungan dengan prinsip saling menghormati, mengembangkan hubungan berasakan asah, asih, dan asuh. Sedangkan ciri bekerja sama dengan prinsip ketebukaan, saling memberi dan menerima.[19]

Dari pernyataan di atas, jelas bahwa dalam pelaksanaan proses pembelajaran, guru memang harus memperhatikan pergaulan yang efektif dengan siswa. Hal tersebut dapat memotivasi siswa untuk lebih giat belajar.

Sedangkan menurut Rubin Adi Abraham kompetensi sosial guru memiliki ciri diantaranya, memiliki pengetahuan tentang hubungan antar manusia, menguasai psikologi sosial, dan memiliki keterampilan bekerjasama dalam kelompok.[20]

  1. memiliki pengetahuan tentang hubungan antar manusia

Telah disinggung sebelumnya bahwa guru harus memiliki pengetahuan antar manusia. Hal ini terkadang disebut dengan interaksi sosial. Menurut H. Bonner sebagaimana dikutip oleh H. Ahmadi bahwa interaksi sosial adalah suatu hungan antar dua individu atau lebih dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki kelakuan incividu yang lain dari sebaliknya.[21]

Abu Ahmadi menambahkan, bahwa pelaksanaan interaksi sosial dapat dijalankan melalui:

1)      Imitasi (peniruan)

2)      Sugesti (memberi pengaruh) yaitu suatu proses dimana seorang individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman tingkahlaku dari orang lain tanpa kritik lebih dulu.

3)      Identifidasi yaitu keinginan untuk menyamakan atau menyesuaikan diri terhadap sesuatuyang dianggap mempunyai keistimewaan.

4)      Simpati (seperasaan) yaitu tertariknya orang satu terhadap orang lain. Simpati ini timbul tidak atas dasar logis rasional melainkan berdasarkan penilaian perasaan.[22]

 

Empat hal di atas terjadi dalam pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah. Siswa akan senantiasa berusaha meniru sikap dan tingkah laku yang ada pada guru. Sehingga guru juga perlu tahu bentuk-bentuk interaksi sosial sebagai berikut:[23] …………………………………………

  1. menguasai psikologi sosial

Proses pembelajaran berkaitan erat dengan psikologi sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, di lingkungan belajar mengajar terjadi interaksi sosial. Interaksi dilakukan oleh guru dan siswa baik di dalam atau luar kelas. Interaksi tersebut akan mendukung terhadap kelancaran proses pembelajaran di sekolah.

Abu Ahmadi mengatakan bahwa interaksi akan berjalan lancar bila masing-masing pihak memiliki penafsiran yang sama atas pola tingkah lakunya. Namun sebelumnya perlu diketahui tentang pengertian psikologi sosial terlebih dahulu. Oleh karena itu, ia menuraikan beberapa pendapat tokoh mengenai pengertian sebagai berikut:[24]

Panitia istilah Paedagogik yang tercantum dalam kamus paedagogik: psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang memelajari tingkah laku manusia.

Hubbert Bonner memberi pengertian psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia.

Roueck and Warren mendefinisikan psikologi sosial sebagai ilmu pengetahuan yang mempunyai segi-segi psikologis dari tigkah laku manusia, yang dipengaruhi oleh interaksi sosial.

      Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa perubahan pada tingkah laku dipengaruhi oleh interaksi sosial. Dan hal ini juga berlangsung dalam proses pembelajaran. Sehingga pembelajaran dapat terlaksana secara efektif dan menarik dari adanya interaksi guru dan siswa.

Dengan demikian, penguasaan psikologi sosial menjadi salah satu kriteria guru yang memiliki kompetensi sosial. Guru harus memahami pola tingkah laku siswa. Sehingga interaksi guru dan siswa dapat berjalan dengan lancar. Guru dapat dengan mudah mengetahui permasalahan yang terjadi kepada siswa. Pada akhirnya, guru akan membantu siswa untuk memecahkan masalah yang mengganggu terhadap kelancaran belajar.

  1. memiliki keterampilan bekerjasama dalam kelompok.

