MEMPROTEKSI SANTRI SELAMA LIBURAN


Bulan ini, hampir semua pesantren di Madura, bahkan di seluruh Indonesia, telah  meliburkan seluruh santrinya. Libur tersebut dicanangkan dalam rangka puasa Ramadhan agar seluruh santri dapat berkonsentrasi berpuasa dan menjalin silaturrahim di rumahnya masing-masing. Ditambah pula agar mereka dapat istirahat selama lebih satu bulan dari ketegangan memuncah selama di pondok. Sehingga bila mereka kembali ke pondok di awal Syawal pikiran, jiwa dan hati mereka kembali segar, siap menerima pembelajaran di pondok yang terkenal disiplin dan keras.


Agar tujuan liburan dari pesantren tercapai dengan baik, maka para santri harus diproteksi selama liburan berlangsung. Proteksi itu, bila penulis mengacu pada terminologi Sosiologi, dapat dilakukan oleh lembaga sosial (social institution), yang biasa disebut dengan istilah pranata sosial. Lembaga sosial itu antara lain; lembaga keluarga, lembaga pendidikan, lembaga ekonomi, lembaga agama, lembaga politik, lembaga hukum, lembaga budaya dan lembaga kesehatan. Delapan lembaga ini bila berfungsi dengan baik, proteksi santri dan imunitasnya akan berjalan sempurna, dan bentuk-bentuk penyimpangan perilaku sosial mereka akan tereduksi sehingga ekses-ekses negatif bisa diminimalisir dari dunia santri.


Bagaimana agar lembaga sosial di atas dapat berjalan dengan baik, maka penulis perlu menjelaskannya dengan harapan para pembaca dapat mengambil hikmah dan mencoba dengan segala cara ikut memproteksi santri. Dengan niatan demikian, paling tidak kita, lebih-lebih sabagai alumni dari pondok pesantren, dapat menjaga muruah sang pesantren itu sesuai dengan visi dan misi yang diembannya.



Keluarga sebagai fondasi utama

Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat. Pengendali utamanya terdiri dari ayah dan ibu. Lembaga ini merupakan institusi awal ketika kita dilahirkan. Dalam keluarga kita diajari mengenal sesuatu yang menjadi pijakan utama lebih lanjut; dari cara mengenal baca huruf, hitung, hewan-hewan, berbagai jenis tumbuhan, sampai kepada pengenalan Tuhannya. Keluargalah yang telah membentuk.


Sebagai fondasi utama akan pembentukan karakter seseorang, keluarga dijadikan tolok-ukur akan keberhasilan seorang anak kelak. Dengan alasan seperti inilah keluarga dijadikan  stressing utama oleh Rasulullah SAW dalam pendidikan berperilaku, sebagaimana ungkapan beliau; anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Anak akan menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi sangat tergantung pada didikan kedua orang tuanya.


Pendidikan berperlaku ala Rasulullah SAW dikenal dengan keberhasilannya dalam membentuk karakter juang tangguh pada keempat putri beliau. Karakter tersebut menurun kepada para sahabat-sahabatnya, para tabi’in, ulama salafus shaleh hingga saat ini. Didikan Rasulullah SAW diakui oleh para ahli baik di Barat atau Timur, sebagai didikan paling baik sejak ada manusia di planet bumi ini.


Karakter utama didikan Rasulullah SAW dalam membina keluarga yang baik adalah diletakkannya unsur akidah sebagai dasar paling utama dalam mengatasi segala problematika kehidupan. Dengan unsur akidah yang baik seorang anak tidak akan bertindak macam-macam, baik di waktu ada orang, maupun tidak ada orang sama sekali, sebab kita merasa diawasi oleh Tuhan kita.

Saat ini, para santri itu telah berada di dalam naungan institusi keluarganya lagi. Bagi keluarga yang merasa kurang ilmu akan penanaman akidah tak usah terlalu khawatir, tentu para anak itu sesungguhnya telah berbekal ilmu itu tatkala diajari di pondok. Secara teori, para santri telah hafal dengan baik akan rukun iman, sifat-sifat Allah, aliran-aliran akidah dalam Islam, dan lain-lain. Tugas orang tua adalah bagaimana pengalaman akan kemampuan teoritis tersebut, yaitu pengalaman terkait dengan ibadah ubudiyah, perlaku sosial di tengah masyarakat, baik perlaku dengan sesama jenis, atau dengan lawan jenis. Sebab akidah tak bisa lepas dari syariah itu sendiri.

Foto: Kegiatan BIMTEK 2013 di Pam


Mendorong para santri agar tetap mencari ilmu

Di rumah, tak semua orang tua sanggup mengirimkan anak-anaknya kursus dalam lembaga pendidikan bermutu selama libur Ramadhn ini. Tapi bukan berarti orang tua pasif terhadap meraka. Jika ikut kursus sulit diwujudkan karena berbayar, mengapa mereka tidak dianjurkan untuk kembali ke pondok, sebab di pesantren selama puasa banyak sekali pengajian yang diberikan oleh kiai.


Institusi pendidikan dalam lembaga sosial mempunyai peranan sebagai manifes nyata, sebagaimana pendapat Horton dan Hunt. Manifes nyata tersebut berupa persiapan anggota masyarakat dalam mencari nafkah; mengembangkan bakat pribadi seorang anak; melestarikan kebudayaan bangsa; menanamkan keterampilan individu; menjamin integritas sosial; dan sumber inovasi sosial. Kembali ke pesantren selama libur Ramadhan akan mengasah keterampilan-keterampilan di atas.


Institusi pendidikan ini mempunyai keterkaitan yang amat lekat dengan lembaga ekonomi dan lembaga agama. Kembali ke pondok adalah cara terbaik untuk menanamkan kemandirian, di mana, ciri ini merupakan kekuatan ekonomi terbaik. Santri yang terbiasa mandiri akan mempunyai kekuatan handal dalam mencari nafkah kelak. Jangka panjangnya, kemandirian akan membuat negara dan bangsa selalu disegani. Kembali ke pondok selama Ramadhan ini dengan sendirinya juga akan mengokohkan lembaga agama sebagai solusi terbaik dalam menyingkap permasalahan yang ada sekarang ini. Pesantren sebagai lembaga agama tidak hanya berhasil menyiapkan peserta didik dengan kemampuaan agama yang sangat baik, tetapi juga telah berhasil menyiapkan kemampuan lainnya dengan baik pula. Inilah ruh pesantren.


Kemampuan-kemampuan dalam politik, hukum, budaya dan  kesehatan, lebih-lebih kesehatan batin, sangat melekat dalam institusi agama yang berupa pondok pesantren ini. Inilah yang disebut kemampuan integral yang ditanamkan pesantren sejak sekian abad silam.


Mungkin kembali ke pondok selama liburan tidak nyata nyata mempunyai keahlian dalam ilmu politik, sebagaimana mahasiswa jurusan FISIP misalkan. Namun jika para santri dapat mengaji kitab karya ulama besar madzhab Syafi’ie, Imam al-Mawardi selama liburan ini maka akan tahu bagaimana politik dalam Islam itu berfungsi. Kembali ke pondok akan menanamkan kepekaan dalam masalah hukum, baik hukum positif bernegara, lebih-lebih hukum syari’ah. Kembali ke pondok juga akan selalu melestarikan budaya, lebih-lebih budaya santri yang terkenal andhap ashor. Demikian pula, kembali ke pondok akan menambah sehat badan dan batin, sebab kesehatan dhahir dan batin sangat diperhatikan di seluruh pondok di nusantara ini.


Akhirnya, mari kita proteksi anak-anak kita selama liburan pesantren dengan upaya yang kontinu dari orang-orang terdekat yang peduli akan kebaikan generasi unggulan bangsa Indonesia kelak. Wallahu a’lam.

