MERAWAT ALAM MENYELAMATKAN ANAK CUCU


Lingkungan alam yang kita tempati ini sangat berjasa dalam menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan. Dari semenjak lahir sampai terkubur, alam telah dengan suka rela menyediakan tempat. Dialah yang telah menyediakan ruang, sebagaimana pendapat Prof. Otto Soemarwoto, yang mempengaruhi kehidupan kita,

Foto hasil alam Madura yang dinikmati bersama.

Tapi sayang, kita melupakan jasa alam yang kita tempati ini. Kita eksploitasi isi alam, kita hancurkan habitat alam, dan kita hancurkan apa-apa yang secara gratis alam sediakan. Kita tuli akan jeritan alam melalui banjir, tanah longsor, kekeringan dan sebagainya. Dengan keserakahan kita, persediaan yang alam berikan itu kita kuras sampai ke akar-akarnya. Sungguh, manusia memang makhluk penghancur alam paling dahsyat.


Apa yang penulis gambarkan di atas, bukan isapan jempol belaka. Sebagaimana telah diinfokan dalam koran ini; KM edisi Rabu, 8 Januari 2017 dengan tajuk berita “Tanpa Penindakan, Galian C Bebas Beroperasi”, adalah fakta yang amat memperihantinkan kita selaku insan yang sangat bergantung pada kelestarian alam ini.


Sebenarnya, apa yang terjadi pada alam Madura dan bagaimana mengatasi banjir yang sering terjadi di tanah ini, telah penulis tulis dalam rubrik Opini KM, edisi Rabu 23 November 2016 dengan tema “Menangkal Banjir di Pulau Madura”. Solusi yang penulis tawarkan di artikel itu telah jelas dan gamblang sebagai saran solutif agar kita terhindar dari mara bahaya banjir yang senantiasa mengintip tanah Madura. Akan tetapi, sepertinya tulisan itu tidak cukup untuk mengatasi cara hidup kita bersama alam yang kita cintai ini, tanpa ada follow up lebih lanjut.


Kabar yang koran ini infokan di atas, terjadi di Sampang. Dan tambang galian C tersebut berlindung pada Undang-Undang No. 23 tahun 2014 tantang Pemerintahan Daerah pasal 14, sehingga sang pemilik modal besar merasa boleh seenaknya menghancurkan alam dengan alat-alat berat yang mereka operasikan karena merasa mendapat izin dari pemerintahan kabupaten setempat. Akan tetapi, pembaca akan terkejut jika menelusuri jalan-jalan pantai utara Madura dari ujung barat sampai ujung timur. Di celah-celah gunung berbatu cadas itu muncul mesin-mesin penghancur batu untuk dijadikan bahan-bahan bangunan. Sekarang kita tak usah repot-repot lagi mengais pasir di bantaran sungai, atau pinggir-pinggrir pantai, cukup datang pada tukang penghancur batu tersebut, kita pun mendapat pasir atau kerikil yang diinginkan. Tambang batu tersebut bukan hanya di pantura Madura, tetapi menyebar di seantero bukit-bukit di Madura. Mulai dari bukit Dhampol, Toronah Bragung, sampai di bukit Congapan, Guluk-Guluk.


Lain lagi yang ada di desa Pakondang Laok, Rubaru, Batu Putih, Lebang Barat, Pasongsongan, dusun Langdulang, Sanah Tengah, Pasean, Co’gunong, Waru, dan lain-lain tempat di Madura ini. Sungguh ironis pertambangan tersebut meraja lela tanpa dapat dikendalikan oleh pemerintah setempat. Secara kasat mata, tambang-tambang batu itu tak berizin, sehingga mereka menikmati hasil alam tanpa sedikitpun menguluarkan pajak untuk kas negara ini.


Dari pantauan penulis, memang mesin-mesin yang beroperasi bukan mesin besar, seperti bego misalnya, tapi hanya mesin yang berkapasitas antara 12 sampai 24 HP/PK. Akan tetapi, kuantitasnya sangat luar biasa banyak, sehingga celah-celah batu cadas di gunung-gunung tersebut telah mulai hilang, dan akan mengancam habitat hutan serta binatang yang ada di sekitar tambang itu.



Perlunya Kesadaran Bersama

Tanpa adanya kesadaran berjamaah, mustahil kita dapat menghentikan eksploitasi alam ini. Kerusakan lingkungan alam bermula dari hasrat tak terbendung dalam diri kita untuk memperkaya diri sendiri. Jamak terjadi, penggundulan hutan sampai kepada penambangan galian C sebagaimana disinggung ini, berawal dari pemikiran instan kita bagaimana menjadi kaya harta tanpa harus tertungkus-lumus terlebih dahulu. Di tambah dengan tidak tegasnya aparat pemerintah terkait karena ada pola-pola tertentu yang menyebabkan mereka tumpul bertindak, misalkan ada beking aparat yang telah disogok, sehingga penambang-penambang batu liar itu leluasa bertindak. Data yang penulis himpun, memang demikian keadaannya.


Kesadaran bersama inilah kunci dari segala hal keruwetan terkait dengan lingkungan alam kita ini. Kita perlu duduk berdiskusi satu meja dengan berbagai komponen yang ada, kemudian pemerintah mencarikan titik temu bagaimana para penambang itu bergiat. Jika menambang secara liar dapat dihentikan, tingkat kerusakan alam juga akan berhasil dihentikan.



Menanamkan Kembali Semangat Kemaduraan Orang Madura

Disadari atau tidak, watak kemaduraan kita yang telah melekat dari generasi-generasi terdahulu, saat ini mulai luntur. Semangat juang yang gigih, pantang menyerah terhadap kondisi yang ada, jujur, pemalu, sederhana, tolong-menolong, apa adanya, terus-terang berbicara, disiplin, berani dan setia, rela mati demi kehormatan diri, dan sebagainya, mulai hilang dari orang-orang Madura.


Disadari bersama, sejak banyak sekali orang-orang Madura merantau ke berbagai tempat di muka bumi ini, pulang ke Madura membawa warna baru dalam pergaulan sosial masyarakat. Sampai tahap ini, penulis masih menganggap wajar sebab perubahan itu memang sifat manusia yang selalu dinamis, dan tentu, itu akibat adanya asimilasi dan akulturasi dengan masyarakat luar di mana orang Madura itu merantau.


