Menangkal Banjir di Pulau Madura


Konon ada hikayat yang tak tercatat dalam lembaran sejarah, bahwa setiap merencanakan, membangun dan menggunakan jalan raya, Belanda selalu membuat penguatnya, yaitu berupa tanaman asam di kanan-kiri jalan tersebut. Entah benar atau salah hikayat tersebut, tapi yang nampak memang faktanya sampai detik ini dapat kita saksikan. Jalan-jalan utama sepanjang jalan Pos dari Anyer ke Panurakan yang dibangun atas perintah Herman Daendels (1808) sepanjang 1000 km itu, berjajar rapi pohon-pohon asam besar. Bahkan jalan poros Madura, dari Kamal ke Kaleanget, atau jalan-jalan pantai utara Madura, berjajar pula pohon-pohon itu, yang entah berapa ratus tahun umurnya. Bisa di tebak, jika jalan-jalan utama di Madura dibangun oleh Belanda berkisar tahun 1820-1840, maka umur pohon asam-pohon asam tersebut sekitar 176-196 tahun. Subhanallah, ditinjau dari penjagaan terhadap eksistensi alam, ternyata penjajah tak selamanya membawa kesengsaraan.

Ilustrasi di atas hanya sekedar memberikan informasi bahwa betapa pentingnya kita merawat alam Madura yang kini mulai mengap-mengap mau tenggelam. Madura yang sejak zaman pra-penjajahan, zaman penjajahan, sampai di zaman kejayaan Orde Baru belum pernah terdengar peristiwa banjir, sebagaimana sering melanda Sampang kini. Bahkan, tempat di ketinggian pun, seperti kampus INSTIKA, Guluk-Guluk, yang biasa dikenal dengan Kampus Bukit Lancaran, bersamaan dengan perhelatan wisuda kampus itu, pernah dilanda air bah yang menghanyutkan puluhan motor, dan beberapa diantaranya rusak parah. Ternyata, alam telah berbicara  dengan bahasa alamnya, sedangkan manusia enggan memahami bahasa alam itu. Atau manusia pura-pura tidak memahaminya?

Secarik Usaha yang Membanggakan.

Suatu saat, di sekitar tahun 1984, guru kami di Pondok Pesantren Annuqayah, KH. Moh. Tsabit Khazin (almarhum), dan KH. Abdul Bashith Abdullah Sajjad (semoga Allah selalu memberikan kesehatan) dipanggil oleh sang pencetus Orde Baru, Jenderal Soeharto ke istana Merdeka, Jakarta. Beliau berdua, atas nama Pondok Pesantren Annuqayah menerima penghargaan Kalpataru, sebagai jasa atas peranan Annuqayah dalam melindungi alam di Madura, lebih-lebih, telah merawat dan menanami tanah yang gundul di sepanjang Gunung Payudan, Sumenep. Atas usaha panjang beliau berdua, pegunungan itu tetap menghijau dan tetap menjadi cagar alam untuk habitat kera, pelindung mata air di sepanjang kaki pengunungan tertinggi di pulau Madura ini, sampai beberapa saat.

Tapi, itu pun tidak berlangsung lama. Tahun 2000-2010 kamarin, pohon dari jenis Akasia yang bernama latin acaceae dari famili fabaceae itu yang ditanam beliau bersama para santri dulu, atas nama pemerintah mungkin, khususnya dinas Perhutani, Sumenep, di sepanjang Bukit Dhampol, Bragung, dan Gunung Coppu’, Toleket, Tambuko, habis dibabat. Jelas pembabatan pohon itu bukan illegalogging, sebab pelakunya adalah pemerintah dengan prosedur yang resmi. Tapi melihat dampak dari kegiatan itu, terutama habitat kera yang ada, telah meresahkan masyarakat sekitar, sebab kera itu berhamburan ke segala tempat. Sampai-sampai desa Prancak dan Montorna, yang sebelum pohon-pohon itu di tebang habis, tidak ada cerita tanaman pangannya diserang kera, kini ceritanya menjadi lain. Dan mata air Toronah kini debit airnya mulai mengecil, mungkin suatu saat akan bernasib sama seperti  mata air Sumber Dadduwi, dan Sumber Daleman, yang menjadi tumpuan para santri Annuqayah, kini mata airnya hilang. Sayang, dinas Perhutani tidak berpikir sejauh itu.

Penulis sendiri lahir dan besar di desa terpencil, Montorna. Pada waktu kecil, tanah-tanah perbukitan di kampungku dibiarkan gundul karena memang kekurangan tenaga manusia untuk menghidupkan tanah tersebut. Tapi kini, setelah kampungku mulai dipenuhi orang-orang berbakat dan bepikiran jauh ke depan, tanah-tanah kosong itu mulai menghijau dengan pohon-pohon yang akan menjadi paru-paru dunia. Tidak hanya sekedar itu, pohon-pohon itu ternyata menjadi komunitas sumber daya ekonomi baru bagi masyarakat yang mempunyai tanah tersebut. Dan sejak tahun 2000-an lalu, kembali Pondok Pesantren Annuqayah memerankan diri sebagai pelopor perlindungan alam dengan membeli sekitar 10 hektar tanah kosong dan tak bertuan (Madura: Tana Buangan) di desa Prancak Selatan. Tanah itu kini rindang dengan kebun Jambu Monyet dan Mangga, yang bila masa berbuah tiba memang dihalalkan untuk masyarakat sekitar. Semoga suatu saat Annuqayah mendapat Kalpataru lagi atas jasa-jasa perlindungan alam ini.