Iklan

Rajab Dan Pembebasan Individu Seorang Muslim


Sangat luar biasa hafal seputar bulan ini. Kita tahu benar jika ditanya tentang keistimewaan bulan ke-7 dalam kalender Islam ini. Paling tidak, kita tahu bahwa bulan Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban bulan Rasulullah, dan Ramadhan bulan kita semua. Sunah mu’akkad berpuasa di bulan ini, baik 1, 3, 7, atau 16 hari telah menandaskan bahwa bulan ini sangat luar biasa. Dan yang terpenting, bulan ini adalah bulan pembebasan Rasulullah SAW dari kungkungan ketakutan karena intimidasi dan ancaman pembunuhan dari kaum kafir Quraisy. Pembebasan itu berupa peristiwa maha akbar, yakni Isra’ Mi’raj, dalam rangka menerima perintah shalat lima waktu.


Dalam sejarah kita ketahui bahwa peristiwa ini terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, peristiwa ini terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, antara tahun 620-621 M. Menurut Allamah al-Manshurfuri, Isra’ Mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun ke-10 dari kenabian. Namun, pendapat umum di atas dibantah oleh sejarawan Muslim India, Syeikh Shafiurrahman al-Mubarakfuri, dengan alasan bahwa Khadijah ra., istri nabi, meninggal pada bulan Ramadhan tahun ke-10 dari masa kenabian, yakni dua bulan setelah bulan Rajab, dan saat itu belum ada kewajiban shalat lima waktu. Al-Mubarakfuri menyebutkan enam pendapat seputar peristiwa ini, tetapi semua tak ada satu pun yang pasti. Dengan demikian, tak diketahui secara jelas kapan kejadian Isra’ Mi’raj berlangsung. Hanya Allah SWT yang Maha Tahu.

Foto: Pantai Sembilan Gili Genteng, 23 April 2017


Paling tidak, disepakati secara pasti bahwa peristiwa inilah yang telah melahirkan perintah shalat lima waktu, demi pembebasan mutlak dari segala unsur keduniaan, sebab Rasulullah SAW terpanggil ke hadirat Allah SWT di Shidratul Muntaha, suatu tempat yang maha suci, di mana segala kefanaan hengkang dan lenyap. Dengan demikian, pembebasan Allah SWT pada manusia pilihannya itu merupakan pembebasan terpenting selama ada manusia di dunia ini, dari Adam hingga kini. Rasulullah SWT-lah yang secara live bertemu dengan Allah SWT di Kursi ‘Arsy yang Maha Perkasa. Terlepas dari kontravensi (untuk tak menggunakan istilah ‘kontroversi’) yang ada sepanjang zaman, apakah Rasulullah SAW Mi’raj dengan jazad atau sebaliknya, peristiwa itu memang yang maha akbar sepanjang hidup beliau.



Moment Pembebasan Hakiki

Peristiwa maha akbar itu berlalu lebih dari 1438 tahun. Sampai detik ini kita tetap mendirikan shalat lima waktu tepat waktu, dan meyakini dengan pasti akan peristiwa tersebut. Sebab mustahil kita mendirikan shalat tanpa menyakini akan peristiwa Isra’ Mi’raj-nya Rasullullah SAW itu sendiri. Peristiwa itu dan perintah shalat merupakan sepaket.

Jika Rasulullah SAW terbebaskan dari segala gundah-gulana karena peristiwa itu, maka umatnya terbebaskan dari segala sesutau dengan sebab adanya pendirian shalat lima waktu. Shalat inilah yang seharusnya membuat kita merdeka secara hakiki, dan tanpa takut kepada siapapun kecuali pada Allah SWT semata. Dengan shalat kita berkomunikasi secara langsung kepada Allah SWT, dan dengannya, kita senantiasa merasa terbebaskan dari segala bentuk tekanan, baik materi atau pun batin. Sebegitu hebatnya shalat, ia oleh Rasulullah SAW dijuluki sebagai ‘tiang agama’. Barang siapa yang pendirian shalatnya baik, maka baik pulalah tiang agamanya.


Merasa bahwa hidup ini ruwet, membebani, dan bikin stress, maka tengoklah sejenak bagaimana shalat kita. Penulis tak usahlah mengutip pendapat para ahli kesehatan terkait dengan shalat dan kesehatan raga, atau mengutip ahli ilmu psikologi terkait dengan shalat dan kesehatan batin. Telah jelas, bahwa hanya shalat yang tepat dan benarlah yang dapat membebaskan manusia muslim dari kungkungan atau perbudakan kefanaan dunia.


Derajat pembebasan hakiki insan muslim dari segala keterpurukan hidup ini hanya terletak bagaimana kita bershalat. Pendirian shalat yang tepat dan benar akan mempunyai efek aura positif pada langkah panjang kehidupan ini. Efek positif inilah yang akan berdampak lebih luas dalam bentuk kesalehan sosial, sebagaimana ditunjukkan oleh baginda Nabi SAW di depan para shahabat, atau ditunjukkan oleh para shahabat Nabi SAW di depan para tabi’in, atau ditunjukkan oleh para tabi’in di depan tabittabi’in, dan begitu seterusnya dilanjutkan oleh ulama-ulama para sholafush sholeh lainnya hingga zaman kita. Oleh karena itulah, baginda Nabi SAW berkata ‘shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku bershalat’. Tanpa terkurang atau bertambah.


Shalat yang tepat dan benar selain berdampak untuk memupuk kesalehan sosial, ia juga sarana mencegah perbuatan keji dan mungkar. Perbuatan keji, misalnya penistaan atas prinsip-prinsip Islam, kriminalitas dengan pembunuhan, baik pembunuhan fisik atau karakter, tak akan dijumpai. Perbuatan mungkar, misalnya mengingkari adanya Tuhan (atheis), mendukung sesuatu yang jelas-jelas dilarang oleh Allah SWT, atau membangkang kepada aturan Syariah secara luas, tak akan dijumpai pula. Dengn shalat yang tepat dan benar kehidupan ini akan berjalan sesuai dengan kefitrahan hakiki kemanusiaan itu sendiri.


Kelastarian hidup manusia muslim untuk menuju harkat yang bermartabat, penuh bijak bestari hanya dapat ditempuh dengan shalat lima waktu, tanpa mengecilkan arti penting dari rukun-rukun Islam lainnya. Shalat bagi seorang muslim adalah standar ukuran kesalehan hidupnya. Memperbaiki shalat sesuai dengan aturan yang Rasulullah SAW canangkan, sebenarnya memperbaiki standar hidup manusia muslim itu sendiri. Melalaikan shalat, atau bahkan menganggapnya perilaku sia-sia, sebenarnya telah menjerumuskan kita sendiri pada jurang kehancuran itu sendiri. Selamat memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.


Wallahu A’alam.

HARI NATAL DAN JEBAKAN TOLERANSI


Memupuk Semangat Toleransi yang Tepat

Tidak ada agama di dunia ini yang begitu lengkap mengatur bagaimana penganutnya bersikap, baik  pada hal-hal paling kecil, sampai berkaitan dengan kehidupan yang lebih luas. Sikap berkaitan dengan hubungan sosial, ekonomi, dan politik. Sampai sikap berkaitan dengah norma, ibadah-kerohaian, dan keimanan. Sikap-sikap seperti itu diatur dengan detail dan jelas, sejelas mentari yang menerangi kita tiap hari. Tidak ada yang remang-remang, atau malah gelap. Semua mudah dijalani, tanpa tafsir, kecuali yang mutasyabbihat dan tidak dirinci oleh agama kita, dalam urusan mu’amalah misalnya.

(Sumber foto: http://www.brilio.net)


Sikap toleransi dalam ranah memelihara kebhennikaan bangsa, diatur sedemikian jelas oleh agama Hanif ini. Prinsipnya tidak menyalahi ketauhidan kita, cara apapun hidup berdampingan dengan lain keyakinan, tak pernah dilarang atau ditentangkan. Semangat hidup penuh toleran ini sedemikian jauh telah diatur dalam berbagai surat di al-Qur’an, misalnya prisip lakum dinukum walyadin-nya surat al-Kafirun. Tentu, umat ini adalah pemberi contoh pada umat lainnya bagaimana cara hidup penuh toleran. Umat ini adalah pengajar terbaik pada agama lain bagaimana cara hidup berdampingan dalam konteks kebangsaan itu.