Akan tetapi, jika telah mencapai suatu tindakan yang diluar kewajaran dalam pandangan adat Madura, misalnya suka dogem, bergank ria, perselingkuhan, sampai pada penghancuran tata lingkungan alam, maka tentu sangat perlu penyadaran akan watak kemaduraan yang hilang ini. Tugas penyadaran tersebut dimulai dari keluarga terkecil, merambat ke institusi pendidikan, lingkungan masyarakat sekitar, sampai pada institusi pemerintahan.


Pola berjenjang ini membutuhkan keseriusan untuk mengembalikan semangat itu agar orang-orang Madura bermuruah kembali. Tentu saja, semangat itu bersifat umum tetapi akibat positif lainnya, kita akan kembali dapat memelihara alam lingkungan yang diterabas oleh sifat kerakusan kita sendiri. Mengembalikan watak hidup sederhana, memang sangat sulit mengingat sifat kita telah kadung konsumtif, tapi bukan berarti tidak dapat. Ini sangat bergantung pada kemauan bersama. Mau berubah ke jalan lebih baik, atau tetap menjadi orang yang suka menghancurkan alam raya ini. Mari berpikir, lalu berasa.@

Wallau a’lam.


DIMUAT DALAM KORAN KABAR MADURA, EDISI 24 FEBRUARI 2017.

KELUARGA SAMARA DAMBAAN KITA 


Keluarga merupakan oese atau wahah kehidupan anak-anak. Dalam keluargalah seorang anak pertama kali berinteraksi mengenal dunia luar. Dalam keluarga pula seorang anak belajar membaca, menulis dan berhitung. Dalam segala hal, keluarga merupakan pembentuk watak, perilaku sosial-budaya, pemikiran, gairah hidup, sampai pemupukan pemahaman keagamaan.

(Foto: Kami bertiga, putri pertama tak kelihatan)

Sebagai sumber segala hal akan eksistensi seorang anak dalam kehidupan lebih luas kelak, keluarga memang harus selalu meneguhkan diri untuk berperan dalam mengembangkan pendidikan anak-anaknya. Sebab dalam berbagai penelitian yang dilakukan para ahli pendidikan keluarga, seorang anak akan sukses dalam segala hal, atau malah gagal dalam cabaran kehidupannya kelak, bergantung pola pendidikannya dalam keluarga itu sendiri. Tepat kiranya, apa yang disampaikan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW dalam hadis yang sahih bahwa seorang anak itu ibarat kertas putih, bersih dan suci. Akan menjadi Majusi, Yahudi atau Nasrani adalah bergantung pada didikan kedua orang tuanya di rumah.


Melihat betapa signifikannya peran keluarga, maka semestinya kita lebih memahami dengan baik akan peran itu. Problematika seorang anak yang kerap dialami oleh mereka, bermula dari keberadaan keluarga yang kurang atau malah tidak paham akan peran pendidikan dalam membentuk perilaku seorang anak. Oleh karena itu, di bawah ini penulis akan membahas lebih jauh bagaimana solusi terbaik dalam meneguhkan peran itu demi kesuksesan seorang anak.



Pertama, Sebelum Membentuk Keluarga

Penting sekali bagi manusia muda yang ingin membentuk keluarga sakinah, mawaddah, dan penuh rahmat (samara), yaitu bekal diri sebelum membina keluarga. Bekal ini meluputi bekal jiwa dan bekal raga atau jasmani. Bekal jiwa yang harus melekat pada diri calon bapak atau ibu dalam keluarga nanti, seperti penguasaan ilmu-ilmu agama dalam kaitannya dengan peran, hak dan kewajiban masing-masing pasangan dalam keluarga itu.


Bekal ilmu agama akan menjadi dasar paling utama bagaimana biduk keluarga berlayar di bahtera keluarga nantinya. Dengan ilmu agama yang baik, kelurga itu tak akan mudah stress, putus-asa, atau mengambil jalan pintas. Dengannya pula, keluarga yang dibina akan menjadi kokoh dalam akidah sebagai dasar berkeyakinan pada Tuhan. Rentetan lebih jauh, keluarga itu tak mudah mengalami goncangan nilai, atau ketergerusan kepercayaan atau tauhid. Mereka dengan kokoh akan berhasil mengatasi iming-iming keduniaan. Apalagi menukar agamanya hanya dengan pengobatan gratis, pemberian beras, atau mei instant misalnya. Semua akan dapat dilalui dengan pasti.


Disamping kokoh dalam urusan keyakinan, dengan ilmu agama yang baik, keluarga akan dapat menjadi suri teladan bagi generasi yang dilahirkan. Nanti bila tiba waktunya, sanga Ayah akan menjadi imam dalam shalat lima waktu mereka, dan sang ibu akan menjadi panutan bagaimana bertingkah dalam rumah tangga. Apalagi komposisi kepemimpinan atau tanggung jawab dijalankan dengan baik. Sang ayah menjadi presiden tertinggi dalam keluarga dan menerapkan sistem demokrasi dalam kepemimpinannya, serta menafkahi lahir batin atas apa yang dipimpinnya. Sementara, sang ibu menjadi pemimpin dalam urusan anggaran rumah tangga dan pengelolaan keuangan lainnya, dengan tidak melupakan fokus pembinaan mental anak-anaknya. Dan, sang anak juga diberi tanggung jawab memimpin pada apa yang menjadi tanggung jawabnya.


Dengan pendidikan ilmu agama yang mantap, keluarga ini akan paham secara detail hukum-hukum fiqih, baik masalah pensucian dari berbagai hadas dan najis, masalah shalat sebagai tiang agama, masalah muamalah sebagai ibadah sosial, dan lain-lain. Dapat dipastikan, dengan ilmu ini semua yang menyangkut hak dan kewajiban masing-masing orang akan menjadi mudah.


Setelah ilmu agama pada masing-masing calon pembina rumah tanggal telah baik, maka persiapan kedua adalah mempersiapkan ilmu-ilmu yang menyangkut hajat hidup di dunia ini. Sebut saja ilmu ini dengan ‘ilmu umum’ dengan mengikuti pembagian yang lumrah di masyarakat kita, walau sebernarnya dikotomi ‘ilmu agama’ dan ‘ilmu umum’ selayaknya dihilangkan, mengingat agama Islam tak pernah membedakan diantara keduanya.


Mempunyai  kemampuan yang baik akan urusan keduniaan, maka calon-calon pembina keluarga akan siap betanggung jawab dalam urusan pembelanjaan nafka dahir rumah tangganya. Hal ini amat penting agar keluarga yang dibina kelak tidak akan mendapat goncangan gara-gara tuntutan kebutuhan hidup yang terus membengkak.