Berkaitan dengan pemberian pemahaman kepada siswa, guru juga dituntut untuk memiliki keterampilan bekerja sama dalam kelompok.sehingga guru dapat mengembangkan keterampilannya dalam pembelajaran. Kemampuan guru tersebut dapat meningkatkan semangat belajar siswa dan membangun rasa percaya diri bagi siswa.

Pernyataan di atas sesuai dengan pendapat Robert E. Slavin yang mengatakan bahwa akibat positif yang dapat mengembangkan hubungan antar kelompok adalah adanya penerimaan terhadap teman sekelas yang lemah dalam bidang akademik, dan meningkatkan rasa harga diri.[25]

Demikianlah kriteria yang harus dimiliki oleh guru yang memiliki kompetensi sosial. Penulis sendiri menambhakan bahwa selain karakteristik yang disebutkan oleh Musaheri dan Rubin Adi, gurujuga harus memiliki kemampuan memberikan umpan balik[26]. kepada siswa dan turun tangan langsung ketika siswa mengalami masalah.

 

 

  1. 3.      Fungsi dan Manfaat Kompetensi Sosial Guru

Suparlan memasukkan puisi tentang guru karya Hatoyo Adangjaya yang menggambarkan guru sebagai agen sosial sebagi berikut:[27]

Dari Seorang Guru kepada Muridnya

Apakah yang kupunya anak-anakku,

Selain buku dan sedikit ilmu,

Sumber pengabdian kepadamu

Kalau di hari minggu engkau datang ke rumahku,

Aku tahu anak-anakku,

Kursi tua yang di sana,

Dan meja tulis sederhana,

Dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya,

Semua padamu akan bercerita,

Tentang hidupku di rumah tangga,

Ah, tentang ini aku tak pernah bercerita di depan kelas,

Menatap wajahmu remaja,

­___ Horizon yang selalu biru bagiku ___

Karena ku tahu anak-anakku,

Engkau terlalu bersih dari dosa,

Untuk mengenal semua ini.

 

Dari puisi tersebut, jelas terlihat fungsi guru secara umum yaitu;

  1. Motivator bagi siswa
  2. sebagai orang yang mengajarakan tentang makna pengabdian diri
  3. sebagai orang yang mengajarkan arti keikhlasan yang sebenarnya.

Interaksi dan komunikasi berperan penting terhadap kelancaran pembelajaran. Karena itu, guru dituntut memiliki kompetensi sosial. Rubin Ali menguraikan manfaat guru yang berkompetensi sosial dengan mengatakan bahwa bila guur memiliki kompetensi, maka ia akan diteladani oleh siswa-siswanya. Sebab selain kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, siswa juga perlu diperkenalkan dengan kecerdasan sosial (sosial intellegence). Hal tersebut bertujuan agar siswa memiliki hati nurani, rasa peduli, empati dan simpati kepada sesama. Sedangkan pribadi yang memiliki kecerdasan sosial ditandai adanya hubungan dengan adanya hubungan yang kuat dengan Allah, memberi manfaat kepada lingkungan, santun, peduli sesama, jujur, dan bersih dalam berperilaku.[28]

Nyata dari pernyataan Rubin bahwa manfaat kompetensi sosial guru mengarahkan siswa untuk memiliki kecerdasan sosial yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari di tengah lingkungan sosial.

  1. 4.      Upaya Meningkatkan Kompetensi Sosial Guru

Guru merupakan sosok yang diteladani siswa.dalam budaya Jawa sebuah pepatah mengatakan guru digugu lan ditiru yang berarti guru didianut dan diteladani. Maka dalam pelaksanaan proses pembelajaran, guru diharapkan mampu melakukan hubungan sosial yang baik dengan siswa melalui interaksi dan komunikasi. Walau bagaimana pun, kepribadian guru akan selalu menjadi perhatian setiap siswa.