Cara hidup berdampingan yang selaras dengan ajaran dan konteks agama yang dianut oleh masing-masing orang merupakan keinginan bersama. Setiap orang yang beragama dengan sebenarnya tidak akan mengorbankan prinsip agama yang dianutnya. Prinsip-prinsip Brahman, Atman, Samsara, Karmaphala, Muksa merupakan lima prinsip Hindu yang tiap penganutnya wajib meyakini kebenarannya. Prinsip-prinsip Dukkha Ariya Sacca, Dukkha Samudaya Ariya Sacca, Dukkha Nirodha Ariya Sacca, Prajna, Sila, Samadhi, adalah prinsip Buddha yang harus diyakini kebenarannya oleh sang pemeluk sampai kapanpun. Prinsip-prinsip Tiong Cing, Su But, Su Cun, Su Coat, Ti, Jien, Yong, adalah prinsip mutlak dalam Konghucu yang tiap penganutnya mayakini kebenarannya.


Demikian juga para penganut Nasrani, aliran apapun yang sampai detik ini ada, akan selalu meyakini kebenaran Trinitas, Dosa turunan, Kelahiran anak Bapa, Penyaliban Yesus, Pembebasan Yesus atas domba-domba tersesat, dan sebagainya. ‘Kebenaran’ di atas sampai kapanpun tidak akan berubah karena perubahan waktu. Dan hal itu wajib diimani oleh orang-orang Nasrani.


Dan terpenting dari semua hal di atas bagi kita, lebih-lebih yang saat ini sedang berlangsung yakni Hari Lahir Sang Juru Selamat, Yesus Kristus menurut keyakinan Nasrani, adalah memahami dengan baik bagaimana sebenarnya posisi ini menurut kajian Sejarah.


Pada dasarnya, tak seorangpun tahu kapan Isa al-Masih dilahirkan, dan dimana ia lahir. Kita dapat baca dalam intrakanonik tertua Nasrani, yaitu Injil Markus (ditulis tahun 70 Masehi), sama sekali tak memandang penting akan hari lahir Yesus, sehingga kisahnya tak akan ada dalam catatan tersebut. Hanya dalam Injil Matius dan Lukas (keduanya ditulis sekitar tahun 80-85 Masehi) cerita tentang kelahirannya disebut. Hanya saja, dua Injil ini membedakan masa kelahiran Yesus. Injil Lukas menuturkan bahwa Yesus lahir pada masa Romawi dipimpin oleh Kaisar Agustus(16 Januari 27 SM – 19 Agustus 14 M) [Lukas 2 : 10 dan 11], sebagaimana hal ini juga terpampang dalam Prasasti Dekrit Majlis Provinsi Asia yang ditulis tahu 9 Masehi di Turki. Injil Matius menuturkan bahwa Isa al-Masih lahir pada masa Herodes Agung (75 SM). Adapun tempat kelahirannya, ada yang mengatakan di Betlehem, dan ada yang mengatakan di Nazaret. Tapi kedua tempat itu masih dalam lingkup Yerussalem, Palestina.


Yang menarik dari warta dua Injil di atas, atau bahkan dari semua Injil Perjanjian Baru, tak ada satu pun yang memberitakan bahwa Yesus Kristus kahir pada tanggal 25 Desember. Jika faktanya demikian, bagaimana tanggal itu dijadikan anutan milyaran kaum Nasrani dan ditetapkan sebagai Hari Natal? Mari kita telisik lebih dalam tetapi tetap dalam semangat toleransi.

(Sumber foto: http://www.brilio.net)


Pertama, sebagaimana diberitakan dalam dokumen Yahudi Roshi Hashana, kaum Yahudi yang hidup abad II M, bahwa merupakan suatu kelaziman pada orang-orang Yahudi kuno untuk menyamakan hari kematian dan hari kelahiran bapak-bapak leluhurnya. Praktik semacam ini diikuti juga oleh Kristen awal ketika menetapkan hari kelahiran Yesus. Ketika orang Kristen awal menafsirkan kitab Keluaran 34: 26b yang berbunyi “Jangan engkau memasak anak kambing dalam susu induknya,” mereka pun menerapkannya pada Yesus. Frase ‘memasak anak kambing’ ditafsirkan ‘hari pembunuhan Yesus oleh orang-orang Yahudi’. Adapun frase ‘dalam susu induknya’ diartikan dengan hari pembenihan atau konsepsi Yesus dalam kandungan sang ibu. Teks ini setelah ditafsirkan secara alegoris, menjadi sebuah landasan skriptural untuk menetapkan bahwa hari kematian Yesus sama dengan hari pembenihannya. Jika, ketika kelahirannya tidak diketahui dengan jelas, maka kematiannya dapat ditentukan  dengan jelas, yaitu pada 14 Nisan dalam penanggalan Yahudi kuno, yang bertepatan dengan tanggal 25 Maret dalam almanak sistem Gregorian. Caranya, tanggal di atas ditambah 9 bulan Yesus dalam kandungan bunda Maria, menjadi 25 Desember. Pandangan inilah yang dianut Bapak-Bapak Gereja, seperti   Klemen dari Alexandria, Lactantius, Tertullianus, Hippolytus, Pilatus, Sextus Africanus, dan sebagainya, sebagaimana dianut oleh Gereja Barat Roma.


Akan tetapi, banyak tokoh Gereja, seperti Arnobus dan Origenes, yang memperolok perayaan Natal dengan ucapan bahwa perbuatan  ini hanya pantas dilakukan oleh orang-orang berdosa, dan Yesus tak semestinya hari lahirnya dirayakan sebab ia pembebas dosa.


Adapun Montanus hanya tak sepakat dengan tanggal 25 Desember sebagai kelahiran Yesus. Ia berpendapat bahwa Isa al-Masih lahir pada tanggal 6 Januari, yakni setelah mereka menambahkan Sembilan bulan Yesus dalam kandungan sang ibu dengan kematian dan konsepsinya pada tanggal 6 April. Mereka merayakan Natal pada tanggal 6 Januari tersebut, sebagaimana yang dianut Gereja Timur yang ortodoks.


Kedua, Sebelum agama Kristen tersebar ke Romawi, masyarakat ini telah terbiasa menyembah dewa Matahari (Heliolatri). Dalam sistem Heliolatri ini tanggal 25 Desember ditetapkan sebagai hari penyembahan utama untuk pemujaan Dewa Sol (Dewa Matahari), yakni winter solstice pada 21 Desember di Eropa berada di titik terendah. Persis tanggal 25 Desember,  matahari mulai naik lagi, seolah Sol hidup kembali. Peristiwa astronomis ini ditafsirkan secara religius sebagai saat Dewa Sol tak terkalahkan (Sol Invictus). Dengan demikian tiap tanggal 25 Desember diperingati hari kelahiran Dewa Sol yang tak terkalahkan.


Oleh para penginjil dan penulis Gereja abad III Masehi, sebagai taktik penyebaran agama Kristen ke Eropa agar dengan mudah diterima oleh mereka, hari natal untuk dewa matahari (Sol Invictus) tersebut disematkan untuk Yesus, sehingga Yesus diberi gelar Sol Invictus baru. Dan sejak tahun 312 kaisar Konstantinus mengubah hari perayaan Natal untuk dewa Matahari menjadi perayaan Natal untuk Yesus Kristus. Penetapan ini bukan tanpa sindirian dari tokoh Gereja yang paham atas pelanggaran yang bersifat akidah ini. Cyprianus menyendir dengan ungkapan ‘Oh, betapa ajaibnya: Allah Sang Penjaga, Pemelihara, dan Penyelenggara telah menjadikan hari kelahiran Dewa Matahari sebagai hari di mana Yesus harus dilahirkan’.  Yohanner Krisostomus berkhotbah ‘Mereka menyebutnya sebagai ‘Hari Natal Yang Tak Terkalahkan’. Sejak masa itu, konsepsi Yesus lahir tanggal 25 Desember menjadi kebenaran mutlak Gereja Barat.