Tidak ada Kata Terlambat

Kebanjiran demi kebanjiran yang telah biasa melanda bumi kita, Madura, adalah akibat perbuatan kita sendiri yang kurang bersahabat dengan lingkungan alam yang ada. Sebenarnya, sangat mudah mengantisipasi terjadinya banjir tersebut. Cukup kita merawat alam yang ada, maka jelas tak akan ada banjir bah atau banjir bandang sekalipun. Cara merawat alam inilah yang telah membuat kita berberat hati; sebab pola perilaku tersebut terkait dengan kabiasaan kita dalam menjalani kehidupan. Selama ini, kita telah terbiasa hidup seenakperut; buang sampah ke selokan, buang pembalut ke lubang kakus, buang air kecil di sembarang tempat. Di tambah lagi hasrat konsumtif yang tiada terbendung; buat rumah, buat lemari, buat tempat tidur (Madura: Lenchak Dipan) dari bahan pokok kayu, dan kayu yang jadi bahan dasar bukan kayu sembarangan, tapi kayu jati. Sementara penebangannya tidak memperhatikan daur tumbuh kayu. Maka yang terjadi; hancurnya lingkungan hidup kita.

Tanpa dihiasi kata-kata indah, semisal annadhafatu minal iman, sesepuh kita sangat handal dalam memelihara alam. Jelas, mereka tidak berpendidikan tinggi setinggi gelar kesarjanaan kita, misalnya. Bahkan mereka rata-rata buta huruf. Tapi jelas sekali mereka sangat berpikiran jauh ke depan. Saya membayangkan, benar-benar jauh pola berpikir kakek-nenek orang Madura. Hal ini pernah dialami saya sendiri waktu berumur tujuh tahun dulu. Saya oleh kakek almarhum digendong dengan membawa tiga buah tunas kelapa pada tengah hari selesai shalat Jumat. Beliau bilang sederhana, ‘cong, paki’ been tinlah mondhuk parseh reyah bisa e kala’ dhugganna’. Benar saja, tahun tanam kelapa itu sekitar 1988, dan kini bukan hanya saya yang menikmati manisnya buah kelapa muda, tapi anak-anakku juga gembira menikmatinya. Inilah filosofi leluhur kita yang sangat sederhana,  jangan sampai hilang dari benak kita sekalipun kita hidup di zaman  bertambah modern ini.

Tidak ada kata terlambat untuk menyelamatkan bumi Madura yang mulai digenangi air tak diharapkan. Mengapa kita enggan perbanyak menanam pohon, bukankah menanam pohon itu merupakan sunnah Rasul SAW? Mengapa kita sulit mengurangi hasrat menebang pohon tanpa memperhatikan daur-ulang tumbuhnya sebuah pohon. Bukankah kita telah cerdas menyikapi alam di sekitar kita, tentu kita malu pada leluhur kita yang tak usah berpendidikan tinggi, tapi mampu memelihara alam? Mari kita hindari membuang sampah bukan pada tempatnya. Jangan berpikir karena sampah yang kita buang hanya selembar bungkus manisan yang kecil. Ingatlah, pepatah mengajarkan; sedikit demi sedikit akan menjadi bukit. Artinya, pada suatu saat bungkus kecil permen yang kita buang itu akan menyumbat jalur alami air, dan pada saatnya akan menimbulkan banjir. Mari kita buka kembali kitab suci kita dalam Q.S. al-Rum: 41, dan saatnya kita renungkan kembali ajaran suci kita itu. Wallahu a’lam.


Diterbitkan di Kabar Madura, tanggal 22 November 2016

LOCAL GENIUS MADURA DAN HASRAT MENJADI PROVINSI MANDIRI


  Serpihan Kesejarahan                                                                 

Dari segi apapun, selama ini, Madura selalu di bawah bayang-bayang Jawa. Madura selalu kalah (baca : tidak pernah mampu) berhadapan dengan Jawa. Hegemoni Jawa memang sangat berakar dalam perkembangan sejarah Madura. Baik akar budaya, maupun akar politik kekuasaan. Dari segi budaya, Madura sangat berutang budi kepada Jawa atas huruf atau aksara Jawa, yang kita kenal dengan huruf Carakan. Di samping itu, kita berhutang pada Jawa dalam bahasa halus (kromo inggil), yang dikenal dengan bahasa ‘engghi-bhunthen’. Dalam urusan pemerintahan, kita tidak dapat memungkiri, sangat berhutang pada pemerintahan raja-raja Jawa, dengan sistem feodalisme yang sangat kental, diwariskan melalui penempatan Arya Wiraraja I atau Banyak Wide (1232-1316) di masa Hindu-Buddha, dan di bawah bayang-bayang Mataram Islam, waktu dipimpin Sultan Agung (1593-1645). Pada masa VOC pun (1602-1799), Madura tetap menjadi vasal paling setia atas hegemoni Eropa, keculai sesaat pada masa Pangeran Trunajaya (1649-1680) yang berani bertempur dengan kekuatan asing tersebut.

Dr. Abdurrahman (1988), dalam ‘Selayang Pandang Sejarah Madura’, tidak mengurai secara luas asal kesukuan masyarakat Madura, sebab hal itu mempunyai keruwetan tersendiri bila ditinjau dari historiografi, apakah orang Madura termasuk Proto Melayu atau Deutro Melayu yang datang langsung dari sentral Asia, sebagaimana pendapat  Von Heine Geldern (1968). Cuma semua itu dapat disimpulkan bahwa suku Madura erat kaitannya dengan suku Jawa. Budaya Madura tumbuh dan berkembang dari akar budaya Jawa. Madura dan Jawa seperti sisi mata uang, yang seakan tidak mungkin dipisahkan.