Kedua, Setelah Membentuk Rumah Tangga

Jika persiapan pra membentuk rumah tangga, sebagaimana dibahas di atas telah dimiliki dengan baik oleh calon-calon pembina keluarga, maka bersegeralah membentuk keluarga. Keluarga yang baik berawal dari rumah tangga yang baik. Dalam rumah tangga, hak dan kewajiban masing-masing anggota keluarga harus benar-benar selaras dan dijalankan secara seimbang. Ini juga menyangkut peran anggota keluarga yang sejalan dengan fumgsinya masing-masing.


Dalam rumah tangga ideal, sebagai masyarakat terkecil dalam sistem atau hirarki sosial, problematika kehidupan yang memang jamak terjadi akan diselesaikan dengan cara demokratis. Walau masalah yang ada dalam rumah tangga ibarat masakan dan garam, atau bumbu penyedap rasa, bukan berarti rumah tangga harus selalu menciptakan masalah. Malah masalah yang ada tersebut segera dicari jalan keluarnya. Jangan diendapkan, sebab akan menimbulkan dampak ledakan yang hebat dan goncangan prahara rumah tangga semakin menjadi-jadi.


Rumah tangga ideal juga berusaha menghindari anggota keluarga dari gosip-gosip murahan. Oleh karenanya, rasa tanggung jawab dan sifat amanah dari masing-masing anggota tersebut harus dikedepankan. Ini mengingat, kisah perceraian dalam rumah tangga, salah satu penyebab terbesar adalah adanya pihak ketiga yang menggrogoti sendi-sendi cinta kasih dalam keluarga yang melibatkan pasangan masing-masing.



Ketiga, Membentuk Pendidikan Anak

Terakhir, setelah melalui dua tahap di atas, tujuan akhir keluarga adalah mencetak generasi insan kamil melalui anak-anak yang baik dan cerdas. Penulis berkeyakinan, jika dua tahap itu berhasil diwujudkan dalam setiap keluarga, maka zuriat yang dilahirkan oleh rumah tangga tersebut benar-benar menjadi generasi unggulan dan siap menjadi cikal-bakal masyarakat madani.


Kisah orang-orang besar di dunia ini menjadi acuan pendapat penulis, baik di kalangan muslim atau non-muslim. Dan pembaca dapat menambahkannya sendiri jika dirasa kurang. Orang-orang besar itu, terlahir dari keluarga harmonis (untuk menghindari istilah ‘samara’) walau miskin harta dan kemudian sebagian menjadi yatim-piatu, misalnya Muhammad SAW, para Sahabat dan Sahabiyah, para Imam-Imam madzhab, para ulama salaf dan khalaf, atau bahkan para tokoh nasional kita, seperti KH. Hasyim Asy’ary, KH. Ahmad Dahlan, KH. Agus Salim, dan lain-lain. Demikian pula dari kalangan non-muslim, seperti Issac Newton, Galilieo, Gothe, Comte, atau bahkan Marx-pun terlahir dari keluarga Yahudi miskin tapi harmonis walau Marx sendiri dalam membina rumah tangga berakhir tragis.


Kisah-kisah para pembesar dunia menjadi acuan kita dalam membentuk pola pendidikan anak-anak. Yang terbesar, hemat penulis memang contoh dari Rasulullah SAW dalam mewujudkan pendidikan terbaik pada anak-anak dan cucu-cucunya. Bahkan Rasulullah SAW sampai memberikan tuntunan pada kita melalui hadis sahih bahwa kita ‘diperintah’ untuk mendidik anak-anak kita sesuai dengan zamannya. Ini suri teladan luar biasa, sebab Rasulullah SAW benar-benar paham bahwa manusia akan selalu mengalami dinamisasi dalam hidupnya. Manusia abad ke 7 di mana beliau hidup, jelas tak akan sama dengan manusia abad XXI ini bila ditinjau dari aspek politik, sosial, budaya, ekonomi, dan ipteknya.


Dengan berusaha membentuk pendidikan anak-anak sesuai tuntunan dan tahapan di atas, dapat diharapkan generasi emas Indonesia ke depan bukan sesuatu yang mustahil digapai. Mereka akan berperan sebagai motor kemajuan bangsanya. Semoga kita bisa mewujudkan sesuai dengan tahapan tersebut dan berharap generasi zuriat kita nanti akan lebih baik dari kita sendiri, amin. @

Wallahu a’lam.


Dimuat dalam koran Kabar Madura edisi 14 Februari 2017.

APA KABAR PROVINSI MADURA?


Sangat lama penulis menunggu lahirnya provinsi baru ke 35 ini (secara urutan memang harus begitu jika tak ada yang mendahului lagi). Entah mengapa, lahirnya ‘bayi’ provinsi untuk pulau Madura dan pulau-pulau kecil lainnya sangat diinginkan, tapi sangat lambat. Sangat, sangat lambat! Bukankah inprastruktur dan suprastrukturnya telah siap? Gaung besar waktu kunjungan presiden Joko Widodo ke tanah ini, dengan membentang binner gede di atas jembatan Suramadu tahun 2016 lalu, seakan hanya angin lalu. Sungguh, gelagat besar, tapi unjuk diri sangat kecil sehingga kitapun masih lebih suka menggantangi asap.

(Pulau Madura yang akan menjadi Provinsi Madura suatu saat. Sumber foto:www.sayangi.com)

Penulis tak habis pikir akan kenyataan yang ada dengan persoalan provinsi Madura yang digagas (tepatnya, diwacanakan) jauh-jauh hari sejak 2000-an dulu, tapi hingga tahun 2017 ini tak ada juntrung-nya. Gagasan membantuk Madura sebagai provinsi mandiri, sebenarnya sama dengan gagasan-gagasan di berbagai daerah nusantara, seperti Bangka Belitung, Kep Riau, Banten, Maluku Utara, Papua Barat, Gorontalo, Kalimantan Utara, dan sebagainya. Hanya saja, mereka berhasil mewujudkan gagasannya, sementara kita masih jauh asap daripada api.

Beberapa waktu lalu, penulis mencoba mengkritisi keinginan Madura agar menjadi provinsi yang lepas dari Jawa Timur, dan penulis tulis di koran Kabar Madura, Selasa, 11 Oktober 2016 lalu dengan judul opini “ Local Genius Madura dan Hasrat Menjadi Provinsi Mandiri”. Dalam artikel itu telah penulis jelaskan bahwa tidak mudah bagi orang-orang Madura untuk melepaskan diri dari saudara tua kita, yakni Jawa secara keseluruhan. Sebab sosio-historis kita memang menyatu dengan Jawa, pun secara aspek ekonomi, tidak mungkin rupanya bagi kita untuk mandiri dan lepas dari ekonomi Jawa. Kecuali, bahan tambang dan wisata kelautannya.