Dalam tulisannya, Suwardi mengatakan bahwa guru memang perlu memperhatikan hubungan sosial dengan siswa. Karena hubungan keduanya berlangsung di dalam dan di luar kelas. Hubungan tersebutberpengaruh langsung terhadap tujuan pembelajaran. Kesuksesan hubungan guru dan siswa juga kan mendukung suasana pembelajaran yang menyenangkan.[29]

Berkaitan dengan hubungan sosial guru dan siswa maka perlu ada upaya-upaya dalam meningkatkan kompetensi sosialnya yang akan diuraikan sebagai berikut:

1)      Mengembangkan kecerdasan sosial

Mengembangkan kecerdasan sosial merupakan suatu keharusan bagi guru.hal tersebut bertujuan agar hubungan guru dan siswa berjalan dengan baik. Berkaitan dengan pernyataan tersebut Gordon sebagaimana dikutip oleh Suwardi menulis bahwa terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru yaitu:

  1. baik guru maupun siswa memiliki keterbukaan, sehingga masing-masing pihak bebas bertindak dan saling menjaga kejujuran.
  2. baik guru maupun siswa memunculkan rasa saling menjaga, saling membutuhkan, dan saling berguna.
  3. baik guru maupun siswa merasa saling berguna
  4. baik guru maupun siswa menghargai perbedaan, sehingga berkembang keunikannya, kreativitasnya, dan individualisasinya
  5. baik guru maupun siswa merasa saling membutuhkan dalam pemenuhan kebutuhannya.[30]

 

Dari hal-hal di atas jelas bahwa guru hendaknya mengupayakan pengembangan kecerdasan sosialnya. Karena kecerdasan sosial guru akan membantu memperlancar jalannya pembelajaran serta dapat menghilangkan kejenuhan siswa dalam belajar.

Mengembangkan kecerdasan sosial dalam proses pembelajaran antara lain dengan belajar memahkan masalah dari contoh kasus sosial, dan bahkan menurut Rubin bisa dengan mengadakan diskusi dan melakukan kunjungan langsung ke masyarakat.[31] Dengan demikian akan tertanam rasa peduli terhadap kepribadian siswa. Selain itu siswa juga akan dapat memecahkan masalah, khususnya yang berkenaan dengan hal-hal yang mengganggu belajar dengan dirinya sendiri.

2)      Mengikuti pelatihan berkaitan dengan kompetensi sosial guru

Untuk mengembangkan kompetensi sosial guru hendaknya mengikuti pelatihan-pelatihan berkaitan dengan kompetensi sosial. Namun sebelum itu juga perlu diketahui tentang target atau dimensi-dimensi kompetensi ini yaitu; kerja tim, melihat peluang, peran dalam kegiatan kelompok, tanggung jawab sebagai warga, kepemimpinan, relawan sosial, kedewasaan dalam berelasi, berbagi, berempati, kepedulian kepada sesama, toleransi, solusi konflik, menerima perbedaan, kerjasama, dan komunikasi.[32]

3)      Beradaptasi di tempat bertugas

  1. B.     Tinjauan Teoritis tentang Keaktifan Belajar
    1. Pengertian Keaktifan Belajar

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang berpotensi untuk pertama-tama belajar tentang dirinya, kemudian berusaha belajar menjadi dirinya itu, dengan cara belajar mengekspresikan potensinya ke dunia lua (inside out)…natur manusia itu adalah pembelajar. Ia hidup, mulai di dalam kandungan, lahir ke muka bumi, menjadi batita, lalu balita, kanak-kanak, remaja, pemuda dan dewasa, tua, dan kemudian meninggal dunia. Dalam seluruh proses itu pembelajaran adalah hal terpenting dalam arti manusia itu hidup untuk belajar.[33]

 

Dari pernyataan Andria di atas dapat diketahui arti penting belajar dalam kehidupan manusia yang berlangsung sejak dalam kandungan. Islam juga mengajarkan tentang urgensi belajar sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yaitu

أُطْلُبُ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلَى اللَّهْدِ

        Oleh karena itu, kaitannya dengan proses pembelajaran, potensi yang ada dalam diri siswa harus dikembangkan. Sehingga potensi siswa dapat terasah dan terarah. Pembelajaran ini mendukung siswa untuk tumbuh dan berkembang sehingga berkemampuan menjadi dewasa dan mandiri.[34] Hal tersebut dapat diupayakan dengan adanya keaktifan siswa dalam pelaksanaan proses pembelajaran.