Sejarah lokal Madura, sebagai local genius, memang pada tataran tertentu adalah bagian dari Jawa itu sendiri. Sejak masa Singasari (1222-1292), Majapahit (1293-1527), Demak-Mataram, VOC, sampai Republik merdeka, Madura bagian integral dari Jawa. Integritas ini dicerminkan dari pola kultur-pemerintahan, dan agama. Walau pun dari segi keberagamaan, orang Madura sedikit lebih peka mengenai relasi hamba dengan Tuhannya, lebih-lebih jika membandingkan Madura denga Jawa bagian selatan, yang lebih mengedepankan suluk sehingga cenderung disebut Kejawen.

Sejarah spektakuler Madura, tentu hampir meruntuhkan hegemoni VOC adalah perlawanan yang dipimpin oleh Pangeran Trunajaya (1649-1680) melawan Amangkurat I yang bersekutu dengan VOC dan bertindak arogan atas rakyatnya. Sifat arogansi dan penistaan agama Islam ini menjadi dasar utama Trunajaya menyingkirkannya dari Mataram, sebagaimana disinggung oleh Ahmad Mansur Suryanegara (1996). Mataram berhasil direbut tahun 1677, dan Amangkurat I lari untuk minta bantuan sekutunya di Batavia, tetapi keburu mati dalam pelarian. Trunajaya kembali ke Kediri, di mana tempat itu merupakan markas komandonya selama perjuangan. Tindakan ini memberikan pengajaran bahwa ia menyerang ibu kota Mataram bukan hasrat menduduki tahta Mataram, tapi sebagai peringatan bahwa siapapun akan menjadi lawannya, dan lawan orang-orang Madura,  jika bersekutu dengan VOC. Pengganti Amangkurat I, Amangkurat II bukannya sadar bahwa bersekutu dengan VOC bukan membawa kebaikan. Tapi kehancuran sistem kesultanan Mataram. Bukti ini nampak setelah Trunajaya syahid, Mataram redup sehingga memungkinkan untuk dipecah-belah menjadi Jogjakarta dan Surakarta.

Sepeninggal Trunajaya, Madura kehilangan sosok pembela rakyat untuk melawan penjajah Belanda. Memang tahun 1769 ada tokoh Madura bernama Kek Lesap yang berperang melawan Belanda, tapi gaungnya hanya sebatas pulau Madura saja, dan hal itu cepat ditumpas pasukan VOC. Kemudian muncul lagi tokoh Madura yang ada di Bangil bernama Pak Sakera (sekitar 1812), tapi tokoh ini malah segera menjadi cerita legenda dan tak banyak berpengaruh pada keberadaan pasukan Hindia-Belanda di Bangil. Dengan tidak ada lagi perlawanan dari tokoh-tokoh Madura yang berskala massif, praktis pulau Madura semakin nyata dimasukkan ke bagian tak terpisahkan dari pulau Jawa, sehingga sejak itu, bila Hindia Belanda mengeluarkan standblad, isinya pasti ada kata ‘Jawa dan Madura’. Frase ini terus berlaku sampai pada zaman kita saat ini.

 

Local Genus Sebagai Jati Diri Orang Madura

Gobyah (2003), mengatakan bahwa kearifan lokal (local genius) adalah kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Dengan redaksi yang sedikit berbeda, Caroline Nyamai-Kisia (2010), berpendapat bahwa kearifan lokal adalah sumber pengetahuan yang diselenggarakan dinamis, berkembang dan diteruskan oleh populasi tertentu yang terintegrasi dengan pemahaman mereka terhadap alam dan budaya sekitarnya. Kearifan lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci keagamaan  dan berbagai nilai yang ada. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. Ini merupakan produk budaya masa lalu yang selalu, secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal, tetapi nilai yang terkandung didalamnya dianggap sangat universal.

Setiap suku bangsa mempunyai kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang dari watak suku tersebut. Kearifan lokal mencirikan secara khas identifikasi atas suku bangsa di mana mereka berada. Ini terbentuk secara ekslusif, yakni muncul dari intern suku bangsa itu, dan kemudian diakui sebagai produk budayanya.

Madura, sebagai salah satu dari empat suku bangsa terbesar di nusantara, mempunyai local genius yang amat berbeda dengan suku-suku lainnya, di samping tentu, kesamaan sebagaimana disinggung di atas. Perbedaan itu mencerminkan watak asli orang Madura yang tidak mungkin dilebur atau melebur dengan saudara tua Jawa sekalipun. Inilah jati diri orang Madura yang pewarisannya tetap berlaku secara genologis pada orang-orang Madura sepanjang masa.

Ketika orang Madura berbicara dengan spontan, tanpa tadeng aling-aling, misalnya, maka itulah kekhasan mereka yang dengan jujur mengatakan apa adanya, walau terkesan menyakitkan bagi suku bangsa lain yang mendengarkannya. Ketika orang Madura bekerja bertungkus-lumus dengan semangat membaja, misalnya, maka di waktu itulah watak asli orang Madura terpancar dengan jelas bagaimana mereka mengais riski yang halal walau berat sekalipun, sehingga mereka kadang dijuluki ‘orang China timur’, dengan maksud betapa mereka berkerja dengan ulet dan sangat tabah. Pada sisi inilah, mereka benar-benar ‘menjajah’ suku bangsa lain di nusantara ini, sebab di pelosok negeri, dapat dipastikan orang Madura ada untuk berniaga. Dan mereka sukses. Ketika orang Madura berbondong-bondong naik haji, walau sekilas mereka miskin, ini pun cerminan watak asli orang Madura yang tidak cerobah dalam membelanjakan harta yang diperoleh dengan susah-payah, tapi tetap dengan niat demi ibadah yang mereka akan jalankan sebagai orang Islam yang saleh. Demikianlah local wisdom orang Madura yang tertanam sejak dulu, baik mereka yang tetap berada di pulau gersang ini, ataupun orang Madura yang ada diperantauan.