Umat Islam memandang bahwa kelahiran Yesus sebagai manusia yang istimewa merupakan kenyataan sejarah yang tak terbantahkan, dan kita wajib mengimani kelahiran dan keistimewaannya sebagai orang agung yang diutus Allah SWT pada kaumnya, Yahudi. Sampai di sini, umat Islam tak pernah ada masalah. Cuma, setelah hari kelahirannya diresmikan dengan cara yang salah dengan memasukkan unsur-unsur akidah ke dalamnya, maka hal inilah yang tak mungkin ditoleransi oleh umat ini.


Dari alur sejarah yang ada, Natal Yesus bukan sekedar peringat lahir belaka. Ia telah dimasuki unsur keyakinan akan eksistensi Tuhan Yesus. Di sinilah mengapa kita dilarang mengucapkan SELAMAT HARI NATAL, sebab kalimat ini adalah pengakuan atas ketuhanan Yesus yang bagi kita merupakan pelanggaran akidah tak termaafkan. Toleransi dalam hal ini, bagi kita memang tak mempunyai tempat.


Wallahu a’lam.

(Artikel ini dimuat di koran Kabar Madura edisi 2 Januari 2017)

MENGINGAT KEMBALI NEGARA ISLAM SOMALIA


​Akhir-akhir ini, masyarakat Somalia terjaduh dalam kubangan kelaparan maha dahsyat. Setiap hari ratusan anak-anak dan orang tua meninggal. 

Mari sejenak sisihkan kepedulian kita.

Somalia negara gagal.

Somalia (bahasa Somali: Soomaaliya; bahasa Arab: الصومال, As-Sumal), dahulu bernama Republik Demokratik Somali, adalah sebuah negara yang terletak di Tanduk Afrika. Negara ini berbatasan dengan Djibouti di barat laut, Kenya di barat daya, Teluk Aden dan Yaman di utara, Samudra Hindia di sebelah timur.

Somalia tidak memiliki pemerintah nasional yang efektif. Di barat laut, ada pemisahan Republik Somaliland. Di bagian lain terdapat beberapa warlord, yaitu Puntland dan Somalia Barat Daya. Pemerintahan yang diakui dunia internasional adalah “Pemerintahan Transisi Nasional”, awalnya dikepalai oleh Abdulkassim Salat Hassan, yang mengontrol hanya sebagian dari Mogadishu, ibu kota Somalia.

Pada 10 Oktober 2004 Perdana Menteri Somalia terpilih Abdullahi Yusuf, presiden Puntland, menjadi presiden berikut. Karena kekacauan di Mogadishu, pemilihan diadakan di pusat olah raga di Nairobi, Kenya. Yusuf terpilih Presiden transisional oleh parlemen transisional Somalia. Ia memenangkan 189 dari 275 suara dari parlemen. Sesi parlemen juga diadakan di negara tetangga Kenya. Pemerintahannya diakui oleh banyak negara Barat sebagai penguasa legal negara tersebut, meskipun otoritas aktualnya dipertanyakan.

Banyak organisasi politik kecil berdasarkan klan, lainnya mencari politik yang bebas-marga (seperti Front Somali Bersatu). Banyak yang terbentuk sejak pemilihan presiden baru.

Sejarah

Tanah Somalia terkenal sebagai “Tanah Aromatik” pada zaman Mesir kuno. Namun bangsa Somalia meyakini bahwa nenek moyang mereka sekarang adalah orang-orang Arab yang bermigrasi ke wilayah Somalia pada abad ke-7 pada masa penyebaran agama Islam sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh orang-orang Arab muslim. Sebagian besar dari mereka menetap dan berasimilasi dengan penduduk nomadik setempat yang akhirnya melahirkan bangsa Somalia kini. Sejarah modern Somalia dapat ditarik dari masa kolonialisasi Inggris dan Italia pada pertengahan tahun 1880-an. Daerah Zeila, Berbera diperintah oleh Inggris sebagai Somaliland Inggris dari tahun 1880-an sampai tahun 1960, sedangkan di wilayah selatan terdapat Somaliland Italia.

Setelah Perang Dunia II, Somalia menjadi wilayah perwalian PBB dan akhirnya mendapatkan kemerdekaannya pada tahun 1960 dengan nama Republik Somalia. Republik Somalia merupakan sebuah negara demokrasi parlementer sampai tahun 1969 sebelum akhirnya angkatan bersenjata mengambil tampuk kepemimpinan dan menjadikan Somalia sebagai negara sosialis dengan nama Republik Demokratik Somalia. Undang-undang dasarnya baru disahkan pada 1979 dan pemilihan umum telah dilakukan untuk memilih Majelis Rakyat. Selain itu, Somalia juga memiliki majelis hukum yang biasa dan yang berdasarkan syariah Islam. Somalia memiliki enam wilayah administratif yang meliputi Mijirtein, Mudugh, Benadir, Hiran, Juba Atas dan Juba Bawah. Somalia sekarang dipimpin oleh presiden dan perdana menteri, yakni presiden Sharif Ahmed dan perdana menteri Omar Ali.

Pada tahun 1977 Somalia sempat terlibat konflik dengan Ethiopia karena Somalia menginginkan wilayah Ogaden yang secara tradisional merupakan wilayah Somalia karena banyak sekali suku-suku Somalia yang menetap disana. Dengan bantuan Uni Soviet, Ethiopia berhasil mempertahankan wilayah itu dan menyebabkan lebih dari 1.000.000 keluarga mengungsi ke Somalia. Hal ini menimbulkan masalah pengungsi yang sangat besar di Somalia. Somalia sendiri memiliki jumlah tentara yang sangat kecil, karena negeri ini selalu dilanda konflik dan perang saudara yang berkepanjangan dan juga masalah perompakan yang belakangan menjadi sangat marak di wilayah laut Somalia.

Kuda-kuda Somalia, gesit dan tangguh. (Sumber foto: wikipedia)

Somalia terletak dari 12` LU sampai 39` LS dan dari 41` BT sampai ke 51` BT. Pesisir sebelah utaranya menghadap ke Teluk Aden dan pesisir sebelah timurnya menghadap ke Samudra Hindia. 

Di banyak wilayah, tanah Somalia ditumbuhi dengan semak-semak dan rumput-rumputan, terutama di bagian selatan. Tumbuhan yang tersebar di seluruh wilayahnya adalah pohon baobab dan akasia, dan masih banyak jenis-jenis pohon lainnya. Kekayaan fauna yang dimiliki oleh Somalia antara lain adalah antilop, gajah, singa, macan tutul, cheetah, kuda nil, dan penyu. Somalia juga merupakan tempat berkumpulnya spesies burung paling indah di Afrika, selain itu Somalia juga merupakan negeri yang kaya dengan spesies ikan hiu dan ikan tuna.