Tapi bukan tidak mungkin sama sekali terlepas dari kungkungan saudara tua kita dengan membentuk wilayah sendiri, lepas dari Jawa timur itu. Hal keinginan terlepasnya ini, semata-mata bila kita lihat dari sumber daya manusianya (SDM), yang telah maju dan tak akan kalah bersaing lagi dengan SDM saudara tua kita tersebut. Kecuali dari betapa majunya SDM di Madura ini, kita tak bisa tutup mata, bahwa Madura amat bergantung dengan Jawa dari aspek-aspek yang lain.

Peluang Menjadi Wilayah yang Benar-Benar Mandiri.

Memang, Madura bagian sub kultur dari Jawa. Jelas sekali anggapan ini bila kita kaji secara sosiologis-kultural. Akan tetapi, secara religius, Madura tidaklah terlalu identik dengan Jawa. Madura lebih agamis dan lebih peka pada aturan syariah Islam. Alasan inilah yang dapat kita jadikan stressing sehingga peluang menjadikan Madura sebagai provinsi benar-benar terwujud sesuai dengan aspirasi rakyat Madura yang agamis tadi.

Penulis sangat tertarik dengan pembentukan provinsi Kepulauan Riau, Banten dan Papua. Secara sosio-kultural ketiga wilayah itu sangat mirip dengan induk semangnya. Riau secara keseluruahan merupakan basis budaya dan bahasa Melayu, serta masyarakatnya sangat taat pada ajaran Islam. Ratusan pulau di provinsi Riau lama merupakan tempat berkembangnya kebudayaan Melayu. Dari ratusan pulau itu, budaya Melayu menyebar ke Malaysia, Pattani, Kalimantan, Brunei Darussalam, Mindanao dan nusantara pada umumnya, dengan pola agama Islam dan bahasa dengan dialek khasnya. Terlepasnya ratusan pulau itu dari provinsi Riau lama hanya satu alasan, yaitu efektifitas administrasi pemerintahan belaka, karena luasnya provinsi Riau  tersebut.

Alasan tersebut berlaku juga pada Banten. Sebagaimana kita ketahui, Banten bagian tak terpisahkan dari tanah Parahiyangan atau Pasundan. Agama, bahasa, adat-istiadat dan sejarahnya tak dapat dilepaskan dari provinsi Jawa Barat sebagai induk semang. Karena demi efektifitas akuntabilita publik, maka wilayah Jawa Barat mesti dipecah karena saking luasnya wilayah dan banyaknya penduduk. Demikian pula pemisahan Papua Barat dengan Papau dan Malaku Utara dengan Maluku, serta Kalimantan Utara dengan Kalimantan Timur.

Cuma, hanya Gorontalo saja yang berpisah dengan privinsi Sulawesi Utara karena alasan perbedaan agama yang mencolok, dan bahasa yang berbeda. Kita tahu, bahwa Sulawesi Utara dengan pusat di Manado merupakan basis Protestan untuk kawasan Indonesia Timur. Adapun Gorontalo merupakan basis Islam awal untuk kawasan Indonesia Timur dan Utara. Hal ini terbukti dengan julukan Gorontalo setelah lepas dari induk semang Sulawesi Utara, yakni “Negeri Serambi Madinah”. Julukan ini tak berlebihan apabila kita lihat dari kondisi masyarakat yang amat religius dan menjunjung tinggi tegaknya pelaksanaan syariah Islam hingga kini.

Madura boleh menoleh ke Gorontalo di atas. Artinya, bila nanti terwujud provinsi Madura, maka wilayah ini dengan segera membuat aturan baku berupa Peraturan Daerah (PERDA) yang merumuskan syariah Islam sebagai tata aturan kemasyarakatan Madura kelak secara formal. Dan dengan tegas berani membuat julukan khas, disamping sebutan “Pulau Garam”, yang mencerminkan tata kehidupan agamis masyarakat Madura, misalnya “Negeri Seribu Santri”, atau “Negeri Seribu Pesantren”, atau apalah, yang jelas julukan ini menjadi slogan yang memang benar-benar mengakar kuat dalam sanubari masyarakat Madura.

Jadi, jika saat ini yang sangat antusias dalam mencover tata aturan syari’ah hanya kabupaten Pamekasan dengan jargon khas-nya “GERBANG SALAM”, yang merupakan akronim dari singkatan panjang, maka nanti provinsi Madura akan berani mengakomodir syari’ah Islam dalam aturan provinsi ini dengan ciri khasnya pula. Kekhasan inilah merupakan character building untuk menjaga keutuhan NKRI secara ajeg.@

Wallau A’lam.

(Artikel ini dimuat dalam koran Kabar Madura, 10 Febeuari 2017)

GANGNAM DISTRICT, SEBUAH DESTINASI YANG MEMANJAKAN SETIAP ORANG


(Peta kawasan Gangnam District, sumber foto: http://www.gangnamdistrict.com)

Gangnam District adalah hunian modern terbaru yang ada di Pusat Bekasi. Sebagai hunian modern baru, Gangnam District berupaya memberikan pelayanan tebaik terkait kenyaman pemakainya. Wajar jika Gangnam District dikenal sebagai tempat hunia yang merupakan apartemen terbaru di Bekasi yang siap memanjakan Anda.

Sebagai hunian modern, apartemen ini didesain sedemikian rupa dan dapat melenakan setiap mata pemandangnya, serta menenteramkan setiap jejak penghuninya. Didirikan oleh investor dari Singapura dan Korea Selatan, Gangnam District terinspirasi dari kondisi negara Korea dengan segala bentuk budaya, gaya hidup, sosial, dan lingkungannya yang sangat modern, tertata rapi dan ekslusif.

(Nampak Hunian Gangnam District dari atas, sangat mewah dan menyenangkan. Sumber foto: http://www.gangnamdistrict.com)

Dalam pada itu, hunian modern baru ini belum pernah ada di Indonesia sebelumnya. Dengan gemerlap lampu taman kota yang aduhai, dipadu dengan konsep tata-ruang yang mempesona, sangat wajar jika Gangnam District menjadi pilihan utama bagi mereka pencinta kemajauan peradaban modern.