 

Mampukah Menjadi Provinsi yang Lepas dari Induk Semang Jawa Timur?

Wacana ini, yaitu selama wacana pemekaran Madura manjadi provinsi, penulis tidak terlibat secara langsung di dalam organisasi yang konsern terhadap pembentukannya. Akan tetapi sebagai anak Madura, terus memonitor  karena alasan ‘sangat menarik’ untuk dijadikan bahan obrolan dengan siswa SMA, di mana penulis mengajar. Maka dengan begitu, saya mencoba melihat Madura dari berbagai perpektif, lebih-lebih dari segi kesejarahan dan kearifan lokalnya.

Kini, kita akan berusaha memisahkan diri secara otonom dari provinsi Jawa Timur. Banyak alasan, disamping alasan-alasan yang telah disinggung, yang mendukung keinginan kita itu. Alasan yang mengemuka; SDM dan SDA. Secara sumber daya manusia, orang-orang Madura telah cerdas dalam segala cabang ilmu pengetahuan, dengan demikian akan sanggup menjadi pemimpin di pulaunya sendiri. Alasan sumber daya alam, juga menjadi pondasi ekonomi untuk provinsi Madura kelak,  sebab banyaknya kekayaan minyak dan gas alam di bumi ini, ditunjang oleh kekayaan laut kita yang sangat melimpah. Dua alasan ini sepertinya melupakan kita bahwa kita, orang-orang Madura butuh makan dari beras. Dan beras bukan komoditas utama pulau Madura. Tambahan lagi, usia minyak bumi dan gas alam yang ada di pulau ini tidaklah panjang, jika telah habis, bisakah mengatakan bahwa kita masih kaya akan binyak bumi? Tentu bukan terlambat jika kita berpikir ulang akan kelayakan dan kemandirian Madura menjadi provinsi otonom. Wallahu’a’lam.

(Terbit di Kabar Madura, 11 Oktober 2016)

BERLAYAR BERSAMA JALALUDDIN ARRUMI


RUMI menginnginkan kita agar mendengar intuisi dan suara hati yang pada gilirannya akan melahirkan rasa dan kenginan bari.

Membaca lembar demi lembar racikan Tarhan ini sungguh mengasikkan ibarat berlayar di tengah samudera yang landai, ditemani angin sepoi dan ombak yang bersahabat, sambil lalu beragam makhluk bawah air yang menyunggingkan senyum dengan mutiara berkilau selalu memancar pada bahtera yang kita naiki. Pengalaman menyelami dunia Ar-Rumi dalam Masnawi-nya adalah pengalaman rohani tiada tara, lebih-lebih pada kurun abad XXI ini yang haus akan kembalinya sinar langit yang tergerus kapitalisme serakah (hal. 8), Tarhan telah memberikan jalan ke dunia Ar-Rumi untuk melindungi diri sebagai immunitas dunia modern dari keserakahan tersebut. Dalam pandangan Tarhan, Rumi menawarkan berbagai bentuk terapi kejiwaan yang dapat menghindarkan kita dari berbagai tekanan kehidupan ini, sehingga berbagai kasus yang menimpa umat Islam ini, terutama kasus yang berkaitan timpangnya kejiwaan mereka, atau labilnya susunan syaraf mereka, sedikit terobati dengan membaca karyanya.

Bagi Tarhan, Rumi secara praktis tidak hanya berhasil menjawab problematika yang muncul pada zamannya, tetapi juga menjawab permasalahan demi permasalahan zaman-zaman setelahnya dengan merujuk kepada nilai-nilai yang diajarkan dan contoh-contoh yang ditunjukkanya (hal. 20). Menariknya, Tarhan mengekspos terapi Rumi dari sisi di mana ia menggeluti ilmu yang selama ini ia tekuni, yaitu ilmu kedokteran jiwa (psikiatri). Terapi Rumi sangat dibutuhkan oleh mereka yang terserang panyakit berkaitan masalah jiwa, seperti iri, dengki, ujub, angkuh, sombong, egois, dan lain-lain. Karenanya, pencarian kecerdasan hati, kecerdasan emosi, potensi diri, prestasi diri, pengetahuan diri adalah berbagai istilah yang ada di lembaran buku ini , yang patut kita betot dengan teratur dan istikomah.

Dalam penelitian Tarhan, Rumi menganjurkan kita agar mempunyai pengetahuan tentang pengenalan diri sendiri (fasda’bin an-nafsi). Menurutnya, manusia mempunyai lima tipe gaya ketika merespon satu yang dapat diurutkan sebagai berikut: ketika berada pada sisi kuat, ketika berada pada sisi lemah, ketika memecahkan masalah, ketika berkomunikasi, dan ketika menghadapi kesempatan yang ada. Menurut Tarhan, sudut pandang lima dimensi ini adalah sudut pandang menyeluruh (hal. 28). Kelimanya, akan berkaitan dengan DNA (genetika) seseorang. Seperti diketahui, DNA tersusun secara kompleks yang didalamnya terdapat sandi-sandi yang menentukan wujud dan nilai suatu hal. Apabila sandi-sandi itu diperlakukan menurut fitrahnya, pekerjaan yang dilakukannya akan berhasil dengan baik (hal. 21)