Kehidupan Sosial

Mayoritas penduduk Somalia adalah suku Somali (mencapai 98,3%) orang-orang Somali adalah keturunan orang Kushit Timur. Suku ini terbagi ke dalam sejumlah kelompok diantaranya adalah: Dir, Isaq, Hawiye, Darod, Digil, dan Rahanwin. Kelompok-kelompok ini terbagi lagi kedalam sejumlah kelompok lain yang lebih kecil. Beberapa kelompok merupakan suku pengembara. Walaupun termasuk ke dalam suatu kelompok besar dalam sejarahnya sering kali tercatat pertentangan antar suku. Ketidakharmonisan ini antara lain disebabkan oleh perebutan kekuasaan air, dan daerah penggembalaan. Penduduknya antara lain: orang Arab (1,2%), Bantu (0,4%) dan lain-lain (0,1%). Bangsa asing yang tinggal di negeri ini adalah orang-orang Eropa terutama Italia, Pakistan dan India. Penduduk Somalia lebih banyak menghuni daerah selatan. Dua per tiga penduduk tinggal di pedesaan. Di daerah perkotaan kota yang paling padat adalah Mogadishu (700.000, 1985) kota-kota padat lainnya adalah: Hargeysa, Kismaayo, Berbera, dan Marca. Penduduk Somalia menurut catatan tahun 2005 berjumlah sekitar 8.000.000 orang. Bangsa Somalia yang tinggal di republik ini mempunyai hubungan yang erat dengan bangsa Somalia yang hidup di negara tetangganya Ethiopia, Kenya dan Djibouti. Banyak bangsa Somalia yang bermukim di ketiga negara itu berharap bahwa kelak mereka itu akan dipersatukan ke dalam Republik Somalia. Meskipun penampilan fisik bangsa Somalia beragam (ada yang pendek, tinggi, berkulit hitam, atau berkulit kuning) ciri khas bangsa somalia adalah berkulit hitam, bermata hitam yang berbentuk buah persik, serta berambut lebat dan keriting. Para pria dan anak lelaki di daerah perkotaan berpakaian gaya Barat, tetapi pemuda dan kebanyakan pria di daerah pedesaan mengenakan futa atau jubah tradisional. Kaum wanita dan para gadis mengenakan sarung yang dibuat dari kain berwarna-warni yang bermeter-meter panjangnya, dililitkan ke tubuh dan diikatkan pada bahu kanan sehingga bahu kiri tetap terbuka. Di kota besar serta daerah pedalaman, para wanita menggendong bayi mereka di punggung dengan memakai selendang. Para wanita dan gadis mengenakan kerudung, sedangkan anak laki-laki mengenakan sorban atau kopiah muslim yang terbuat dari bahan tenunan atau sulaman.

Karena demikian banyaknya penduduk yang hidup berpindah-pindah sepanjang tahun, maka hanya sedikit anak lelaki dan perempuan mereka yang tinggal di permukiman tetap dan bersekolah secara teratur. Di Mogadishu terdapat sebuah universitas, sedangkan di berbagai kota lainnya di seluruh negeri terdapat sekolah dasar dan sekolah kejuruan serta sejumlah sekolah menengah.

Somalia tidak memiliki jalur kereta api, dan penduduknya biasa menggunakan kendaraan mobil atau kadang-kadang unta sebagai alat transportasi utama. Hal inilah yang menjadi penghambat arus ekonomi Somalia. Meskipun begitu, penyelenggaraan penerbangan udara diselenggarakan oleh Somalian Airlines.

Tingkat kesehatan di Somalia termasuk kecil dan ini menyebabkan penduduknya rentan terkena penyakit sehingga WHO dan juga UNICEF sering memberikan bantuan untuk menangani wabah penyakit di Somalia.

Ekonomi

Walaupun terdapat sejumlah perusahaan, perekonomian Somalia dikendalikan secara dan perusahaan-perusahaan milik negara memegang peranan utama. Nasionalisasi sejumlah perusahaan asing dilakukan pada tahun 1970. Pada tahun 1970-an Somalia mengalami kesulitan ekonomi akibat kemarau panjang. Keadaan tanah yang tandus, curah hujan yang sedikit, sumber daya alam yang terbatas dan cara-cara berproduksi yang masih tradisional menyebabkan perekonomian Somalia tidak dapat berkembang dengan baik. Walaupun sejumlah kemajuan ekonomi diperoleh sejak tahun 1950, namun hingga kini Somalia tetap tidak dapat melepaskan diri dari bantuan negara-negara lain terutama Amerika Serikat dan Italia.

Ternak hidup merupakan komoditas eksport Somalia yang terbesar tahun 1984, komoditi ini mencapai 59,6 % dari nilai ekspornya yang berjumlah So.Sh 1.273.800.000. Ekspor lainya adalah pisang 7,9% dan kulit serta bulu binatang. Barang-barang eskpor ini ditujukan ke Arab Saudi, Italia, R.R. Cina. Sedangkan impornya yang bernilai So.Sh 5,135 miliar mencakup bahan makanan, alat-alat transportasi, mesin-mesin, bahan-bahan mentah perpabrikan, minyak bumi, minuman keras, tembakau, barang-barang kimia, pakaian dan sepatu. Barang-barang impor ini didatangkan dari Italia, Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Inggris, Kenya, Thailand, Jepang, Singapura dan R.R. Cina.

Jenis bahan tambang yang terdapat di somalia antara lain: minyak bumi, bijih besi, gips, mangan, dan uranium. Bahan mineral lainya adalah garam, batuan gamping dan pasir. Daerah Alti Giuba dan Bur Hacaba menghasilkan biji besi sedangkan di dearah Mudugh ditambang Uranium.

Negeri ini hanya terbatas pada pengolahan hasil pertanian, peternakan, dan perikanan. Selain itu terdapat industri tekstil, pengilangan minyak, sabun, pakaian dan percetakan. Daerah industri terpusat di Kismaayo dan Ras Korsh.

Sektor pertanian khususnya peternakan merupakan tulang punggung ekonomi somalia. Sektor ini menyerap 80% tenaga kerja. Ladang penggembalaan mencapai 65,2% dari seluruh luas Somalia. Daerah penggembalaan tersebar di lembah-lembah sungai Giuba dan sungai Shebela. Pada tahun 1985 jumlah ternak hidup di negeri ini adalah 18,5 juta ekor biri-biri, 11,1 juta ekor kambing, 6 juta ekor unta dan 4,4 juta ekor sapi. Tanah pertanian di Somalia hanya berjumlah 1.,7% dari luas wilayahnya. Kegiatan pertanian dilakukan di daearah yang mendapat curah hujan yang cukup tinggi misalnya di Benadir. Hasil pertanian antara lain padi, sorgum, jagung, pisang, tebu, kapas, kacang-kacangan, sayur mayur dan buah-buahan. Hasil pertanian terutama digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri kecuali pisang yang hasilnya cukup banyak hingga dapat di ekspor. Kegiatan ekonomi lain yang terdapat di Somalia adalah kehutanan dan perikanan. Daerah hutan Somalia mencapai 14,3% dari wilayahnya dan pada tahun 1985 dihasilkan 4,435 m3 kayu bulat. Pada tahun yang sama sektor pertanian juga menghasilkan 16.100 metrik ton tangkapan. Hasil dari kedua sektor ini diutamakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Agama

Mayoritas penduduk Somalia menganut agama Islam yang merupakan agama resmi negara. Pada tahun 1980, hanya 0,1% penduduk yang menganut agama Kristen dan 0,1% yang memeluk agama yang lain.

Bahasa

Bahasa Somali dan Bahasa Arab merupakan Bahasa resmi negara. Bahasa Somali termasuk dalam rumpun bahasa Kushit. Di antara penduduk juga digunakan bahasa Italia dan Inggris. Karena bagian utara republik ini dahulunya diperintah oleh Inggris, sedangkan sebelah selatan oleh Italia, maka bahasa Inggris, Italia dan Arab merupakan ragam bahasa tulisan nasional. Bahasa Somalia digunakan di seluruh negeri, tetapi sampai kini belum ada ragam tulisnya yang resmi. Akan tetapi pada tahun 1974 suatu ragam bahasa tulisan Somalia yang seragam telah diterapkan oleh pemerintah dan usaha untuk mengajarkannya kepada penduduk telah dimulai.

Penduduk Somalia memiliki tradisi mendongeng yang besar. Berbagai legenda dan lagu telah diturunkan dari mulut ke mulut dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebagian besar sejarah bangsa ini terekam dalam sajak-sajak yang tidak pernah ditulis. Karena agama Islam mengharamkan reproduksi figur manusia dalam bentuk karya seni, berlainan dengan berbagai bangsa Afrika lainnya, masyarakat Somalia tidak membuat topeng. Desain yang mereka pergunakan untuk menghias adalah tanah liat, keranjang anyaman, piring kayu, sisir, sendok, dan benda-benda lainnya berupa figur dan garis geometris. 