Abu Fatimah mengatakan bahwa sebenarnya naluri dan jiwa siswa selalu ingin mengetahui hal-hal yang baru dan ingin membongkar sesuatu yang menarik.[35] Oleh karena itu, perlu diketahui terlebih dahulu apa arti keaktifan belajar.

Keaktifan memiliki arti Keaktifan adalah kegiatan; kesibukan.[36] Adapun belajar diartikan dengan  berubah tingkah laku disebabkan oleh pengalaman.[37] Sardiman juga mengartikan belajar sebagai perubahan tingkah laku atau penampilan dengan adanya serangkaian perbuatan.

Adapun yang dimaksud dengan keaktifan belajar adalah serangkaian kegiatan atau kesibukan dalam rangka memperoleh perubahan secara aktif dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Sedangkan dalam penelitian ini, keaktifan belajar diartikan dengan serangkaian kegiatan guna memperoleh perubahan secara aktif dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap.

W. Nugroho mengartikan belajar bukan hanya sekedar agar memperoleh fakta yang lebih banyak tetapi  belajar lebih kepada untuk memahami hal-hal baru dan dapat menngetahui cara-cara yang lebih baik untuk melakukan banyak hal lainnya.[38]

Sedangkan menurut Oemar Hamalik belajar adalah proses perubahan tingkah laku pada diri seseorang berkat pengalaman dan latihan melalui interaksi antara individu dan lingkungannya.[39]

Adapun arti keaktifan dalam KBBI diartikan dengan kegiatan; kesibukan kerja.[40] dengan demikian, keaktifan belajar merupakan kegiatan yang mengarah pada adanya proses yang mengubah tingkah laku melalui adanya pengalaman dan latihan sehingga muncul pemahaman-pemahaman baru sekaligus mengetahui cara yang lebih tepat untuk melakukan sesuatu.

Sistem pendidikan nasional di Indonesia bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepadaTuhan Yang Maha Esa  dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dasn ketermpilan, kesehatan jasmanidan rohani, kepribadian yang mantap dan  mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. [41]

Tujuan diatas akan dapat terlaksana dengan maksimal jika benar-benar di hayati dan dilakukan dalam proses pembelajaran. Hal tersebut juga menuntut adanya partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran. Berarti, keaktifan belajar merupakan bagian integral dan menjadi hal penting yang harus diperhatikan dalam pelaksanan proses pembelajaran.

  1. Prinsip-Prinsip Belajar Aktif

Prisip belajar merupakan petunjuk atau cara yang perlu diikuti untuk melakukan kegiatan belajar. Perbuatanbelajar yang dilakukan oleh siswa merupakamreaksi atau hasil kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru siswa akan berhasil belaaajar jika guru mengajar secara efisien dan efektif. Itu sebabnya guru perlu mengenal prinsip –prisip belajr agar para siswa belajar aktif dan berhasil.

1)      pengalaman dasar

2)      motifasi belajar

3)      penguatan

  1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keaktifan Belajar
  2. C.    Pengaruh kompetensi sosial guru terhadap keaktifan belajar siswa
    1. Terciptanya pembelajaran yang kondusif
    2. Terciptanya interaksi edukatif guru-siswa
    3. Membangkitkan kepercayaan diri siswa
    4. Meningkatkan keaktifan belajar


[1] Suparlan, Guru Sebagai Profesi, (Yogyakarta: HIKAYAT Publishing, 2006), hal. 17.

[3] Echos  dan  Shadily, Kamus  Inggris–Indonesia, Cet. XXV (Jakarta: PT. Gramedia, 2004)

[4] Suwardi, Manajemen pembelajaran Mencipta Guru Kreatif dan Berkompetensi,… hal. 4.

[5] Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi… hal. 239.

[8] UURI No.14 Th. 2005 tentang UU Guru dan Dosen pasal 10, hal. 53

[11] Ahli pendidikan modern merumuskan sebagai suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam  diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Tingkah laku yang baru itu, misalnya tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian baru, timbul dan berkembangnya sifat-sifat social, susila, dan emosi

[12] Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi… hal. 239.