Sebagai karya yang berhulu pada kemurnian dunia kejiwaan, maka untuk seorang pelajar, konklusi lengkap ala terapi Rumi yang sampaikan dengan bahasa abad ini oleh Tarhan memang sangat pantas menjadi kajian dan renungan mendalam. Pelajar adalah sosok manusia integral yang mempunyai tingkat immunitas jiwa penuh prima. Sebaliknya, menjadi pelajar di dunia kontemporer adalah menjadi manusia paradoks yang siap terselubung dalam jerat kapitalisme. Jika tidak cerdas menyikapinya, pelajar akan menjadi manusia nyinyir  yang lebih parah dari kaum yang ‘bukan pelajar’. Optimisme pelajar  harus selalu dibangkitkan dengan terapi Masnawi ala Rumi ini, sebab optimisme adalah kunci utama dalam kehidupan orang yang mempunyai kecerdasan batin (hal. 57) walaupun secara dhahir barangkali ia nampak lemah dan dekil, ibaratnya, seorang yang buta tidak akan tahu berapa jauh jalan yang ditempuh, meskipun ia telah berjalan 100 tahun (Masnawi jilid VI: 417, hal. 183).  Untuk itu, menggunakan akal dan hati secara bersamaan dalam proses belajar, mengenali diri, empati, kemampuan berkomunikasi, motivasi diri, problem solving, kecerdasan emosi, mengelola waktu, mengelola stress dan amarah, toleransi dan memaafkan, gigih dalam usaha dan niat, disiplin dan bekerja dan dermawan, menjadi penengah, dan sebagainya (hal. 254-309) adalah untaian terapi Masnawi yang sangat bermanfaat. @

DIMUAT DI KORAN RADAR MADURA, 12MEI 2016

ANTARA SEJARAH DAN KISAH


Tulisan Aep Saepulloh Darusmanwiati ini bukanlah sebuah buku seperti susunan Machael H. Hart dalam ‘100 Tokoh yang Paling Berpengaruh Di Dunia’. Bukan pula seperti karya Khalid Haddad dalam ’12 Tokoh Pengubah Dunia’, dalam ‘Ensiklopedi Muslimah’ susunan A. Aziz Masyhuri, dan dalam ‘Ensiklopedi Tokoh Muhammadiyah’ racikan Nadjamuddin Ramly bersama Hery Sucipto, yang semuanya memaparkan kisah-kisah berdasarkan jalan hidup (sejarah) atau biografi dari sang tokoh. Aep Saepulloh tidak mendasarkan pengisahannya berdasarkan jalan hidup tersebut. Dia lebih cenderung pada substansi kisah-kisah di balik fakta sejarah. Untuk itu, dia menghimpun kisah-kisah terpilihnya, yang ia seleksi dari lebih 40 kitab klasik, sehingga terasa kaya akan nuansa religius atas kisah-kisah yang diceritakan.

Aep Saepulloh yakin betul akan kekuatan kisah dalam sejarah peradaban manusia. Sebagaimana kita mahfum, sejarah sebagai kisah merupakan narasi yang disusun dari memori kolektif, kesan, atau interpretasi manusia terhadap peristiwa yang terjadi pada masa lampau, yaitu sejarah sebagai rerum gestarum sebagaimana pendapat G.W.F. Hegel, atau menurut Moh. Ali, sejarah serba subyek, yakni suatu kisah yang mempunyai ketergantungan besar kepada orang yang mengisahkannya (subyek). Oleh karena itu, logis jika Aep Saepulloh menekankan pengisahannya pada substansi perjalanan hidup tokoh yang ia sorot. Sebab dengan pengisahan substantif maka pesan-pesan moral yang ada di dalam bukunya cepat sampai dan dicerna dengan mudah oleh para pembacanya.

Dia berhasil menelusuri sumber-sumber kitab mu’tamat tersebut, yang sebagian kita asing terhadapnya, sehingga kisah-kisah dalam buku ini lahir beragam, mulai dari kisah akhlak, ibadah, perkara sehari-hari, sampai hal-hal terkait dengan alam kubur, dan juga akhirat (hal. 7). Inilah kekuatan yang ada di buku ini yang jarang pembaca temui dalam berbagai buku sejenis yang saya sebutkan di atas. Lagi pula, buku ini juga dikemas dalam bentuk jenaka dan menghibur. Selain itu, setiap hadis yang ada, dia selalu coba mentakhrij dan selalu menyelipkan penjelasan para ulama seputar makna yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, betapa hebat kandungan buku ini. Cuma kekurangannya, menurut saya, yaitu dari segi pencantuman judul buku yang terlalu berlebihan, padahal isinya yang benar-benar berkaitan dengan judul tersebut hanya terdapat di catatan akhir (hal. 265), walaupun kisah tentang setan yang hafal ayat kursi sempat dicantumkan  di halaman depan (hal. 46), tetapi tetap kurang mewakili cakupan isi buku yang ada.

Sebagai buku yang bercorak Islamic History, sang penulis memulainya dengan kisah-kisah sahih yang diambil dari kitab-kitab hadis terkenal, misalnya waktu ia menceritakan dahsyatnya doa ibu (hal. 22), hadis yang dipilih muttafaqun alaih, yaitu bersumber kepada Imam Bukhari dan Imam Muslim. Demikian pula, waktu mengisahkan tentang musibah (hal. 31) yang menimpa pada tiga orang pemuda saleh, si penulis buku memberinya judul dengan indah; ‘tolak musibah dengan amal saleh’,  yang sumbernya merujuk pada kedua imam hadis di atas.