(Sumber artikel: Wikipedia)

Mengingat Kembali Sejarah Islam Di Mesir.


Kondisi Sosial Mesir

Kehidupan sosial masa lalu Afrika Utara adalah sebuah kehidupan masyarakat pedesaan yang bersifat kesukuan, nomad (berpindah-pindah) dan patriarkhi. Ketika daerah ini berada di bawah kekuasaan Romawi, tak pelak pengaruhnya sangat besar bagi masyarakat Barbar. Umumnya mereka dipengaruhi oleh elit kota yang mengadopsi bahasa, gagasan , dan adat istiadat para penguasa. Tetapi elit-elit ini tidak banyak. Selanjutnya, setelah orang-orang Vandal (Barbar) memperoleh kemenangan, pengaruh Romawi di sebagian besar Afrika mulai berhenti, kecuali pengaruh ekonomi, dan peradaban Barbar lama secara bertahap muncul kembali. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada abad 1 H/7 M kehidupan sosial Afrika Utara lebih merupakan kehidupan masyarakat Barbar yang bersifat kesukuan, nomad dan patriarkhi.        
Mesir adalah salah-satu kawasan yang berada di AfrikaUtara.  Afrika Utara merupakan daerah yang sangat penting bagi penyebaran agama Islam di daratan Eropa. Ia menjadi pintu gerbang masuknya Islam ke wilayah yang selama berabad-abad berada di bawah kekuasaan Kristen sekaligus “benteng pertahanan” Islam untuk wilayah tersebut.
Islam Di Mesir.

(Foto masjid Al-Azhar, Mesir. Sumber: islamonline.com)

Islam menyentuh wilayah Mesir pada 628 Masehi. Ketika itu Rasulullah mengirim surat pada Gubernur Mukaukis yang berada di bawah kekuasaan Romawi-mengajak masuk Islam. Rasul bahkan menikahi gadis Mesir, Maria.
Islam masuk wilayah Afrika Utara pada saat daerah itu berada di bawah kekuasaan kekaisaran Romawi, sebuah imperium yang amat luas yang melingkupi beberapa Negara dan berjenis-jenis bangsa manusia. 

Masuknya Islam kewilayah Mesir yang termasuk wilayah Afrika Utara terjadi dalam beberapa tahapan dan dibawah kepemimpinan yang berbeda pula. Untuk memudahkan kita dalam memahaminya, maka tidak ada salahnya kita klasifikasikan dalam beberapa dekade kepemimpinan, diantaranya :

 

Pertama, pada masa kekhalifahan Umar ibn al-Khathab. Pada tahun 40 M ‘Amru ibn al-Ash berhasil memasuki Mesir, setelah sebelumnya mendapat ijin bersyarat dar khalifah ‘Umar untuk menaklukkan daerah itu.
Kedua, pada masa kekhalifahan Utsman ibn Affan. Pada masa ini penaklukan Islam sudah meluas sampai ke Barqah dan Tripoli. Penaklukan atas kedua kota itu dimaksudkan untuk menjaga keamanan daerah Mesir. Penaklukan ini tidak bertahan lama, karena gubernur-gubernur Romawi menduduki kembali wilayah-wilayah yang telah ditinggalkan itu.
Ketiga, pada masa Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, khalifah pertama daulah Bani Umayyah. Yang dipimpin oleh ‘Uqbah ibn Nafi’ al-Fihri (W. 683 M), yang telah menetap di Barqah sejak daerah itu ditaklukkan. Usaha ini berhasil karena kegigihan dan didukung oleh penduduk asli yang telah miminta pertolangan kaum muslimin atas kekejaman imperium Romawi.

Keempat, pada masa kepemimpinan  ‘Uqbah. Akan tetapi pada tahun 683 M orang-orang Islam di Afrika Utara mengalami kemunduran yang hebat, karena pemberontakan orang Barbar dibawah kepemimpinan Kusailah (orang barbar). Sejak saat itu orang-orang Islam harus berhadapan dengan bangsa Romawi sekaligus pemberontakan suku Barbar.
Kelima, pada masa Abdul Malik  ibn Marwan (685-705 M). Namun demikian proses islamisasi belumlah berjalan mulus dikarenakan pemberontakan silih berganti. 
Keenam, pada masa kepemimpinan Musa ibn Nusair tahun 708 M pada masa pemerintahan al- Walid ibn Abdul Malik (86-96 H/705-715 M).Yang berhasil mematahkan sekaligus mengantisipasi timbulnya pemberontakan lagi, dengan menerapkan kebijakan “perujukan” yaitu menempatkan orang-orang Barbar kedalam pemerintan Islam. Kebijakan inilah yang medorong terjadinya pembauran antara Arab-Barbar, ditambah lagi dengan mudahnya penyebaran mudah diterima paham kaum Khawarij.
Kemunculan tokoh Musa ibn Nushair sebagai ´penakluk yang sesungguhnya” (the true conqueror) atas Afrika Utara bukanlah akhir dari dari segala huru-hara yang terjadi di Afrika Utara. Sebab masih banyak episode pergolakan yang terjadi di daerah itu, bahkan hingga masa pemerintahan Daulah Bani Abbas. Hanya saja perubahan sosial dan politik sejak Musa memega

POSISI PANCASILA DALAM PERSPEKTIF SEJARAH

POSISI PANCASILA DALAM PERSPEKTIF SEJARAH


Akhir-akhir ini, yakni sejak tesis Habib Rizeiq Shihab dipermasalahkan terkait dengan Pancasila, kemudian pendapat beliau mengenainya dilaporkan ke polisi sebagai seorang penista Pancasila, sejarah Pancasila seperti mendapat angin segar kembali. Orang-orang yang pada mulanya apatis terhadap sejarah, seakan-akan melek sejarah lagi, dan berpendapat ke sana ke mari tanpa ada landasan historis yang memadai. Persis laksana centang berenang, tanpa alur yang jelas bagaimana duduk permasalahan sebenarnya menurut kajian ilmu Sejarah. Sebagai guru Sejarah dan bersinggungan langsung dengannya selama puluhan tahun, penulis merasa ikut berdosa andai tidak ikut campur tangan dengan permasalahan yang lagi hangat ini.
Tulisan ini bukan hendak menjustifikasi tesis sang Habib, dan bukan pula mau mendukung perkataan beliau tentang Pancasila jika memang perkataan itu tak sesuai dengan fakta dan data Sejarah. Tulisan ini penulis persembahkan pada pembaca budiman untuk mengambil kesimpulan sendiri nanti setelah tuntas membacanya. Mari kita mulai dari point demi point terkait Pancasila sebagai falsafah bangsa ini, kapan sebenarnya ia lahir menurut fakta mental Sejarah.