Adapaun Bekasi dijadikan pilihan tempat hunian ini karena kota ini merupakan penyanggah dari ibu kota Negara RI, Jakarta. Bekasi juga dikenal sebagai kota terpadat setelah ibu kota Jawa Barat, Bandung. Di tambah dengan kondisi masyarakat Bekasi yang telah mencapai stratifikasi sosial menengah ke atas, maka sangat wajar bila apartemen ini ditempatkan di kota satelit tersebut.

(Interior Gangnam District yang wah dan lux. Sumber foto: http://www.gangnamdistrict. com)

Akses ke apartemen Gangnam District sangat mudah, yakni melalui jalan besar, yang bernama Jalan Raya Siliwangi. Proyek ini dibangun di atas lahan sekitar 2,5 ha dengan 18 tower apartemen, Hotel Louise Kienne, SOHO, dan shopping mall. Alasan lain, Gangman District dibangun karena kawasan Bekasi yang sangat menjanjikan dengan pertumbuhan populasi maupun banyaknya industri di wilayah ini, yang tahun demi tahun semakin semarak.

Untuk mendukung kemodernan hunian ini, telah didukung oleh beberapa infrastruktur yang di bangun di kota Bekasi, sebut saja adanya pembangunan Light Rail Transit (LRT), sedangkan untuk jalur tol, akan dibangun Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu yang membuat kawasan Gangnam District semakin strategis. Pihak pengembang yaitu PT. Pollux yang berasal dari Singapura ini menyatakan nantinya persis di depan kawasan Gangnam District akan ada Aeromovel Track yang dibangun Pemkot Bekasi sepanjang 12 km untuk akses Bekasi Selatan-Bekasi Barat, yang stasiunnya dibangun di wilayah proyek ini.

(Lobi yang mengesankan tataan modern super sanggih. Sumber foto: http://www.gangnamdistrict.com)

Hunian modern ala Korea ini berkonsep bahwa disetiap hunian Gangnam District akan memiliki Feature Smart Home System dari LifeSmart, penghuni dapat mengakses CCTV langsung dari smartphone mereka dan mengendalikan beberapa alat-alat atau perkakas rumah secara mudah dan praktis.

Jelas, hunian ini bukan ditujukan pada Anda yang berpenghasilan menengah ke bawah. Sebab, bukan untuk itu hunian ini dibangun. Ia memang mengkhususkan diri pada Anda kalangan the have yang ingin menikmati suasana Korea dan tak ingin jauh-jauh pergi ke negeri gingseng tersebut.

(Tempat belanja yang melenakan hasrat  jiwa. Sumber: http://www.gangnamdistrict.com)

Selamat menikmati hunian modern abad XXI ini. Sebuah destinasi mutakhir hasil desain anak negeri dengan konsep perkampungan negeri Korea dan ditunjang investor Singapura. Menabunglah Anda jika ingin menempati apartemen mewah ini dari sekarang. Untuk mengetahui lebih lanjut pembaca dapat melacak link di http://www.gangnamdistrict.com @

TERAPI GALAU MENURUT AL-QUR’AN


KEHIDUPAN memang tidak selamanya indah. Manusia di alam dunia ini pasti akan mengalami berbagai macam cabaran, godaan, hinaan, kesengsaraan, kenistapaan, ketidakmujuran, kesialan, kebimbangan, keputus-asaan, keraguan-raguan, keciutan, kekerdilan, kemiskinan, kealpaan, atau apa pun yang menyangkut kefanaan hidup. Siapapun, sejak kapanpun, dimanapun, mereka akan selalu atau pernah mengalami beberapa hal yang penulis sebut di atas.

(Foto sampul buku penerbit Diva Press, 2016)

Nabi Adam as misalnya, pernah mengalami kegalauan hidup waktu akan diturunkan dari surga karena melanggar perintah Allah SWT agar tidak makan buah khuldi. Kemudian setelah itu, kesengsaraan menimpa mereka berdua tatkala berada di dunia. Sedangkan Nabi Nuh as mengalami siksaan batin luar biasa dahsyat tatkala sang istri dan anaknya tak mau naik perahu yang ia ciptakan, oleh karenanya, istri dan anak tersebut mati dalam kekufuran.

Demikian pula nabi Ibrahim as. Dia mengalami perasaan galau luar biasa sewaktu akan dibakar hidup-hidup oleh Nambrudz, dan pada waktu diperintah Allah SWT untuk menyembelih satu-satunya putra yang sangat disayangi. Adapun Nabi Musa as juga mengalami kegalauan yang hebat waktu ia dikejar akan dibunuh oleh Fir’aun. Nabi Isa as tak luput juga dari kegalauan diri waktu ia selalu dimusuhi oleh kaumnya, Yahudi karena lahir tanpa ayah dan difitnah sebagai anak zina.


Kemudian, junjungan kita, Rasulullah SAW. Juga mengalami sifat galau dalam diri beliau waktu ditinggalkan oleh Khadijah ra dan paman tercintanya, Abu Thallib. Sebagai hiburan dari kegalauan itu, Allah SWT kemudian membarangkatkan beliau menuju Sundratul Muntaha waktu Isra’ dan Mi’raj. Dengan demikian, secara pasti, ke dua puluh lima nabi dan rasul terdahulu pernah dihampiri sifat galau dalam kehidupan mereka.

Demikian juga para sahabat Rasullullah SAW, dari Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, sampai ke 10 sahabat yang dijamin masuk surga tanpa hisab, semua pernah ditimpa kegalauan dalam hidupnya. Kemudian para tabi’in, tabit tabi’in, ulama salaf, ulama khallaf, sampai kepada kehidupan kita saat ini, sifat galau dan sejenisnya pernah hinggap pada diri mereka.


Cuma kemudian, cara mengatasi krisis jiwa itu berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Contoh pertama yang terjadi pada para nabi di atas, mereka senantiasa mengedepankan sifat sabar untuk menangkal semua kegalauan yang terjadi. Lebih-lebih apa yang dialami lima nabi pilihan, sehingga mereka diberi gelar oleh Allah SWT dengan sebutan ‘ulul azmi’. Contoh kedua yang terjadi pada 10 sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga tanpa hisab, mereka pun mengedepankan sikap penuh kesabaran dalam mengenyahkan sifat galau yang menyerang mereka. Demikian pula para ulama terdahulu, semua dapat mengatasi kegalauan dengan bersandar pada sifat sabar, sambil kemudian menjadikan al-Qur’an sebagai satu-satunya penyembuh kegalauan dalam diri mereka.