Adapun yang sangat menakjubkan dari keseluruhan isi buku ini, adanya kisah pertaubatan seorang tabi’in sufi, putra seorang budak Persia, yang bernama Malik bin Dinar (hal. 85). Digambarkan dengan apik berbahasa diolag antara Malik bin Dinar dengan putri kesayangannya, sambil mengutip sabda Rasulullah SAW, sang sufi berkata: ‘…apabila salah seorang diantara kalian pergi ke pasar lalu ia membeli sesuatu yang membuat anak perempuannya berbahagia, maka kelak ia akan diperhatikan oleh Allah SWT….’. Akan tetapi, bukan hanya kisah Malik bin Dinar saja yang amat menarik menjadi andalan kisah dalam buku ini. Ke semua kisahnya patut kita baca sampai tuntas sebagai ibroh di dunia kita, yang penuh dengan berbagai macam problematika keumatan. Di sinilah ucapan sang proklamator, Ir. Soekarno, cukup  korelatif dengan isi buku ini waktu beliau menekankan arti penting sejarah terhadap perubahan suatu bangsa, yang  disingkatnya “JASMERAH” ; jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Agar para pembacanya merasa senang membaca tuntas buku yang memang cukup tebal ini, Aep Saipulloh membagi bab bukunya menjadi beberapa bagian penting, yaitu bagian pertama, mengisahkan tentang cerita bersumber pada kitab hadis, bagian kedua, mengisahkan orang-orang yang selamat sampai akhirat, yang juga sumbernya dari kitab hadis. Bagian ketiga, mengisahkan tentang keselamatan orang-orang bila berbakti pada orang tua. Mulai bagian ini dan selanjutnya, sumber rujukannya  menyebar pada kitab-kitab selain hadis. Bagian keempat, kisah orang-orang yang merasakan berkah al-Qur’an, bagian kelima, kisah fenomenal tentang hidup sesudah mati, kemudian bagian keenam, mengisahkan tentang obat segala macam penyakit. Dan dilanjutkan pada bagian ketujuh, yakni tawa penuh hikmah, beberapa kisah yang diambil dari kitab-kitab sufi terkenal. Serta bagian terakhir adalah setan pun hafal ayat kursi, sekaligus sebagai catatan akhir dari susunan bab buku ini. Pada bagian catatan akhir inilah kekuatan keilmiahan buku dapat kita temukan (hal. 7). Di bab ini beberapa footnote berada dan beberapa takhrij kita temukan. Akan tetapi, bagian kesatu sampai dengan bagian ketujuh buku ini bukan tidak dapat disebut ilmiah karena tidak ada catatan kaki misalnya, sebab sumbernya ada di akhir kisah. Atau dalam istilah lain, rujukannya bersifat endnote.

Secara keseluruhan, baik secara konten buku, editorialnya maupun perwajahan buku, telah dikerjakan secara sempurna, sehingga kita sebagai pembaca, dengan konten yang bernas, bahasa yang sederhana, dan keindahan fisik buku, akan selalu ingin mengoleksinya di rak perpustakaan pribadi kita, Insya Allah. @

DIMUAT DI KORAN KABAR MADURA, 22 SEPTEMBER 2016

 

 

Dunia


Sampai kini hujan tak kunjung ‘jheppu’
Katanya ada elnino
Jagung dan padi layu seperti daun bawang
Para petani jengah tak tau mau apa
Sementara panas terus menjadi

Tak tau harus bilang bagaimana
Tanah terus kerontang
Sumber banyak yang mati
Sementara sumur bor semakin menjadi-jadi
Air semakin sulit

Sekarang bulan satu
Yang berarti dulu adalah puncak hujan
Tapi kini puncak kegerahan
Dunia dunia dunia
Apa kau lagi marah?

Gulukgului,18 Januari 2016

Cat: jheppu bhs Madura artinya hujan deras dan lama.

KIAI ABDULLAH SAJJAD: TOKOH YANG TEGAS DAN BERKARAKTER DAN PEJUANG YANG TANGGUH


Kiai Abdullah Sajjad  adalah putra Kiai Syarqawi dari Nyai Qamariyah. Dilahirkan di Guluk-Guluk Sumenep Madura. Tanggal dan tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti. Namun demikian, nama besarnya tidak bisa dilupakan siapa pun.

Kiai Abdullah Sajjad: Tokoh yang Tegas dan Berkaraktera. Memang beliau bukanlah sosok yang haus anjungan dan bangga dengan publikasi. Tanpa publikasi sekalipun, semerbak kemasyhurannya dikenal banyak orang. Itu semua  karena kebesaran dan peran sosial politiknya yang tidak sederhana. Ia adalah tokoh fenomenal: pendidik, pejuang, dan penulis sekaligus.

Layaknya pemuda yang lahir dari rahim pondok pesantren, Abdullah Sajjad kecil oleh orang tuanya dikirim untuk mnimba ilmu dari satu pesantren ke pesantren yang lain. Beliau pernah belajar di pesantren yang paling populer pada masanya, Pesantren Kadenmangan asuhan Syaikhona Khalil. Selain itu, beliau juga pernah belajar di Pondok Pesantren Tebuireng jombang dan Pesantren Panji Sidoarjo.

Setelah beberapa tahun ngelmu di satu pesantren dan beralih ke pesantren yang lain, Abdullah Sajjad kembali ke habitat awalnya, Guluk-Guluk, untuk melanjutkan perjuang orang tuannya, yaitu mengembangkan pesantren. Dan sejak saat itu, beliau diberi kesempatan untuk merintis sendiri sebuah “pesantren” di pesantren Annuqayah. Inilah awal pemekaran dan pembiakan pesantren Annuqayah menjadi wilayah-wilayah dengan kebijaksanaan otonom.

Di wilayah barunya yang dikenal dengan Latee inilah Kiai Haji Abdullah Sajjad mengawali perannya sebagai pengajar yang ulet dan tangguh. Keuletan beliau terlihat dari aktifitasnya yang membarikan hampior seluruh waktunya untuk mengisi pengajian kitab setiap usai salat berjamaah, kecuali setelah salat Maghrib dan salat Subuh yang digunakan untuk pengajian Al-Quran. Tidak cukup dengan semata-mata mengajar para santrinya, Kiai Haji Abdullah Sajjad merasa bertanggung jawab dalam perbaikan moralitas masyarakat sekitarnya. Wujud tanggung jawab ini direalisasikan dengan merintis pengajian umum untuk masyarakat sekitar pesantren yang dilaksanakan setiap malam Ahad.

Dalam perkembangannya, minat peserta pengajian tidak saja terbatas pada pada masyarakat yang berdekatan dengan pesantren, tetapi juga meluas hingga ke berbagai daerah di Kabupaten Sumenep dan Pamekasan.   Beliaulah yang dikenal sebagai perintis pertama pengajian umum di Pesantren Annuqayah. Beliau juga dikenal dekat dengan dan begitu memperhatikan  masyarakat bawah. Ini misalnya, sebagaimana dikisahkan Kiai Abdul Basith, salah satu putranya dari Nyai Aminah Az-Zahra’, setiap mendengar ada tetangga sakit, Kiai Abdullah Sajjad biasanya mengajak sebagian santrinya untuk menjenguk dan sekaligus membacakan Qasidah Burdah untuk si sakit. Jiwa sosial yang demikian mendalam mengaliri kepribadiannya.

Kalau Kiai Abdullah Sajjad lebih bergerak di luar, tidak halnya dengan Kiai ilyas. Kiai Ilyas lebih bergerak dalam membenahi internal pesantren. Ekspansinya yang demikian luas ke luar ini menyebabkan Kiai Abdullah Sajjad begitu mudah mendapat pengakuan masyarakat dan sebagai konsekuensinya beliau pernah terpilih menjadi kepala desa Guluk-Guluk. Penerimaannya untuk menjadi kepala desa didasarkan pada keinginan beliau untuk menanamkan Islam kepada warga masyakatnya melalui institusi desa. Dengan demikian, lengkaplah peran dakwah Kiai Abdullah Sajjad. Di samping ditopang  pola pendekatan kultural melalui pengajian-pengajian umum yang telah dirintisnya, beliau juga memanfaatkan pola pendekatan struktural melalui lembaga desa.

Figur yang Kokoh Pendirian     

            Kiai Abdullah Sajjad merupakan tokoh yang tegas dan berkarakter.  Tokoh yang satu ini  tangguh dalam membela prinsip yang dipegangi dan lebih bersifat reaktif, atau bahkan cendrung antipati terhadap pelecehan yang dilakukan kalangan “modernis”. Sebagaimana diketahui, pertentangan antara kelompok “modernis” yang kerap diasosiakan dengan dengan Muhammadiyah dan kelompok “tradisionalis” yang diasosiasikan dengan Nahdlatul Ulama demikian meruncing, tidak terkecuali pada masa Kiai Abdullah Sajjad. Kiai Abdullah Sajjad dengan karakternya yang tegas dalam memebela prinsipnya pun terleibat dalam “pertarungan” gagasan ini. Ini misalnya, sebagaimana diuturakan Kiai Abdul Basith, dalam lembaran catatannya Kiai Abdullah Sajjad pernah menulis  pembelaan terhadap penggunaan kata ushalli setiap kali memulai salat: satu hal yang didebat oleh kalangan Muhammadiyah. Model pembelaan ini juga menunjukkan  konsistensi sikapnya dan ketegasan prinsipnya dalam membela keyakinan yang dianjurkan para ulama salafus shalih.

Bukti lain yang menunjukkan konsistensi dalam mempertahankan prinsip adalah anjurannya untuk selalu berhati-hati dan benar-benar mencermati ketika membaca “kitab-kitab tertentu”.  Sebagaimana diutarakan Kiai Abdul Basith, Kiai Abdullah Sajjad pernah menulis catatan di lembaran kitab Fushusul Hikam karya Muhyiddin Ibn ‘Arabi yang menjelaskan anjuran untuk berhati-hati dalam membacanya sehingga tidak melahirkan kesimpulan yang “menyesatkan”. Tentu saja anjuran ini merupakan bagian dari pembelaannya terhadap prinsip yang diyakininya. Tentu saja, pembelaan tersebut diterapkan secara serampangan, tetapi melalui penelusuran dan pengamatan kritis.

Pahlawan Perang Revolusi

Dibacakannya teks proklamasi  pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan wujud kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan. Namun sayang, meluapnya ambisi imprealistik menyebabkan Belanda kembali menjajah paska kemerdekaan 1945. Penjajah terus meluaskan wilayah ekspansinya hingga ke wailayah Madura.  Ketika Belanda untuk kedua kalinya memasuki Madur pada tahun 1947, kepemimpinan Laskar Sabilillah di Sumenep yang semula dipegang Kiai Mohammad Ilyas diserahkan  kepada Kiai Abdullah Sajjad yang pada saat itu beliau baru menjabat klebon (kepala desa) Guluk-Guluk.  Melalui institusi itulah Kia Abdullah Sajjad menghimbau dan mengajak para warganya untuk terlibat dalam jalur politik : politik membela agama, bangsa, dan negara. Dihimpunlah masyarakat dalam wadah yang disebut dengan Laskar Sabilillah: suatu wadah yang difungsikan untuk menggalang dan menghimpun kekuatan dalam menentang penjajah yang kembali menguasai Sumenep.  Ajakan ini mendapat respons yang positif dari warga masyarakat. Apresiasi masyarakat terhadap seruan kiai tentu saja ditopang oleh pola kehidupan masyarakat yang telah terbentuk dengan kokoh dan pada saat yang sama  kedudukan kultural kiai pada saat itu telah mapan. Di pihak yang lain penindasan penjajah kian meningkat dan disinilah mulai terbentuk solidaritas bersama untuk menghadapi penjajah sebagai common enemy

Dibantu keponakannya, Kiai Khazin yang bertindak sebagai pimpinan pasukan, Kiai Abdullah Sajjad lebih berposisi sebagai pengatur taktik dan strategi pertempuran. Begitu Belanda terus berusaha masuk ke arah Sumenep,  tentara Sabilillah dengan gencarnya melakukan perlawanan. Mengingat peralatan perang Belanda tidak sesederhanan yang dibayangkan, upaya pertahanan terus dilakukan. Hingga suatu ketika pertahanan tidak lagi mampu membentdung arus pasukan belanda, Kiai Khazin selaku pimpinan lapangan mengirim utusan ke Annuqayah, markas tentara sabilillah, agar pesantren Annuqayah dikosongkan. Sementara Kiai Mohammad Ilyas mengungsi di dusun Berca, daerah pedalaman Guluk-Guluk, Kiai Abdullah Sajjad mengungsi ke Karduluk, daerah sebelah timur Prenduan, dengan ditemani bebrapa santrinya.

Setelah empat bulan di pengungsian, datanglah sepucuk surat yang ditujukan kepada Kiai Abdullah Sajjad yang berisi pernyatan bahwa Guluk-Guluk aman terkendali dan Kiai Abdullah Sajjad dimohon untuk kembali ke Pesantren Annuqayah.  Sebelum surat itu disampaikan kepada Kiai Abdullah Sajjad, pihak pimpinan pesantren Annuqayah yaitu Kiai Mohammad Ilyas dan Kiai Idris melakukan musyawarah dan akhirnya keduany apun menyetujui. Kiai Abdullah Sajjad pun kembali ke Pesantrren Annuqayah. Mendengar kedatangan Kiai Abdullah Sajjad, sontak saja masyarakat berkunjung ke pesantren untuk menemuinya. Sementara Kiai Abdullah Sajjad sedang ayik-asyiknya menemani para tamu di Mushallah sehabis beliau melaksanakan salat Maghrib, tiba-tiba sembilan serdadu Belanda datang dan menagkap beliau. Kiai Abdullah Sajjad pun dibawa ke lapangan Guluk-Guluk, dan disanalah beliau mengakhiri usianya akibat kekejaman dan kelicikan tentara penjajah. Beliau dibunuh di ujung kerakusan senapan penjajah. Peristiwa berkabung ini terjadi pada tahun 1947.

Meskipun Kiai Abdullah Sajjad telah wafat, namun semangat yang beliau hunjamkan di sanubari para pengikutnya terus bergelayut dan semangat untuk berjuang terus bergelora. Beberapa bulan kemudian, Kiai Khazin yang menjadi pimpinan pasukan Sabilillah yang sekaligus keponankan Kiai Abdullah Sajjad menyusul kepergian pamannya lantaran sakit setelah kembali dari pengungsian . Beliau mengungsi ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukerejo, Asembagus Sitobondo. Pesantren ini oleh Belanda dinyatakan sebagai Heillige Zone (zonal suci) yang merupakan daerah terlarang terlarang bagi tentara Belanda. Artinya, tentara Belanda dilarang keras untuk memasuki kawasan tersebut walau untuk menangkap tokoh dan pejuang kemerdekaan sekalipun, sehingga pondok pesantren dijadikan sebagai penyembunyian dan sarang pelarian gerilyawan pasukan Indonesia.

Karya Peninggalannya      

Di  sela-sela kesibukannya mengurus para santri serta keterlibatannya dalam pengajaran masyarakat, ditambah lagi dengan keterlibatannya dalam medan juang melawan penjajah, Kiai Abdullah Sajjad masih bisa menyisihkan waktunya untuk merenung dan menulis karya. Satu-satunya karya yang menjadi saksi ketekunan beliau adalah Mandzumatur Risalah yang berisi sembilan puluh delapan bait nadlam yang isinya mengurai tentang cara berakidah yang tepat.  Kitab ini disuguhkan dengan model tanya jawab dan disusun ddengan format nadlam. Ada bebrapa poin yang diperbincangkan kitab tersebut, yaitu tentang makna iman, hakikat iman, cara beriman kepada Allah, cara beriman kepada para malaikat, cara beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allahm cara beriman kepada para Nabi, jumlah kitab yang diturunkan, jumlah para Nabi dan Rasul, cara beriman pada hari akhir, cara beriman pada qadar, dan sebagainya.  Sebagaimana disebutkan secara jelas dalam salah satu baitnya, kitab ini ditulis pada tahun 1360. Dan pada pada tahun 1418, Abu Muhammad Zaqien al-Maduri, nama samaran Kiai Abdul Basith, salah satu putra Kiai Abdullah Sajjad, memberikan komentar (syarh) singkat  dengan judul kitab Idlahul Afadil Syarh Mandzumatul Masa’il

           Meskipun beliau hanya meninggalkan sebuah karya, namun semangatnya untuk meninggalkan karya semacam ini di sela-sela kesibukannya sebagai pendidik dan pejuang sekaligus merupakan fenomena yang langka.  Dalam situasi sosial yang penuh pergoalakan ini, beliau hadir mempersembahkan sebuah karya yang tidak kecil maknanya bagi umat.

Demikaianlah sepotong sejarah pengabdian seorang figur fenomenal yang mencurahkan hidupnya demi kepentingan agama, bangsa, dan negaranya. Tulisan ini tidak mungkin mampu melukiskan “warna utuh” perjalanan sejarahnya. Begitu kaya nuansa yang dilakoninya sehingga mustahil dituangkan dalam tulisan yang teramat singkat ini. Tapi yang jelas, Kiai Abdullah Sajjad adalah figur fenomenal.[]

Tulisan diatas menyalin dari : Kiai Abdullah Sajjad: Tokoh yang Tegas dan Berkarakter http://www.lontarmadura.com/kiai-abdullah-sajjad/#ixzz3mQvo6kY2