BPUPKI sebagai Bidan Kelahiran Nama Pancasila
Prof. Marwati Djoened P. dalam kitab babon SNI jilid VI, menulis bahwa tanggal 7 September 1944 dalam sidang istimewa ke-85 Teikoku Ginkai di Tokyo, Perdana Menteri Kuniaki Koiso, pengganti PM Tojo, mengumumkan tentang pendirian pemerintahan Kemaharajaan Jepang, bahwa daerah Hindia Timur (Indonesia) diperkenankan merdeka kelak dikemudian hari. Taktik ini agar masyarakat Indonesia bersimpati pada Jepang dan membantu peperangan dengan Sekutu yang situasinya tidak menguntungkan bala tentara Jepang.
Menghadapi situasi yang kritis itu, pemerintahan pendudukan Jepang di Jawa di bawah pimpinan Kumakici Harada pada tanggal 1 Maret 1945 mengumumkan pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (Dokuritsu Junbi Cosakai). Tindakan ini merupakan langkah nyata akan janji PM Koiso di atas. Badan ini terdiri dari seorang Kaico, 2 Fuku Kaico, 60 orang Iin, termasuk 4 orang golongan Arab, dan terdapat pula 7 orang anggota Jepang, sebagai anggota istimewa yang tidak punya hak suara. Tanggal 29 April 1945 badan ini diangkat secara resmi oleh Harada, dengan ketuanya K.R.T. Radjiman Wediodiningrat. Adapun Fuku Kaico-nya diangkat 1 orang Jepang bernama Icibangase, dan 1 orang pribumi bernama R.P. Soeroso, merangkap sekretaris BPUPKI dengan dibantu oleh Toyohiko Masuda dan Mr. A.G. Pringgodigdo. Tanggal 28 Mei 1945, dilangsungkan upacara peresmian BPUPKI bertempat di gedung Cuo Sangi In, jalan Pejambon, Jakarta. Upacara ini dihadiri oleh Jenderal Itagaki, Panglima Tentara Wilayah Ketujuh yang bermarkas di Singapura, dan membawahi tentara-tentara yang ada di Indonesia, dan Letnan Jenderal Nagano, panglima Bala Tentara Keenambelas di Jawa.
Pada upacara pelantikan ini, Hinomaru dikibarkan oleh Pringgodigdo, yang kemudian disusul dengan pengibaran bendera Merah Putih oleh Toyohiko Masuda. Peristiwa itu telah membangkitkan semangat para anggota BPUPKI dalam usahanya mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Keesokan harinya, tanggal 29 Mei 1945, dimulailah sidang BPUPKI pertama. Sang ketua sidang meminta para anggota sidang agar terlebih dahulu membahas tentang “dasar” negara Indonesia kelak. Ternyata ada tiga anggota sidang yang memenuhi permintaan ketua untuk secara khusus membicarakan dasar negara tersebut. Ketiganya adalah Prof. Mr. Muh. Yamin, Prof. Dr. Mr. Soepomo dan Ir. Soekarno.
Muh. Yamin berpidato tanggal 29 Mei 1945 dengan awalan pidato; “…menjelidiki bahan-bahan jang akan mendjadi dasar dan susunan negara jang akan terbentuk dalam suasana kemerdekaan…”. Dan rumusannya sebagai berikut; (1). Peri Kebangsaan, (2). Peri Kemanusiaan, (3). Peri Ke-Tuhanan, (4). Peri Kerakyatan, dan (5). Peri Kesejahteraan Rakyat. Soepomo pun mengawali pidatonya pada tanggal 31 Mei 1945 dengan perkataan “….soal jang kita bitjarakan ialah, bagaimana akan dasar-dasarnja Negara Indonesia Merdeka…”. Kemudian rumusan beliau sebagai berikut; (1). Persatuan (unitarisme), (2). Kekeluargaan, (3). Keseimbangan lahir batin, (4). Musyawarah, dan (5). Keadilan rakyat. Adapun Ir. Soekarno mengawali pidatonya denga perkataan “…Saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa, namanya Pantja Sila…Pantja Sila menjadi Tri sila, Tri sila menjadi Eka sila. Tetapi terserah pada tuan-tuan, mana yang tuan-tuan pilih; Tri sila, Eka sila atau Pantja Sila…”. Sedangkan rumusan beliau adalah; (1). Kebangsaan Indonesia, (2). Internasionalisme atau Peri-kemanusiaan, (3). Mufakat atau Demokrasi, (4). Kesejahteraan Sosial, dan (5). Ketuhanan yang Maha Esa. Jadi yang kahir pada tanggal 1 Juni itu adalah nama Pancasila. Sekali lagi, nama Pancasila!
Peran Panitia Sembilan dalam Membidani Pancasila sebagai Dasar Negara.
Setelah sidang pertama usai, BPUPKI mengalami masa reses selama satu setengah bulan. Selama masa reses itu badan membentuk panitia kecil di bawah pimpinan Ir. Soekarno, dengan anggotanya Drs. Mohammad Hatta, Sutardjo Kartohadikusumo, Wachid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, Oto Iskandardinata, Muhammad Yamin, dan A.A. Maramis. Kesemuanya berjumlah delapan orang. Tujuan panitia kecil itu untuk menampung saran-saran, usulan-usulan, dan konsepsi-konsepsi para anggota, yang oleh Ir. Soekarno telah diminta untuk diserahkan pada ketua BPUPKI dalam sidang kedua tanggal 10 Juli 1945 nanti.
Panitia kecil tertsebut pada tanggal 22 Juni 1945 mengambil prakarsa untuk mengadakan pertemuan dengan 38 anggota BPUPKI, dan telah qorum menurut sistem demokrasi. Pertemuan itu oleh Soekarno disebut “rapat pertemuan antara Panitia Kecil dengan anggota-naggota Dokuritsu Junbi Cosakai”, Pertemuan itulah yang telah membentuk sebuah panitia kecil kedua yang berjumlah 9 orang, dengan mengacu pada 9 wali (wali songo) penyebar Islam di Jawa, dan nusantara pada umumnya. Sembilan orang inilah yang berkumpul secara intens untuk menyusun dengan sebenarnya rumusan dasar-dasar negara berdasarkan pandangan umum para anggota. Sembilan orang ini kemudian dalam sejarah dikenal dengan Panitia Sembilan yang terdiri dari Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Muh. Yamin, Ahmad Subardjo, A.A. Maramis, Abdulkadir Muzakir, Wachid Hasyim, Agus Salim, dan Abukusno Tjokrosujoso.
Merekalah yang berhasil merumuskan dan menggambarkan maksud dan tujuan pembentukan negara Indonesia Merdeka, dan akhirnya diterima dengan suara bulat atau mufakat dan segera ditandatangani. Oleh Muh. Yamin rumusan hasil Panitia Sembilan ini disebut dengan istilah Jakarta Charter atau Piagam Jakarta, yang rumusannya sebagai berikut; (1). Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan Syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, (2). (menurut) dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, (3). Persatuan Indonesia, (4). (dan) kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, (5). (serta dengan mewujudkan suatu) keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Perumusan terakhir draft dasar negara dilakukan pada sidang BPUPKI yang kedua tanggal 10 Juli 1945. Sidang kedua ini membahas rancangan Undang-Undang Dasar, termasuk soal Pembukaan atau Preambule UUD itu dengan kembali membentuk Panitia Perancang Undang-Undang Dasar dengan ketuanya tetap Ir. Soekarno. Dan tanggal 11 Juli 1945 panitia ini menyetujui secara bulat pembukaan UUD diambil dari Piagam Jakarta. BPUPKI pada tanggal 14 Juli 1945 menerima laporan Panitia Perancang UUD, yang meliputi; (1). Pernyataan Indonesia Merdeka, (2). Pembukaan UUD, dan (3). Undang-Undang Dasar sendiri (batang tubuhnya). Maka, setelah selesai rangkaian sidang BPUPKI yang kedua itu, badan ini dirasa cukup bertugas, dan diapresiasi secara luas dengan kinerja yang sangat baik. Badan ini kemudian dibubarkan pada tanggal 7 Agustus 1945, lalu diganti oleh badan lain, yaitu PPKI (Dokuritsu Junbi Inkai).

Pemilahan Pembaca
Pembaca silakan menarik benang merah sendiri atas sejarah Pancasila di atas. Penulis hanya bertugas menyuguhkan fakta-faka, baik fakta sosial atau fakta mental. Dan silakan pula secara jernih mengkonfrantasikannya dengan pendapat atau tesis Habib Rizeiq Shihab, mengapa beliau berpendapat bahwa Pancasila sebagai falsafah dan dasar negera tidak lahir tanggal 1 Juni 1945. Semua itu memang ada fakta dan data Sejarahnya. Silakan para pembaca melacak sendiri fakta-fakta yang lain seputar tema ini. Wallahu a’lam.

(Dimuat dalam surat kabar Koran Kabar Madura, 10 Maret 2017)

UNBK DAN NILAI KEMANUSIAN PEMBUAT KEBIJAKAN

UNBK DAN NILAI KEMANUSIAN PEMBUAT KEBIJAKAN


Perkembangan dunia yang semakin canggih, harus disikapi dengan pola berpikir canggih pula. Modernitas yang membungkus kecanggihan peradaban kini, harus disikapi dengan kemampuan IPTEK yang memadai. Globalisasi yang membuat dunia terlipat, sebagaimana bahasa Prof. Yasraf Amir Pilliang, harus dapat diambil manfaat-manfaatnya untuk kemajuan landasan pendidikan kita. Kecangihan IPTEK yang telah mengglobal ini harus dikuasai pula oleh peserta didik kita dengan baik dan tepat. Bila mereka dapat menguasainya, dapat dipastikan mereka menjadi penggendali hasil IPTEK ini, bukan malah sebaliknya, dikendalikan oleh arus globalisasi. Tentu saja, apabila mereka menjadi pengendali dan mengaturnya dengan cermat, akses negatif dari zaman modern ini dapat mereka filter.

Sebagai produk IPTEK penggunaan komputer tak bisa terelakkan lagi. Sangat wajar bila setiap pelayanan publik, seperti KTP, SIM, NPWP, NUPTK, dan semacamnya telah terkomputerisasi dengan rapi, dan telah memudahkan masyarakat penggunanya. Untuk menunjukkan bahwa peserta didik kita lahir di zaman komputer maka sangat wajar pula jika perangkat pembelajaran pun menggunakan komputer. Pada tahap inilah, Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) mempunyai landasan berpikir yang sangat kuat, dan perlu diapresiasi oleh semua komponen yang bergiat dalam dunia pendidikan. Semuanya untuk mengangkat derajat bangsa ini sesuai dengan zamannya. Perlu dingat kembali, Nabi junjungan kita pun pernah memberikan nasihat yang sangat popular hingga kini, yakni “didiklah anak-anakmu sesuai dengan kondisi zaman yang melingkupi anak-anakmu itu”.

Hanya saja, problematika terkait UNBK ini, adalah kurang meratanya akses terhadap komputer. Ketimpangan inilah yang perlu di atasi sesegera mungkin oleh pemerintah terkait agar peserta didik, pun juga para pendidiknya, tak mengalami kesulitan yang berarti. Pemerintah perlu meniru beberapa negara yang telah menjalankan ujian berbasis komputer, negara-negara itu terlebih dahulu melengkapi alat-alat teknologi ini sampai ke pelosok-pelosok negeri mereka, misalnya Malaysia. Jangan diharap UNBK akan berhasil, bila alat-alatnya tidak ternikmati pembelajar yang ada di Papua, Flores, Maluku dan lain-lain. Pemerintah tentu tidak boleh latah dengan para negeri jiran kita yang berhasil dalam proses ujian berbasis komputerisasinya.

Dengan UNBK akan Mengikis Habis Kecurangan itu.
Bukan cerita khayal, jika selama ini, yakni selama Ujian Nasional dijadikan ajang atau syarat kelulusan peserta didik, berbagai bentuk manipulasi soal secara massif terjadi. Muruah dunia pendidikan kita hancur. Nilai-nilai moral, seperti kejujuran, ketekunan, kedisiplinan, dan sebagainya, tumpas berkeping tiada bekas. Semuanya, berhulu pada kekhawatiran ‘tidak lulus UN’. Bukan hanya itu, teknologi barcode yang hendak melindungi soal UN dari tindakan kecurangan tidak banyak membantu karena telah diantisipasi dengan aplikasi pembaca barcode tersebut. Setali tiga uang, si pembuat aplikasi untung karena sering diunduh, sementara pengelola pendidikan sangat bersyukur bisa tetap membobol soal, dan dinas terkait senyum sumbringah melihat hasil UN di wilayah babatannya tak ada yang tak mencapai angka kelulusan terendah, kecuali yang tidak ikut UN itu sendiri. Semua siswa mencapai rentang nilai dari 7,50 s.d 9,90, atau bahkan 10,00. Luar biasa hebat dunia pendidikan Indonesia.

Dengan beralih pada sistem UNBK, di mana soal tersebut muncul dari aplikasi yang telah dibuat Kemendikbud, dan hanya bisa dibuka oleh siswa yang bersangkutan, maka tindak kecurangan terhadap UN itu sendiri bisa dikikis habis, sampai suatu saat ada peretas atas UNBK. Penulis masih berkeyakinan seperti itu sebab aplikasi soal UNBK buatan Indonesia masih steril dari bentuk peretasan. Tapi penulis terlanjur khawatir, sebab dalam dunia teknologi, sang peretas satu langkah lebih maju. Bisa saja, ulah para jago-jago teknologi komputer itu yang notabene anak-anak Indonesia juga dan kebanyakan masih mahasiswa, suatu saat dapat membobol aplikasi soal UNBK, dan menyebarkannya ke lembaga-lembaga yang telah menghilangkan kejujuran. Tak ada gunanya lagi UNBK. Jika ini terjadi, UNBK harus dihapus saja. Agar rasa pesimistis penulis tidak akan terjadi, dan mudah-mudahan tidak pernah terjadi, maka pembuat aplikasi UNBK, dalam hal ini tentu Kemendikbud, senantiasa pemperbaharui hak patennya ini dan memagarinya dengan sistem kendali yang mempuni. Masak guru kalah sama murid, lucu jadinya.

Memanusia Peserta Didik yang Mengikuti UNBK
Jawa Timur telah menyatakan siap 100% menggunakan UNBK pada tingkat menengah atas (SMA/MA/SMK). Kesiapan tersebut harus didukung dengan sepenuh hati oleh para pendidik di tingkatan itu. Sebab, pada tingkatan ini peserta didik telah memahami dengan baik seluk-beluk komputer. Cuma saja, masih terlalu banyak sekolah-sekolah di pedesaan, sebagaimana tempat penulis mengajar, belum ada perangkat komputer secara penuh guna mendukung UNBK. Solusinya, para siswa tersebut harus bergabung dengan sekolah-sekolah negeri kota, atau minimal SMA Negeri di kecamatan yang lebih tersedia akan alat-alat itu.

Pada tahap itulah, UNBK 2017 ini terkesan sangat dipaksakan. Semua sekolah tingkat atas se Jawa Timur harus mengadakan UNBK, tak peduli dengan sekolah-sekolah terpencil di kepulauan, misalnya SMA/MA di Masalembu, Kangean, Poteran, Sepudi, Giliraja, dan lain-lain. Antisipasi mereka atas keharusan itu, menghijrahkan para peserta didiknya ke sekolah-sekolah yang lebih lengkap. Pengaruh lebih lanjut secara kejiwaan, keterasingan para siswa hijrahan itu di tempat barunya, baik karena lelah, atau sebab-sebab sosial-kulturalnya.

Apalagi lagi, UNBK 2017 ini terkesan dadakan, karena diwacanakan setelah pergantian menteri dari bapak Anis Baswedan kepada bapak Muhajir Efendi. Kebijakan ini menambah animo masyarakat semakin kuat, bahwa setiap ganti menteri maka akan berganti juga kebijakannya. Dari sudut pandang ini telah menimbulkan kekhawatiran, apakah UNBK ini akan langgeng, minimal sampai 2019?

Siswa adalah insan juga, sama dengan para pemantik kebijakan itu. Guru juga manusia, sama seperti mereka. Kita adalah sama-sama manusia yang punya pikiran dan hati. Jika mereka tahu lelah, kita pun mengalaminya. Jika mereka tahu susah, kita jelas sangat biasa melaluinya. Semua itu terjadi karena kita manusia yang juga perlu merasa dimanusiakan. Janganlah karena mengejar target, lalu melupakan titik kemanusaiaan itu sendiri. Memanusiakan peserta didik tidaklah susah amat, cukuplah pemerintah memperhatikan kondisi lingkungan sosial mereka, insya Allah hal itu bagian dari sifat kemanusiaan ini. Bukankah amanah otonomi daerah mengajarkan demikian?
Wallahu A’lam.

(Dimuat di Harian Bhirawa, tanggal 15 Maret 2017)