Tapi, ada juga yang terjebak dalam keputus-asaan tatkala wabah kegalauan menyerang seseorang. Biasanya, keputus-asaan itu sering dialami oleh kita yang selalu menjauh dari al-Qur’an. Maka, agar kita tak berhenti berinteraksi dengan al-Qur’an dan menjadikannya solusi terbaik dalam setiap problematika kehidupan, disinilah arti penting buku yang berjudul ‘Manage Your Galau With al-Qur’an’ karya kedua Miski Muhammadi Mudin, sarjana Tafsir-Hadis, UIN Sunan Kalijaga yang berasal dari Sakobanah, Sampang ini. Buku ini bisa dijadikan jalan keluar sebagai terapi akan sifat kegalauan kita selama ini.

Sebagai buku yang mencoba menawarkan solusi cukup baik berkaitan sifat galau dari perspektif al-Qur’an, tentu para pembaca merasa perlu membacanya secara lebih utuh. Mudin sepertinya mencoba membedah secara komprehensif asal-muasal sifat galau yang terjadi pada diri seseorang, dan mencoba menganalisanya dari perspektif ilmu sosial dan ilmu psikologi yang acuannya tetap bersumber kepada ayat-ayat al-Qur’an, sehingga solusi yang ia tawarkan menjadi lebih kompleks dan cukup mendalam.


Oleh karena itu, solutif yang Mudin tawarkan pada kita tentang entitas sifat galau itu agar dengan cepat dapat kita atasi adalah menjalankan kebiasaan berdzikir yang dilakukan dengan baik (hlm. 76). Kemudian, kebiasaan mendirikan shalat lima waktu atau shalat sunnah yang selama ini ala kadarnya mungkin, diupayakan lebih memahami secara hakikat akan eksistensi mendirikan shalat itu. Selanjutnya, mentadaburi kandungan al-Qur’an serta selalu memperhatikan adab-adab berdoa. Dan terakhir sebagai senjata pamungkas, Mudin menulis untuk tidak lupa mengasah sifat sabar, sebagaimana andalan para nabi dan rasul dalam berdakwah untuk menyelamatkan  umatnya dari kekufuran. Semua itu, diikuti para ulama terdahulu hingga saat ini (hlm. 90).


Saya sebagai peresensi, memberikan apresiasi cukup mendalam pada buku ini atas pembahasan cukup baik tentang keselamatan jiwa dalam al-Qur’an (hlm. 116). Bahasan yang Mudin lakukan, walau ia bukan sarjana ahli Ilmu Jiwa, tentang tema ini cukup apik sehingga penulis benar-benar terpikat untuk selalu membaca bukunya secara tuntas. Di halaman inilah ia mencoba menggali sedemikian jauh nilai-nilai al-Qur’an dalam konteks kejiwaan seseorang, dan bagaimana nilai-nilai tersebut berperan dalam menghilangkan kegalauan kita. Sungguh, suatu bahasan yang sangat menarik.

Secara keseluruhan konten buku ini cukup baik, ditambah dengan tata letak dan lay out yang sangat indah dengan halaman buku yang cukup tipis, membuat kita tak akan beranjak bila telah membuka lembar demi lembar hingga buku ini dibaca tuntas. Tak ada salahnya jika kita patut memilikinya sebagai tambahan koleksi Perpustakaan Keluarga di rumah. Selamat membacanya.@


(Resensi ini dimuat di harian Bhirawa, tanggal 8 Januari 2017)

Membangkitkan Literasi Peserta Didik


“Ini pengakuan yang jujur dari sahabat saya yang terkucil di pedalaman Sampit, Kalimantan Tengah, bahwa minat  baca anak-anak bangsa kita tidaklah rendah seperti yang dikatakan orang-orang, tapi ketersediaan buku yang membuat mereka begitu.” Nun Urnoto El-Banbary, penulis novel dan puisi, dalam status di laman Facebook-nya 21 Mei 2016 lalu.


(Sumber foto: http://www.kompasiana.com)

***

Kutipan dari sang sastrawan Madura, dan sekaligus seorang guru di sebuah pondok pesantren, sengaja penulis tulis lengkap agar ide dasarnya dipahami bersama, bahwa minat baca peserta didik kita tidak serendah anggapan yang ada. Hal ini tentu, sejalan juga dengan keinginan kita selaku pendidik, agar budaya baca-tulis dapat terwujud dengan baik di sekolah-sekolah, terutama di tingkat atas (SMA/Aliyah/SMK). Stataus itu tepat sekali memang, bahwa untuk memulai budaya baca-tulis harus membentuk peserta didik berkarakter, dan peserta didik yang berkarakter dimulai oleh para guru yang kreatif. Jadi, hulunya adalah sang guru.


Guru adalah pelita kehidupan, petunjuk jalan terang bagi masa depan peserta didik. Guru merupakan sosok mulia yang ditiru dan digugu. Ibarat pepatah, apabila guru kecing berdiri, maka peserta didiknya, dipastikan akan kecing berlari. Saking sentralnya peran guru, tidak berlebihan apabila peserta didik lebih mempercayai keterangan seorang guru daripada keterangan orang tuanya sendiri. Tapi tunggulah dulu, guru yang bagiamana ini!


Pengaruh besar guru telah kita ketahui dari berbagai sumber sejarah tokoh dunia, misalkan Abdul Malik bin Marwan (w. 705 M). Dalam Thabaqot al-Kubra-nya Ibnu ‘Asir (w. 774 M) atau Thabaqot-nya Ibnu Sa’ad (w. 845 M) dan al-Waqidi (w. 823 M), disebutkan bahwa ia berguru kepada Usman bin ‘Affan (w. 656 M) dalam ilmu Qur’an dan kepada Abu Hurairah (w. 681 M) dalam ilmu Hadis, serta pada Jabir bin Abdullah (w. 697) dalam ilmu bahasa Arab. Dengan peran guru yang demikian itu, tidak heran apabila ia menjadi seorang khalifah bani Umaiyyah yang paling kesohor dalam segala segi. Kita tengok juga generasi setelahnya, yakni Harun al-Rasyid (w. 809 M) yang telah mendirikan berbagai pendukung eksperimen sains, seperti Baitul Hikmah atau Majlis Mudzakarah karena pengaruh dari guru-guru yang mendidiknya, antara lain Yahya bin Khalid al-Barmak (w. 163 H), seorang ilmuwan Muslim dari kalangan tabit tabi’in yang menguasai berbagai disiplin ilmu. Kemudian di abad yang lebih dekat dengan kita, ada KH. Hasyim Asy’ari (w. 1947 M), lalu ada KH. Ahmad Dahlan (w. 1923 M),dan HAMKA (w. 1981 M). Di area yang lebih sempit tanah Madura, ada KH. Abdullah Sajjad (w. 1947 M) dan KH. Moh. Khazin Ilyas(w. 1946 M) yang keduanya adalah martil dari bumi Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Atau orang-orang yang saat ini masih berkiprah di kancah pengembangan literasi nasional dari pulau Garam ini, semisal Abdul Hadi, Jamal D. Rahman, D. Zawawi Imron, K. M. Faizi, K. M. Mushthafa, Bernando J. Sujibto, Nun Urnoto El-Banbary, Raedu Basha, Nurul Ilmi el-Banna dan lain sebagainya adalah mereka lahir dari didikan para guru yang bersih hati, penuh keteladanan dan penuh dedikasi yang tinggi.Oleh karenanya, guru-guru itu sangat ikhlas dalam mendidik. Esensi ini sepertinya, mulai  hilang dari dunia guru Indonesia. Atau mulai samar bayangan.


Mengingat peran guru sangat luar biasa vital dalam mengubah roda sejarah dunia, maka disini, menurut penulis, yang harus direvitalisasi agar dapat menumbuh-kembangkan generasi unggulun laiknya generasi-generasi di atas, adalah dunia guru itu sendiri. Dalam pandangan penulis, ada alasan objektif terkait lemahnya minat baca-tulis seorang peserta didik jika memang sepakat dengan pernyataan ini. Titik pangkalnya yakni lemahnya guru-guru di negeri ini dalam mengelaborasi sebuah karya untuk dikonsumsi hati dan otak anak didik secara bersama. Jangankan menelorkan sebuah tulisan yang apik, baik dalam bentuk buku babon, atau dalam artikel-artikel terkait aktualitas, untuk menentukan buku yang layak dibaca secara mendalam oleh  peserta didiknya, para guru di negeri ini sangat kesulitan.


Hal itu sebenarnya telah disinggung dengan halus tetapi jelas oleh K. M. Mushthafa Abdul Bashith, dalam salah-satu tulisan di blog pribadinya yang bisa dilayari di http://www.rindupulang.blogspot.com, bahwa penekanan pada upaya penanaman kebiasaan membaca secara mendalam diharapkan dapat menjadi modal yang kuat untuk menyiapkan generasi yang tangguh dan kritis (dalam: Kemampuan Membaca sebagai Ciri Pendidikan Unggul, 11-02-2016). Penekanan ini tentu dimulai dari eksistensi guru itu sendiri dalam hal memberikan contoh membaca dan menulis.Sedangkan kenyataan yang ada, apabila kita kalkulasikan secara sederhana, berapa banyaknya guru yang dapat menulis artikel populer di berbagai media massa, baik cetak ataupun online. Tidak usah terlalu jauh meneliti, taruhlah di Harian Bhirawa ini. Siapa yang lebih dominan mengisi rubrik Opini?. Guru, seniman, sastrawan, ilmuwan, atau malah gabungan di antara keempatnya. Pembaca dapat mencari tahu sendiri.  


Jika iklim seperti itu tetap stagnan, lebih-lebih pembudayaan baca-tulis, maka tentu belum memungkinkan wali murid di rumah untuk dapat diajak berperan besar dalam membangkitkan ilmu pengetahuan sebagai tulang punggung pendidikan bermutu sebuah bangsa. Dalam pengamatan penulis, wali murid sebagian besar masih menganggap bahwa belajar itu adalah membaca buku teks pelajaran. Artinya, pendidikan berkualitas bukan hanya berkutat bagaimana cara mendapatkan buku dan membacanya, sambil lalu menganjurkan orang tua peserta didik dapat memilih buku dengan caranya sendiri. Tapi juga, yang tak kalah penting bagaimana seorang guru kembali meneguhkan pada dirinya sendiri dengan satu frasesaya harus berkarya sesederhana apa pun.


Dengan lahirnya berbagai karya dari orang yang digugu ini, akan dapat merentas akar masalah kemalasan membaca peserta didik yang selama ini memayungi bumi pertiwi tercinta, dan perlahan-lahan tersingkap nanti di suatu masa, indeks kepembacaan insan Indonesia yang menurut UNESCO empat tahun lalu hanya 0,0001, suatu saat berubah menjadi 1,000,00. Bukan hal yang mustahil. Atau jangan-jangan status Nun Urnoto lainnya, ada benarnya:“bukan murid yang tidak punya hobi membaca, tapi gurulah yang tidak pernah update buku terbaru, lalu membacanya; menjadi titik masalah”.@

Wallahu A’lam.


Artikel ini dimuat di koran Kabar Madura, 26 Januari 2017

PEMBELAJARAN SEJARAH YANG SEMESTINYA


Bagi seorang pemerhati sejarah; mahasiswa jurusan Sejarah, guru sejarah, sejarawan, bergelut dengan heuristik adalah suatu yang lumrah. Bahkan, fenomena sejarah, peristiwa sejarah atau fakta sejarah merupakan suatu hal yang sangat wajib diketahui oleh mereka.

Sejatinya, manusia adalah makhluk penyejarah, yaitu dalam posisi sebagai pelaku (subjek sejarah), dan sebagai sasaran suatu peristiwa (objek sejarah). Lazimnya, hanya pada manusialah kisah sejarah berlaku tidak pada makhluk lainnya, atau benda lainnya.

Tidak semua peristiwa masa lalu yang menimpa manusia disebut sejarah. Ada syarat ketat suatu peristiwa untuk dimasukkan pada historiografi. Syarat-syarat sebagai tahapan sejarah misalkan; heuristik sebagai sumber sejarah, baik sumber primer atau sekunder, verifikasi dari sebuah heuristik, interpretasi sejarawan atas hasil verifikasi data, ditambah dengan cara kerja yang bermetodologi kesejarahan sebagaimana disinggung oleh Gottschalk, telah memposisikan sejarah sebagai cabang ilmu-ilmu sosial. Bahkan sebenarnya, syarat-syarat tersebut telah menyebabkan sejarah merupakan ibu kandung dari ilmu-ilmu sosial itu sendiri.

Hal seperti itulah yang menyebabkan suatu peristiwa masa lalu terlempar dari dunia sejarah walaupun peristiwa itu bagian dari sejarah, jika tidak memenuhi syarat-syarat di atas. Misalnya; cerita legenda, cerita folklore, cerita mitos, dan lain-lain. Dari perspektif sejarah sebagai kisah, cerita-cerita di atas masih boleh diambil hanya semata-mata sebagai penghalus kisah sejarah, sebab tak bisa dipungkiri, cerita-cerita itu masuk dalam kajian sastra, di mana kajian ini sangat dibutuhkan sejarah sebagai penghalus dan penarik bahasa dalam kisah sejarah sehingga kisah sejarah tidak kering dan tidak menarik.

sumber foto: history1978.wordspress.com

Guru Sejarah dan bekunya pembelajaran sejarah
Bukan sekedar isapan jempol jika saat ini peserta didik kurang apresiatif terhadap pembelajaran sejarah. Banyak penyebabnya, dari kesimpang-siuran historiografi sejarah itu sendiri, karena sejarah memang tidak netral nilai, maka dibuat kesempatan untuk ditunggangi penguasa agar mencitrainnya dengan kisah sejarah yang memihak pada sang penguasa, sampai masalah metodologi pembelajaran pada siswa yang sangat kering dan tanpa impromisasi, di tambah minimnya penguasaan guru pada filsafat sejarah.

Problematika pertama, sependek analisa penulis, saat ini mulai dapat diatasi. Hal itu dapat kita lihat dari perevisian total terhadap buku babon Sejarah Nasional Indonesia (SNI) jilid I s.d VI dalam cetakan Edisi Pemutakhiran keempat pada 2010 lalu. Lebih-lebih peristiwa yang sangat Orde Baru oriented, sejarawan kita benar-benar merevisi ulang sesuai dengan temuan-temuan terakhir dan metodologi-metodologi ilmu sejarah terbaru. Sebab, dalam sejarah, tidak ada pengkisahan abadi, tapi fakta yang valid-lah menyebabkan cerita sejarah menjadi abadi.

Masalahnya kini, terletak pada guru sejarah itu sendiri. Telah disodorkan solusi dari problematika pembelajaran sejarah agar sang peserta didik semangat dalam merespon pembelajaran sejarah dalam kelas atau di mana pun. Dan itu cukup intens dilakukan, baik oleh sejarawan itu sendiri, atau oleh dinas pendidikan terkait. Tapi, masih belum ada hasil memuaskan berkaitan dengan hal itu.

Guru sejarah sangat miskin metode pembelajaran. Ini keluhan yang sering penulis baca dari nara sumber. Keluhan itu bagi penulis sangat masuk akal, sebab guru yang mengajar sejarah di sebagian besar dalam lembaga pendidikan, baik dari tingkat dasar sampai menengah, bukan berasal dari lulusan program studi sejarah di Perguruan Tinggi yang ada jurusan sejarahnya. Lembaga pendidikan kita, sebagain besar tak ambil pusing dengan kekurangan SDM guru yang sejurusan dengan mata studi yang diampunya. Bayangkan saja, jika guru jurusan Eksakta atau Agama misalnya, ditugaskan mengampu pembelajaran sejarah, penulis sungguh tak dapat membayangkan kadar pembelajaran sejarah dari guru tersebut di dalam kelas. Dan kasus-kasus guru seperti itu di lembaga-lembaga pendidikan, lebih-lebih yang swasta, sangat menjamur.
Anggapan yang kadang ada, yang selalu mengentengkan pembelajaran sejarah dengan ujaran ‘ah..sejarah itu mudah. Tinggal membaca dan menghafalkannya, pasti mampu mengajar sejarah’, telah saatnya ditinggalkan. Sebab, pengalaman penulis selama empat tahun berkutat dengan ilmu ini waktu kuliah di IKIP PGRI Jember, terus terang, ujaran di atas sungguh menistakan substansi sejarah ini sendiri. Ilmu sejarah bukan hanya dapat dikuasai dengan semangat membaca dan menghafal semata, tapi metodologi pembelajarannya, serta filsafat sejarahnya merupakan suatu hal yang mesti dikuasai oleh mereka yang mempunyai hasrat untuk menjadi guru sejarah.

Menggalakkan metodologi dan filsafat sejarah dalam kesejarahan



Jika kita lemah dalam metodologi pembelajaran sejarah, bukan tidak ada jalan lagi untuk sekedar menguasai. Memang benar bahwa ilmu ini dicecar habis untuk dikuasai lahir-batin oleh mahasiswa sejarah yang berkutat di jurusan pendidikan sejarah. Dan untuk menguasai dengan baik dibutuhkan pembimbing (dosen) yang sangat piwai di ilmu itu. Tapi penulis sangat menyarankan pada guru sejarah atau para pembaca yang berminat dalam ilmu sejarah, agar membaca karya-karya Dr. Kuntowijoyo. Dalam kajian metodologi sejarah, dialah satu-satunya orang yang dengan apik mengetengahkan sejarah seakan-akan peristiwa itu hidup kembali. Bisa juga pembaca menelaah karya Dr. Helius Sjamsudin.

Jika kita lemah dalam penguasaan filsafat sejarah, bukan tidak ada jalan keluar juga untuk dikuasi oleh kita, walau tidak di bangku kuliah. Tentu kita membutuhkan keseriusan untuk menelaah ilmu inti sejarah ini. Pembaca dapat menalaah karya Georg Wilhelm Friedrich Hegel yang telah diindonesiakan oleh para sejarawan kita, karya Betrand Russell, karya Ibnu Khaldun dalam Mukadimahnya, atau karya-karya anak negeri, seperti Dr. Misnal Munir, Musliah Hasbullah bersama Dedi Supriyadi, dan sebagainya.

Dengan berkemampuan mengelaborasi antara metodologi pembelajaran dan filsafat sejarah, jelas tidak akan mengajar pendidikan sejarah asal-asalan. Penguasaan yang apik pada kedua ilmu inti sejarah di atas adalah jalan terbaik untuk membuat pembelajaran sejarah menjadi magnet bagi siswa-siswa berbakat, dan pada gilirannya nanti pendidikan sejarah menjadi pembelajaran yang menarik bagi mereka. Hingga pada akhirnya, tujuan sejarah yaitu untuk membangun karakter (character building) anak bangsa yang selalu cinta pada NKRI dengan sendirinya dapat tercapai.

(Artikel ini dimuat di Koran Kabar Madura, tanggal 29 Januari 2017)