[13] Musaheri, ke-PGRI-an, (Jogjakarta, DIVA Press, 2009), hal. 203.

[14] Made Pidarta, Landasan Kependidikan; Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2007), hal. 156.

[15] Suparlan, Menjadi Guru Efektif, (Yogyakarta: Hikayat Publishing, 2005), 129-130

[16] Bobbi DePorter dkk, Quantum Teachin: Mempraktikkan Quantum Learning di Luar Kelas, terjemahan oleh Ary Nilandari (Bandung: Kaifa, 2003), cet.11, hal.118.

[17] Made Pidarta, Landasan Kependidikan; Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia,…hal. 220.

[18] Les Giblin, Skill With People, alih bahasa; Y. Dwi Helly Purnomo, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka, 2009), cet. 15, hal. 69.

[19] Musaheri, ke-PGRI-an,…. hal. 204.

[21] Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), hal. 44.

[22] Ibid.

[23] Made Pidarta, Landasan Kependidikan; Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia,…hal. 157.

[24] Abu Ahmadi, Psikologi Sosial, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1990), hal. 2,3

[25] Robert E. Slavin, Cooperative Learning; Teori Riset dan Praktik, penerjemah: Nurulita (Bandung: Nusa Media, 2008), hal. 5.

[26] Stone dan Nielson sebagaimana dikutip Muhammad Ali, bahwa balikan mempunyai fungsi untuk membantu siswa memelihara minat dan antusiasnya dalam melaksanakan tugas belajar. salah satu alasan yang dikemukakan adalah bahwa belajar itu ditandai oleh adanya keberhasilan dan kegagalan. Keberhasilan berdampak hadiah (reward) dan dapat menjadi penguat (reinforcement) terhadap hasil belajar. hal tersebut dapat memberi rangsangan dan motivasi baru dalam belajar. sedangkan kegagalan berdampak hkuman (punishment)dan dapat menghilangkan (extinction) tingkah laku yang tidak diinginkan. Hukuman tersebut menyebabkan siswa tidak mengulangi kegagalan yang dibuatnya. Ini menjadi alasan umpan balik menjadi begitu urgen dalam pembelajaran. Lih. Muhammad Ali, Guru dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru al-Gensindo, 2008), hal. 7.

[27] Sumber puisi tersebut diperoleh dari Gedung Semeru, PPPG, kejuruan, Jakarta, dikutip saat mengikuti kegiatan workshop Penjaminan Mutu Pendidikan, oleh Direktorat Tenaga Kependidikan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional. Lih. Suparlan, Guru Sebagai Profesi,… hal. 29

[29] Suwardi, Manajemen pembelajaran Mencipta Guru Kreatif dan Berkompetensi,… hal. 162.

[30] Ibid. hal. 162-163.

[33] Andrias Harefa, Mutiara Pembelajar, (Yogyakarta: Gloria Lyber Ministries, 2001), hal, 39.

[34] Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti semakin mampu bertanggung jawab atas diri sendiri dan menolak pemaksaan kehendak, dari apa pun yang berada di luar diri. Selain itu juga berarti semakin mampu menyatakan, mengaktualisasikan mengeluarkan potensi yang dipercayakan (dititipkan)sang Pencipta, menjauhkan kecenderungan suka meniru dan sekedar ikut-ikutan. Lebi jelas lih. Andrias Harefa Mutiara Pembelajar…hal.79

[35] Abu Fatimah, Belajar itu Mak Nyuss!, (Jakarta: Gen! Mirqat, 2008), hal. 6.

[36] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), hal.23

[37] Ibid. hal. 17

[38] W. Nugroho, Belajar Mengatasi Hambatan Belajar, (Jakarta : prestasi pustaka, 2007), hal. 1

[39] Oemar hamalik, Strategi belajar mengajar berdasarkan CBSA, (Bandung: sinar baru al-binsindo, 2009), hal.16

[40] Peter Salim,Kamus Besar Bahasa Indonesia,()

[41] W. Nugroho, Belajar Mengatasi Hambatan Belajar,…. hal. 15

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 1, 2012 in Uncategorized

 

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.898 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: