RSS

FOTO-FOTO KIAI ANNUQAYAH.


KH. NurZedqi (K. Shadaqah)warist ilyas ABDUL A'LA ANNUQAYAH Copy of warist ilyas drs. abd. wadud DSC00063 DSCN2662 Gus Dur di Guluk2 K. amir DSCI0305.JPG k. mahfudh-k.Abd. Muqsith k. waqid K.H.Amir Ilyas K.H.Ashim Ilyas K.H.Basyir Muda K.H.Mahfudh Husaini K.H.Moh.Khazin Ilyas K.H.Warits Ilyas K.Warits Muda keluarga besar bajarin KH. A. Warits Ilyas KH. Idris Syarqawi KH. Ilyas SAMSUNG DIGITAL CAMERA KH. Sabit Khazin KH.Waqid Khazin khm-kholil-madura Kiai Abdul basit Basith AS Langgar Latee Latihan manasik Picture 069 Resize+of+telkom ulama'

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 18, 2015 in sejarah

 

PERANAN DIVISI KEMUSLIMATAN DALAM ORGANISASI IPPRA REMAS AL-IKLASH DI DESA KETAWANG LAOK KECAMATAN GULUK-GULUK SUMENEP


PENDAHULUAN

Konteks Penelitian

Syekh Muhammad al-Ghazali, salah seorang ulama al-Azhar Mesir, mengungkapkan kegelisahannya yang amat dalam mengenai kondisi pendidikan perempuan di dunia Islam[1]. Pada akhir abad kesembilan-belas dan awal abad kedua puluh, di Mesir saja sebagai pusat peradaban umat Islam, lebih dari delapan puluh persen perempuan adalah buta huruf. Tidak bisa baca tulis. Kondisi ini yang sangat menggelisahkan Syekh Muhammad al-Ghazali.

Salah satu ajaran fiqh yang dikritik al-Ghazali adalah larangan perempuan untuk pergi ke masjid, keluar rumah untuk belajar, bekerja atau beraktifitas. Larangan ini cukup mempengaruhi pemikiran keagamaan[2], sejak dunia Islam memasuki masa-masa keredupannya, yaitu sejak abad 12, lebih-lebih pada waktu dunia Islam berada dalam genggaman Imperialis Barat pada abad 17, 18 dan 19.[3]

Membincangkan masalah –masalah perempuan selalu aktual dan menarik karena tidak akan pernah kehabisan isu sepanjang peradaban manusia. Perempuan hanya memainkan peran sosial, ekonomi maupun politik yang tidak signifikan, dibandingkan dengan peran laki-laki. Secara struktural maupun funsional mereka selalu terpingkirkan, sebaliknya peran domistik perempuan lebih menonjol sebagai isteri maupun ibu rumah tangga[4]. Pertanyaannya adalah sampai kapan kondisi seperti ini akan terus berlangsung? Padahal upaya-upaya terobosan-terobosan baru untuk mengubahnya sudah sekian lama diperjuangkan oleh banyak kalangan khususnya para feminis[5].

Apakah domistik perempuan ini memang sudah merupakan fitrah masing-masing perempuan, sehingga secara alami telah terjadi konsensus pembagian peran yang demikian ? atau disebabkan oleh asumsi teoligis bahwa perempuan memang diciptakan lebih rendah dari laki-laki, sehingga sepantasnya kalau kemudian laki-laki mendominasi perempuan, sebagaimana dapat terekam dalam kitab pegangan umat Yahudi dan Nasrani[6]. Setidaknya asumsi tersebut untuk sementara bisa dianggap benar adanya, karena secara historis telah berlangsung sepanjang jaman, kecuali dikalangan masarakat matriarchal yang jumlahnya tidak banyak[7].

Dominasi peran laki-laki terhadap perempuan menurut Asghar dibenarkan oleh norma-norma kitab suci yang ditafsirkan oleh laki-laki untuk mengekalkan dominasi mereka mereka[8]. Begitu kuatnya sikap ini, sehingga norma-norma kitab suci yang progresifpun menjadi terpengaruh dan sebagai akibatnya diinterpretasikan sedemikian rupa sehingga merefleksikan sikap mental yang berlaku. Demikianlah kondisi masarakat yang didominasi laki-laki, seringkali bahkan mengekang norma-norma yang adil dan egaliter yang dipersembahkan bagi umat manusia. Tidak terkecuali kitab suci Al-Qur’an yang secara komparatif bersikap liberal dalam perlakuannya terhadap perempuan, juga mengalami nasib yang sama[9].

Pernyataan tersebut menunjukan bahwa interpretasi yang biasa terhadap makna Al-Qur’an menghasilkan pemahaman yang rancu, bahkan mengakibatkan adanya penyimpangan terhadap makna yang sesungguhnya[10]. Ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam tradisi masyarakat Muslim pada umumnya bersumber dari faktor interpretasi[11]. Bagaimana dengan sejumlah teks didalam Al-Qur’an yang jelas mengeksplisitkan makna misoginis (bias) terhadap perempuan, misalnya tentang waris, nusyuz dan sebagainya? Apakah ada infiltrasi dari unsur tradisi sebelum Islam atau memang merupakan tradisi yang hendak dibangun oleh Islam?

Untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut kita harus melihat terlebih dahulu tradisi-tradisi sebelum Islam. Pada saat itu tradisi perempuan lebih baik atau lebih buruk dibandingkan dengan periode setelah Islam, supaya jelas dimana letak benang merahnya, selanjutnya, bagaimana tradisi tersebut dilihat dalam konteks masa kini, adalah masalah-masalah di dalamnya, dapat penulis singgung secara umum pada bahasan di bawah ini.

Sebelum Islam diturunkan pada abad ke-5 Masehi, jauh dibelekang itu, peradaban kuno Timur Tengah sangat menghormati perempuan. Perempuan diposisikan lebih tinggi daripada kaum laki-laki. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa kebudayaan Timur Tengah sangat menghormati ‘Dewi Ibu’ pada zaman neolithikum[12]. Kebudayaan tersebut dianut oleh bangsa-bangsa kuno seperti Mesir, Mesopotamia, Assyiria, Phonesia, Siprus, Kreta, Elam, dan lain-lain.

Kondisi ini mengalami perubahan seiring timbulnya peradaban kota yang bertambah kompleks karena terjadi persaingan antar kelompok. Hal ini kemudian melahirkan dominasi kaum laki-laki dan masyarakat berdasarkan kelas, di mana kalangan elit meliter dan golongan bangsawan merupakan kelas atas (upper class) yang memiliki kekayaan dan kekuasaan sangat kuat[13]. Susunan kekeluargaan kemudian mengarah pada patriachal dan dirancang untuk menjamin masyarakat paternalistik, di mana hak warir kekayaan dan kekuasaan cenderung jatuh pada anak laki-laki. Pada tahapan selanjutnya, ‘Ibu Dewi’ yang sejak semula sangat dihotmati, sekarang mulai runtuh dan berganti posisi dan digantikan oleh ‘Dewa’. Pergantian posisi ini tanpa disadari telah menghilangkan dan menghancurkan penghormatan pada kaum wanita, dan awal timbulnya peradaban baru yang bernama peradaban yang didominasi kaum patriachi.[14]

Setelah sekian lama pengekangan terhadap perempuan terus berlangsung, maka pada abad VII Islam hadir untuk memberikan solusi atau jalan keluar dari semua pengekangan perempuan di atas.

Islam hadir di tengah tengah masyarakat Arab yang sangat erat dengan budaya patriarkhi. Dalam tradisi masyarakat Arab ketika itu perempuan dipandang sebagai manusia kelas dua, tidak berharga dan tidak memiliki hak apapun atas dirinya. Muhammad kemudian diangkat oleh Allah sebagai rasul dengan misi kerahmatan bagi alam semesta. Hal ini dijelaskan dalam Q.s al-Anbiya/21:107:

!$tBur š»oYù=y™ö‘r& žwÎ) ZptHôqy‘ šúüÏJn=»yèù=Ïj9 ÇÊÉÐÈ

Artinya: “Aku utus kamu hanya untuk menyebarkan rahmat Tuhan pada alam semesta’’[15]

Mandat tersebut di terjemah oleh nabi dengan kalimat ‘’aku diutus Tuhan hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq’’ pernyataan tersebut merupakan prinsip dasar yang berlaku secara umum untuk menata kembali peradaban umat manusia dimuka bumi supaya memiliki budi pekerti yang luhur (akhlaq mulia).

Namun kenyataannya dalam kurun waktu yang panjang posisi kaum perempuan seolah tidak pernah mengalami perubahan yakni masih dalam posisi subordinasi dari laki-laki. Dipinggirkan dan didiskriminasi dalam berbagai kesempatan dan berbagai sektor kehidupan. Ini menunjukkan bahwa budaya patriarchal telah sedemikian mengakar dalam kehidupan manusia sebanjang zaman kecuali dalam kurun waktu tertentu di jumlah wilayah yang tertentu pula. Terlepas dari kondisi tersebut harus diakui pula bahwa Islam cukup revolusioner dalam mengupayakan perubahan peradaban manusia yang lebih adil dan menghargai perempuan setara dengan laki-laki.[16]

Dalam persfektif al-Qur’an, kedudukan wanita sangat mulia dan barangkali, hanya al-Qur’an yang mempunyai pandangan egaliter. Seperti misalnya dalam surat Annisa’: 1:

$pkš‰r’¯»tƒ â¨$¨Z9$# (#qà)®?$# ãNä3­/u‘ “Ï%©!$# /ä3s)n=s{ `ÏiB <§øÿ¯R ;oy‰Ïnºur t,n=yzur $pk÷]ÏB $ygy_÷ry— £]t/ur $uKåk÷]ÏB Zw%y`͑ #ZŽÏWx. [ä!$|¡ÎSur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# “Ï%©!$# tbqä9uä!$|¡s? ¾ÏmÎ/ tP%tnö‘F{$#ur 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3ø‹n=tæ $Y6ŠÏ%u‘ ÇÊÈ

Artinya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu”. (Annisa’:1)[17].

Demikian pula dalam surat al-A’raf, yang senada dengan ayat di atas, yaitu :

uqèd “Ï%©!$# Nä3s)n=s{ `ÏiB <§øÿ¯R ;oy‰Ïnºur Ÿ@yèy_ur $pk÷]ÏB $ygy_÷ry— z`ä3ó¡uŠÏ9 $pköŽs9Î) ( $£Jn=sù $yg8¤±tós? ôMn=yJym ¸xôJym $Zÿ‹Ïÿyz ôN§yJsù ¾ÏmÎ/ ( !$£Jn=sù Mn=s)øOr& #uqt㨊 ©!$# $yJßg­/u‘ ÷ûÈõs9 $oYtGøŠs?#uä $[sÎ=»|¹ ¨ûsðqä3uZ©9 z`ÏB šúï̍Å3»¤±9$# ÇÊÑÒÈ

Artinya: “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami terraasuk orang-orang yang bersyukur”. (al-A’raf: 189).

Dalam surat Azzumar, juga disebutkan :

/ä3s)n=s{ `ÏiB <§øÿ¯R ;oy‰Ïnºur §NèO Ÿ@yèy_ $pk÷]ÏB $ygy_÷ry— tAt“Rr&ur /ä3s9 z`ÏiB ÉO»yè÷RF{$# spuŠÏZ»yJrO 8lºurø—r& 4 öNä3à)è=øƒs† ’Îû ÈbqäÜç/ öNà6ÏG»yg¨Bé& $Z)ù=yz .`ÏiB ω÷èt/ 9,ù=yz ’Îû ;M»yJè=àß ;]»n=rO 4 ãNä3Ï9ºsŒ ª!$# öNä3š/u‘ çms9 à7ù=ßJø9$# ( Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ( 4’¯Tr’sù tbqèùuŽóÇè?

Artinya: “Dia menciptakan kamu dari seorang diri Kemudian dia jadikan daripadanya isterinya dan dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. tidak ada Tuhan selain Dia; Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?”. (Azumar: 6).

Demikian pula dalam surat al-Mukmin, Allah juga menjelaskan pada kita, yaitu:

uqèd “Ï%©!$# Nà6s)n=s{ `ÏiB 5>#tè? §NèO `ÏB 7pxÿõܜR §NèO ô`ÏB 7ps)n=tæ §NèO öNä3ã_̍øƒä† WxøÿÏÛ §NèO (#þqäóè=ö7tFÏ9 öNà2£‰ä©r& ¢OèO (#qçRqä3tFÏ9 %Y{qãŠä© 4 Nä3ZÏBur `¨B 4’¯ûuqtGム`ÏB ã@ö6s% ( (#þqäóè=ö7tFÏ9ur Wxy_r& ‘wK|¡•B öNà6¯=yès9ur šcqè=É)÷ès? ÇÏÐÈ

Artinya:’’Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, Kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, Kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), Kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).’’(al-Mukmin:67)[18]

Memperhatikan pada apa yang penulis bahas dan kutipan berbagaimacam surat di atas, maka dapat dengan jelas penulis simpulkan bahwa secara substansi ajaran Islam sangat menghargai nilai-nilai dasar perikemanusiaan yang egaliter dan sangat menghargai persamaan kedudukan antara laki-laki dengan perempuan.

Berangkat dari beberapa hal ini, maka kemudian penulis mengkaitkan hal tersebut dengan bahasan yang mungkin sangat aktual dan relevan dengan tema yang penulis bahas, yaitu : Peranan Devisi Pendidikan Pelajar Wanita Melalui Organisasi IPPRA Remas al-Iklash Di Desa Ketawang Laok Kecamatan Guluk-Guluk Tahun 2011-2012

Fokus Penelitian

Penelitian pasti berawal dari suatu masalah yang dihadapi dan perlu untuk dipecahkan, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto bahwa masalah merupakan dari suatu kebutuhan seseorang untuk dipecahkan, sehingga orang tertarik untuk mengadakan penelitian, karena dengan hasil penelitian akan terjawab serta solusi dari masalah yang dihadapi[19].

Berdasarkan konteks penelitian yang penulis kemukakan di atas maka fokus dalam penelitian ini sebagai berikut.

  1. Bagaimana bentuk program Devisi Kemuslimatan dalam organisasi IPPRA Remas Al-Ikhlash di desa Ketawang Laok Kecamatan Guluk-Guluk Tahun 2011-2012?

Bagaimana Peranan Devisi Kemuslimatan dalam organisasi IPPRA Remas al-Ikhlash di desa Ketawang Laok Kecamatan Guluk-Guluk Tahun 2011-2012?

Secara umum setiap penelitian mempunyai tujuan tertentu untuk memperoleh hasil tujuan yang akan dicapai[20]. Mengaju pada pokok permasalahan yang disebutkan di atas peneliti mempunyai tujuan sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui bagaimana bentuk program Devisi Kemuslimatan dalam organisasi IPPRA Remas al-Ikhlash di desa Ketawang Laok Kecamatan Guluk-Guluk Tahun 2011-2012?
  2. Untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana Peranan Devisi Kemuslimatan dalam organisasi IPPRA Remas al-Ikhlash di desa Ketawang Laok Kecamatan Guluk-Guluk Tahun 2011-2012?

Penelitian mempunyai manfaat dan nilai guna dari berbagai kalangan diantaranya sebagai berikut:

  1. Bagi Wanita Di Desa Ketawang Laok Kecamatan Guluk-Guluk. Dapat menyadari posisinya sebagai wadah risalah Islamiyah menyebarluaskan Agama Islam. Dengan kesadaran itu maka akan lebih giat dan menyadari dirinya sebagai hamba Allah sehingga mampu merealisasikan kehidupan yang Islami dalam dirinya secara lebih intensif, serta mampu memberikan penjelasan alternatif dan kontribusi pemikiran pada masalah yang timbul dalam masyarakat sehingga dapat meningkatkan nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-sehari.
  2. Bagi Organisasi IPPRA Remas al-Iklash penelitian ini dapat digunakan sebagai alur guna untuk mengembangkan peran Remas al-Iklash/IPPRA lebih lanjut. Demikian pula penelitian ini bisa dijadikan referensi dan barometer akan perkembangannya dimasa ke masa.
  3. Bagi masyarakat umum di talang Desa Ketawang Laok Kecamatan Guluk-Guluk. Adapun penelis lakukan terhadap organisasi IPPRA remaja Masjid al-Iklash, devisi pendidikan pelajar wanita, akan bermamfaat juga untuk masyarakat kalangan awam dengan anggapan bila keberadaan organisasi yang penulis teliti, ternyata berperan besar dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan keislaman dan memupuk kemandirian remaja, pelajar dan wanita muslimah. Dengan adanya puplikasi laporan penelitian ini, maka masyarakat dikalangan umum tersebut akan menyadari bahwa organisasi IPPRA remaja Masjid al-Iklash, lebih-lebih devisi pendidikan pelajar wanita memang benar-benar didirikan secara serius dan sungguh-sungguh yang bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan umat Islam secara umum.
  4. Bagi peneliti, akan menambah wawasan pengetahuan baru dalam bidang penelitian dan juga akan dapat mengetahui proses pengembangan organisasi yang diteliti.

alasan memilih judul dalam penulisan karya ini adalah sebagai berikut:

  1. Alasan Obyektif

Kemuslimatan/Perempuan adalah seorang arsitek bagi keluarga, masyarakat dan bangsa. Ia tidak hanya butuh pandai, tapi juga harus cerdas. Dan tidak ada jalan yang lebih baik yang dapat ditempuh oleh perempuan untuk menjadi seorang arsitek yang sempurna, Sementra itu, di sisi lain masih banyak orang yang menafikkan pentingnya kemuslimatan bagi perempuan. Hal seperti ini sering kali ditemui dan terjadi pada perempuan desa. Dan desa ketawang laok adalah salah satunya. Ini terjadi bukan hanya karena satu alasan, Selain karena disebabkan oleh faktor budaya, perempuannya sendiri juga tidak menyadari bahwa betapa penting dan berartinya kemuslimatan untuk kebaikan masa depan mereka. Maka dari itu, judul ini sengaja diangkat karena memang penting untuk diteliti demi peningkatan moto dan kwalitas bangsa ke depan.

  1. Alasan Subyektif

Ada beberapa alasan subjektif kenapa judul ini sengaja diangkat:

  1. Peneliti sendiri adalah seorang lelaki yang ingin tahu banyak tentang kemuslimatan
  2. Peneliti adalah penduduk asli desa ketawang laok, sehingga pengumpulan data penelitian lebih muda dilakukan.
  3. Peneliti suka membahas segala sesuatu yang berbau kemuslimatan, karena peneliti sendiri banyak ikut di segala organisasi

 

Untuk membuat hasil penelitian ini tidak bias dan rancu, maka penulis menganggap perlu menguraikan beberapa kata kunci yang ada di dalam judul penelitian ini. Kata-kata kunci tersebut antara lain :

  1. Peranan Divisi Kemuslimatan; yang dimaksud dengan prase ini adalah tindakan yang dilakukan oleh bagian atau seksi yang khusus menangani masalah-masalah pelajar dan kewanitaan atau kemuslimatan[21]. Tindakan ini mengaju kepada kegiatan-kegiatan keremajaan dan kewanitaan yang telah disusun oleh ketua seksi bidang dan disetujui oleh ketua Organisasi IPRRA Remas al-Iklash.
  2. Organisasi IPPRA Remas al-Iklash. Kata organisasi mempunyai arti kesatuan (susunan dsb) yang terdiri atas bagian-bagian (orang dsb) dalam perkumpulan dsb. Untuk tujuan tertentu; kelompok kerja-sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama.[22] Tidak terlalu jauh dari pengertian dalam KBBI, Widodo juga mengartikan organisasi sebagai gabungan kerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.[23] Kemudian, akronim Remas al-Iklash/IPPRA, merupakan singkatan dari Remaja Masjid. Remas disini merupakan wadah organisasi yang menjadi kejian pokok penulis yang berada di Desa Ketawang Laok Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep, berada di bawah naungan Tak’mir Masjid al-Ikhlash. Remas ini nantinya berubah nama menjadi IPPRA, singkatan dari Ikatan Pengembangan Potensi Remaja yang tetap menyatu dengan keberadaan Takmir Masjid al-Ikhlash.[24]

DEVISI KEMUSLIMATAN DAN ORGANISASI REMAJA MASJID

Muslimah atau yang lebih sering disebut Ketua Keputrian (Ka.Put) pada hakikatnya memiliki pengertian dan konsep yang sama. Yang membedakan penyebutan amanah tersebut hanyalah tergantung pada penggunaan istilah. Awal mula digunakannya istilah Kepala Muslimah karena keputrian itu identik dengan kegiatan kajian yang dilakukan tiap hari. Sementara kegiatan dan inti dari Kemuslimatan itu sendiri tidak berhenti sampai di situ, melainkan ada buletin, komunitas, dan peran sebagai penggerak dakwah dari segi kemuslimatan dalam organisasi. Selanjutnya, istilah tersebut dapat digunakan sesuai dengan istilah yang disepaki[1].

Menjadi wanita shalihah adalah idaman setiap muslimah. Karena wanita shalihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia, mengalahkan tumpukan emas, intan dan permata serta perhiasan dunia apa pun. Juga, hanya wanita shalihahlah yang mampu melahirkan generasi rabbani yang selalu siap memikul risalah Islamiyah menuju puncak kejayaan. Namun, menjadi wanita shalihah bukanlah perkara mudah. Alhamdulillah, Allah SWT yang Maha Kasih telah menyiapkan perangkat-perangkat arahan bagi semua muslimah untuk dapat menjadi wanita shalihah[2], di antaranya melalui ayat Al-Qur’an yang artinya.Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait (keluarga rumah tangga Nabi SAW) dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.[3](QS Al Ahzab (33).

Kata مُّسْلِم (muslim) ini berasal dari kata أَسْلَمَ (aslama) yang telah kita bahas maknanya di ayat 112. Allah menggunakan kata أَسْلَمَ (aslama) ini saat menyanggah klaim orang Yahudi dan Nashrani yang menyebut hanya mereka yang masuk surga. Artinya klaim mereka berdasarkan label atau merek, bukan berdasarkan alasan substansial yang rasional. Mereka lupa bahwa klaim yang hanya berdasarkan label belaka, nama lainnya adalah “dogma”, Padahal agama bukanlah dogma. Agama adalah argumentasi, dalil yang harus bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya[4].

 

Wanita memiliki jumlah populasi yang besar, sementara..menangani wanita membutuhkan cara khusus (tidak semudah laki-laki menggunakan logika). Jika laki-laki mudah mengatakan, “Ya udah lah, gitu aja dibuat ribet”..mungkin lain halnya jika itu dikatakan kepada para wanita yang notabene lebih condong menggunakan perasaan dan memberi perhatian pada hal detail dalam menghadapi masalah. Di sini lah peran Kemuslimatan dalam memberi pengertian kepada para muslimah mengenai sesuatu.

Kemuslimatan layaknya sebuah rumah tangga (ada suami dan ada istri), saling bekerja sama bukan bekerja bersama-sama. Bukan juga berdiri sendiri hanya sekedar mengurusi tentang proker Kemuslimatan, melainkan juga membantu berlangsungnya organisasi. Menjaga kestabilan organisasi dari segi Kemuslimatan[5].

Pelaku dakwah kemuslimahan dituntut lebih giat lagi untuk menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan era baru kemuslimahan. Selain itu, pelaku dakwah tersebut juga siap mengakselerasi pengembangan dirinya. Ia harus siap menjadi konseptor sekaligus eksekutor, mau berpikir keras, belajar, peka terhadap permasalahan dan isu kewanitaan, mau mengerjakan hal-hal kecil hingga besar, keluar dari zona nyaman, mendalami Islam dan ideologi yang mengancam keislaman muslimah, berani muncul ke permukaan, siap ditokohkan, dan mampu ”berdiri” di atas kakinya sendiri dan dapat diuraikan sebagai berikut[6]:

  1. Meningkatkan Kualitas dan Kinerja Kegiatan Muslimah Khususnya Keputrian. Seorang Kepala Muslimah bertugas dalam membina dan memberi arahan kepada para pengurus Kemuslimahan sehingga ia dapat memastikan bahwa kinerja yang diberikan oleh timnya adalah yang terbaik.
  2. Bertanggung Jawab atas Pencapaian Visi dan Misi Program Kerja Kemuslimahan Organisasi. Seorang Kepala Muslimah bertanggung jawab atas diterimanya pesan dan esensi dari visi-misi dan tujuan dari sebuah Kemuslimahan oleh para pengurus Kemuslimahan khususnya dan para anggota organisasi pada umumnya, yang kemudian pemahaman terhadap visi-misi dan tujuan ini lah yang akan menjadi landasan dan membawa para pengurus kepada pencapaian perogram kerja.
  3. Bersama Presiden Menjaga Kestabilan Organisasi dengan Mengakomodasi Kebutuhan Organisasi. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan pada poin
  4. Mengkoordinir Pengurus Muslimah di Tiap-Tiap Desa
  5. Memegang Kendali Penuh Kegiatan Rutin seperti Rapat Koordinasi Kepurtian

 

Menelaah perjalanan dakwah  Rasulullah saw, tidak dapat dilepaskan dari tujuan dakwah itu sendiri. Tujuan dakwah Rasul saw yang dapat dicermati dari perjalanan dakwah beliau adalah mewujudkan seluruh ajaran Islam (Syari’at Islam)  dalam kehidupan nyata[7]. Pada dasarnya perjuangan dakwah Rasul dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :

  1. Dakwah di Mekkah, mencakup tahap pengkaderan dan tahap interaksi dakwah
  2. Dakwah di Madinah, merupakan tahap mewujudkan masyarakat Islam

Dalam periode dakwah di Mekah, Rasul saw beserta para shahabatnya berjuang hanya dalam aspek fikriyah (pemikiran).Tujuan dakwah Rasul pada tahap pengkaderan di Mekah tidak lain untuk memantapkan aqidah, membentuk dan membina aqliyah dan nafsiyah Islamiyah sehingga tampak adanya perubahan perilaku pada diri shahabatnya. Selanjutnya pada tahap interaksi dakwah, Rasul beserta para shahabat mendapatkan perlawanan yang cukup besar dari kafir Qurays.Akan tetapi dengan kekuatan aqidah dan pemikiran Islam yang menghujam di dalam dada mereka, segala rintangan dapat mereka hadapi. Sampai tiba pertolongan Allah SWT yang datang dari penduduk Madinah dimana mereka siap untuk diterapkan syari’at Islam di dalam kehidupan masyarakatnya[8]. Maka atas izin Allah SWT, Rasul beserta  shahabatnya berhijrah ke Madinah. Mulailah saat itu dakwah memasuki periode Madinah dan aturan Islam mulai diterapkan di tengah-tengah mereka.

Upaya membangkitkan umat tentu tidak terlepas dari peran seorang wanita yang pada hakikatnya sebagai orang yang melahirkan dan mendidik generasi penerus umat. Wanita dikaruniai oleh Allah SWT kemampuan untuk mengandung dan menyusui.Tak bisa dipungkiri seorang ibu memiliki peranan yang sangat penting terhadap proses tumbuh kembang anak.Seorang ibu juga berperan dalam mendidik anak-anaknya sehingga ibu menjadi madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Dengan berbekal pemahaman Islam yang kuat, seorang ibu akan mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang doanya senantiasa didengar oleh Allah SWT yang tidak lain adalah anak-anak yang shaleh, melalui seorang ibu juga para pemimpin yang unggul akan terwujud. Tak ayal lagi, kedudukan sebagai ibu adalah sangat ideal bagi wanita. Kriteria seorang ibu ideal diantaranya :

  1. Memiliki aqidah dan Syakhshiyyah Islamiyyah
  2. Memiliki Kesadaran untuk Mendidik Anak-anaknya sebagai Aset Umat
  3. Mengetahui dan mengasai konsep pendidikan anak

Sesuai yang disabdakan Muhammad Rasulullah bahwa “Wanita adalah tiang Negara”. Hancur atau majunya suatu Negara tergantung bagaimana kondisi perempuan yang ada di dalamnya[9]. Seorang penyair bahkan mengatakan bahwa seorang ibu ibarat sekolah, apabila kamu siapkan dengan baik. Berarti kamu menyiapkan satu bangsa yang harum namanya. Begitu juga, orang-orang bijak banyak yang mengaitkan keberhasilan para tokoh dan pemimpin dengan peran dan bantuan kaum wanita lewat ungkapan “Dibalik keberhasilan setiap pembesar ada wanita” Tidak dapat dipungkiri bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi putra-putrinya yang akan meneruskan tongkat estafet peradaban ini. Tidak heran jika muncul ungkapan, dibalik kelembutan seorang wanita ia bisa mengayunkan buaian di tangan kanan dan mengguncang dunia dengan tangan kirinya. Namun, kesadaran akan hal tersebut belum dimiliki oleh para perempuan secara umum dan para muslimah pada khususnya. Untuk itu, da’wah muslimah sebagai bagian dari da’wah semesta memiliki arti penting mengembalikan pemahaman yang benar tentang peran wanita yang sesuai fitrah dan posisinya dalam Islam. Proses perubahan tak akan terjadi seketika tapi dibutuhkan studi yang mapan, terencana, sistematis, terorganisir secara rapi yang direalisasikan melalui gerakan dakwah yang solid. Karena itu, da’wah muslimah juga harus ditata, dikelola dan diorganisir secara baik dan teratur dengan kepemimpinan yang kokoh dan manajemen yang baik, yang tertuang dalam suatu wadah pergerakan[10].

Urgensi dari dakwah muslimah sangat diyakini menjadi salah satu bagian penting dalam dakwah, bahkan seorang bijak mengatakan pembagian porsi dakwah muslimah dengan dakwah keseluruhan, adalah jika dakwah itu adalah lingkaran, maka dakwah muslimah sebesar setengah lingkaran. Pergerakan dakwah muslimah seperti yang kita ketahui telah bergulir sejak zaman Nabi Muhammad, dimana Nabi menempatkan Istrinya sebagai pemimpin para muslimah. Peran sentral dari muslimah yang juga telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya merupakan urgensi yang saya nilai sebagai landasan mendasar mengapa kita perlu menjalankan dakwah khusus muslimah di kampus.Terkait apa peran dari bidang muslimah dan secara khusus kepala kemuslimatan di sebuah lembaga dakwah, Saya mengamati terdapat tiga peran utama yang bisa dijalankan oleh seorang kepala kemuslimatan.

Sebagai seorang hamba yang dimuliakan Allah SWT, seorang manusia apalagi yang beriman tidak akan pernah tahan melihat berbagai penyimpangan dan kemaksiatan berputar-putar di hadapan kita. Kita harus bangkit dan kembali menjadi khairu ummah, seperti yang Allah SWT janjikan dalam QS Ali Imron : 110 : yang artinya sebagai berikut:“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.[11]” (QS Ali ‘Imran ( 110)

 

Menurut Imam Munawir, organisasi adalah merupakan kerja sama di antara beberapa orang untuk mencapai suatu tujuan dengan mengadakan pembagian dan peraturan kerja.[12] Yang menjadi ikatan kerja sama dalam organisasi adalah tercapainya tujuan secara efektif dan efisien.[13] Dari definisi tersebut dapat diambil pengertian, bahwa Remaja Masjid adalah merupakan wadah kerja sama yang dilakukan oleh dua orang remaja muslim atau lebih yang memiliki keterkaitan dengan Masjid untuk mencapai tujuan bersama. Mengingat keterkaitannya yang erat dengan Masjid, maka peran organisasi ini adalah memakmurkan Masjid.[14]

 

Sebagai wadah aktivitas kerja sama remaja muslim, maka Remaja Masjid perlu merekrut mereka sebagai anggota. Dipilih remaja muslim yang berusia antara l5 sampai 25 tahun. Pemilihan ini berdasarkan pertimbangan tingkat pemikiran dan kedewasaan mereka. Usia di bawah 15 tahun adalah terlalu muda, sehingga tingkat pemikiran mereka masih belum berkembang dengan baik. Sedang usia di atas 25 tahun, sepertinya sudah kurang layak lagi untuk disebut remaja. Namun, pendapat ini tidak menutup kemungkinan adanya gagasan yang berbeda.[15]

Tingkat usia anggota perlu dipertimbangkan dengan baik, karena berkaitan dengan pembinaan mereka. Anggota yang memiliki tingkat usia, pemikiran dan latar belakang yang relatif homogen lebih mudah dibina bila dibandingkan dengan yang heterogen. Disamping itu, dengan usia yang sebaya, mereka akan lebih mudah untuk bekerjasama dalam melaksanakan program-program yang telah direncanakan, sehingga akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan.
Pembinaan remaja dalam Islam bertujuan agar remaja tersebut menjadi anak yang shalih; yaitu anak yang baik, beriman, berilmu, berketerampilan dan berakhlak mulia. Anak yang shalih adalah dambaan setiap orangtua muslim yang taat. Sabda Rasulullah SAW berbunyi “Apabila anak Adam mati, maka semua amalnya terputus, kecuali tiga: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).[16]

Untuk membina remaja bisa dilakukan dengan berbagai cara dan sarana, salah satunya melalui Remaja Masjid. Yaitu suatu organisasi atau wadah perkumpulan remaja muslim yang menggunakan Masjid sebagai pusat aktivitas. Remaja Masjid merupakan salah satu alternatif pembinaan remaja yang terbaik. Melalui organisasi ini, mereka memperoleh lingkungan yang islami serta dapat mengembangkan kreatitivitas.

Remaja Masjid membina para anggotanya agar beriman, berilmu dan beramal shalih dalam rangka mengabdi kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk mencapai keridlaan-Nya. Pembinaan dilakukan dengan menyusun aneka program yang selanjunya ditindaklanjuti dengan berbagai aktivitas. Remaja Masjid yang telah mapan biasanya mampu bekerja secara terstruktur dan terencana. Mereka menyusun Program Kerja periodik dan melakukan berbagai aktivitas yang berorientasi pada: keislaman, kemasjidan, keremajaan, keterampilan dan Keilmuan.

Mereka juga melakukan pembidangan kerja berdasarkan kebutuhan organisasi, agar dapat bekerja secara efektif dan efisien. Beberapa bidang kerja dibentuk untuk mewadahi fungsi-fungsi organisasi yang disesuaikan dengan Program Kerja dan aktivitas yang akan diselenggarakan, di antaranya:

  1. Administrasi dan Kesekretariatan
  2. Keuangan
  3. Pembinaan Anggota
  4. Perpustakaan dan Informasi
  5. Kesejahteraan Umat

Organisasi adalah alat untuk mencapai tujuan. Pencapaian tujuan memerlukan perjuangan yang sungguh-sungguh dengan memanfaatkan segenap sumber daya dan kemampuan. Dalam perjuangan dibutuhkan kesabaran tanpa batas, hanya bentuknya saja yang mengalami perubahan.[17]

Perjuangan yang dilakukan Remaja Masjid adalah dalam kerangka da’wah Islamiyah, yaitu perjuangan untuk menyeru umat manusia kepada kebenaran yang datangnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Ada pertarungan antara yang haq dengan yang bathil. Dimana telah diketahui bahwa kebenaran, insya Allah, akan mampu mengalahkan kebathilan. Namun perlu diingat, bahwa di dunia ini kebathilan yang terorganisir juga memiliki peluang untuk dapat mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisir.[18] Karena itu, dalam perjuangan melawan kebathilan perlu persiapan yang sungguh-sungguh dan tertata dengan rapi, seperti bunyanun marshush .

Untuk membentuk bangunan yang tersusun kokoh (bunyanun marshush) diperlukan organisasi dan management yang tangguh serta didukung sumber daya manusia (SDM) yang mencukupi dan berkualitas. Perekrutan dan kaderisasi anggota sangat diperlukaan oleh Remaja Masjid dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas anggotanya. Hal ini dilakukan untuk menjamin kelangsungan aktivitas dan misi organisasi dalam menda’wahkan Islam. Bertambahnya anggota akan menambah semangat dan tenaga baru, sedang tersedianya kader-kader yang berkualitas akan mendukung suksesnya estafet kepemimpinan organisasi.

Remaja muslim adalah unsur utama organisasi Remaja Masjid Keberadaan dan keterlibatan mereka dalam organisasi dapat dibedakan sebagai kader, aktivis, partisipan dan simpatisan. Pengurus perlu meningkatkan kuantitas dengan melakukan.[19]

  1. Melakukan pendaftaran (regristerasi) anggota.
  2. Mendaftar remaja muslim warga baru.
  3. Melakukan penyadaran kepada remaja muslim yang belum menjadi anggota, agar mereka mau bergabung dalam wadah bersama.

Peningkatan kualitas yang dilakukan adalah untuk meningkatkan keimanan, keilmuan dan amal shalih mereka. Hal itu dilakukan dengan melakukan proses kaderisasi yang dilakukan secara serius, sistimatis dan berkelanjutan, melalui jalur: pelatihaan, kepengurusan, kepanitiaan dan aktivitas . Dalam proses perkaderan dilakukan upaya-upaya penanaman nilai-nilai, akhlaq, intelektualitas, profesionalisme, moralitas dan integritas Islam. Sehingga diperoleh kader ideal Remaja Masjid yang memiliki profil : remaja muslim yang beriman, berilmu dan berakhlaq mulia yang mampu beramal shalih secara profesional serta memiliki fikrah Islam yang komprehensif.[20]

Badan Komunikasi Pemuda Masjid Indonesia (BKPMI) berdiri pada tanggal 3 September 1977 19 Ramadhan 1397 Hijriyah di Masjid Istiqamah Bandung, Jawa Barat.[21] Dengan terbentuknya kepengurusan periode 1977 – 1980 hasil Musyawarh Kerja Nasional dan dilantik oleh KH. EZ Muttaqien mewakili Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat.[22]

Lahirnya BKPMI ini adalah pada forum Musyawarah Kerja Nasional I yang kemudian disepakati sebagai Musyawarah Nasional I yang dihadiri oleh BKPM wilayah dengan kepemimpinan model Presidium dan terpilih sebagai ketua umum Rakanda Toto Tasmara dengan Sekertaris Umum Rakanda Bambang Pranggono. Tercatat sebagai pendiri adalah : Rakanda Toto Tasmara, Rakanda Ahmad Mansur Suryanegara, Rakanda Syamsuddin Manaf, Rakanda Bambang Pranggono, masing-masing dari Jawa Barat, Rakanda Mustafid Amna, Rakanda Syaifuddin Donondjoyo, Rakanda Muhammad Anwar Ratnapa Syaifuddin Donondjoyo, Rakanda Muhammad Anwar Ratnaprawira, Rakanda Muchlis Ma’ruf masing-masing dari DKI Jakarta, Rakanda Nasir Budiman, Nurcholis Turmudzi masing-masing dari Jawa Tengah, Rakanda Mubayin dari Jawa Timur.[23]

Perkembangan remaja masjid di Indonesia diawali pada dekade tahun 1970-an, dimana waktu itu remaja masjid tumbuh bak jamur di musim hujan. Hal ini dilatarbelakangi oleh:

  1. Trend SANTRINISASI masyarakat ABANGAN pasca Pembubaran PKI tahun 1966.
  2. Meluasnya isu UKHUWAH ISLAMIYAH menjelang abad 14 Hijriyah.
  3. Pemberlakuan NKK-BKK Pasca Kerusuhan MALARI 1974, pada waktu itu muncul Jargon “BACK TO MOSQUE “ di kalangan aktifis kampus dan ormas kepemudaan Islam.[24]

Fenomena berkembangnya remaja masjid menimbulkan tren keagamaan baru. Hal ini didukung dengan adanya menipisnya ikatan primordial sebagai ekses kebijakan Politik Orde Baru, sehingga memunculkan kecenderungan menyembunyikan identitas Golongannya. Bahkan dibeberapa basis NU dan Muhammadiyah.[25]

Kompensasi menipisnya ikatan primordial tersebut memunculkan organisasi-organisasi keagaman baru yaitu Remaja Masjid, Majelis-majelis Taklim, Yayasan-yayasan Islam, Lembaga Dakwah, Islamic Center. Dampak lainnya adalah munculnya organisasi masjid kampus. Hal ini didorong oleh naluri bergiat memikirkan masyarakat dan bangsa para aktivis mahasiswa yang disalurkan melalui wadah masjid yang ada di kampus.[26]

Akhirnya muncul organisasi masjid kampus, seperti KARISMA (Masjid Salman Al-Farisi ITB), ARHA (Arif Rahman Hakim–UI), Al Ghifari IPB-Bogor, UG dan Jamaah Shalahuddin (karena belum punya masjid di Gelanggang Mahasiswa) Ide-ide cerdas untuk memperbaharui dan mengembangkan kegiatan masjid yang dilakukan para aktivis masjid kampus menjadi pendorong para aktivis kepemudaan di luar kampus, sehingga muncullah RISMA-RISMA (remaja Islam masjid) mulai dari kota sampai ke desa-desa. Seperti RISKA (Remaja Islam Masjid Sunda Kelapa-Menteng, Jakarta); Istiqomah (Citarum, Bandung); YISC Al-Azhar Kebayoran, Jakarta; RISMA Al-Falah, Surabaya.[27]

Sebelum dekade tahun 1970-an tersebut, masjid-masjid hanya berisi orang orang yang sudah tua. Koor batuk-batuk menjadi ciri suasana masjid kala itu, Masjid hanya sebatas tempat parkir Sholat. Setelah para Pemuda–Remaja berkiprah mucullah suasana semarak di masjid-masjid, dan tumbuhlah kreatifitas dalam memakmurkan masjid. Muncullah keinginan memfungsikan masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat sebagaimana pada Zaman Rasulullah Saw di Madinah.[28]

 

Pembinaan umat Islam yang sekaligus juga untuk mengagungkan nama Allah swt. Masalah pembangunan masjid telah mendapat perhatian yang sangat besar oleh Rasulullah saw sendiri, sehingga saat beliau singgah di kota Quba sewaktu dalam perjalanan hijrah dari kota Mekah ke Madinah, dengan dibantu oleh sahabat-sahabatnya, beliau mendirikan sebuah masjid yang dinamai Masjid Quba.[29] Juga ketika Rasulullah saw sampai di kota Madinah, beliau mendirikan Masjid Nabawi.[30] Sebagai orang Islam, seharusnya kita memiliki perhatian dan cinta yang besar kepada masjid sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw diatas. Kecintaan yang besar kepada masjid ini akan membuat kita memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap usaha untuk memakmurkan masjid. Rasa cinta kepada masjid ini bisa kita wujutkan sebagaimana kalau kita cinta kepada kekasih ataupun sesuatu (rumah sendiri misalnya).

Arti penting dalam memakmurkan Masjid yaitu dalam ayat Al-Qur’an.

إنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. [At-Taubah 9 : 18][31]

Rasa cinta seseorang pada sesuatu biasanya membuat seseorang merasa rindu pada sesuatu itu karena memang hatinya telah terikat dan terpaut kepadanya.[32] Karena itu, kecintaan kita kepada masjid seharusnya membuat hati kita terpaut kepadanya sejak kita keluar dari masjid hingga kembali lagi ke masjid.

Bilamana seseorang telah memiliki ikatan hati yang begitu kuat dengan masjid, maka dia akan menjadi salah satu kelompok orang yang kelak akan dinaungi oleh Allah di akhirat, seperti sabda Rasulullah Saw yang artinya: Ada tujuh golongan orang yang akan dinaungi Allah yang pada hari itu tidak ada naungan kecuali dari Allah: Seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid ketika ia keluar hingga kembali kepadanya” (HR. Bukhari dan Muslim)[33]

Bilamana hati seseorang telah memiliki rasa cinta dan terpaut kepada masjid, maka pewujudan dan pembinaan diri yang dilakukan untuk memakmurkan masjid akan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap seluruh aktivitasnya di luar masjid.

  1. Selalu merasa rindu kepada Masjid
  2. Rajin mendatangi masjid
  3. Menghormati masjid
  4. Bersedia berkorban untuk Masjid

Setelah masjid didirikan, masjid perlu dibina dan dikembangkan agar tetap berfungsi sebagai tempat untuk tempat beribadat, menyebarkan dakwah dan pendidikan. Untuk memakmurkan masjid sebagaimana yang dikehendaki mestinya, diperlukan pengorbanan yang sangat besar, baik pengorbanan harta, tenaga, waktu, dan ketrampilan seseorang demi untuk mengagungkan rumah Allah ini. Sewaktu Rasulullah saw membangun masjid, beliau telah menunjukkan pengorbanannya yang besar. Dengan tenaga yang dimiliki misalnya, beliau membawa batu bata sendiri sewaktu membangun masjid. Sehingga para sahabat yang melihat Rasulullah saw yang sangat letih, bertambah semangat untuk membantu Rasulullah membangun masjid. Sehubungan itu, masjid merupakan salah satu yang penting untuk pembinaan umat Islam.[34]

  1. Tempat untuk Beribadat dan dakwah
  2. Tempat diskusi tentang agama dan musyawarah
  3. Tempat mengajar anak-anak tentang Islam dan
  4. Tempat menuntut ilmu Islam[35]

Maka tempat ibadah ini juga boleh digunakan untuk saling membantu diantara umat islam dibidang sosial dan ekonomi. Sebagai contoh dari Rasulullah saw yang boleh kita tiru dalam kehidupan kita sehari-hari, sewaktu ada sahabat jama”ah masjid mengalami kesulitan ekonomi, beliau korbankan hartanya untuk membantu sahabat itu hingga kesulitannya dapat diatasi. [36]

Dari huraian di atas, menjadi jelas bagi kita bahawa, masjid merupakan tempat yang harus kita cintai dengan cara memakmurkan masjid. Oleh karena itu, perhatian kita kepada masjid harus selalu kita tingkatkan dari waktu ke waktu agar masjid kita tetap berfungsi sebagai rumah Allah, selalu ramai didatangi orang untuk beribadat, selalu terpelihara kebersihannya dan selalu terjaga kemulianya.[37]

Organisasi remaja yang dipandang mampu mewujudkan harapan berbagai komponen masyarakat, termasuk bangsa terhadap remaja adalah remaja masjid. Melalui organisasi ini  dilakukan aneka kegiatan atau program kerja yang tidak hanya berorientasi keagamaan (Islam), tetapi juga hal-hal sosial kemasyarakatan. Sebagai sebuah wadah pembinaan remaja, remaja masjid memiliki ciri khas atau keunikan yang jarang didapatkan di organisasi bersifat umum. Organisasi ini menggabungkan antara penanaman nilai-nilai Agama Islam (ibadah) dengan kegiatan sosial kemasyarakatan (muamalah). Contohnya, baca tulis Al-Qur’an, kajian seputar agama Islam, latihan dasar kepemimpinan, bakti sosial, seminar, dan  pelatihan tentang masalah remaja, atau lomba lagu qasidah.[38]

Remaja masjid sering juga mengadakan kegiatan kajian-kajian untuk memperluas kegiatan umum, keterampilan dasar seperti kursus-kursus keterampilan memperbaiki standar.hidup, dan pengenalan terhadap produk-produk teknologi.[39] Selain itu, kegiatan organisasi remaja masjid ini independen, artinya tidak terikat oleh organisasi politik, aliran-aliran tertentu, apalagi status sosial. Beberapa ciri khas ini menunjukkan bahwa remaja masjid murni mengembang pembentukan remaja  yang berkualitas, baik dari segi aqidah serta mengarahkan remaja  berwawasan luas dan mempunyai keterampilan.[40]

Dari beberapa paparan yang penulis sebutkan di atas dapat penulis rangkum lebih singkat lagi bahwa organisasi remaja masjid sangat dibutuhkan peranannya dalam mengawal dan berbakti demi kemajuan dan menguatkan nilai-nilai keagamaan di masyrakatnya memang sangat dibutuhkan. Kemampuan dan daya juang dari karakter remaja masjid memang sangat diharapkan untuk menjadi tulang pungkung dan berada digaris depan perjuangan demi menegakkan addinul Islam yang kita cintai ini.

***

METODE PENELITIAN

Pada penelitian ini pendekatan yang penulis gunakan adalah pendekatan kualitatif untuk mengungkap dan memformulasikan data lapangan dalam bentuk narasi verbal yang utuh dan mendiskripsikan keaslian data dan temuan data, kemudian penulis mengurai sesuai dengan temuannya untuk mendapatkan keabsahan. Jenis penelitian ini berkategori penelitian semi struktur dan partisipatif[1].

Penelitian semi struktur dan partisipatif, yaitu tentang bentuk penelitian yang bersifat kualitatif-induktif yang sengaja disusun berdasarkan postulat data deskriftif yang diurai melalui susunan kalimat verbal dan naratif juga pengembangannya di tempat penelitian selama proses pegumpulan data.[2]

KEHADIRAN PENELITI

Kehadiran peneliti sebagai pengamat partisipasi pasif, karena kehadiran peneliti datang di tempat lokasi tidak terlibat dalam proses organisasi, tapi hanya sebagai pengamat yang dalam instrumennya sebagai pengamat semi terstruktur. Karena kehadirin peneliti diketahui oleh ketua remaja masjid al-Iklash/IPPRA.

LOKASI PENELITIAN

Lokasi penelitian di Masjid al-Ikhlash, Dusun Talang Ketawang Laok Guluk-Guluk Sumenep, lokasi dipilih oleh peneliti karena lokasi berada di pedesaan, peneliti ingin mengetahui kemampuan (kompetensi) organisasi IPPRA dalam pengembangan pembelajaran berbasis syariah dan juga upaya lembaga pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikannya melalui pemebelajaran berbasis syariah.

SUMBER DATA

Dalam peneltian ini, data terbagi menjadi dua kategori, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.

Sumber data yang telah penulis pilih di atas, yang berupa informan, penulis jadikan sebagai data primer, kemudian, data tersebut penulis ramu dengan data-data sekunder yang penulis ambil dari berbagai referensi sebagai landasan teoritis.

Jika penulis simpulkan maka sumber data dapat berwujud sebagai mana di bawah ini:

  1. PRIMER
  • Ketua IPPRA dari periode pertama (2003), sampai periode saat ini (2012)
  • Takmir Masjid al-Ikhlash, khususnya ketua takmir saat ini.
  • Ketua divisi kemuslimatan/divisi Wanita IPPRA masjid al-Ikhlash.
  • Dokumen berupa AD/ART dan SK-SK.
  • Dokumen berupa hasil mubes (Musyawarah Besar IPPRA).
  • Dokumen berupa hasil rapat-rapat pengurus IPPRA dari berbagai periode.
  • Dokumentasi berupa hasil foto-foto kegiatan IPPRA
  1. SEKUNDER
  • Tokoh-Tokoh masyarakat di sekitar IPPRA.
  • Buku-buku rujukan teoritis.
  • Situs-situs terkait
  • Majalah-Majalah terkait.

 

PROSEDUR PENGUMPULAN DATA

Sumber data dari penelitian ini adalah ketua IPPRA, ta’mir Masjid dan peserta onggota lainnya, di desa Ketawang Laok, Guluk-Guluk, Sumenep.

Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi.

  1. Wawancara mendalam, wawancara dilakukan kepada informan-informan yang menurut penulis memang sangat layak untuk diwawancarai untuk diambil sebagai data pokok dari beberapa pembahasan yang penulis lakukan. Wawancara yang penulis lakukan yaitu kepada ketua IPPRA, pengurus Takmir, dan ketua divisi kemuslimatan/Wanita IPPRA masjid al-Ikhlash telah menggunakan traskrip terencana agar selalu terfokus pada tema yang penulis usung.
  2. Observasi digunakan dalam hal ini menjadi pengamatan secara langsung terhadap segala bentuk kegiatan yang pernah divisi kemuslimatan/Wanita IPPRA kejawantahkan di tengah-tengah kaumnya. Di samping bentuk kegiatan tersebut, penulis juga melakukan observasi secara mendalam dan kontinu kepada pertencanaan program yang digodok dalam rapat internal divisi kemuslimatan/Wanita IPPRA. Untuk melengkapi data observasi ini, penulis juga mengadakan kunjungan ke kantor divisi kemuslimatan/Wanita yang memang terpisah dari kantor IPPRA sebagai organisasi induknya. Kunjungan tersebut punulis gunakan untuk mengetahui secara kasat mata seperti apa bentuk kantornya, papan nama pengurusnya, papa struktur ornganisasinya, foto-foto album kegiatannya, buku-buku administrasinya berupa: buku tamu, buku catatan harian, buku rapat, jurnal kegiatan, jurnal kegiatan akuntansinya, surat masuk, surat keluar,dan sebaginya.

Sengaja penulis lakukan observasi mendalam agar data yang penulis kumpulkan memang benar-benar lengkap, dan mengharap apa yang penulis lakukan bisa dipertanggugjawabkan secara ilmiah.

  1. Dokumentasi, dalam hal ini, penulis menelisik berbagai dokumen yang telah IPPRA hasilkan. Dokumentasi ini terberai di berbagai buku-buku yang dihasilkan oleh IPPRA dari semenjak berdiri 2003 sampai 2012. Dokumentasi ini antaralain, AD/ART, foto-foto dan lain-lain.

 

Analisis data, merupakan proses mengatur urutan data, mengorganisasikan ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar[3]

Tahapan analisis data yang digunakan dalam penelitian kualitatif, adalah menggunakan, yang dilakukan selama pengumpulan data dan sekaligus setelah pengumpulan data, dengan melalui proses induktif penulis dapat menganalisis apabila ada temuan baru.[4]

Analisis data diperlukan untuk merangkumkan apa yang telah diperoleh, menilai apakah data tersebut berbasis kenyataan, teliti, ajeg, dan benar. Analisis data juga diperlukan untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Hasil ini nanti digunakan untuk memberikan masukan bagi perbaikan-perbaikan pada suatu fokus penelitian.[5]

Seorang penelti didalam melakukan pengecekan keabsahan temuan data dilakukan dengan cernat dan hati-hati agar peneliti tersebut tidak sia-sia dan bukan hanya bersifat simbol semata, sehingga kegunaan penelitian tersebut akan benar-benar dirasakan langsung oleh penelitian.

Untuk mengecek keabsahan temuan dari data yang diperoleh di lapangan, peneliti merasa perlu menggunakan teknik yang dapat digunakan untuk megukur keabsahan tersebut, yaitu:

  1. Ketekunan pengamatan, dengan maksud untuk menemukan ciri-ciri atau tanda-tanda yang relevan dengan persoalan.
  2. Pemeriksaan keabsahan temuan yang dapat memenfaatkan sesuatu yang lain diluar data.
  3. Data-data yang diperoleh dipaparkan atau disajikan secara betul, sehingga pembaca dapat mengerti dan memahami temuan yang dihasilkan dari penelitian tersebut. Dari uraian ini ditekankan pada fokus penelitian yang dimaksudkan oleh peneliti dalam studi ini.
  4. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai perbandingan terhadap data tersebut.[6]

Data dialisis dengan menggunakan triangulasi data, yaitu teknik pemeriksaan data yang memanfaatkan data yang lain yang sesuai di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sabagai pembanding terhadap data yang diperoleh. Menurut Sudarwan Danim adalah melakukan pengumpulan data untuk membuka peluang untuk menguji bagaimana peristiwa dialami oleh kelompok yang berbeda dari orang-orang yang berbada dan pada waktu yang berbeda pula.[7]

Tujuan triangulasi ialah mengecek kebenaran data tertentu dengan membandingkan data yang diperoleh dari sumber lain, pada berbagai fase penelitian lapangan, pada waktu yang berlainan, dan dengan menggunakan metode yang berlainan. Triangulasi tidak sekedar menilai kebenran data, tetapi juga menyelidiki validitas data itu, oleh karena itu triangulasi bersifat reflektif.[8]

Dengan prinsip snow balling, maka pilihan sumber informasi dalam perolehan data berakhir apabila tidak ada lagi indikasi muncul informasi baru.[9]

Validitas data. Data yang terkumpul dilakukan pengecekan dengan triangulasi, yaitu pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding.[10] Teknik triangulasi yang digunakan adalah triangulasi sumber, Patton dalam Qualitative Data Analysis: A Sourcebook of New Methods, sebagaimana yang dikutip oleh Lexy Moleong yaitu membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Hal ini dapt dicapi dengan jalan:

  1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan wawancara
  2. Membandingkan apa yang dikatakan orang depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi
  3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan orang sepanjang waktu
  4. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah, tinggi, orang berada, dan orang pemerintahan.
  5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.[11]

Dengan penggunaan triangulasi sumber diharapkan informasi yang diperoleh dapat di-cross check, sehingga akurasinya dapat diuji.

Peneliti menggunakan triangulasi sebagai teknik untik menegcek keabsahan data. Dimana dalam pengertiannya triangulasi adalah teknik pemeriksanaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawandara terhadap objek penelitian.[12]

Triangulasi dapat dilakukan dengan menggunakan teknik yang berbeda yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Triangulasi ini selain digunakan untuk mengecek kebenaran data yang dilakukan untuk memperkaya data. Menurut Nasution, selain itu triangulasi juga dapat berguna untuk menyelidiki validitas tafsiran peneliti terhadap data, karena itu triangulasi bersifat reflektif.[13]

Triangulasi dengan sunber artinya membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Adapun untuk mencapai kepercayaan itu, maka harus ditempuh langkah sebagai berikut:

  1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara
  2. Membandingkan apa yang dikatakan orang depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi
  3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan orang sepanjang waktu
  4. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan masyarakat dari masing-masing orang.
  5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.[14]

Tahap penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah:

  1. Tahap Persiapan
  2. Menemukan masalah kemudian menuangkannya dalam judul skripsi.
  3. Mengajukan judul kepada ketua jurusan Pendidikan Agama INSTIKA An-Nuqayah Sumenep.
  4. Setelah diterima, penulis membuat proposal dan mengajukannya pada ketua jurusan dan setelah disetujui penulis mengikuti munaqasah proposal skripsi.
  5. Setelah dinyatakan lulus dalam munaqasah, penulis mengkonsultasikan kepada pembimbing tentang hasil munaqasah proposal, untuk mendapat perbaikan lebih lanjut.
  6. Setelah proposal tersebut disempurnakan pembimbing, kemudian penulis menggandakannya untuk memenuhi persyaratan administrasi.
  7. Setelah persyaratan administrasi terpenuhi kemudian penulis mendapatkan surat izin dari bagian administrasi berupa surat permohonan memperoleh data pendidikan dan mengadakan studi pendahuluan yaitu untuk memperoleh data tentang Organisasi Remaja Masjid / IPPRA di Desa Ketawang Laok Guluk-Guluk Sumenep.
  8. Tahap Pelaksanaan
  9. Dengan berbekal proposal skripsi yang telah disetujui oleh pembimbing, penulis mulai melaksanakan penelitian dengan diawali kegiatan mempelajari lebih lanjut tentang kondisi lokasi penelitian (Organisasi Remaja Masjid / IPPRA di Desa Ketawang Laok Guluk-Guluk Sumenep).
  10. Setelah itu, penulis mengadakan wawancara kepada ketua IPPRA dan ta’mir Masjid serta kepada anggota lainnya.
  11. Kemudian, penulis mengadakan wawancara terstruktur dengan anggota IPPRA untuk mengetahui jawaban secara tertulis kepada seluruh anggota ta’mir masjid dan sambil di bantu dengan kabit-kabit yang lain.
  12. Setelah data di peroleh, penulis mengumpulkan semua data, kemudian data yang diperoleh disimpulkan, hasil dari kesimpulan data yang didapat, penulis analisis dengan anggota organisasi sebagai nilai untuk menghasilkan organisasi berkualitas sesuai dengan judul skripsi yang penulis buat.

Keseluruhan proses penelitian mulai dari pelaksanaan studi pengajuan judul sampai berakhirnya wawancara memerlukan waktu dari tanggal   05 Mei   2012, sampai dengan tanggal 17 Juli 2012.

***

LAPORAN PENELITIAN

Menurut Lofland dan Lofland, dalam Lexy J. Moloeng, diungkapkan bahwa data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata, dan tindakan. Kata-kata dan tindakan itu mengacu kepada orang-orang yang diamati atau diwawancarai sebagai sumber data utama. Kata-kata dan tindakan tersebut dicacat melalui catatan tertulis atau melalui perekaman audio visual, pengambilan foto atau film.[1] Oleh penulis kemudian sumber utama tersebut dipaparkan dengan jelas agar informasi yang penulis dapatkan menjadi terang, dan tentunya valid.

Paparan data merupakan susunan informasi yang dilakukan setelah melalui proses pengumpulan dan reduksi data. Proses pengumpulan data ini dilakukan untuk memperoleh data yang valid dengan melalui tiga metode, yaitu: wawancara, robservasi dan dukumentasi. Sedangkan reduksi data dilakukan untuk menyederhanakan dan memfokuskan masalah dengan cara mengeliminasi data yang kurang relevan dan tidak ada korelasinya dengan fokus.[2]

Paparan data sebagai sumber primer penulis eksplor dari temuan penelitian yang penulis lacak di lapangan. Temuan penelitian ini menyangkut kepada person yang dengan sengaja penulis cari untuk diambil sebagai data, bisa juga melalui sasaran orang lain yang bukan anggota divisi muslimah, akan tetapi oleh organisasi ini dijadikan sebagai objek dakwah, mereka itu terdiri dari ibu-ibu PKK/jamaah muslimah lainnya, ada pula dari golongan remaja putri. Dan temuan ini juga bisa berupa bahan-bahan kelengkapan organisasi, misalnya papan nama, struktur organisasi, dokumen-dokumen lainnya, dan sebagainya.

Untuk jelasnya, di bawah ini penulis memilahnya lebih lanjut, yaitu sebagai berikut :

  1. Paparan Data dan Temuan Penelitian
  2. Paparan Data

Dari kenyataan di lapangan yang penulis dapatkan bahwa berbicara mengenai divisi kemuslimatan/Wanita IPPRA, ternyata masih belum bisa dikatakan maju. Banyak faktor yang melatar belakanginya, dari pandangan kuno warisan nenek moyang, kesadaran yang masih rendah, pernikahan dini, sampai pada faktor ekonomi yang sulit. Berikut hasil wawancara peneliti dengan beberapa narasumber:

  1. Bapak H. Ahmad Fauzi, (50 tahun),[3] (W/S/TW/8 Juni 2012) telah penulis wawancarai di rumah beliau.

“Secara umum divisi kemuslimatan/Wanita IPPRA ini sudah mengalami kemajuan. Sudah ada beberapa orang yang berhasil melanjutkan ke perguruan tinggi. Walaupun jumlah mereka masih bisa dihitung dengan jari, namun setidaknya ini sudah ada peningkatan kesadaran dari masyarakat akan pentingnya pendidikan. Untuk pendidikan perempuan sendiri, sebagian besar masyarakat di desa ini masih dikuasai oleh pemikiran lama, bahwa perempuan tidak perlu bersekolah tinggi, karena tidak ada gunanya juga, tidak mungkin bisa menjadi Bupati dan ujung-ujungnya pasti di rumah. Lebih baik jika punya anak perempuan segera dinikahkan saja untuk menghindari fitnah, karena anak perempuan yang masih belum menikah pada umur di atas dua puluh tahun dan tidak mempunya ikatan yang resmi (bertunangan) dengan seorang laki-laki itu akan menjadi pergunjingan masyarakat sekitar. Selain itu. Tujuan dinikahkan juga untuk meringankan biaya hidup orang tua, sebab anak yang sudah menikah akan menjadi tanggungan suaminya.”

Karena peneliti masih merasa kurang jelas, maka peneliti meminta kembali Bapak kepala desa untuk menjelaskan beberapa orang yang sudah berhasil melanjutkan keperguruan tinggi terkait dengan perempuannya.

“Kembali kepada yang saya jelaskan di depan, bahwa di sini sudah ada beberapa orang yang berhasil melanjutkan ke perguruan tinggi, kebanyakan dari mereka adalah laki-laki dan Alhamdulillah ada yang sudah wisuda. Sementara untuk perempuannya sangat sedikit sekali.” lanjutnya

Demikian pandangan umum dari kondisi pendidikan di dusun Talang desa Ketawang Laok Guluk-Guluk waktu penulis beranjangsana ke kediaman bapak Kades. Paparan ini memang penulis sengaja tak langsung pada temuan data secara spesial, tetapi melihat dulu pada kondisi umum agar penulis memahami bagaimana keadaan output pendidikan di kediaman penulis. Baru kemudian, di bawah ini adalah sajian khusus sesuai dengan fokus bahasan.

 

  1. Moh. Harispd.I, (35 tahun)[4], (W/S/TW/18 Juni 2012), yang penulis datangi ke rumahnya.

“ Jika ditanya tentang Peran Divisi Kemuslimatan dalam Organisasi IPPRA Remas Al-Iklash, menurut saya, ada beberapa hal yang perlu dicermati, yaitu antara lain;

  1. Peran dalam keagamaan, dalam hal ini bidang keputrian ini telah berhasil mengentas kaumnya dari keterpurukan pemahaman keagamaan. Hal ini dapat dibuktikan dengan semakin menipisnya kalangan perempuan dalam ketidaktahuan baca huruf arab. Memang data ini barangkali kurahng akurat, tapi dari pengamatan saya, 90 % kaum perempuan di desa ini telah melek al-Qur’an. Ini merupakan keberhasilan nyata dari peran divisi pendidikan pelajar wanita melalui organisasi IPPRA remas al-iklash
  2. Peran dalam Sosial, dalam hal ini peran divisi Kemuslimatan dalam organisasi IPPRA remas al-iklash, kurang terasa. Barangkali, mengapa terjadi begitu, alasan yang paling masuk di akal adalah divisi ini bergerak di kalangan muslimah sehingga peranan sosialnya tidak nampak untuk kalangan umum.
  3. Peran dalam hal pendidikan keputrian, peran divisi Kemuslimatan dalam organisasi IPPRA remas al-Iklash sangat terasa. Remaja putri di dusun ini setelah IPPRA membentuk divisi pendidikan pelajar wanita remas al-Iklash pada tanggal 13 Juni 2004, di tahun ke dua kepengurusan saya, sampai saat ini telah kita rasakan bersama. Paling tidak, peran yang menonjol tersebut antara lain: kursus baca kitab, kursus bahasa Inggris, kursus TOGA, kursus TATA BOGA,dsb
  4. Peranan dalam masalah kekeluargaan. Divisi ini juga amat penting berperan dalam masalah ini, sebab setelah divisi ini terbentuk angka perceraian menjadi turun, dan kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga juga semakin mengecil. Saya juga tidak punya data statistik yang akurat dalam masalah ini, tapi paling tidak, dalam delapan tahun ini, kasus-kasus di atas memang sudah menghilang dari dusun kita.
  5. Adapaun bentuk-bentuk program yang dicanangkan oleh mereka, sejauh yang saya pantau, memang tak jauh-jauh amat dengan peran yang mereka capai. Program keagamaan yang sedikit-banyak tetap mengacu kepada organisasi induknya, mereka laksanakan dalam mingguan, dan kursus-kursusnya juga lebih efektif dari program IPPRA. Mereka laksanakan dalam program mingguannya. Tapi, sepertinya juga mereka punya program jangka panjang, menengah dan pendek. Dalam hal ini, saya kurang mengetahuinya. Mungkin Anda bisa wawancara langsung pada ketua divisi muslimah.”

 

Demikian pandangan mantan ketua IPPRA generasi pertama panjang lebar kepada penulis. Dari kelima poin yang beliau ungkap ternyata divisi ini sangat berperan dalam mendorong kemajuan kaum perempuan di dusun Talang ini. Dan juga, beberapa program telah berhasil penulis dapatkan dari keterangan ketua IPPRA pertama di atas.

 

  1. Fauzan, ( 55 tahun),[5] (W/S/TW/19 Juni 2012), waktu penulis berkunjung ke kediaman beliau berkata.

“ Sangat luar biasa Peran Divisi Kemuslimatan dalam Organisasi Ippra Remas Al-Iklash ini. Saya yakin, dusun ini selangkah lebih maju daripada dusun-dusun lain di desa Ketawang Laok ini. Itu semua kerana perjuangan kita, khususnya IPPRA dan divisi kemuslimatnnya. Good luck saya ucapkan. Selamat berjuang!”.

  1. Hasan Basrawi, SAg. (47 tahun),[6] (W/S/TW/20 Juni 2012), juga mendukung pendapat dari H. Fauzan di atas setelah penulis wawancarai.

“IPPRA dan divisi wanitanya telah berhasil membawa kemajuan yang cukup berarti di desa ini. Walaupun masih jauh dari kata hebat, tapi jerih-payah mereka telah berhasil mengubah pola pemikiran golongan tua mereka yang kolot manjadi angin perubahan yang segar, hal ini terbaca dari bentuk-bentuk program yang mereka bikin menyentuh secara nyata bagi kalangan keputrian dan kemuslimatan. Inilah yang perlu kita apresiasi.”

  1. Taufik, SH,I. (34 tahun),[7] (W/S/TW/13 Juli 2012).

“Sebagai mantan ketua IPPRA tahap dua saya amat mengetahui seperti apa peranan divisi muslimah tersebut atas kaumnya. Selama masa kepemimpinan saya, betapa sangat antusianya ketua divisi muslimah (waktu itu dijabat oleh saudari Mu’ainiyah) mengadakan pembinaan atas generasi muda muslimah. Para remaja putri itu, bila libur pondok, dikumpulkan di teras masjid untuk diberi pengetahuan keputrian. Dan mereka yang tidak mondok, setiap minggu digalang untuk mengadakan pengajian secara rutin.

“Hasil-hasil jerih payah tersebut saat ini sangat terasa manfaatnya, terutama bermanfaat dalam membentengi diri dari perbuatan amoral. Dan inilah barangkali manfaat pendidikan yang mereka asah.

“Adapun bentuk-bentuk program divisi ini, mungkin lebih pasnya, peneliti tanyakan pada sang ketua atau mantan ketuanya ”

  1. Aisal Anwar, (25 tahun),[8] (W/S/TW/25 Juli 2012) berkata waktu penulis wawancarai waktu ada pertemuan IPPRA.

“Menarik sekali bila saya mengurai peranan divisi muslimah IPPRA dalam kaitannya dengan pendidikan kaum perempuan di dusun ini. Sangat baik peranan mereka semala saya menjabat ketua IPPRA. Mereka sangat antuas dalam menjalankan program yang mereka kodok, sebab walau mereka secara organisatoris di bawah IPPRA akan tetapi secara aplikatif, mereka independen, dalam artian, program mereka adalah apa yang mereka susun. IPPRA sebagai organisasi induk tak pernah ikut campur atas program yang mereka buat. Oleh karena itu, mereka sangat dinamis dalam menjalankannya, dan hasilnya sungguh sangat kita rasakan saat ini.

“Adapun program mereka, paling tidak sebagaimana yang sempat saya ikuti adalah :

  1. Program mingguan, berupa kumpulan muslimatan, dan arisan.
  2. Program bulanan, berupa sumbangan untuk kas organisasi
  3. Program tahunan, berupa pengajian pada hari-hari besar Islam.

Mungkin untuk lebih jelasnya bisa anda tanyakan ke pengurus divisi kemuslimatan saja”

 

  1. Ramsi, (24 tahun),[9] (W/S/TW/12 Juni 2012), melontarkan penilaian yang senada dengan mantan-mantan ketua IPPRA sebelumnya, katanya:

“Sekarang ketua Divisi Kemuslimatan IPPRA dipegang oleh Rukmiyati, akan tetapi sejak beliau menikah dengan orang Sumenep, secara otomatis ketua divisi tersebut jatuh pada wakil ketua divisinya, yaitu Sitti Aminah. Secara keseluruhan, kegiatan ketua Divisi Kemuslimatan tetap eksis dan dinamis. Mereka tidak mengalami kemunduran dalam menelorkan program-program kemuslimatannya. Oleh karena itu, peranan dalam bidang pendidikan kewanitaan memang tetap seperti sediakala. Tak mengalami kemunduran”.

  1. Saudari Mu’ainiyah (26 tahun),[10] (W/S/TW/15 Juli 2012), selaku ketua bidang khusus IPPRA generasi pertama, dia berkata berkaitan dengan peranan divisi yang ia pimpin pada tahun 2004 lalu. Wawancara dilakukan tanggal 15 Juli 2012.

“Pada mulanhya, sangat sulit memandirikan para wanita dan remaja putri di desa ini. Hal ini terkait dengan pendapat bahwa wanita tabu keluar luar sendirian walau ia mau ke pengajian sekalipun. Tapi, secara pelan-pelan, pandangan penghambat kemajuan itu pada akhirnya hilang dan para remaja dan ibu-ibu muslimatan bisa diajak kumpul-kumpul, seperti tahlilan, yasinan, dan dibaan. Itu terjadi di awal saya menjadi ketua divisi muslimah. Dengan begitu maka kami membikin draf program yang diajukan pada ketua, saudara M.Haris, dan disetujui. Maka semenjak itu, kegiatan yang berorientasi pada pendidikan kami jalankan secara gradual dan konsisten.”

Waktu penulis bertanya tentang program-program divisi kemuslimatan ini beliau berkata :

“Secara konkrit, program-program divisi kemuslimatan kami bagi tiga sebagai garis besar, yaitu :

  1. Program jangka pendek
  2. Program jangka menengah
  3. Program jangka panjang.

Jika saya uraikan adalah sebagai berikut:

Program jangka pendek adalah program yang kami atur secara mingguan. Contoh program ini seperti pembacaan yasin, tahlil, dibaan, yang semuanya mempunyai sasaran pada ibu-ibu dewasa. Sedangkan program jangka menengah adalah kegiatan yang kami laksanakan antara satu bulan sampai enam bulan. Program ini meliputi pelatihan qiro’ah yang diselenggrakan satu bulan sekali, pelatihan TOGA yang diselenggarakan dua bulan satu kali, kursus menyulam dalam satu bulan satu kali, kursus baca kitab dalam satu bulan satu kali, pelatihan TATA BOGA dalam lima bulan sekali. Adapun bentuk program jangka panjang merupakan program tahunan seperti pengajian maulid, pengajian isra’mikraj, yang dalam pelaksanaannya menyatu dengan kegiatan organisaasi induknya, IPPRA.”

  1. Saudari Rukmiyati, SPd.I (27 tahun),[11] (W/S/TW/17 Juli 2012), berkata.

“Alhamdulillah, IPPRA sebagai induk dari divisi kemuslimatan sangat mendukung atas segala program yang kami susun. Atas dukungan IPPRA kegiatan yang berorientasi pada pendidikan kemuslimatan tetap berperan besar membina generasi muslimah, agar mempunyai ilmu yang bermanfaat terhadap dirinya kelas. Program-program keilmuan kami memang program unggulan dalan divisi kemuslimatan, seperti ilmu-ilmu yang sangat berkaitan dengan keputrian. Ini adalah prioritas.”

  1. Saudari Sitti Aminah, Amd.Pd (25 tahun),[12] (W/S/TW/23 Juli 2012), berucap senada dengan Rukmiyati di atas, bahwa divisi kemuslimatan memang sangat berperan terhadap peningkatan keilmuan remaja putri di dusun Talang desa Ketawang Laok.
  2. Kepala dusun Talang [13], (W/S/TW/17 Juli 2012), juga ikut bersaksi atas peranan divisi Musliamah IPPRA untuk meningkatkan keilmuan remaja putri di kampung binaannya di saat diwawancarai oleh penulis tanggal 17 Juli 2012. Beliau berkata :

“Bersyukurlah ada IPPRA dan muslimatan di masjid ini sehinggga roh atau syiar Islam menjadi menyala terang.”

 

 

  1. Temuan Penelitian

Penulis menemukan beberapa fakta menyangkut peran dan program divisi muslimah IPPRA remas masjid al-Ikhlash dusun Talang desa Ketawang Laok. Temuan ini penulis lacak dari beberapa macam sumber, baik memalui informan yang penulis wawancarai, dari sasaran dakwah IPPRA, serta dari objek lainnya yang bertkaitan dengan divisi ini setelah diobservasi dengan teliti.

Adapun bahasannya berkaitan dengan temuan penulis di lapangan dapat dijabarkan sebagai berikut :

  1. Bentuk program Devisi Kemuslimatan dalam organisasi IPPRA Remas Al-Ikhlash di desa Ketawang laok Kecamatan Guluk-Guluk Tahun 2011-2012.

Temuan dalam hal program Divisi Kemuslimatan IPPRA remas al-Ikhlash dusun Talang desa Ketawang Laok, penulis susun menjadi tiga poin, yaitu :

  • Temuan program melalui hasil wawancara terhadap pengurus IPPRA dan ketua divisi kemuslimatan.
  1. Dari hasil wawancara intensif kepada informan pengurus baik dari kalangan pengurus IPPRA, atau pengurus divisi kemuslimatan dapat penulis temukan akan program-programnya sebagaimana di bawah ini :
  2. Program jangka pendek
  3. Program jangka menengah
  4. Program jangka panjang.

Jika diuraikan adalah sebagai berikut:

Program jangka pendek adalah program yang kami atur secara mingguan. Contoh program ini seperti pembacaan yasin, tahlil, dibaan, yang semuanya mempunyai sasaran pada ibu-ibu dewasa. Sedangkan program jangka menengah adalah kegiatan yang kami laksanakan antara satu bulan sampai enam bulan. Program ini meliputi pelatihan qiro’ah yang diselenggrakan satu bulan sekali, pelatihan TOGA[14] yang diselenggarakan dua bulan satu kali, kursus menyulam dalam satu bulan satu kali, kursus baca kitab dalam satu bulan satu kali, pelatihan TATA BOGA dalam lima bulan sekali. Adapun bentuk program jangka panjang merupakan program tahunan seperti pengajian maulid, pengajian isra’mikraj, yang dalam pelaksanaannya menyatu dengan kegiatan organisaasi induknya, IPPRA.

  • Temuan program melalui hasil wawancara terhadap informan sasaran dakwah IPPRA.

Guna membuat kajian ini benar-benar akurat maka penulis membuat wawancara bandingan yang penulis ambil dari mereka yang dijadikan sasaran dakwahnya. Informan ini penulis pilih dari Kepada Desa Ketawang Laok, Bapak Kadus Talang dan pihak ketakmiran masjid al-Ikhlash, serta satu masyarakat biasa. Dari suara yang penulis kumpulkan, mereka mengatakan hal senada bahwa program-program divisi kemuslimatan IPPRA telah mendapatkan keberhasilan yang cukup menjanjikan.

Indikator keberhasilan yang cukup baik tersebut, sebagaimana diungkap Bapak Kades, adanya, walau masih tertinggal dengan kaum remaja putra, tingkat kelulusan sekolah formal baik dari tingkat Madrasah Aliyah/SMA, maupun dari tingkag Perguruan Tinggi/PT.

Adanya indikator di atas, kata mereka, adalah buah bukti bahwa program-program divisi kemuslimatan IPPRA telah berjalan dengan baik dan didesain dengan begitu rapi.

  • Temuan program melalui data dokumentasi IPPRA dan divisi kemuslimatan IPPRA.

Demikian pula, temuan dari data dokumen, baik dari hasil-hasil MUBES (Musyawarah Besar), dari musyawarah pengurus divisi kemuslimatan IPPRA, kemudian dipanjangkan dipapan tempel, adalah sangat jelas bahwa divisi kemuslimatan ini benar-benar mempunyai program yang telah terorganisasi dengan baik dan rapi.

Program-program tersebut, setelah penulis amati dengan teliti, memang tak jauh berbeda dengan temuan hasil wawancara dengan para pengurus organisasi. Dan tak perlu lagi penulis paparkan lagi di sini.

  1. Peranan Divisi Kemuslimatan dalam organisasi IPPRA Remas al-Ikhlash di desa Ketawang laok Kecamatan Guluk-Guluk Tahun 2011-2012.

Sama dengan temuan dalam hal program di atas, temuan dalam hal peranan divisi kemuslimatan IPPRA penulis juga melibatkan tiga komponen penting untuk melacak bagaimana peranan tersebut diwujudkan dan seperti apa wujudnya. Tiga komponen tersebut antara lain :

  1. Temuan yang penulis ambil dari hasil wawancara dengan pengurus IPPRA dan Divisi Kemuslimatan IPPRA.

Dari wawancara yang penulis lakukan dengan informan kepengurusan IPPRA dan divisi kemuslimatan IPPRA didapat banyak data untuk mengetahui sejauh mana peranan tersebut. Di bawah ini adalah rangkuman-rangkuman mengenainya :

  1. Divisi Kemuslimatan IPPRA berperan penting dalam memajukan pola pikir dan pendidikan tingkat lanjut kepada para anggotanya.
  2. Organisasi ini juga, berperan dalam pendidikan dan pelatihan berupa keterampilan, seperti kursus bahasa Inggris, TATA BOGA, TOGA, memasak, PKK dan lain-lain.
  3. Organisasi ini juga, punya peran dalam pendidikan keagmaan, seperti memajukan baca kitab kuning, kursus bahasa Arab, Yasinan, Dibaan, tahlilan, dan sebagainya.
    1. Temuan yang penulis ambil dari hasil wawancara dengan sasaran dakwah IPPRA.

Dari wawancara yang penulis lakukan dengan informan sasaran atau subjek dakwah dari organisasi ini banyak data yang penulis ketahui sejauh mana peranan tersebut dan tidak jauh berbeda dengan temuan dari hasil wawancara pada pengurusnhya. Di bawah ini adalah rangkuman-rangkuman mengenainya:

  1. IPPRA dengan divisi kemuslimatannya berperan penting dalam memajukan pola pikir dan pendidikan tingkat lanjut kepada para anggotanya.
  2. Berperan dalam pendidikan dan pelatihan berupa keterampilan, seperti kursus bahasa Inggris, TATA BOGA, TOGA, memasak, PKK dan lain-lain.
  3. Serta punya peran dalam pendidikan keagmaan, seperti memajukan baca kitab kuning, kursus bahasa Arab, Yasinan, Dibaan, tahlilan, dan sebagainya.
  1. Temuan yang penulis ambil dari dokumen-dokumen lainnya.

Pada dokumen-dokumen terpilih yang ada di organisasi ini penulis menemukan data mengenai peran dari divisi muslimah sebagai berikut :

  1. Semakin banyaknya para ibu-ibu sepuh yang bisa membaca huruf arab, karena hasil binaan intensif yang dilakukan oleh para pengurus organisasi ini.
  2. Tingkat aplikasi syaria’ah Islam semakin baik.
  3. Daya belajar remaja putri di dusun Talang semakin kuat dan mereka sangat gemar membaca.
  4. Belajar kelompok semakin digalakkan.
  5. Tingkat amoral semakin diminimalisir.
  6. Dan sebagainya.

 

  1. Pembahasan
  2. Bentuk program Devisi Kemuslimatan dalam organisasi IPPRA Remas Al-Ikhlash di desa Ketawang laok Kecamatan Guluk-Guluk Tahun 2011-2012.

Dalam temuan data yang penulis berhasil himpun akan eksistensi bentuk progrtam dari divisi kemuslimatan IPPRA remas al-Ikhlash, nyata sekali bahwa organisasi ini memang dengan sengaja dibikin semaju mungkin layaknya organisasi modern. Sangat jarang terjadi, bahwa organisasi di tingkat grosthrooth (akar rumput) sepengalaman penulis, telah memiliki seperangkat organisasi sebagimana dimiliki oleh IPPRA dan divisinya. IPPRA sejak didirikan 2003 lalu telah berwujud dengan seperangkat organisasi tersebut, seperti AD/ART, Pembatasan ketua yang hanya maksimal dua periode, manajemen organisasi yang rapi, meliputi planning, actuating, controling, dan evaluating. Ini semua telah jelas bahwa organisasi ini didirikan untuk mengantisipasi zaman yang semakin canggih.

Hal ini terbukti, setelah penulis lacak lebih jauh tentang mengapa program-program IPPRA dan divisi kemuslimatannya didesain begitu tertata rapi. Jawaban yang didapat penulis memang tak jauh dari dugaan semula, bahwa membikin pergerakan kepemudaan memang harus terkaderisasi dengan baik. Tak mungkin bisa eksis dan berbekas mendalam bila perkumpulan kepemudaan hanya seperti yang lainnya, yaitu sekedar berkumpul. Setelah itu, buyar. IPPRA, kata sang informan tersebut, akan berusaha dibentuk sesuai dengan nasehat Saidina Ali bin Abi Thallib KA. Dalam Najhul Balaghah-nya. Beliau berujar,katanya : “kebenaran yang tidak diorganisasi dengan baik/rapi, akan dapat dihancurkan oleh kemungkaran yang dususun dengan baik/rapi.” Inilah stateman yang menjadi pemantik pendirian IPPRA dan divisi kemuslimatannya.[15]

Berangkat dari hal tersebut di atas divisi kemuslimatan didirikan. Sehingga program-program divisi kemuslimatan itu berwujud jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Memperhatikan program secara berjenjang ini saja penulis merasa puas bahwa apa yang penulis teliti memang layak untuk dijadikan konsumsi di tingkat akademik.

Model program berjenjang demikian telah mengingatkan penulis dengan program pemerintah Orde Baru di masa Soeharto.[16] Dengan adanya program berjenjang ini, maka aplikasi programnya juga akan dilaksakan sedikit demi sedikit tetapi tetap berorientasi pada kesukesesan. Dengan program berjenjang ini, evaluasi akan mudah dan cepat dilaksanakan. Kelemahan dan kelebihannya/kekuatannya akan cepat diketahui.[17]

Menurut Muainiyah, program berjenjang di atas sangat memudahkan organisasinya bergerak. Bila ada kemacetan pada program jangka pendeknya, maka problemsolving-nya akan segara dicari sebelum melangkah kepada program jangka menengahnya. Demikian pula, jika ada masalah atau kendala pada jangka menengahnya, maka waktu itu juga akan dirapatkan apa masalah dan bagaimana jalan keluarnya sebelum melangkah pada program selanjutnya.[18]

Program berjenjang ini membutuhkan tenaga sumber daya manusia (SDM) yang cukup memadai. Dengan ditunggangi lima sarjana S1 untuk IPPRA dan dua sarjana S1 untuk kepengurusan divisi kemuslimatan, secara SDM organisasi ini tak mengalami kendala. Apalagi di organisasi induknya, IPPRA, mempunyai seksi bidang yang bergerak dalam penelitian dan pengembangan (LITBANG).[19] Maka wajar sekali jika organisasi ini tetap eksis dengan baik.[20]

Sesempurna bagaimanapun sebuah organisasi, pasti ada celah ketidak sempurnaannya. IPPRA dan divisi kemuslimatannya dalam mewujudkan programnya juga mengalami kendala seperti itu. Yang menurut Moh. Taufik, SH.I. dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :

  1. Kendala Intern

Kendala intern ini berupa :

  1. Kurang kompaknya kepengurusan, sehingga antar seksi kadang berjalan sendiri-sendiri.
  2. Kurang dukungan dana dari para anggota. Sehingga dalam mewujudkan programnya mengalami kesulitan jika tidak ada donatur dari luar.
  3. Kendala Ekstern

Kendala ekstern ini berupa :

  1. Sikap apatis dari golongan muda yang bukan anggota divisi kemuslimatan terhadap program-program yang ada.
  2. Sokongan dana dari masyarakat luas masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, IPPRA dan divisinya dalam setiap berkehendak mengadakan suatu acara kadang-kala kurang memuaskan.[21]

Demikianlah ulasan penulis mengenai pembahasan tentang program-program IPPRA utamanya divisi kemuslimatannya.

  1. Peranan Divisi Kemuslimatan Dalam organisasi IPPRA Remas al-Ikhlash di desa Ketawang laok Kecamatan Guluk-Guluk Tahun 2011-2012.

Pembahasan berikutnya adalah menyangkut peranan divisi kemuslimatan IPPRA remas masjid al-Ikhlash dusun Talang desa Ketawang Laok. Pembahasan ini bertitik tolah dari data temuan yang ada di bagian paparan dan temuan data di atas. Kemudian penulis mengkomparasikan dengan pendapat-pendapat yang penulis ambil dari buku rujukan.

Setiap sesuatu di muka bumi ini pasti mempunyai peran masing-masing.[22] Matahari berperan bagi kehidupan sebagai pencipta makanan di mjuka bumi, disamping juga berperan melahirkan hitungan alamanak syamsiah. Bulan berperan sebagai patokan penanggalan qamariah. Atmosfer berperan mensuplai oksigen bagi kehidupan. Air berperan sebagai penumbuh kehidupan bumi. Tanah berperan sebagai tempat tumbuh dan berpijak manusia, dan tumbuhan berperan sebagai penyaring karbondioksida menjadi O2 untuk nafas manusia. Hewan berperan sebagai penupang kehidupan manusia. Dan manusia pun berperan, dan terlalu banyak peran untuk insan, dari peran positif[23] sampai peran negatif.[24]

Potensi peran yang kompleks tersebut, memang hanya terjadi pada diri manusia. Ini wajar sebab manusialah yang diberi kelengkapan oleh Allah SWT secara sempurna, yaitu kelengkapan akal dan nafsu. Dengan memiliki ke dua kelengkapan tersebut manusialah yang berpotensi menjadi baik, atau berpotensi menjadi buruk. Insan malakut atau insan syaitani.

Di dalam mengaktualisasikan kedua potensi ini manusia cenderung membuat wadah sebagai kendaraannya agar sampai pada tujuan yang mereka kehendaki. Ada wadah yang menuju kebaikan dan ada pula wadah yang menuju kepada kemungkaran.

Orang beriman, pasti akan membuat wadah sebagai kendarannya menuju kepada kebaikan. Sebaliknya, orang kufur juga membuat wadah sebagai kendaraan sesuai dengan tujuan kekufurannya. Masing-masing kendaraan ini bertolak arah dalam perjalannya. Kendaraan orang beriman berangkat ke sebelah kanan menuju terminal surga, sedangkan kendaraan orang-orang kufur berangkat ke arah kiri dengan tujuan akhir neraka. Pertentangan ke dua kendaraan ini terjadi sampai kiamat datang.

Demikian pengandaian yang penulis susun untuk merefleksikan bagaimana peran dan tujuan IPPRA, utamanya divisi kemuslimatan didirikan. Divisi kemuslimatan IPRRA sesuai dengan dokumen yang penulis lacak adalah mempunyai peran untuk memajukan generasi muda (muslim/muslimah) dalam hal pendidikian, memberdayakan ekonomi, mengaktualisasi sosial-budaya sesuai dengan akidah Islam dan menjungjung tinggi syari’ah Islam.[25] Dengan tujuan akhir adalah rahmatal lil ‘alamin sebagai fungsi dari kerasulan Muhammad SAW yang juga bertujuan akhir seperti itu.

Jika kemudian penulis bedah lebih mendalam akan peranan sebagaimana telah dikutib dalam AD/ART di atas, lebih akan tampak sebuah pola yang benar-benar dibuat untuk memajukan pendidikan Islam bukan hanya untuk golongan remaja putri, akan tetapi juga untuk kalangan ibu-ibu dewasa. di bawah ini adalah penjabaran peranan yang dilakukan oleh divisi pendidikan remaja wanita/kemuslimatan IPPRA, yaitu sebagai berikut :

  1. Peranan umum

Peranan umum ini menyangkut kepada kalangan masyarakat lebih luas, yaitu bukan hanya sekop dusun Talang saja, akan tetapi berimbas pada dusun-dusun desa Ketawang Laok lainnya, seperti dusun Bungkandang, dusun Bata-Bata, dan dusun Keramas serta dusun Langgarasem.

Setelah IPPRA didirikan 2003 lalu, kemudian disusul oleh divisi kemuslimatan satu tahun kemudian 2004, di masjid pada masing-masing dusun di atas sama-sama mendirikan organisasi remas, walau yang tetap eksis sampai saat ini hanya IPPRA dan divisi kemuslimatannya saja. Yang lainnya tanpa khabar berguguran di tengah jalan.

Peranan yang lainnya, bisa penulis sebutkan adalah seperti pendelegasian utusan ke ormas-ormas keislaman, seminar-seminar regional, pelatihan-pelatihan ke luar, dan lain-lain

  1. Peranan khusus

Adapun peranan khusus yang dimaksud di sini adalah peranan yang dielaborasikan oleh divisi kemuslimatan kepada anggota secara khusus. Peranan ini berwujud pembinaan rutin mingguan yang berupa forum kritis yang dilaksanakan setiap hari Selasa sore, dan kumpulan yasinand/tahlilan kemudian diisi oleh pengajian oleh pembina IPPRA dan dilanjutkan arisan sesama anggota muslimatan.[26]

Peranan khusus ini bersifat terbuka bila ada orang lain mau ikut kegiatannya. Akan tetapi selama ini orang lain bukan anggota ini belum pernah ada yang bergabung sehingga otomatis kegiatan di atas melulu diikuti oleh mereka yang bergabung dengan divisi muslimatan IPPRA. Peranan yang lain, antara lain: berupa pembinaan bidang pendidikan dan pelatihan, seperti kursus komputer, kursus bahasa Arab, kursus bahasa Inggris, pelatihan PKK, pelatihan TATA BOGA, pelatihan TOGA, dan sebagainya.[27]

Peranan khusus lainnya juga bersifat intern berupa kegiatan penanaman nilai-nilai keislaman (indoktrinisasi) yang memperkuat masalah akidah Islam dan syari’ah Islam. Hal ini mengikuti penanaman nilai yang dianut oleh beberapa organsisasi kader seperti HMI, PMII, IM dan sebagianya.

***

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Memperhatikan pada apa yang penulis bahas sambil lalu memperhatikan pada fokus/rumusan masalah yang tertera di dalam bab I, maka penulis menyimpulkan sebagai berikut :

  1. Divisi kemuslimatan IPPRA remas masjid al-Ikhlash ditinjau dari segi program-programnya, yaitu Bidang Keagamaan Dan Kemuslimatan, Bidang Pendidikan Keputrian, Bidang Sosial Keputrian, Bidang Keterampilan keputrian. Dari beberapa bidang program di atas oleh divisi kemuslimatan IPPRA, secara garis besar ada tiga, yaitu program jangka pendek, program jangka menengah dan program jangka panjang.

Pada program jangka pendek jangka waktunya adalah mingguan. Sedangkan program jangka menengah waktu pelaksanaannya dari satu bulan sampai enam bulan. Adapun program jangka panjang berdurasi antara enam bulan sampai dua tahun.

  1. Divisi kemuslimatan IPPRA jika ditinjau dari segi peranannya adalah sebagai berikut: pertama adalah peran yang bersifat umum, yaitu mempunyai sasaran pada orang selain anggota divisi kemuslimatan, dan bersifat khusus, yaitu mempunyai sasaran pada anggota divisi kemuslimatan dan anggota IPPRA lainnya.

 

 

  1. SARAN

 

  1. Sebaiknya program Devisi Kemuslimatan Dalam organisasi IPPRA Remas al-Ikhlash di desa Ketawang Laok Kecamatan Guluk-Guluk Tahun 2011-2012, lebih difokuskan kepada skil individu remaja putri, jangan terlalu melebar pada kalangan yang lebih umum, sebab kalangan umum tersebut bagian ladang dakwah IPPRA sebagai organisasi induknya.
  2. Sebaiknya Peranan Devisi Kemuslimatan Dalam organisasi IPPRA Remas al-Ikhlash di desa Ketawang Laok Kecamatan Guluk-Guluk Tahun 2011-2012, lebih ditingkatkan lagi kepada pembinaan akidah Islam agar kalangan remaja putri semakin kuat dalam menghadapi cabaran mendatang.
  3. Kepada masyarakat ataupun pemerintah dalam usaha pemberdayaan pendidikan perempuan harus terus ditingkatkan, karena peran perempuan berada begitu sangat setrategis dalam penentuan masa depan bangsa, dan pendidikan merupakan modal utama dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya perempuan, sehingga perempuan tidak lagi ditempatkan pada posisi sub-ordinat.
  4. Dorongan dan sosialisasi dari divisi kemuslimatan IPPRA tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan harus semakin ditingkatkan, terutama dorongan dari keluarga.
  5. Perempuan harus menyadari tanggung jawabnya yang begitu besar sebagai seorang istri, ibu dan juga guru bagi anak-anaknya. Jadi manfaatkan pelayanan pendidikan yang ada se-efesien dan se-efektif mungkin.

***

[1] Lexy J. Moleong, Ibid, hal. 157

[2] Nana Syaodah Sukmdinata, Ibid, hal. 145

[3] Kepala Desa Ketawang Laok.

[4] Ketua IPPRA generasi pertama, 2003-2005 dan 2005-2007

[5] Salah seorang takmir masjid al-Ikhlas 2012

[6] Anggota takmir masjid al-Ikhlash saat ini.

[7] ketua IPPRA generasi kedua, 2007-2009.

[8] Ketua IPPRA generasi keempat, 2009-2011

[9] Ketua IPPRA saat ini, 2011-2012

[10] Ketua Divisi Wanita Tahun 2004-2006 Dan 2006-2008

[11] Ketua divisi wanita IPPRA tahun 2008-2010 dan 2010-2012

[12] Ketua divisi wanita IPPRA pengganti Rukmiyati yang mengundurkan diri karena sibuk, 2012.

[13] Bapak Sahwan

[14] Tanaman Obat Keluarga

[15] Wawancara dengan Moh. Haris, SPd.I pada tanggal 16 Juli 2012 pukul 12.45 WIB

[16] Tim Penulis, SNI jilid VI, (Jakarta : BP, 1997), hal 456-465

[17] Wawancara dengan Moh. Taufik, SH.I tanggal 24 Juli 2012 pukul 12.00 WIB.

[18] Wawancara dengan Muainiyah tanggal 12 Juli 2012 pukul 07. 00 WIB

[19] Sejak semula didirikan, bagian ini tetap dipegang oleh Edy Sudrajat Firmansyahjaya, Spd.I

[20] Wawancara dengan Moh. Ramsi tanggal 13 Juli 2012 pukul 13.35 WIB

[21] Wawancara dengan Moh. Taufik tanggal 14 Juli 2012 pukul 80.00 WIB.

[22] Basofi Sudirman, Manusia dan Agama, (Jakarta : LPA3IS, 2001), hal. 23

[23] Sebagai khalifah di bumi untuk memakmurkan bumi.

[24] Sebagai pembuat kerusakan di muka bumi.

[25] AD/ART IPPRA pasal 4

[26] Wawancara dengan Muayyah pada tanggal 12 Juli 2012 pukul 15.30 WIB.

[27] Wawancara dengan Moh. Ramsi pada tanggal 14 Juli 2012 pukul 07.00 WIB

[1] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian kualitatif, (Bandung: Rosda Karya, 2010) hal. 12. Bisa dabandingkan dengan Nana Syaodih Sukmadinata, dalam Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Rosda Karya, 2011), hal. 19

[2] Nana Syaodah Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Rosdakarya, 2011), hal. 04

[3] Setya Yuwana Sudikan, Metode Penelitian Kebudayaan (Surabaya: Universitas Negeri Surabaya Press, 2001), hal. 76.

[4] Ibid, hal. 77

[5] Nana Syaodih Sukmafinata, ibid, hal. 155.

[6] Ibid, hal. 79

[7] Sudarwan Danim, Menjadi Peneliti Kualitatif, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2002), hal. 122

[8] Ibid, hal. 123

[9] Sanafiah Faisal, Penelitian Kualitaif Dasar-Dasar dan Aplikasi, (Malang: YA3. 1990), hal. 44

[10] Nasution, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Tarsito, 1996), hal. 32

[11] Lexy Moleong, Metodologi Penelitian, hal. 178

[12] Ibid. hal. 330

[13] Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitaif, (Bandung: Tarsito, 2003), hal. 115

[14] Ibid, hal. 179

[1] M. Shalih Al-Utsaimin, Al-Fatawa An-Nisa`iyah (Fatwa-Fatwa Tentang Wanita), hal. 44.

 

[2] http://kajian-muslimah.blogspot.com

[3] Departemen Agama RI, al-Qur’an dan terjemahan, (Bandung CV: Penerbit Jumanatul Ali Art (J. Art), 2004) hal 188

[4]http://www.mafatihuljinan.org/index.php?option=com_content&view=article&id=234:surat-al-baqarah-2-ayat-128&catid=50:tafsir-al-barru&Itemid=93

[5] http://kawatkemuslimahan.wordpress.com

[6] Syaikh Abdurrahman al-Badhdad, serial hukum Islam, hal. 92

[7]http://arrahmah.com/red/2011/09/18/15284-peran-besar-muslimah-dalam-dakwah-islam.html#ixzzi1ksuwxm4s

[8] Wahid, Abdurrahman. 2006. Islamku Islam Anda Islam Kita (Agama Masyarakat Negara Demokrasi). cetakan kedua. hal 190

[9] KH. Moh. Anwar, mengupas masalah agama dan pelik dan aktual, hal 51

[10] Prof. Hasbi ash-Shiddieqy, Pedoman peran kemuslimatan, hal. 274-275

[11]Departemen Agama RI, al-Qur’an dan terjemahan, (Bandung CV: Penerbit Jumanatul Ali Art (J. Art), 2004)

[12] Pengertian senada bisa kita lihat dalam KBBI, 2000, hal. 707

[13] Rohjat, Manajemen Pendidikan, (Bandung : PT. Rosdakarya, 2011), hal. 02

[14] Syamahsyari Dhafir, Pondok Pesantren Indonesia: Sejarah dan Peranannya, (Jakarta:LP3MS, 1988), hal.231

[15] Mohammad Muttaqin, Masjid dan Peranannya, (Surabaya: Bina Ilmu, 1994), hal. 13

[16] Imam Muslim, Shoheh Muslim, (Surabaya: Bina Ilmu, 2000) hal. 456

[17] Rohjat, Manajemen Pendidikan, Ibid, hal. 12

[18] Sebagaimana ucapan tersebut telah disampaikan oleh Saidina Ali bin Abi Thallib, dalam Kumpulan nasehat Saidina Ali, najhul al balaghah, (Kairo: Dar al-Masyariq wal al-Bulak, ttp), hal. 56

[19] Mohammad Muttaqin, Masjid dan Peranannya, (Surabaya: Bina Ilmu, 2000), hal. 15

[20] Sebagaimana penulis rangkum dari situs http://www.izzatulislam.or.id

[21] http://www.dewanmasjid.co.id

[22] Mohammad Muttaqin, Ibid, hal. 15

[23] http://www.dewanmasjidindonesia.co.id. Dan bisa juga dilacak dalam http://www.wikipedia.com./wikipeeia.org./wikipedia.co.id

[24] Mohammad Muttaqin, Ibid, hal. 18

[25] Ibid. Hal. 18

[26] Ibid. Hal. 18

[27] Ibid. Hal. 19

[28]http://www.id.wikipedia.org/wiki/Badan_Komunikasi_Pemuda_Remaja_Masjid_Indonesia00/-jkiiii. diunduh pada tanggal 15 Juli 2012 di warnet Sag@ffff.Ganding, pakul 06.30 WIB.

[29] Mohammad Husein Haikal, Ibid, hal. 483

[30] Ibid, hal. 485

[31] Depag RI , Al-Qur’an dan tarjamah, (Jakarta: J-Art, 2004), hal. 190

[32] Mohammad fauzil Adhim, Ibid, hal. 23

[33] Imam Nawawi al-Damasyqi, Riyadush ash-Shilihen, (Semarang: Thoha Putra, 1997), hal. 124

[34] Moh. Husein Haikal, ibid. Hal. 634

[35] Mohammad Muttaqin, Ibid, hal. 125

[36] Mohammad Husein Haikal. Hal. 523

[37] http://saputra51.wordpress.com/2012/02/23/memakmurkan-masjid/

[38] Hal ini sebagaimana terjadi pada IPPRA Masjid al-Ikhlash dusun Talang Desa Ketawang Laok.

[39] Wawancara dengan Moh. Ramsi tanggal 12 Juli 2012 pukul 21.30 WIB

[40] http://www.masbied.com/2012/04/07/pentingnya-pelaksanaan-program-pembinaan-remaja-masjid

[1] Lihat http://digilib.uin-suka.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=digilib-uinsuka–yulissupri-1914, tanggal 04-04-2012 hari Rabu jam 09.00. Dalam leman :’Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan’, oleh Faqihuddin Abdul Kodir, (diunduh di warnet Simpang Empat, Kemisan, Guluk-Guluk, oleh Penulis).

[2] Maria Ulfah Anshor, Perempuan Dalam Islam, Dalam Jurnal Perempuan ‘Perempuan Dan Spritualitas’ (Jakarta: yayasan Jurnal Perempuan, Edisi 20 Tahun 2001), hal. 23.

[3] Abdul Madjid Abdussalam al-Muhtasib, Visi dan paradigma Tafsir al-Qur’an Kontemporer, (Bangil: al-Izzah, 1997) hal. 1.

[4] Maria Ulfah Anshor, Ibid, hal, 25.

[5] Sebagai contoh adalah sosok yang amat menonjol diperankan oleh seorang Femenis Mesir, Fatimah Mernesi, yang merupakan ikon gerakan Femenisme dunia Arab dan Muslim.

[6] Al-Kitab, kitab Kejadian, Pasal 2: 1-24(jakarta: Lembaga al-Kitab Indonesia, 2001) hal. 3-4.

[7] Sebagaimana masyarakat Suku Minangkabau, di Sumatera Barat, satu-satunya suku bangsa di Indonesia dari berjumlah kurang-lebih, 450 suku yang menganut Matriachalistik, yaitu pengukuran keturunan dari pihak perempuan.

[8] Maria Ulfa Anshor, Ibid, hal. 24.

[9] Maria Ulfa Anshor, Ibid, hal. 24.

[10] Ali Harbi, At-Ta’wil wa al-Haqiah: Qira’at Ta’wiliyah Fi at-Tsaqafah al-Arabiyah,(Beirut: Dar al-Fikr wal al-Masyaariq, 2000) hal. 1-8, (Edisi Indonesia: Hermeneutika Kebenaran), (Yogyakarta: Lkis, 2003) ha. 1-12.

[11] Ali Harbi, Ibid. Hal. 10

[12] Maria Ulfa Anshor, ibid, hal. 25. Dan dalam kajian Arkeologi, pengertian neolithikum mempunyai makna yang mengacu pada zaman batu baru, yaitu suatu zaman yang peninggalannya berupa alat-alat yang terbuat dari batu, lihat: Kuntowijoyo, Pengantar Sejarah (Yogyakarta:UGM press, 2011) hal. 02.

[13] Ibid, hal. 25

[14] Ibid, hal. 26, rujukan ini bisa juga dilihat dalam Hayya Binti Mubarrok al-Barik, dalam Ensiklopedi Wanita Muslimah, (Jakarta: Darul Falah, 1426 H),hal. 5.

[15] Departemen Agama, Qur’an dan Terjemahan, (Jakarta: J-Art, 2005), hal. 323.

[16] Maria Ulfa Anshhor, Ibid, hal. 30.

[17] Departemen Agama, Qur’an Dan …… hal. 459.

[18] Departemen Agama, Qur’an dan….., hal. 468

[19] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hal. 45

[20] Ibid, hal. 46

[21] Ibid, hal. 751. Perhatikan juga stuktur organisasi IPRRA Remas al-Iklash di lampiran dua.

[22] Ibid, hal. 707

[23] Widodo, Kamus Ilmiah Populer, (Yogyakarta: Absolut, 2001), hal. 513.

[24] Wawancara dengan Ketua Umum IPPRA periode IV Masa Hikmat 2011-2013, di Kantor IPRRA tanggal 10 April 2012, jam. 15.30 WIB.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 4, 2015 in Kajian Keislaman

 

SERTIFIKASI GURU ANTARA PROFESIONALISME DAN GAMBARAN NYATA PENDIDIKKAN FORMAL BANGSA KITA


image152.jpg

SERTIFIKASI GURU

ANTARA PROFESIONALISME

DAN

GAMBARAN NYATA PENDIDIKKAN FORMAL BANGSA KITA

(Refleksi Guru Desa untuk Kebangunan Bangsa)

 

 

KOMPETENSI DAN SERTIFIKASI GURU[1]

 

“Sertifikasi …. dan uji-menguji hanya berhasil meningkatkan ekonomi guru dan minat menjadi guru, tetapi gagal mencapai tujuan utama profesionalisme, yakni meningkatkan kinerja guru untuk peningkatan mutu pendidikan nasional …..”[2]

 

Diakui atau tidak, guru kita (termasuk kita yang merasa menjadi guru) di tanah air ini berada di bawah level standar kompetensi para guru yang mengajar di negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, atau bahkan Vietnam yang baru usai perang saudara misalnya. Standar kompetensi yang rendah dapat berakibat pada rendahnya pengetahuan, pemahaman dan sikap proses anak didik yang dihasilkan oleh guru tersebut. Penurunan standar guru Indonesia  tidak terjadi begitu saja tanpa ada sebab yang melatar-belakanginya. Setidaknya, selama tiga atau empat puluh tahun ini mutu penurunan guru telah terjadi. Atau sejak masa Orde Baru (Orba) berlangsung selama tiga puluh tahun hingga masa Reformasi yang telah berjalan lima belas tahun ini.

Dahulu, pada dekade tahun 50-an, berarti pada masa Bapak pendiri Bangsa, standar keilmuan para guru kita sangat luar biasa. Tak jarang guru-guru tempo dulu menguasai berbagai disiplin ilmu selain ilmu yang memang menjadi kajiannnya. Taruh misalkan, Soekarno, dia seorang teknokrat lulusan ITB sekarang. Selain mempuni dalam jurusannya, ternyata beliau juga seorang sejarawan handal yang menguasai empat bahasa dunia secara aktif, yaitu Belanda, Jerman, Inggris dan Perancis. Serta dua bahasa keagamaan secara pasif, yaitu Arab dan Ibrani. Mencengangkan memang, malah kalau kita baca biografi KH. Agus Salim lebih mencengangkan  lagi sebab sebagai seorang ulama yang memang telah biasa berbahasa Arab dia juga menguasai tujuh bahasa utama dunia, yaitu empat bahasa sebagaimana yang dikuasai oleh Soekarno, ditambah Spanyol, Italia, dan Rusia.

Sadangkan HOS Cokroaminoto, mentor sekaligus mertua Soekarno, adalah seorang ahli ekonomi dan  ilmuwan dalam kajian politik kolonial yang sekaligus seorang sejarawan Islam, menguasai bahasa-bahasa sebagaimana yang juga dikuasai oleh Soekarno. Moh. Hatta, bapak Ekonomi Koperasi Indonesia. Disamping ahli ekonomi, dia juga ahli agama yang sangat mendalam kajiannya dalam masalah perbandingan agama di mana ia merupakan guru dan inspirator dari Ahmad Mukti Ali, seorang tokoh Perbandingan Agama dari Indonesia. Hatta juga seorang sejarawan yang menguasai tiga bahasa dunia, Inggris, Belanda dan Jerman disamping bahasa Arab. Demikian juga nama-nama seperti AA. Maramis, seorang tokoh Kresten dari Manado, Ki Bagus Hadikusumo, seorang ulama Muhammadiah, Ahmad Subardjo, Kasman Singodimedjo, Purbacaraka, tokoh kraton Solo yang multi bahasa, Kuncaraningrat, dan masih banyak yang lainnya untuk level nasional.

Untuk level lokal, waktu penulis duduk di bangku MAN 2 Jember, setingkat SMA, penulis mempunyai guru bahasa Indonesia bernama Bapak Ruchdjat Taufik, yang fasih juga berbahasa Perancis dan Belanda. Juga kiai penulis sewaktu masih mondok di PP Annuqayah, KH. Ashiem Ilyas Syarqawi dan KH. Moh. Mahfudh Husaini, mereka berdua rujukan para alim ulama di Madura di masanya dalam ilmu Syari’ah yang juga alim dalam ilmu-ilmu eksakta dan menguasai bahasa Arab, Inggris, Perancis, Jerman dan Belanda. Semuanya hidup di masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Semuanya adalah hasil standar pendidikan ala pesanren pada zaman awal kemerdekaan kita, yang masih mempunyai kedekatan dengan sistem pendidikan masa kolonial Belanda.

Oleh karenanya, di era 50-an sampai 60-an, guru-guru kita jadi rebutan untuk mengajar di Malaysia dan Singapura yang waktu itu baru merdeka. Malaysia sangat butuh tenaga pendidik dari Indonesia dengan tiga alasan, pertama, secara agama sama dengan anak didik di Malaysia, sama-sama Muslim, kedua, secara suku bangsa sama-sama suku Melayu yang mempunyai kedekatan dengan adat-istiadat di Malaysia, dan ketiga, guru-guru dari Indoneia mempunyai pengusaan ilmu multi disiplin yang sulit dicari tandingannya pada waktu masih dalam jajahan Inggris. Sedangkan Singapura mendatangkan guru-guru kita dahulu dengan satu alasan, yaitu kehebatan guru-guru Indonesia dalam penguasaan ilmunya dan sekaligus menguasai bidang-bidang wawasan yang lain.

Kemudian, berkat guru-guru Indonesia yang dipanggil mengajar di negeri jiran itu mereka akhirnya terbebas dari buta huruf, bahkan  mereka mendedikasikan diri berupaya bagaimana mereka harus berhasil menguasai disiplin ilmu secara  mendalam dan menguasai dengan baik bahasa-bahasa utama dunia, sebagaimana guru-guru Indonesia tempo dulu. Setelah itu, mereka terus berjaya dan bahkan kini kita telah berada di belakang mereka. Kita saksikan mereka dengan takjub berkutat dengan ilmu pengetahuan. Mereka melesat jauh. Kita berdiri terpaku di tempat semula, bahkan sepertinya kita makin undur kebelakang. Kini, mereka yang dibutuhkan dari kita bukan guru-guru seperti dulu lagi, tetapi mereka butuh buruh-buruh yang hendak mereka pekerjakan di kebun-kebun sawit, di kilang-kilang, di konstruksi bangunan, dan di ibu rumah tangga menjadi baby sister. Hilanglah kewibawaan kita selaku bangsa yang besar akibat perilaku kita yang salah kaprah di dalam menata sistem pendidikan.

Mecermati pada apa yang penulis gambarkan di atas, mungkin guru kini harus ditingkatkan kompetensinya dan perlu diadakan penilaian yang berupa sertifikasi sesuai dengan pekerjaaan yang digelutinya. Dalam kerangka ini kiranya pemerintah merasa perlu mengembangkan standar kompetensi dan sertifikasi guru sebagai dari bagian standar  nasional pendidikan (SNP) dan standar nasional Indonesia (SNI), (Dalam E. Mulyasa, 2011. hal: 17). Disamping itu, perlu juga dikaji secara subtansial dan konseptual apa yang namanya sistem pendidikan nasional yang efekktif dan efesien, menjauhi dari kapitalisasi pendidikan yang menggurita melingkupi mindsite (pola pikir) kita. Sebab melalui sistem pendidikan itulah segala kegiatan perencanaan pendidikan dilaksanakan, dan melalui sistem itu pulalah seluruh upaya kebangunan pendidikan diwujudkan yang akan menuju Indonesia Emas dan penuh peradaban gemilang.

 

  1. Inti Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru

Secara subtansi, standar kompeteni dan sertifikasi guru bertujuan untuk mendapatkan guru yang baik dan professional. Baik dalam perencanaan mengajaran, integritas dan kredebilitasnya diakui sebagai tenaga pendidik. Profesional dalam jabatannya dan lain sebagainya. Itu semua merupakan acuan guru yang kompeten di dalam bidangnya yang sesuai dengan indikator-indikator yang dijadikan ukuran karakteristik seorang guru, yaitu pertama, mampu mengembangkan tanggunjawab  dengan baik, kedua, mampu melaksanakan peran dan fungsi dengan tepat sebagai tenaga profesional, ketiga, mampu bekerja untuk mewujudkan tujuan pendidikan di sekolah, keempat, mampu melaksanakan peran dan fungsi dalam pembelajaran di kelas.

Apabila penulis kembangkan karakteristik-karakteristik di atas maka sebagai berikut.

 

  1. Tanggungjawab Guru

Sebagai  seorang pendidik, guru mempunyai tempat yang amat istimewa di dalam pandangan Allah SWT, Rasulullah SAW dan masyarakat umum. Dalam pandangan Allah SWT, seorang guru mempunyai tempat yang amat mulia sehingga Allah SWT kemudian berfirman yang artinya, “ Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (al-Mujadilah: 11).

Demikian pula dalam pandangan Rasulullah SAW, juga sangat menghargai kedudukan seorang murabbi’ atau pendidik sehingga bila sang guru itu meninggal dalam tempat tugasnya sebagai pengajar maka kematiannya dikatakan syahid. Suatu sebutan yang hanya dimiliki para pejuang menegakkan Islam yang mati di medan perang, para wanita yang mati di kala sedang melahirkan atau mereka yang mati tanpa kesengajaan, seperti tenggelam di lautan, tanbrakan, kebakaran, tertimpa tanah longsor dan lain-lain. Sebutan syahid bagi para guru yang gugur dalam tugasnya adalah indikasi bahwa maqam seorang guru sangat mulia. Disamping mendapatkan sebutan seperti itu, seorang guru juga merupakan mata ratai ilmu pengetahuan yang selalu sambung-menyambung sehingga sang pemiliknya bila diajarkan akan mempunyai amal yang tak akan terputus dan pahalanya akan selalu mengalir kepada sang pengajar tersebut. Hal ini dijelaskan Rasulullah SAW sebagai berikut, artinya “Apabilla mati anak cucu Adam maka segala amalnya akan terputus, kecuali tiga, perkara, pertama, anak shaleh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya, kedua, shadaqah jariyah, ketiga, ilmu yang bermanfaat bagi manusia”. (HR. Bukhari-Muslim).

Dalam kacamata masyarakat, juga demikian, seorang guru haruslah dapat ditiru dan digugu dalam banyak hal, lebih-lebih dalam masalah akhlakul karimah. Mayarakat memandang bahwa seorang guru haruslah menjadi pembimbing, tauladan dan penggerak perubahan positif di tengah-tengah masyarakatya. Oleh karena itu, setiap guru harus memenuhi persyaratan sebagai manusia yang bertanggungjawab dalam bidang pendidikan. Guru sebagai pendidik bertanggungjawab untuk mewariskan nilai-nilai dan norma-norma  kepada  generasi berikutnya sehingga terjadi proses konversi nilai, sebab melalui proses  pendidikan diusahakan terciptanya nilai-nilai baru yang mengangkat derajat insani.

Tanggung jawab seorang guru dapat dipetakan dalam sejumlah kompetensi yang lebih khusus, antara lain, pertama, tanggungjawab akhlak mulia, yaitu tanggungjawab keagamaan yang pada hakikatnya seorang pendidik memang bergerak di ranah ini, bahwa setiap guru harus menjadi cerminan nilai-nilai positif baik berupa etika kesusilaan, norma keadatan, nilai moral yang terkadung dalam falsafah kenegaraan berupa Pancasila. Luar biasa berat memang ranah ini, sepertinya seorang guru dituntut menjadi manusia setengah dewa, meminjam bahasa Iwan Fals, atau menjadi manusia setengah malaikat, yang menjurus pada insan kamil (manusia paling sempurna) yang hanya milik para nabi dan rasul. Tapi itulah kenyataan di alam guru yang mau tidak mau memang harus diejawantahkan dalam perilaku keseharian seorang guru di mana pun mereka berada. Kedua, Tanggungawab dalam bidang pendidikan, yaitu ranah kedua di mana guru berada. Sesuai dengan bidang yang digeluti maka tanggungjawab ini meluputi cara KBM yang sangkil dan mangkus, mampu mengembangkan kurikulum yang ada, menjabarkan silabus, merancang rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), menguasai varian metode pembelajaran (PAIKEM), memfungsikan diri menjadi motivator pada murid-muridnya, mengembangkan peserta didik secara maksimal dan mengadakan evaluasi hasil belajar.

Ketiga, tanggungjawab dalam bidang kemasyarakatan, yakni guru atas eksistensinya sebagai pembimbing, pengabdi dan pelayan masyarakat disekitarnya. Keempat, tanggungjawab dalam bidang keilmuan, yaitu tanggungjawab seorang guru pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan mampu mengadakan penelitian sesuai dengan ilmu yang mereka kuasai, serta mampu mengembangkannya sesuai dengan prinsip-prinsip metode ilmiah yang berlaku. Tugas keempat ini juga lumayan berat bagi seorang guru, tetapi bagi guru yang memang kompeten dan mempunyai kompetensi sesuai dengan nilai kesarjanaan[3] yang disandangnya (dalam hal ini bukan sarjana gadungan aleas sarjana instant), maka tugas meneliti dan mngembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui sebuah penelitian karya tulis ilmiah, bukanlah tugas berat. Disinilah nyali seorang guru diukur apakah kesarjanaannya mempuni atau kosong-melompong.

 

  1. Peran dan Fungsi Guru

Guru sebagai jabatan profesional mempunyai peran dan fungsi yang amat mempengaruhi atas pelaksanaan pendidikan di mana mereka mengabdi. Adapun peran dan fungsi guru tersebut sebagaimana penulis kutip sepenuhnya dari hasil rumusan PPTK Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan, adalah sebagai berikut, pertama, mendidik, mengajar, membimbing dan melatih. Sebagai pendidik mempunyai tugas mengembangkan potensi dasar peserta didik, mengembangkan kepribadian peserta didik, memberikan keteladanan dan menciptakan suasana pendidikan yang kondusif. Sebagai pengajar, guru mempunyai tugas merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran yang mendidik, dan menilai proses dan hasil pembelajaran. Sebagai pembimbing, guru bertugas mendorong pengembangan perilaku positif dalam pembelajaran, dan membimbing peserta didik memecahkan masalah dalam pembelajaaran. Sebagai pelatih, guru bertugas melatih keterampilan yang diperlukan dalam pembelajaran, dan membiasakan  peserta didik berperilaku positif dalam pembelajaran.

Kedua, membantu pengelolaan dan pengembangan program sekolah. Sebagai pengembang program, guru membantu mengembangkan program pendidikan sekolah dan hubungan kerjasama intra sekolah. Sebagai pengelola program, guru membantu secara aktif dalam menjalin hubungan dan kerjasama antar sekolah dan masyarakat. Ketiga, mengembangkan keprofesionalan. Sebagai tenaga profesional guru melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kemampuan profesional.

Menelisik lebih jauh akan fungsi dan peran guru sebagai tenaga profesional, maka pendapat Gary dan Margaret cukup tepat untuk kita sepakati. Menurutnya bahwa guru yang efektif dan kompeten mempunyai hal pokok sebagai berikut, pertama, memiliki kemampuan menciptakan iklim belajar yang kondusif, kedua, kemampuan mengembangkan strategi dan manajemen pembelajaran, ketiga, kamampuan memberikan umpan balik dan penguatan pembelajaran, keempat, berkemampuan untuk selalu meningkatkan diri. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 14 Tahun 2005 tetang Guru dan Dosen, dikemukakan bahwa profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut:

  • memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme;
  • memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia;
  • memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugasnya;
  • memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas;
  • memiliki tanggungjawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan;
  • memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja;
  • memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat;
  • memiliki jaminan dan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan
  • memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

 

  1. Mampu Bekerja untuk Mewujudkan Tujuan Pendidikan di Sekolah

Guru yang berkomitmen terhadap dunia keguruannya dan menjungjung tinggi keprofesionalannya, akan mampu bekerja secara maksimal untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan ini hanya dapat dicapai bila seorang guru mempunyai kesungguhan dan keikhlasan sebagai cita-cita luhur yang telah memanggilnya untuk menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Tanpa kesungguhan dan kemurnian niat untuk mencerdaskan anak bangsa agar berperilaku sesuai dengan agama yang dianutnya, maka sampai kapan pun tujuan pendidikan nasioanl dan tujuan di sekolah tidak mungkin bisa tercapai dengan baik.

Kemampuan bekerja untuk tujuan pendidikan itu sendiri membutuhkan kerja sama yang kokoh. Kerjasama ini meliputi, pertama, kerjasama interen sekolah, yaitu hubungan kondusif antar warga di dalam sekolah itu sendiri yang meliputi hubungan antar guru ke guru, antar siswa ke siswa, antar guru dan siswa, antar guru dan kepala sekolah, antar siswa dan kepala sekolah, antar kepala sekolah dan tata usaha (TU), dan semua unsur di lingkungan sekolah tersebut. Kedua, kerjasama eksteren sekolah, yaitu sebuah kerjasama yang dibangun oleh seorang guru atau dewan guru dan warga sekolah lainnya yang diwujudkan dalam hubungannya dengan masyarakat luas. Tugas ini biasanya didelegasikan kepada jabatan struktural di bawah kepala sekolah yang biasa disebut wakil kepala (waka) bidang Hubungan Masyarakat (Humas).

Pada khususnya, tujuan spesifikasi masing-masing sekolah biasanya berbeda. Perbedaan ini berangkat dari perbedaan visi dan missi suatu sekolah. Akan tetapi secara umum, tujuan pendidikan tersebut harus selaras dengan tujuan pendidikan nasional Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang Nomer 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

 

  1. Mampu Melaksanakan Peran dan Fungsi dalam Pembelajaran di Kelas

Kelas merupakan dunia pertama di mana seorang guru berinteraksi dengan peserta didik. Di dalam kelas inilah peran dan fungsi guru diuji sebelum mereka dihadapkan pada dunia luar, atau masyarakat.

Tak banyak perbedaan dengan pembahasan pada Peran dan Fungsi sebagai Tenaga Profesioal di atas, titik tekannya hanya pada peran dan fungsi pembelajaran di kelas, yaitu inheren pada kegiatan belajar mengajar (KBM). Oleh karena itu, ilmu-ilmu keguruan, peserti ilmu psikologi, didaktik metodik, statistik pendidikan, dan lain-lain merupakan prasyarat yang terlebih dahulu yang harus dikuasainya. Di sinilah seorang guru juga dituntut keprofesionalannya dalam mendidik dan mengajar siswanya, mengelola kelas dengan baik dan benar.

 

  1. Standar Kompetensi Guru

Kompetensi guru merupakan suatu gambaran tentang hakikat perilaku guru  yang penuh makna dan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang disyaratkan sesuai dengan keadaan yang diharapkan, demikian pendapat Broke and Stone (1995) dan Charles (1994). Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 14 Tahun 2005 tentag Guru dan Dosen, disebutkan bahwa “kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.”

Dari definisi di atas dapat dijelaskan bahwa kompetensi mengacu pada substansi kegiatan seorang guru yang didapat dari suatu proses pendidikan. Proses ini merupakan bekal guru untuk berperilaku sesuai dengan performan dan perbuatan yang rasional untuk memenuhi spesifikasi tertentu di dalam tugas-tugas pendidikan. Makna rasional di atas berkaitan dengan arah dan tujuan yang akan dicapai, sedangkan performan merupakan perilaku yang hendak dicapai, baik secara tersirat atau secara tersurat.

Kompetensi guru adalah bagian pokok dari standar profesi keguruan. Dengan adanya kompetensi ini maka seorang guru akan mempunyai seperangkat alat yang berupa perilaku efektif dan efesien yang berkaitan dengan proses KBM, eksplorasi dan pengawasan kelas, analisis masalah siswa dan memikirkan bagaimana agar peserta didiknya dapat berperilaku positif. Kompetensi merupakan proses berkembang dan belajar sapanjang hayat. Jadi adanya kompetensi guru tidak bisa dicapai dengan cara-cara yang bersifat asal jadi (instant).

Seorang guru dapat dikatakan mempunyai kompetensi yang baik apabila dalam dirinya telah terkandung integrasi antara kemampuan diri, keilmuan, teknologi, sosial-ekonomi-budaya, politis, dan keagamaan yang membikin kompetensi standar profesi guru, yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik, menguasai pembelajaran mendidik dan menarik, mempunyai pengembangan pribadi dan visioner ke depan.

Keempat hal berkaitan dengan kompetensi guru di atas masih terlalu bersifat umum dan perlu dikemas sedemikian rupa. Pengembangan keempat standar kompetensi tersebut perlu dijabarkan ke dalam, pertama, landasan konseptual, landasan teoritik dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, kedua, landasan emperik, dan gejala pendidikan yang ada berupa kondisi, strategi, dan hasil dilapangan, serta kebutuhan stakeholders, ketiga, jabaran tugas dan fungsi guru, yaitu: merancang, melaksanakan, dan menilai pembelajaran, serta mengembangkan peserta didik, keempat, jabaran indikator standar kompetensi, berupa: rumpun kompetensi, butir kompetensi dan indikator kompetensi, kelima, pengalaman belajar dan asesmen sebagai laporan nyata yang dapat diukur dan diamati untuk setiap indikator kompetensi (Kemendikbud, 2004).

Standar kompetensi guru diperlukan untuk menjalankan fungsi profesi. Profesi menuntut kemampuan membuat keputusan yang tepat dan kemampuan membuat kebijakan yang tepat, mengembangkan dan mendemonstrasikan perilaku pendidikan, penggabungan dan aplikasi suatu keterampilan tertentu, menguasai teori-teori pendidikan, serta kemampuan mengambil keputusan yang situasional berdasarkan nilai, sikap dan kepribadian. Sebab standardisasi komptensi adalah proses pencapaian tingkat minimal kompetensi dasar yang disyaratkan oleh suatu profesi. Syarat profesi untuk saat ini bertambah komleks terkait dengan arus zaman yang semakin menglobal. Maka syarat nasional tentu kurang cukup untuk dilekatka pada suatu profesi. Dibutuhkan syarat tambahan berupa syarat internasional. Syarat minimal internasional ini tidak lain kecakapan penguasaan bahasa-bahasa Asing, minimal bahasa Arab dan bahasa Inggris.

 

  1. Mengapa Guru Kita harus Disertifikasi

“Saya seorang guru swasta yang telah mempunyai sertifikat pendidik dan SK impasing per 10 Desember 2010. Sampai saat ini saya tak pernah menerima apa yang namanya tunjangan sertifikasi dan impasing. Apa gunanya ini semua”. [4] Kalimat ini sengaja saya kutip hanya semata menegaskan bahwa sertifikasi guru di tanah air ini masih menyisakan kegelisahan bukan ketenangan bagi guru. Seakan kandungan atau jiwa Undang-Undang nomer 14 tahun 2005 yang dalam tataran ideal sangat mau mengangkat profesionalisme guru dan kesejahteraannya, dalam praktiknya jauh panggang daripada api. Walau pun begitu, kisah pilu ini tak boleh dijadikan alasan bahwa sertifikasi guru tak berguna, sebab masih lebih banyak kisah guru yang sumringah dengan adanya sertifikasi guru dan semacamnya. Lebih-lebih guru negeri yang disamping gaji pokok, mereka mendapat santunan dari adanya sertifikasi ini dua kali gaji pokok tersebut.

Untuk itu, penulis mencoba menelusuri hakikat sertifikasi ini dengan uraian yang akan saya mulai dengan landasan hukumnya, kemudian saya menelisik lebih jauh akar-akar kesemrawutan umum dari fenomena anomali sertifikasi ini.

Pengertian sertifikasi guru yang cukup mendalam diurai dalam Undang-Undang Nomer 14 Tahun 2005, yaitu: “Proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen. Sedangkan sertifikat pendidik adalah bukti formal  pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional.” Mengacu pada definisi tersebut, sertifikasi guru dapat diartikan sebagai suatu proses pemberian pengakuan bahwa seseorang telah mempunyai dasar kompetensi untuk melaksanakan suatu layanan pendidikan pada satuan pendidikan tertentut, setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarkan oleh lembaga perguruan tinggi pemberi sertifikat. Dalam hal ini sertifikasi merupakan prosedur untuk menentukan apakah seorang guru layak diberi izin dan kewenangan guna mengajar di satuan tingkat pendidikan.

Sertifikasi merupakan pintu gerbang garansi atau jaminan mutu guru agar tetap memenuhi standar kompetensi. Oleh sebab itu, proses sertifikasi dapat di lihat sebagai bagian substansi dalam upaya mendapatkan pengakuan sebagai guru profesional yang bersertifikat pendidik sesuai dengan standar yang ditetapkan. Sertifikat guru ini adalah proses uji kompetensi bagi calon guru atau guru itu sendiri, yang ingin mendapatkan pengakuan dan meningkatkan kompetensi sesuai dengan profesi yang dipilihnya. Pengakuan kompetensi ini akan didapatkan dalam ajang sertifikasi bahwa yang bersangkutan telah mencapai standar kompetensinya yaitu ditunjukkan oleh adanya sertifikat kompetensi pendidik. Sertifikat ini merupakan bukti valid bahwa sang guru tersebut benar-benar layak menjadi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di satuan pendidikan.

Manfaat yang lain adanya sertifikasi guru bisa berupa, pertama, pengawasan mutu, yakni mutu yang diharapkan dari seorang guru agar senantiasa selaras denga harapan yang tertuang dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Guru dan Dosen. Mutu dari para guru dapat dilakukan oleh Perguruan Tinggi yang mempunyai kualifikasi mencetak guru-guru profesional dengan jalan mekanisme seleksi baik waktu awal masuk organisasi profesi maupun pengembangan karier selanjutnya. Program pelatihan yang berkesinambungan juga dapat dilakukan secara kontinu dan mandiri adalah alat pengukur pengawasan mutu seorang guru. Kedua, penjaminan mutu, yakni adanya proses pengembangan profesionalisme dan evaluasi terhadap kinerja guru yang dilakukan oleh lembaga organisasi profesi. Oleh karena itu, para guru akan selalu menghargai organisasi profesi tersebut karena telah mempunyai andil untuk memberikan jaminan mutu agar guru tersebut selalu bertindak profesional sesuai dengan sertifikat yang didapatkannya.

Dalam pada itu, apa yang diungkapkan Jalal (2001) dan Tilaar (2003) patut menjadi perhatian kita sebagai guru, lebih-lebih pemerintah selaku regulator kebijakan sertifikasi ini. Dikatakan oleh beliau berdua bahwa proses sertifikasi guru menuju profesionalisme, pelaksanaan tugas dan fungsinya harus disertai dengan kenaikan kesejahteraan guru, sistem rekrumen guru, pembinaan, dan peningkatan karier guru.

Pertama, kesejahteraan guru

Rusli Omar, seorang anggota satuan pengamanan (SATPAM) di UTM (Universiti Teknologi Malaysia), Syah Alam Bangi, Kuala Lumpur, berkata pada penulis waktu chatting di facebook, 2 Juni 2013 lalu. Waktu penulis tanyakan berapa gaji satpam di Malaysia, dia bilang “’hanya’ 1.500 sampai 2.000-an Ringgit.” Dia pun tanya balik, “berepa gaji di Indonesia pekerjaan sejenis?” Saya katakan, “berkisar antara 1.500.000 sampai 2.000.000 Rupiah/bulan”. Dengan terkejut dia bilang “wouu …. besar amat!” Saya katakan, “memang besar anggkanya tapi sangat rendah nilainya.”  Setelah saya jelaskan bahwa gaji satpam di Malaysia apabila dikruskan pada rupiah di mana 1 Ringgit berkisar 3.000 Rupiah maka pendapatannya antara 3.750.000,-00 sampai 5.000.000,-00 rupiah/bulan, baru teman penulis itu sadar bahwa gaji satpam Indonesia sangat rendah. Dan saya katakan bahwa gaji satpam di Malaysia itu di atas gaji dosen Madya yang ada di Indonesia yang hanya bergaji pokok 2.500.000,-00 sampai 3.500.000,-00 Rupiah/bulan. Dengan sangat terkejut, Rusli Omar berkata, “Kok bisa begitu, padahal gaji guru bermula (pertama kali diangkat, pen.)  lulusan S1 di sini berkisar antara 3.000,- Ringgit, dan dosen senior di sini 4.000 Ringgit ke atas, dan Profesor Madya berkisar 6.000 sampai 8.000 Ringgit “, saya jawab, “ya memang begitu negara kami”.

Dari Tawau, Sabah Malaysia Timur, teman facebook penulis yang ketepatan seorang guru terpencil di Ma’had Menengah Kejuruan Islam Tawau (setingkat SMK di Indonesia) juga berkata bahwa gaji guru terpencil  kerajaan  memang cukup tinggi, berkisar RM 4.000,00/bulan lebih tinggi daripada guru kerajaan yang bertugas di kota keramaian, yaitu untuk golongan III/Sarjana yang berkiar RM 3.000,-00. Saya tertekun, gaji yang menurut saya amat gede itu masih dibilang kecil, lalu bagaimana dengan gaji para dosen dan professor di Malaysia? Teman dari Tawau itu menjawab, berkisar RM 5.000,-00 untuk dosen muda, RM 6.000,-00 untuk dosen senior, dan RM 8.000,-00 sampai 10.000,-00 untuk para peneliti dan Guru Besar. Nah, pembaca hitung sendiri berapa besar gaji rata-rata mereka jika dikruskan ke Rupiah. Amat besar bukan!!! Maka, jangan salahkan bila saat ini orang Indonesia yang pintar-pintar yang kuliah S2 dan S3 di Malaysia memilih mengabdi di almamaternya masing-masing di Malaysia. Ironis!!!

Apa yang penulis gambarkan ini adalah sebuah potret nyata betapa amat pincangya pendapatan guru di tanah air dengan pendapatan guru di negeri jiran tersebut. Gaji guru-guru Indonesia relatif rendah. Rendahnya kesejahteraan ini seperti terjadi efek domino pada kinerja seorang guru; semangat pengabdian rendah, dan tersendatnya sikap profesionalisme mereka.

Kenaikan gaji guru tanah air memang sesuatu keniscayaan jika pemerintah menginginkan guru yang baik. Akan tetapi, menaikkan gaji mereka bukan semata-mata melihat perkembangan inflasi yang makin tak terkendali seperti saat ini dilakukan pemerintah pada golongan PNS (pegawai negeri sipil), sementara guru swasta tak pernah mengalami kenaikan gaji apapun. Ini sebuah keironisan, pemerintah kita terkait dengan sertifikasi dan tunjungannya dirasa kurang adil memperlakukan disparitas antara guru PNS dengan guru swasta. Guru PNS mendapat gaji yang perbedannya cukup mencolok dibanding gaji guru swasta. Semestinya, guru PNS telah profesional terlebih dahulu sebelum mereka menjadi abdi negara, dan karena telah profesional maka sertifikasi tentu tak diperlukan lagi, jadi mereka tak mendapat lagi apa yang namanya tunjangan sertifikasi. Tunjungan ini hanya milik para guru swasta yang memang tak dapat gaji bulanan layaknya guru PNS. Sejatinya inilah yang harus menjadi pemikiran regulator kita.

 

Kedua, sistem rekrumen guru.

Rumongso, seorang guru dari Sala, Jawa Tengah, pernah menggugat mengenai sistem ini yang tulisannya dimuat di Kompas, Rabu, 29 Mei 2013. Mengacu pada Undang-Undang Nomer 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Undang-Undang ini pernah digugat ke MK oleh sebagian guru yang tak setuju atas pasal 9 yang berbunyi “Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diplomat empat.” Dikatakan Rumongso, pasal ini walau tak bertentangan dengan konstitusi negara (UUD 1945), tapi dalam jiwa pelaksanaannya telah mengkebiri sarjana yang sejak awal mewakafkan diri mereka untuk menjadi guru, yaitu sarjana lulusan IKIP dan atau FKIP dan atau STKIP dan atau Tarbiyah untuk jalur Perguruan Tinggi agama. Penulis sendiri juga sependapat dengan pernyataan Rumongso di atas bahwa dengan pasal ini maka kecenderungan tersisihnya lulusan keguruan memang tampak nyata. Banyak kemudian lulusan akademik umum yang sejak semula tak berniat mengabdikan diri menjadi guru karena kesulitan mencari pekerjaan sesuai dengan kulifikasi ilmunya, berputar haluan menjadi guru. Maka nampak saat ini gelar-gelar nonkependidikan seperti: S.Si, S.Sos, S.Sas, S.E, S.H, S.Kom, dan sebagainya berjubel mejadi guru. Aneh memang!

Gugatan Rumongso berlanjut, dia menulis, “apakah profesi advokat, jaksa dan hakim rela menerima lulusan pendidikan dengan gelar SPd. untuk menjadi bagian dari profesi di atas? Jika bisa, saya yang akan melamar menjadi hakim untuk menyelesaikan karut-marutnya hukum tanah air,” tambahnya.

Apa yang ditulis guru lulusan SPG dan kemudian melanjutkan ke IKIP di atas, merupakan sentilan pada pemerintah bahwa menjadi guru itu tidaklah mudah. Seorang guru harus berbekal ilmu-ilmu pendukung keguruan secara mendalam, seperti ilmu jiwa, baik ilmu jiwa perkembangan, ilmu jiwa umum, dan atau ilmu didaktik metodik, dan atau pedagogik, dan atau statistik pendidikan, dan atau evaluasi pendidikan, dan atau kajian kurikulum, dan atau metodologi pembelajaran, dan atau sejarah pendidikan, dan sebagainya. Seorang guru bukan hanya terampil dalam ilmu-ilmu keguruan ini, tapi juga terampil dalam hal keterampilan kehidupan (life skill) dan terampil dalam hal pembelajaran yang menjadi pegangannya (vak). Perlu kajian mendalam, apakah benar dan dibenarkan bahwa sarjana lulusan nonkependidikan di atas bisa secara mendalam menguasai ilmu-ilmu pendukung kependidikan dan bisa leluasa masuk ke ranah dunia guru? Biarkan pemerintah yang menjawabnya, sebab yang berhak merekrut seseorang menjadi guru adalah pemerintah.

 

Ketiga, pembinaan guru.

Pembinaan tenaga guru dapat ditempuh melalui tiga cara, yaitu pendidikan prajabatan, pendidikan dalam jabatan, dan pendidikan akta mengajar. Untuk pendidikan prajabatan, hal ini khusus jalur guru yang diangkat menjadi PNS. Sebagai aparatur negara, abdi negara, guru jalur ini juga abdi masyarakat, oleh sebab itu pendidikan mengenai fungsinya sebagai aparatur negara, abdi negara dan sekaligus sebagai abdi masyarakat harus diberikan secara mendalam di pembinaan pendidikan prajabatan ini. Tak cukup pendidikan prajabatan yang harus dimantapkan, bila nanti mereka menjadi guru dibidangnya, pendidikan dalam jabatan harus selalu diwajibkan untuk diikuti. Hal ini bertujuan agar guru kita memang profesional dalam bertugas. Oleh sebab itu, kewajiban mengikuti organisasi yang resmi diakui negara, seperti PGRI umpamanya,  adalah syarat untuk selalu meningkatkan kinerja keprofesionalan seorang guru. Aktif diorganisasi lainnya, seperti Ikatan Sarjana Pendidikan (ISP) Indonesia, MGMP dan sebagainya, juga syarat keprofesionalan guru dalam jabatannya.

Khusus guru non-PNS, jalur untuk menggapai keprofesionalan seorang guru berkesempatan ditingkatkan dalam Majlis Guru Mata Pelajaran (MGMP) sebagai pembinaan guru mata pelajaran dalam jabatan. Tak lupa juga yang tak kalah pentingnya bagi guru swasta ini agar mereka tetap profesional, adalah diadakannya lomba-lomba karya tulis ilmiah oleh pemerintah baik tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi dan tingkat nasional. Selama ini, guru-guru swasta  cenderung mengalami keterkucilan peran bila dibandingkan dengan guru negeri. Di negara ini, seakan-akan yang ada hanya guru negeri. Padahal guru terbanyak adalah guru swasta yang mengabdikan dirinya di lembaga-lembaga swasta di seantero pulau-pulau nusantara. Karena pandangan pemerintah demikian, maka yang mengalami kenaikan gaji hanya dialami para guru negeri, di mana kenaikan tersebut berlanjut terus seiring berlanjutnya kenaikan harga di pasar karena terjadi inflasi. Jika saja pemerintah berbaik hati dan peduli terhadap keadilan sosial, maka disparitas dan dikotomi guru antara PNS dan non-PNS tentu sudah lama lenyab di tanah air tercinta Indonesia raya ini.

 

Keempat, peningkatan karier guru.

Kecenderungan disparitas antara swasta dengan negeri, sebagaimana point tiga di atas, hampir terasa juga dirasakan pada cara peningkatan karier guru. Dengan pola perpangkatan yang rapih, guru-guru negeri berproses menuju jenjang perpangkatan yang stabil. Jejang karier ini tak kita jumpai dalam perpangkatan guru-guru swasta. Penulis tak pernah tahu, atau berpikir untuk tahu, apa alasan pemerintah tidak memperhatikan sistem karier ini bagi kalangan guru swasta. Hanya dugaan penulis, dan mudah-mudahan dugaan salah; kecenderungan ini telah bermula dari persepsi pemerintah bahwa guru-guru PNS karena aparatur negara dan abdi negara, maka mereka sangat perlu diurus oleh pemerintah penyelenggara negara tersebut. Adapun para guru swasta, tersebab karena keswastaan mereka yang abdi masyarakat, maka terserah masyarakat hendak diapakan guru-guru swasta tersebut. Bertolak dari dugaan ini, kecenderugan ketidakadilan terhadap sistem peningkatan karier guru di tanah air  sampai kapan pun tak akan perah selesai.

Untunglah sekarang ada pintu khusus yang bisa dimasuki para guru swasta. Pintu ini bernama sertifikasi guru yang diadakan untuk merespon keprofesionalan guru-guru tanah air. Dengan  sertifikasi guru peningkatan karier seorang guru bisa ditempuh. Tapi, lagi-lagi kebijakan yang kurang adil terhadap guru swasta, sebab yang disertifikasi adalah semua guru walau pun mereka masuk dalam kategori guru PNS. Pertanyaan besar pada si pembuat kebijakan ini adalah; apakah guru-guru negeri tersebut perlu disertifikasi padahal mereka telah menempuh pendidikan prajabatan? Kemudian, layakkah para guru negeri ini juga menerima tunjangan gaji dari kelulusan mereka mengikuti sertifikasi guru selain gaji pokok kepegawaian mereka? Biarkanlah pertanyaan ini dijawab oleh pihak regulator pendidikan kita.

 

  1. Kode Etik Guru

Guru, tak pilih apa dia guru swasta ataupun guru negeri, harus tahu dan kemudian menjalankan kode etik guru Republik Indonesia. Kode etik ini berisi tentang landasan moral dan pedoman tingkah laku. Menurut Undang-Undang Nomer 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 43 dijabarkan bahwa untuk menjaga dan meningkatkan kehormatan dan martabat guru dalam meleksanakan tugas keprofesionalan, organisasi profesi guru membentuk kode etik. Kode etik sebagaimana dimaksud di atas berisi norma dan etika yang mengikat prilaku guru dalam pelaksanaan tugas keprofesional.

Adapun tujuan kode etik guru, sebagaimana dirumuskan oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) adalah menjunjung tinggi martabat profesi; menjaga dan memelihara kesejateraan para anggotanya; pedoman berprilaku; meningkatkan pengabdian para anggota profesi; meningkatkan mutu profesi; dan meningkatkan mutu organisasi profesi.

Sedangkan penetapan kode etik profesi guru, hanya dapat dilakukan oleh suatu organisasi profesi guru yang berlaku dan diakui oleh negara serta mengikat para anggotanya. Dengan demikian, penetapan kode etik ini tak dapat dilakukan oleh orang perorangan, tetapi harus dilakukan oleh organisassi resmi, sehingga orang-orang yang bukan atau tidak menjadi anggota profesi, tidak dapat dikenakan aturan yang ada dala kode etik tersebut. Kode etik hanya mempunyai pengaruh yang kuat dalam menegakkan disiplin di kalangan profesi tersebut. Bila setiap anggota menjalankan suatu profesi secara otomatis bergabung dalam suatu organisasi, maka ada jaminan bahwa profesi tersebut dapat dijalankan secara baik. Jika ada salah satu anggota melakukan pelanggaran serius terhadap kode etik maka kepada yang bersangkutan dapat dikenakan sanksi tegas.

Sanksi pelanggaran kode etik, hal ini dibutuhkan mengingat profesi guru adalah suatu profesi yang melibatkan antar manusia. Kekeliruan atau kesalahan sudah pasti terjadi bila berurusan dengan sesama insan, baik bersifat perdata atau malah bersifat pidana. Oleh karena itu, dalam hal ini sering kali negara memcampuri urusaan profesi, sehigga hal-hal yang semula hanya merupakan kode etik suatu profesi tertentu dapat meningkat menjadi peraturan hukum atau perundangan yang bersifat memaksa.

Adapun fungsi organisasi profesi guru, yang dalam pembahasan ini penulis hanya membatasi pada satu organisasi yang diakui pemerintah, yaitu PGRI, mempunyai empat fungsi utama. Pertama, fungsi politis-ideologis, adalah fungsi yang dijalankan oleh PGRI dalam kaitannya dengan negara, di mana PGRI lahir memang disiapkan untuk mempertahankan keutuhan NKRI dari rongrongan penjajah yang hendak menguasai Indonesia kembali. PGRI lahir pada 25 November 1945, dua bulan setelah kemerdekan Indonesia dikumandangkan oleh Soekarno. Tahun-tahun ini sampai 1949 disebut tahun Perjuangan Revolusi Fisik, sebab pertempuran berskala besar terjadi pada tahun-tahun ini. Wajar jika kemudian PGRI merumuskan fungsinya dalam masalah politis-ideologis, yang dalam wujud nyatanya saat ini PGRI menempatkan wakil-wakilnya di DPR dan MPR. Kedua, fungsi persatuan organisatoris, yaitu fungsi yang dimainkan PGRI dalam pembinaan persatuan dan kesatuan, baik eksteren untuk persatuan bangsa, maupun interen untuk kalangan organisasi sendiri. Ketiga, fungsi profesi, yakni fungsi pokok PGRI dalam pembinaan kompetensi guru tanah air. Keempat, fungsi kesejahteraan, adalah fungsi yang dimainkan PGRI guna mensejahterakan para anggotanya secara material. Guna mewujudkan fungsi ini PGRI tidak berjalan sendiri, tapi melibatkan pemerintah sebagai regulator tahap akhir pendidikan Indonesia.

Kekurangmampuan PGRI untuk berjalan secara indepeden guna  mewujudkan fungsi-fungsi di atas merupakan kelemahan PGRI itu  sendiri. Barangkali yang sangat berperan dalam kehidupan guru hanya point pertama fungsi PGRI, yaitu fungsi ideologis yang sejak dari awal telah ditanamkan atau doktrin para guru tanah air. Tiga yang lainnya, fungsi organisatoris antara sesama profesi keguruan, misalnya Ikatan sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI), Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (IBKIN), Ikatan Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia (ISPBI), dan sebagainya, dengan organisasi induk, PGRI, belum ada keterpaduan dan berjalan sendiri-sendiri. Sedangkan fungsi profesi dan kesejateraan belum beranjak dari keterpurukan. Profesi guru tetap jauh tertingal dari profesi lainnya di tanah air, misalnya dengan Iktan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Advokat Idonesia, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, dan lain-lain. Kesejateraan guru Indonesia juga sangat minim. Bahkan mungkin, satu-satunya profesi di Indonesia yang para anggotanya tetap bersahaja dalam himpitan keterbatasan dan kekurangan materi adalah hanya profesi guru ini.

Dengan diberlakukannya standar kompetensi guru dan sertifikasi guru, diharapkan ke depan akan melahirkan guru-guru yang berkualitas dalam ilmu dan skill, sejahtera lahir batin, dan yang paling penting, melahirkan guru-guru yang benar-benar dapat ditauladani, digugu, dan  ditiru baik akhlaknya lebih-lebih kejujurannya.

 

  1. Standar Nasional Pendidikan (SNP)

Pemerintah, sebagai regulator pendidikan secara nasional, telah mencoba menyusun perangkat-perangkat, baik bersifat keras (hardware) atau pun bersifat lunak (software) guna menuju sistem pendidikan yang integral, dinamis, agamis dan kompetitif. Segenap bantuan sebagai perangkat keras, seperti bantuan opersional sekolah (BOS), bantuan  fisik sekolah, bantuan laboratorium, bantuan siswa miskin, dan lain-lain merupakan persiapan menuju standar pendidikan nasional yang diharapkan cukup merata. Juga peningkatan kemampuan guru, berupa persyaratan-persyaratan kesarjanaan, keilmuan, dan sebagainya yang masuk ke ranah perangkat lunak, semakin diperhatikan dan ditingkatkan. Sayangnya, itu semua masih menggantangi asap, jauh dari kenyataan yang sebenarnya dan akan penulis pertajam pada pembahasan nanti.

Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomer 19 Tahun 2005 tentang  Standar Nasional Pendidikan (SNP), pasal 28 dikemukakan bahwa: “Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. Dalam penjelasan daripada PP tersebut dikemukakan bahwa yang dimaksud sebagai agen pembelajaran adalah peran pendidik antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, maupun inspirator.

Sebagai fasilitator, guru bertugas memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik agar mereka belajar dengan penuh semangat, gembira, lepas dari tekanan dan berani mengemukakan pendapat di depan guru secara terbuka. Itu semua merupakan modal dasar bagi peserta didik untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang utuh lahir-batin, beradaptasi dengan baik, dan siap menghadapi berbagai tantangan di zaman nano ini. Sebagai penyedia dan pemberi fasilitas guru zaman ini tidak sekedar mengajar, apalagi cara mengajar model tempo dulu yang menitikberatkan pada metode cramah. Guru sekarang harus dapat membawa anak didik pada zamannya. yaitu zaman globalisasi yang penuh dengan tantangan, karenanya guru jangan sampai kalah dengan peserta didik akan penguasaan teknologi terkini. Guru juga perlu bersikap lebih demokratis, jujur dan pluralistic dan siap dikritisi oleh anak didiknya.

Oleh sebab itu, tujuh anjuran Roger perlu kita perhatikan bahwa sebagai fasilitator guru; (1) tak berlebihan dalam mempertahankan pendapatnya (kurang terbuka); (2) lebih mendengar perkataan peserta didik, lebih-lebih menyangkut aspirasi dan perasaan; (3) ikhlash menerima ide dari peserta didik yang inovatif, kreatif; (4) menerima umpan-balik dari peserta didik baik yang positi atau pun yang negative; (5) perhatian secara penuh pada peserta didik; (6) toleransi pada kesalahan yang dibuat peserta didik selama proses pembelajaran; (7) menghargai prestasi peserta didik.

Sebagai motivator, guru berperan menstimulus dunia afektif  siswa hingga mendapat sentuhan yang dinamis agar masa depan mereka berhasil tepat guna. Motivasi sangat diperlukan oleh siapapun dalam hidup ini, tak terkecuali oleh peserta didik. a

  1. Hal ini mengacu pada pendapat Maslow bahwa manusia membutuhkan suatu perlindungan diri berupa kebutuhan-kebutuhan dasar. Maslow membaginya menjadi lima tingkatan dari yang terbesar hingga kebutuhan terkecil, yaitu physiological needs, safety needs, belonging and love needs, esteem needs, dan needs for self-actualization. Bila seorang guru kemudian secara mendalam meresapi apa yang diungkapkan oleh Maslow ini maka kemampuan untuk memotivasi seorang peserta didik semakin baik.

Bagaimana menyikapi kebutuhan yang paling dasar berupa kebutuhan fisiologis atau badani, misalnya rasa lapar, sakit, ngantuk, dan sebagainya adalah suatu hal yang azasi dan harus dipahami oleh para guru. Kemudian, kebutuhan rasa aman bagi peserta didik merupakan suatu hal yang akan mempengaruhi semangat belajar peserta didik itu sendiri. Bila siswa memdapat rasa aman yang  baik maka motivasi belajar mereka akan meningkat. Dan sebaliknya, jika dalam kelas mengalami suatu hal yang kurang kondusif maka semangat untuk belajar juga pasti menurun. Rasa aman yang mendalam akan menimbulkan motivasi yang terpancar dari dalam jiwa peserta didik itu sendiri (motivasi interen).

Demikian pula kebutuhan akan kasih sayang dan rasa cinta, juga akan mendatangkan motivasi dalam belajar. Kasih sayang seorang guru dan rasa cinta yang tak dibuat-buat di depan para siswa akan mendatangkan kekuatan aura positif dan berdampak kepada lahirnya motivasi yang amat dahsyat. Sifat  motivasi ini adalah eksternal, yaitu motivasi yang datang dari luar siswa. Bila motivasi ini telah merasuk dalam jiwa peserta didik maka kemudian dapat membangkitkan motivasi diri pula. Adapun kebutuhan dalam unjuk diri siswa berupa kebutuhan akan harga diri, juga sangat berguna pada keberhasilan seorang siswa. Rasa harga diri ini merupakan kebutuhan yang membangkitkan motivasi diri bila seorang guru berkreatif dalam membangkitkan naluri keingintahuan siswa. Kebutuhan akan harga diri ini bisa kita bagi dua, pertama adalah penghormatan atau penghargaan dari diri sendiri, kedua adalah penghormatan dan penghargaan dari orang lain.

Kebutuhan akan aktualisasi diri (needs for self-actualization) adalah kebutuhan tingkat atas seseorang. Kebutuhan ini lahir bila keempat kebutuhan di atas telah terpenuhi. Aktualisasi diri merupakan pernyataan potensi yang dimiliki, yaitu proses penyaluran bakat hingga mencapai batas maksimal. Misalkan, orang yang berbakat menulis perlu membuat tulisan yang muaranya nanti menjadi seorang pengarang, orang yang memiliki kemampuan berpikir mendalam senantiasa ingin tahu, perlu atau butuh arahan untuk mengaktualisasi menjadi ilmuan, dan sebagainya. Akan tetapi, sebagian besar orang tak mampu mencapai kebutuhan aktualisasi diri, karena dari awal kebanyakan tidak mendapatkan pemenuhan kebutuhan penghargaan dan cinta kasih.

Bila pencapaian tingkat kebutuhan di atas dilakukan secara bertahap atau sedikit demi sedikit, mulai dari yang terendah sampai dengan tertinggi, maka tidak demikian bila dalam kondisi turun. Seseorang yang telah menggapai tingkat kebutuhan tinggi, misalnya kebutuhan berprestasi, secara tiba-tiba terdegradasi ke tingkat terendah bila kebutuhan   untuk diakui kelompoknya tak terpenuhi. Contohnya, seorang siswa yang giat dala+m mentuntaskan pembelajarannya dan memdapat motivasi yang tinggi untuk berprestasi tiba-tiba menjadi tak mempunyai gairah sebab putus cinta kasih, yaitu kebutuhan untuk dicintai dan disayangi tak terpenuhi.

Guru sebagai pemacu peserta didik adalah melipatgandakan potensi yang dimiliki oleh peserta didik dan menumbuhkembangkan sesuai dengan aspirasi dan inspirasi cita-cita mereka ke depan. Sebagaimana makna yang terkandung dalam ‘pemacu’ itu, adalah alat (yang dalam hal ini adalah guru) untuk memacu agar pacuan (siswa) berlari cepat atau bahkan mengalami akselerasi percepatan.

Pemahaman ini cukup penting bagi seorang guru, sebab guru memiliki peran cukup besar atas keberhasilan pembelajaran peserta didik. Guru sebagai titik sentral penggubah bahkan pengubah karakter anak didik telah dimaklumi bahwa peranan dan fungsinya amat dibutuhkan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Keyakinan ini timbul karena peserta didik adalah makhluk yang masih labil,inkonsisten, dan membutuhkan figur yang bisa menjadi tauladan dan penuntun masa depan yang cerah dan gemilang.

Minat, bakat, kemampuan dan potensi yang dipunyai  peserta didik tak akan berkembang secara maksimal  tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini, seorang guru perlu memperhatikan peserta didik secara perorangan, sebab antara satu individu peserta didik dengan individu lainnya sangat berbeda. Perbedaan ini jika dapat dikelola dengan baik akan menimbulkan kekuatan yang hebat, dan lecutan-lecutan minat dan bakat mereka akan saling berkelindan seperti butiran mutiara diterpa sang matahari; pemandangan indah dan menakjubkan. Minat dan bakat yang telah ketahui oleh seorang guru dengan sedikit polesan dan impromisasi dipacu sedemikian rupa menuju gerbang kesuksesan seorang peserta didik lahir dan batin.

Terakhir dari Standar Nasional Pendidikan yang mengatakan bahwa guru sebagai agen pembelajaran adalah guru sebagai inspirator. Sebagai pemberi inspirasi kepada peserta didik, guru mempunyai tugas yang sangat berat sebab sebagaimana kita pahami bahwa inspirasi tidaklah semudah yang kita bayangkan untuk hadir, lebih-lebih bila sang guru kurang pekarasa dan kurang bisa memaknai bahasa verbal yang sastrawi. Inspirasi amat berkaitan dengan ilham, di mana peran daripada Sang Pencipta Allah SWT sangat menentukan untuk hadir pada kita. Ilham adalah petunjuk Ilahi yang datang secara spontan pada hati, bisa dikatakan bahwa ilham bisikan nurani terdalam dan tak akan berdusta. Ilham ibarat wahyu atau mukjizat. Tapi sayangnya, ilham hanya bagian kita, manusia, sedangkan Nabi dan Rasul lebih mengacu pada wahyu atau mukjizat. Berangkat dari pernyataan di atas, maka setiap guru haruslah dapat mengasah atau mempertajam instink, naluri dan ciptarasanya agar saluran inspirasi terlaksana dengan baik.

Untuk itu, guru sebagai inspirator harus dapat menginspirasi peserta didik dengan cara-cara; (1) menciptakan iklim belajar yang kondusif. Iklim belajar yang kondusif merupakan tulang-punggung dan faktor pembangkit yang dapat memberikan daya tarik tersendiri dalam proses belajar; (2) menciptakan rasa aman di kelas, karena rasa aman adalah kunci ketenangan siswa dan kesiapannya dalam menerima pembelajaran; (3) menciptakan suasana kelas yang bersih, sejuk, teduh, senyab (dalam arti tidak gaduh), ditopang oleh nuansa artistik berupa gambar-gambar menarik, audio yang menyuguhkan musik pembangkit rasa seperti musik barok atau instrument, dan visual yang menyuguhkan suasana kejiwaan yang menenangkan. Seorang guru apabila telah melaksanakan ketiga cara di atas maka dengan sendirinya tuga sebagai inspirator akan terlaksana juga.

 

  1. Kompetensi Pedagogik

Mari kita kembali mengingat pada apa yang dikeluhkan oleh Bapak Rumongso pada pembahasan terdahulu. Perlu ulasan lebih mendalam pada apa yang disinggung beliau.

Suatu profesi yang sangat kacau di Indonesia ini adalah profesi guru. Ranah ini ibarat bak sampah, segala bentuk sampah masuk ke dalamnya, tak peduli sampah basah atau kering, sampah plastik atau organik. Semua berpadu di bak sampah. Beginilah keadaan dunia guru kita. Tak peduli dari lulusan perguruan tinggi manapun, dari jurusan apapun, yang penting sarjana, boleh menjadi guru. Guru alay murid lebay. Miskin aspek pedagogi, maka bermuara pada kekerasan terhadap anak didik, menghajar bukan mengajar. Miskin aspek pedagogi ini pula, membikin kecenderungan kapitalisme pendidikan tambah menggurita. Keikhlasan membimbing dan kejujuran berprilaku tambah mahal. Ini karena si pengajar bukan berangkat dari hati untuk mengajar atau menjadi guru, hanya karena kepepet melamar pekerjaan kesana-kemari tak dapat, maka jalan pintasnya, jadi guru sangat mudah. Alah mak!

Aspek kompetensi pedagogik bukanlah ranah yang bisa dimasuki semua orang. Apalagi memasukinya karena kepepet tak dapat kerja. Dunia pedagogik ini adalah inti daripada profesi guru. Dikatakan guru yang sejati apabila aspek ini dipelajari, dikuasai lalu dipraktekkan sepenuh hati. Mempelajarinya pun bukan setengah hati, bukan sekejap waktu (satu tahun umpamanya, hanya demi mendapatkan akta IV atau sertifikat mengajar), akan tetapi membutuhkan kesabaran tingkat tinggi dan proses waktu yang lama, serta dengan niat hanya demi menyebarkan ilmu semata. Maka wajar jika pemerintah menyediakan jenjang pendidikan guru selama tiga tahun atau empat tahun. Tiga tahun SPG/PGA (sekarang dihapus), tiga tahun kemudian PGSD/PGSMP (juga dihapus), atau empat tahun di IKIP/FKIP/STKIP/Tarbiyah. Selama menempuh proses ini dibutuhkan kematangan jiwa, sebab aspek pedagogik terlalu banyak memeras kejiwaan calon guru.

Saya tidak bermaksud memperkecil kemampuan sarjana-sarjana nonkependidikan yang hendak menyumbangkan pemikirannya dalam  dunia pendidikan. Kegunaan mereka dalam memcerdaskan kehidupan bangsa masih dibituhkan. Lebih-lebih saat ini pemerintah kita sedang menggalakkan pendidikan berorientasi keterampilan vokasi dengan indikasi semakin banyaknya dibuka sekolah kejuruan diberbagai tempat. Dan tentu berbagai jurusan di sekolah-sekolah kejuruan tersebut membutuhkan tenaga pendidik yang tidak tersedia di perguruan tinggi kependidikan. Akan tetapi bila mereka menyasar juga di sekolah-sekolah yang berorientasi akademik seperti SMA atau MA, maka disinilah masalahnya, sebab sekolah-sekolah ini mempersiapkan peserta didiknya untuk melanjutkan ke jenjang akademik lanjutan  di perguruan tinggi, bukan dibentuk menjadi tenaga terampil atau kejuruan, melainkan mindset mereka para peserta didik itu, dibentuk menjadi pemikir yang kreatif atau ilmuan inovatif. Penanganan ini membutuhkan pendidik yang mempunyai kemampuan mendalam dalam dunia keilmuan dan dunia kependidikan sekaligus. Disinilah urgensinitas pedagogik sangat berperan, dan hanya para pendidik dari ilmu-ilmu keguruan dan kependidikanlah yang bisa menangani sekolah-sekolah macam ini.

Dalam dunia pedagogi, kita mengenal berbagai aspek yang berorientasi kepada kemampuan proses pembelajaran. Aspek-aspek terebut antara lain; kemampuan mengelola kelas, kemampuan mengelola pembelajaran, pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis, pengembangan peserta didik, pengembangan kurikulum atau silabus, pemanfaatan teknologi pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar.

Kemampuan mengelola kelas bagi seorang guru mutlak dibutuhkan. Kelas yang kondusif, tata ruang yang menyenangkan, organisasi kelas yang rapih, kebersihan dan keindahan terpelihara dengan baik, merupakan penunjang keberhasilan pembelajaran. Dalam kondisi kekinian, pembatasan kelas mulai sedikit mencair. Kelas tidak harus ruang belajar yang disekat tembok, suatu kelas bisa saja terletak di luar gedung persegi. Dari sinilah kemudian timbul moving class, out dor class dan semacamnya. Guru ideal harus dapat menempatkan dirinya ke dalam bentuk-bentuk kelas tersebut dengan baik.

Kemudian, kemampuan pengelolaan pembelajaran adalah tahap selanjutnya dari sistem pedagogi di atas. Hal ini menyangkut watak pembelajaran itu sendiri, yaitu interaksi danamis antara seorang guru dengan peserta didiknya. Menurut Paulo Freire dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed, proses pembelajaran berintikan pemberdayaan dan pembebasan. Bukan penjajahan dan penindasan hati nurani seorang peserta didik. Di sinilah harus timbul proses pembelajaran dialogis sebagai proses penyadaran akan nilai-nilai pembelajaran.

Fungsi pengelolaan pembelajaran ada tiga tahap, yaitu perencanaan tujuan, pelaksanaan dan pengendalian. Ketiganya ini disebut fungsi manajerial. Dalam perencanaan, pembelajaran didesain sedemikian rupa agar berorientasi ke masa depan. Kemudian, tahap pelaksanaan pembelajaran, adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan dengan bijaksana memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik dan segala potensi yang dimilikinya. Setelah itu, dilanjutkan pada tahap terakhir, yakni pengendalian yang ditandai dengan adanya evaluasi pembelajaran.

Aspek pedagogi selanjutnya adalah pemahaman terhadap peserta didik. Seorang guru akan mengalami tingkat kesulitan tersendiri terhadap anak didiknya bila sang guru tersebut bukan dari lulusan keguruan dan ilmu pendidikan. Mengapa demikian? Sebab untuk memahami sejauhmana kondisi umum dan khusus peserta didik diperlukan perangkat ilmu yang disebut psikologi atau ilmu jiwa. Alasan ini pulalah mengapa saya kurang sepakat jika sembarang orang masuk ke ranah keguruan dan menjadi guru. Paling tidak, terdapat empat hal yang harus dipahami seorang guru dalam menjalankan tugas keguruannya dalam berinteraksi dengan anak didiknya.

Pertama, tingkat kecerdasan peserta didik

Tingkat kecerdasan pada masa kita sekarang telah mengalami revolusi besar-besaran. Penelitian terbaru mengatakan bahwa 85% kesuksesan seseorang ditentukan oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan emosi, sementara sisanya 15 %, berasal dari keterampilan teknis. Oleh karena itu, seorang guru harus memahami bahwa tingkat kecerdasan  peserta didik sangat bervariatif karena masing-masing individu tersebut mempunyai kelebihan. Untuk mengukur kelebihan masing-masing peserta didik tentu dibutuhkan alat ukur kecerdasan sesuai dengan tingkat kelebihannya. Oleh karena itu, alat ukur kecerdasan kuno, seperti hanya mengukur tingkat intelejensi (IQ) peserta didik tidaklah cukup untuk mengkaver berbagai tingkat kelebihan di atas. Dibutuhkanlah alat ukur kecerdasan emosi (EQ), spiritual (SQ), sosial, budaya, bahasa dan lain sebagainya.

Kedua, kreatifitas peserta didik

Orang kreatif berbeda sekali dengan orang pintar atau mempunyai intelegensi tinggi, demikian kata Taylor. Orang pintar belum tentu kreatif, dan juga sebaliknya, orang kreatif belum tentu juga pintar. Artinya, orang kreatif belum tentu  ber-IQ tinggi, tetapi mereka memaksimalkan potensi kecerdasan emosinya, sehingga lebih berhasil orang kreatif (ini mewakili kebanyakan penemu atau ilmuan)  daripada orang pintar yang tidak kreatif.

Hal di atas haruslah dipahami secara baik oleh para guru. Janganlah asumsi lama terus melekat di benak kita, yaitu anggapan bahwa peserta didik yang pintarlah yang akan berhasil nanti, sebab hal ini dapat memasung ranah kreatifitas siswa. Oleh karena itu, kini saatnya melihat lebih jauh pada ranah kreatifitas ini. Untuk itu, tak dapat dipungkiri bahwa untuk menuju dunia kreatifitas siswa harus dimulai dari kreatifitas guru. Tanpa guru yang kreatif tentu kita amat sulit membentuk siswa berkreatif. Bagaimana guru agar kreatifitasnya tinggi? Nasehat Darley bisa kita renungkan. Dia berkata bahwa kreatifitas merupakan proses yang terdiri dari empat tahap, yaitu persiapan, pemusatan, penjelasan dan pembuktian. Sedangkan dua kondisi berikut diperlukan untuk membuat seseorang menjadi kreatif, yaitu adanya ketersediaan unsur-unsur yang bisa digabungkan menjadi cara baru dan mempunyai tujuan yang jelas. Unsur-unsur ini meliputi ketersediaan kita membaca sesuatu, baik secara kontekstual atau tekstual, merenungkan alam atau bahan-bahan fisik dari alam, asketik dan estetika, dan alam spritualitas, serta lain-lain yang amat banyak menuju guru yang kreatif. Kemudian kita integrasikan agar timbul nuansa alam baru yang sungguh berbeda dengan keadaan sebelumnya.

Jika guru telah memiliki kreatifitas tinggi, kini saatnya sang guru itu tertuju pada anak didiknya, agar mereka tertulari kreatifitas sang guru. Saran dari Enco Mulyasa perlu kita renungkan. Saran beliau agar para siswa mempunyai kreatifitas tinggi, yaitu: Kembangkanlah pengetahuan baru; jangan terlalu banyak membatasi ruang gerak peserta didik; kembangkan rasa percaya diri; bantulah peserta didik memikirkan sesuatu yang belum lengkap, mengeksplorasi pertanyaan, dan mengemukakan gagasan secara murni; berikan tugas-tugas secara independent, jangan sekali-kali memberikan tugas yang hanya terpaku pada LKS (Lembar Kerja Siswa) yang dipasarkan secara bebas, sebab banyak LKS itu dikerjakan awut-awutan dan hanya mengejar bisnis semata; atau lebih baik, para guru merancang tugas secara mandiri sesuai dengan kondisi lingkungan  peserta didik; ciptakan kegiatan yang merangsang otak; berikan kesempatan untuk berpikir reflektif; hargai perbedaan individu dengan melonggarkan aturan dan norma kelas; jangan memaksakan kehendak; gunakan metode pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan; libatkan peserta didik secara optimal dalam proses pembelajran.

Ketiga, kondisi fisik peserta didik

Jika bagian pertama tentang pemahaman seorang guru kepada peserta didik menakar masalah non fisik, yaitu tingkat kecerdasannya, maka suatu hal yang juga bagian pedagogi adalah memahami kondisi fiisk peserta didiknya. Lumrah kita ketahui bahwa setiap siswa pasti mengalami perbedaan secara jasmani sebagai mana terjadi pada perbedaan intelegensinya. Ini merupkan ketentuan Allah SWT yang terjadi pada setiap manusia dan ketentuan ini merupakan ajang dinamisasi kehidupan. Dalam sekolah normal pun (bukan SDLB, SMPLB dan sejenisnya), pasti ada peserta didik yang peka pendengarannya, tapi ada  juga yang sedikit tuli. Ada yang berbadan tegap, tapi juga ada yang berbadan lemah. Ada yang berpenglihatan tajam, tapi ada juga yang berpenglihatan kabur, dan sebagainya.

Terhadap peserta didik yang seperti di atas ini diperlukan sikap dan layanan berbeda dalam rangka membantu perkembangan pribadinya. Perbedaan pelayanan itu mutlak diberikan dengan prinsip keadilan, dan ini jelas membutuhkan seorang guru yang penuh kesabaran, ketelatenan, dan keuletan. Maka, psikologi amat berperan di sini.

Keempat, pertumbuhan dan perkembangan kognitif, psikomotorik, dan afektif peserta didik. Mengacu pada taksonomi Bloom, seorang guru harus benar-benar memahami ketiga acuan tersebut, dan penerapan ketiga ranah ini harus benar-benar seimbang. Ranah kognitif tentu mengacu kepada kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan  (termasuk kesadaran, perasaan, dsb) atau mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri. Dalam hal ini daya dukung tingkat kecerdasan siswa perlu menjadi perhatian sebab ranah kognitif sangat berkaitan dengannya. Adapun ranah psikomotorik mengacu kepada aktifitas fisik yang berkaitan dengan proses mental, artinya kegiatan tersebut dikendalikan oleh jiwa seseorang atau dibawah kesadaran sepenuhya sehingga tetap terkendali. Sedangkan afektif menyangkut kepada perasaan dan emosi.

Dalam evaluasi yang terjadi di tanah air kita, disederhanakan menjadi tiga penilaian, yakni kognitif digunakan mengukur nilai kepandaian atau kecerdasan yang diwujudkan dengan angka, psikomotorik digunakan untuk mengukur nilai praktikum yang juga diwujudkan dengan angka, sedangkan afektif digunkan mengukur tingkah-laku yang diwujukan dengan nilai huruf. Di mana, ketiga penilaian tersebut tentu sangat miskin kategoris dan perlu penyempurnaan terus-menerus.

Aspek pedagogik seterusnya adalah perancangan pembelajaran. Tak kalah pentingnya dengan aspek-aspek pedagogik yang saya urai di atas, aspek ini bukan perkara mudah atau kecil. Perancangan pebelajaran ini sangat berkaitan dengan pelaksanaan pebelajaran. Maksudnya, bila seorang guru telah dengan cekatan dapat merancang apik pembelajaran maka efek domino selanjutnya adalah sang guru tersebut akan dengan mudah melaksanakan pembelajaran di depan kelas. Oleh karena itu pemahaman terhadap rancangan pembelajaran terus ditingkatkan.

Ada tiga kegiatan berkaitan dengan masalah perancangan pembelajaran ini, yaitu: pertama, memahami kebutuhan, adalah perbedaan antara apa yang semestinya dengan keadaan yang sebenarnya. Tujuan mengidentifikasi kebutuhan ini adalah untuk memberikan dorongan pada peserta didik pada apa yang seharusnya mereka butuhkan dalam pembelajarannya, dan pada apa yang menjadi hambatan pembelajaran mereka yang kemudian dicari jalan keluanya. Kedua, Memahami kompetensi, dalam hal ini bukan kompetensi yang harus dimiliki guru, akan tetapi kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik itu sendiri.  Kompetensi peserta didik dapat diukur melalui pengetahuan, keterampilan proses, nilai-nilai sikap, dan kebasaan berpikir dan bertindak. Ketiga, penyusunan program pembelajaran (RPP).  Rancangan pembelajaran model terakhir ini adalah kewajiban sepenuhnya pada guru. Guru  dituntut untuk dapat membuat program ini setiap hendak bertatap muka dengan siswa dalam rangka KBM. RPP merupakan desain pembelajaran yang mempunyai  unsur-unsur, sebagaimana diungkapkan oleh Udin Syefuddi S. dan Abin Syamsuddin M, antara lain: (1) untuk penganalisisan metodologi pembelajaran, (2) konstruksi dan pengembangan pendidikan, (3) mengacu pada prinsip efektif dan efisien berkaitan dengan sumber-sumber pembiayaan pembelaaran, alokasi waktu, (4) kebutuhan dan tujuan peserta didik dalam proses pembelajaran yang tetap berkesinambungan kepada masa depan mereka kelak.

Kemudian, pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis merupakan bagian selanjutnya dari aspek pedagogik di atas. Menurut Freire, pembelajaran mendidik dan dialogis adalah tanggapan terhadap praktek anti realitas. Titik talok dari hal ini adalah dunia kekinian, eksistensial, dan konkrit yang diambil dari aspirasi-aspirasi peserta didik dan lingkungan masyarakat disekitarnya.

Sering kita perhatikan, atau bahkan kita merasakan sendiri bahwa betapa terlalu sering kita mengalami kegagalan dalam proses pembalajaran. Kegagalan ini jelas disebabkan kita salah menerapkan metode pendidikan yang sesuai dengan jiwa dan kemauan peserta didik. Kita masih berkutat dengan cara-cara pendidikan konvensional, anti dialog atau diskusi dengan siswa, proses indoktrinisasi dan penjinakan peserta didik, tekstual dan tak bersumber pada realitas masyarakat. Semua ini adalah pengkerdilan dan telah melupakan prinsip bahwa peserta didik merupakan tuan bagi pemikirannya sendiri.

Pengembangan peserta didik adalah suatu kegiatan pendagogik yang juga perlu menjadi bekal seorang guru. Murid kita dapat dikembangkan dengan baik melalui berbagai kegiatan positif, misalnya kegiatan ektrakurikuler, pengayaan dan remedial, dan bimbingan konseling untuk mengarahkan masa depan mereka.

Pengembangan peserta didik akan berhasil dengan baik apabila dilakukan oleh guru yang mempunyai kualitas pengembangan dalam dirinya juga baik. Guru seperti ini tentu berangkat dari mereka yang sadar sejak dini bahwa dirinya ada di dunia profesi, yang secara intens, berhubugan dengan berbagai aspek fisik dan psikologis peserta didik yang jamak, bukan berhubungan dengan barang atau benda atau jasa lainnya, seperti profesi apoteker berhubungan dengan obat-obatan, profesi akuntan berhubugan dengan neraca keuangan, profesi hakim berhubungan dengan keadilan hukum, profesi dokter berhubungan dengan penyakit fisik pasien dan sebagainya.

Guru yang  amat memahami perkembagan fisik dan psikis peserta didiklah yang akan berhasil dalam mengembangkan prestasinya. Di sinilah pemahaman akan ilmu keguruan dan kependidikan mempunyai relasi yang mendalam. Di samping itu,  dibutuhkan juga seorang guru yang visioner dan pembeda dari guru-guru konvensional yang maunya hanya datang, mengajar dan pulang. Guru visioner ini di samping datang untuk mengajar, mereka tak cepat-cepat pulang ke rumahnya. Mereka penuh dedikasi, motivasi layaknya interpreunership, penuh ide guna menanamkan idealisme yang kokoh, riang, dan nilai-nilai positif lainnya.

Kemudian,  pengembangan kurikulum atau silabus juga bagian kompetensi pedagogik yang merupakan acuan guru profesional. Kurikulum atau silabus yang dikeluarkan oleh pemeritah pusat hanya sebagai acuan umum dari sistem pendidikan yang berlaku. Oleh karena itu, sangatlah baik bila pemerintah kita mengatur sebuah kurikulum yang amat fleksibel sesuai dengan lokalitas kedaerahan dan sesuai dengan kemampuan individu peserta didik. Inilah dasar KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) diberlakukan di tanah air kita.

Dalam kurikulum yang masih general itu, disinilah tugas guru untuk lebih cerdas mengembangkannya dan memberi titik tekan tertentu sesuai dengan kemampuan peserta didik di mana mereka bersekolah. Keleluasaan guru menyusun kurikulum sesuai dengan kelokalan itu adaah cerminan bahwa guru diberi hak mengembangkan, atau lebih tepatnya menyempurnakan adalah bagian demokratisasi pendidikan di era reformasi ini. Hal ini, guru harus mengapresiasi dengan wujud berani menyusun sendiri kelengkapan kurikulum dari pusat tersebut. Maka, jika ada cerita penyusunan KTSP disuatu sekolah tertentu hanya meng-copy paste dari sekolah yang lain, tentu hal ini telah mengkhianati jati diri seorang guru yang hanya tahu bahwa peserta didik yang diajarnya adalah berbeda dari peserta didik di sekolah lain tersebut.

Walaupun saat ini pemerintah pusat menyusun ulang kurikulum baru yang dikenal dengan Kurikulum 2013, saya yakin bahwa roh kurikulum baru itu tetap sejalan dengan KTSP dan tetap mengedepankan wewenang guru untuk mengembangkannya, tentu juga tetap memperhatikan dimokratisasi pendidikan yang elegan dan dinamis. Jadi, pergantian kurikulum ini tidak sekedar proyektisasi pemerintah.

Selanjutnya, kompetensi pedagogik yang harus dimiliki seorang guru adalah pemanfaatan teknologi pembelajaran. zaman kini merupakan zaman teknologi informasi dan globalisasi di semua aspek kehidupan. Guru kini bukan Omar Bakri yang dulu hanya mengenal sepeda ontel dan tas jinjing lusuh dan dekil, sebagaimana tergambar dengan jelas dalam lagu Omar Bakri-nya Iwan Fals. Guru kini adalah manusia yang berpenampilan parlente bak indektur top suatu peruahaan. Guru kini telah berdasi, sambil sesekali ada sebagian bermobil yang bertas bukan lagi buku-buku dekil, tapi telah berlaptop  dengan file-file buku ilmu pengetahuan dan sambungan ke dunia maya yang sudah lumrah. Oleh karena itu, sewajarnya bila guru kini memanfaatkan teknoligi informasi tersebut sebagai peningkatan pembelajaran yang dinamis.

Maka pun kini muncul pembelajaran berbasis internet (e-leaning) yang mulai digandrungi anak-anak muda. E-learning mempunyai keluwesan dibandingan pembelajaran konvensional, tetapi juga mempunyai sisi negatif lebih besar bila kontrol guru kurang. Melalui e-learning guru memberikan tugas tak  hanya melalui tatap muka di kelas, tetapi juga dengan cara memposting tugas tersebut di blog atau mengirimkannya melalui email dan sebagainya. Apalagi kini pemerintah kita menyediakan e-book yang secara gratis dapat diunduh oleh peserta didik. Semuanya tinggal kreatifitas kita dan juga kreatifitas peserta didik itu sendiri.

Terakhhir, dari bagian asas kompetensi pedagogik adalah evaluasi hasil belajar. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui perubahan perilaku dan pembentukan kompetensi peserta didik. Bagian-bagian evaluasi hasil belajar ini meliputi penilaian kelas, tes kemampua dasar, tes sumatif, benchmarking, penilaian program yang semua itu dapat ditelusuri dalam buku-buku keguruan dan pendidikan.

 

  1. Kompetensi Kepribadian

Penjelasan Pasal 28 ayat 3 butir (b) dalam PP Nomer 19 Tahun 2005 tentang  Standar Nasional Pendidikan (SNP), dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif bijaksana, berwibawa, menjadi teladan bagi  peserta didik dan berakhlak mulia.

Banyak kasus yang timbul kepermukaan dan menjadi perkara pidana saat ini. Misalnya, kasus hubungan intim kepala sekolah dengan sang anak didik, kasus kekerasan terhadap peserta didik, dan banyak lagi yang lainnya adalah cerminan betapa rusaknya kepribadian sebagian oknum guru. Mereka sebenarnya tak layak berada dalam dunia profesi ini. Tetapi memang pilihan untuk memasuki profesi lainnya tidak mempunyai kesempatan, maka dunia guru, yang lagi-lagi memang terkadung instant dan profesi paling lembek serta mudah dimasuki, mereka kotori sedemikian rupa.

Memang harus kita akui secara jujur bahwa profesi guru adalah profesi yang amat menantang dan sering kali memancing emosi. Hal sesuatu yang wajar sebab yang kita hadapi adalah peserta didik yang masih dalam kondisi perkembangan dan mempunyai jiwa labil. Tingkat stressing bagi seorang guru lebih tinggi daripada dunia profesi lain. Hal ini membutuhkan kepribadian mempuni, dewasa dan stabil.

Pribadi guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhsilan peserta didik. Pribadi guru sangat berperan dalam membikin pribadi siswa. Ini wajar sebab manusia adalah makhluk yang suka mencontoh, termasuk dalam hal ini mencontoh pribadi  gurunya. Oleh karena itu, kepribadian dan sikap perbuatan positif dari sang guru, seperti anti rokok, toleran, wibawa, berakhlak mulia, tutur kata santun dan bijak, humoris dan sebagainya, akan ditiru murid membekas  dalam bingkai pribadinya sampai kelak mereka dewasa. Sebaliknya, perbuatan negatif dari sang guru, misalkan suka memukul, merokok dalam kelas, kurang wibawa, tidak toleran, cudes, dan lain sebagainya, sedikit banyak terbawa dalam kepribadian peserta didik dan bahkan menjadi pergunjingan di hari dewasanya mereka.

Keteladanan menjadi sesuatu yang amat langka untuk dewasa ini. Pada siapa kita mencontoh perbuatan dan nilai-nilai baik, amat terasa kesulitannya. Mau mencontoh kalangan ulama, ternyata banyak ulama kita mabuk, baik mabuk jabatan, mabuk duit, atau bahkan mabuk wanita. Mau mencontoh kalangan cendekiawan, ternyata setali tiga uang dengan sosok para kiai kita. Mau mencontoh para guru yang berjargon digugu dan ditiru, ternyata sama saja kepribadian mereka, ada guru menghamili muridnya, ada guru selingkuh sesama guru, walau kita yakini itu oknum. Sulit sekali kita mencari sosok panutan. Tetapi bukan tidak ada sama sekali. Masih ada guru ikhlas mengajar tanpa digaji memadai, masih ada guru anti selingkuh dan masih ada guru penyayang. Tentu pada sosok ini kita mesti menteladani.

 

  1. Kompetensi Profesional

Penjelasan Pasal 28 ayat 3 butir (c) dalam PP Nomer 19 Tahun 2005 tentang  Standar Nasional Pendidikan (SNP), mengenai kompetensi profesioal adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam SNP.

Dari frase kemampuan penguasaan materi secara luas dan mendalam dapat kita baca bahwa hal ini menujukkan profesi guru benar-benar suatu kegiatan yang dirancang melahirkan peradaban gemilang. Peradaban yang kita impikan adalah suatu zaman keemasan yang membuat kita berwibawa dan dihargai dunia sebagai bangsa yang maju dan canggih. Untuk menuju impian itu haruslah dimulai dari kemampuan kita sebagai guru yang menguasai materi secara luas dan mendalam yang berakar menghujam pada epistemologi dan ontologi keilmuan kita. Mari kita ingat lagi pada paparan awal yang mengantar kita pada  pembahasan ini. Bagaimana tokoh kita dari Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, H.O.S Cokroaminoto, Ahmad Subarjo, Ki Bagus Adikusumo. Kasman Singodimejo, dan lainnya. Bagaimana mereka multi telenta, ilmu mendalam dan luas. Kita berharap, mari kita contoh kepribadian foundingfather di atas untuk menuju kebudayaan dan peradaban menjulang.

Lebih jauh tentang kompetensi profesional keguruan, saya akan bahas sekedarnya. Bila pembaca ingin lebih baik memahaminya dapat ditelusuri diberbagai buku atau situs yang panjang lebar membahas masalah ini.

Secara garis besar, kompetensi profesional guru meliputi (1) penerapan landasan kependidikan baik secara filosofi, spikologis, antropologis maupun sosioogis, (2) memahami teori pembelajaran (3) mampu mengembangkan bidang studi yang menjadi tanggungjawabnya, (4) dapat menguasai berbagai macam metode pembelajaran, (5) dapat menggunakan berbagai media dan alat pembelajaran yang relevan, (6) dapat mengorganisasi dan melaksanakan program pembelajaran, (7) dapat melaaksanakan evaluasi dan (8) mampu menumbuhkan kepribadian peserta didik, sebagaimana telah diurai pada pembahasan sebelumnya.

Di samping delapan hal di atas, secara khusus kompetensi profesional guru  meliputi tiga belas varian yang juga perlu untuk dipahami oleh guru yang kemudian dapat mendukung tingkat keprofesionalan mereka. Pertama, memahami Standar Nasional Pendidikan (SNP). Bagian SNP ini berupa standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembeiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Kedua, mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Kurikulum 2013. Bagian ini meliputi pemahaman terhadap SKKD, silabus, RPP. Ketiga, Menguasai materi standar, meluputi peguasaan bidang studi dan peguasaan mahan pendalaman secara umum. Keempat, mengelola pembelajaran, meluputi rumusan tujuan, penjabaran KD, pemilihan metode yang sesuai dengan bidang studi, menyusun prosedur pembelajaran, dan melaksanakan pembelajaran. Kelima, mengelola kelas, sebagaimana telah di bahas dalam kommpetensi peagogik yang lalu. Keenam, menggunakan media dan sumber rujukan pembelajaran yang meliputi pemilihan media yang cocok dengan bidang studi, membuat alat-alat pembelajaran, mengguakan laboratorium, mengembangkan laboratorium, memanfaatkan perpustakaan dan menggunakan lingkungan sebagai sumber pendukung pembelajaran. Ketujuh, memahami landasan-landasan kependidikan. Kedelapan, melaksanakan pegembangan peserta didik, sebagai mana juga telah disinggung. Kesembilan, menyelenggarakan administrasi sekolah. Kesepuluh, memahami penelitian dalam pembelajaran. Kesebelas, menampilkan keteladanan dan kepemimpinan dalam pembelajaran. Keduabelas, mengembangkan teori dan konsep dasar pendidikan. Terakhir, memhami dan melaksanakan konsep pembelajaran mandiri.

  1. Kompetensi Sosial

Penjelasan Pasal 28 ayat 3 butir (d) dalam PP Nomer 19 Tahun 2005 tentang  Standar Nasional Pendidikan (SNP), bahwa yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Secara umum, manusia adalah makhluk sosial, yang dalam kehidupannya mereka tak dapat dilepaskan dari masyarakat dan lingkungannya. Guru pun demikian, dituntut untuk memiliki kemampuan bersosialisasi dengan berbagai golongan sosial masyarakat terutama berkaitan dengan pendidikan, yang tak terbatas di sekolah tetapi juga pendidikan yang berlangsung di masyarakat itu sendiri. Dalam hal inilah tingkat kompetensi sosial dapat diharapkan menjadi solusi.

Pentingnya kompetensi sosial bagi guru akan menempatkan seorang guru pada peran besar sebagai pembentuk dan penyangga peradaban manusia, sebab kompetensi ini penghubung dari berbagai kompetensi yang telah saya singgung di atas. Sebagai jembatan penghubung maka kompetensi ini bisa sebagai sarana untuk problemsolving peserta didik. Menakar permasalahan dan menari jalan keluarnya dengan efektif.

Komponen kompetensi sosial seorang guru yang harus dimiliki adalah sebagai berikut; pertama, memiliki pengetahuan tentang adat istiadat baik sosial ataupun agama, kedua, berpengetahuan luas tentang budaya dan tradisi, ketiga, berpengetahuan cukup tentang demokrasi, keempat, berpengetahuan tentang estetika, kelima, memiliki apresiasi dan kesadaran sosial, keenam, memiliki sikap yang tepat dan benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan, ketujuh, perhargaan terhadap harkat dan martabat manusia.

Walaupun begitu, ketujuh bagian kompetensi sosial di atas akan berjalan dengan baik apabila seorang guru mempunyai perangkat dasar yang menjadi landasan kompetensinya. Perangkat tersebut adalah, pertama, berkomunikasi dan bergaul secara sangkil dan mangkus. Bergaul secara  sangkil adalah cara seorang guru bergaul dengan memperhatikan sasaran yang hendak digauli, karena setiap tingkatan umur seseorang mempunyai cara dan bahasa yang berbeda. Inilah dialektika pergaulan yang tetap dalam koridor ‘daya guna’ yang akan mengantarkan seorang guru menuju kompetensi sosial yang baik. Sedangkan bergaul secara mangkus adalah cara bergaul seorang guru yang selalu memperhatikan hasil yang akan dicapai. Inilah yang disebut dengan ‘hasil guna’ dari proses kita berhubugan dan bergaul dengan orang lain dalam segala tingkatan. Kedua, mengadakan hubungan sekolah dengan masyarakat. Relasi antara sekolah dengan masyarakat adalah sebuah relasi yang sangat dekat, bahkan sebenarnya tak bisa dipisahkan antara keduanya, lebih-lebih bagi sekolah yang didirikan oleh masyarakat sendiri yang kita kenal dengan sekolah swasta.

Jika demkian sekat relasi antara sekolah dengan masyarakat, maka antara keduanya harus saling bersinergi. Sekolah adalah tempat penempaan manusia-manusia pembangun peradaban, sedangkan masyarakat adalah penyedia manusia untuk ditempa dan dibekali ilmu pegetahuan dan teknologi. Sinergi ini harus survival (saling menghidupkan) dan mutualisme (hubungan timbale-balik saling menguntungkan) agar tetap eksis sepanjang zaman. Agar hubungan sekolah dengan masyarakat tetap dinamis dan eksis diperlukan regulasi tegas dari pemerintah sebagai wasit di antara keduanya.

Catatan menarik untuk relasi ini ada di tanah kelahiran penulis. Relasi sekolah dengan masyarakat terjadi pengkaplingan dan disharmonis. Relasi sekolah dan masyarakat di satu sisi, dengan pihak pemerintah di sisi yang lain terjadi diterminasi yang cukup menarik.

Bermula dari pertumbuhan sarjana pendidikan atau tarbiyah di Madura yang sepertinya over capacity, berbanding terbalik dengan lapangan pekerjaan yang harus menampung mereka, yaitu lembaga pendidikan. Untuk menampung para sarjana tersebut jalan keluarnya hanya satu, yaitu mendirikan lembaga pendidikan baru. Jangan heran bila setiap kampung di desa kami ada lembaga pendidikan dasar (MI) dan menengah pertama (MTs). Kemudian untuk jenjang menengah atas (MA), juga berdiri hampir setiap desa. Bagaimana dengan jumlah siswa secara nyata? Tak lebih hanya hitungan jari untuk tingkat dasar dan hitungan jari sebelah tangan untuk tingkat menengah. Ironisnya, pemerintah yang dalam hal ini dikendalikan di bawah Kementerian Agama seakan membiarkan keadaan ini berlangsung. Pendirian lembaga pendidikan sangat dipermudah tanpa memperhatikan kondisi ril di lapangan. Akibatnya, suatu sinyalemen menyesakkan bahwa di akhhir-akhir ini mendirikan lembaga pendidikan bertujuan memperoleh BOS (Bantuan Operasional Sekolah), BKSM (Bantuan Khusus Siswa Miskin), dan sebagainya.

Pemerintah daerah, dalam hal ini dinas terkait, sepertinya melihat fenomena ini sebagai proyek yang cukup menjajikan dan lahan baru untuk mendapatkan tips dari lembaga-lembaga baru ini. Tak segan-segan, lembaga-lembaga baru ini berani bayar mahal, asalkan surat izin operasionalnya dikeluarkan. Akibatnya, terjadilah pelaporan bohong akan kelayakan pendirian suatu lembaga yang sehat, baik sarana-prasarana, jumlah siswa, sampai tenaga pengajarnya. Hal ini juga terus berlanjut pada waktu akreditasi. Demi untuk mendapatkan akreditasi baik misalnya, tak segan-segan lembaga-lembaga ini memberikan amplob cukup tebal agar sang assesor dengan mudah memberikan nilai yang disepakti bersama. Yang paling memprihatinkan adalah rebutan peserta didik baru. Moment ini merupakan penjara bagi siswa. Betapa tidak, ijazah mereka yang seharusnya hak milik siswa ditahan pihak lembaga agar mereka tetap melanjutkan di sekolah yang lebih tinggi pada lembaga yang sama. Siswa tak punya kemerdekaan untuk memilih sekolah bermutu.

Relasi sekolah dengan sekolah mulai mengalami disharmonis. Masyarakat tak punya pilihan sekolah bermutu hanya sekedar meninabobokan sang pengasuh di lembaga yang anaknya bersekolah. Apalagi terkadang dibumbui oleh ancaman ‘tak mendapat ilmu barokah’ jika anaknya pindah ke lembaga lain. Tambah ruwet hubungan sosial pendidikan di tanah kelahiran saya.

Ke depan, perlu dicari formula lebih baik untuk kompetensi guru dalam ranah sosial ini. Sebab kasus yang ada di tanah kelahiran saya tak dipungkiri juga terjadi di daerah-daerah lain di penjuru pelosok tanah air kita. Jika sampai merata, maka sangat disayangkan sebab akan terjadi ketimpangan sosial antara guru dengan guru, guru dengan sekolah, sekolah dengan sekolah yang akan menyebabkan merosotnya nilai-nilai kompetensi sosial.

Dalam kompetensi sosial, prinsip-prinsip hubungan sekolah dengan masyarakat harus tetap dikedepankan dan harus selalu diperjuangkan dalam kenyataan. Prinsip-prinsip tersbut adalah pertama, prinsip kejujuran, yaitu bahwa apa yang hendak disampaikan ke masyarakat haruslah sesuatu apa adanya. Sekali pihak sekolah menyampaikan ketidakbenaran, kepercayaan masyarakat akan menurun, akibatnya sekolah tidak akan mudah  membangun kepercayaan lagi kedepannya. Kedua, prinsip kesederanaan, yakni program-program sekolah yang ditawarkan ke masyarakat haruslah sederhana dan mempunyai kesesuaian dengan kondisi masyarakat sekitarnya. Bukan program yang muluk-muluk di mana masyarakat tak menjangkaunya. Ketiga, prinsip ketepatan, yaitu bahwa apa yang akan disampaikan kepada masyarakat harus tepat, baik menyangkut kualitas sekolah dan kuantitasnya. Keempat, Prinsip sensitifitas, yakni menjaga rasa ketersinggungan masyarakat pada program-program yang sekolah adakan, sebab, sesuatu yang menurut sekolah hal biasa terkadang menurut masyarakat kurang tepat.

Keempat prinsip di atas apabila diwujudkan dengan baik dan benar, maka kompetensi sosial guru dan sekolah akan berjalan sesuai dengan apa yang dicita-citakan bersama, yaitu sebuah hubungan yang sangat harmonis dan dinamis sebab hubungan itu mengakar dalam kebersamaan dan kedamaian.

 

  1. Standar Nasional Indonesia (SNI)

Berbicara masalah standar nasional Indonesia adalah membahas sesuatu yang masih kelihatan lemah dan jelimet. Lemah disebabkan indeks kualitas sumber daya manusia nasional kita sangat rendah, dan jelimet disebabkan alat uji mutu nasional kita terkendala birokrasi yang berliku. Akibatnya, barang-barang yang ada tulisan SNI-nya sering terpinggirkan dan jarang disentuh konsumen menengah ke atas, kecuali konsumen fakir dan miskin. Jaminan mutu barang bertuliskan SNI sangat diragukan kualitasnya, oleh karena itu masyarakat golongan cerdas beralih pada produk yang mendapat label sertifikat internasional, seperti ISO 2000, dan sebagainya.

 

Standar nasional kita (SNI) dalam masalah pendidikan merupakan bentuk akhir dari standar pendidikan nasional yang biasa kita singkat SNP. SNP merupakan bagian hulu atau dasar kebangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karenanya, SNP mengatur insan yang bergelut dengan dunia pendidikan agar dunia pendidikan kita berjalan dengan baik.SNP mengatur bagaimana guru harus profesional dan bermartabat dengan penguasaan akan ilmu pengetahuan yang menjadi bidangnya benar-benar tidak diragukan. Semua itu dimaksudkan karena guru pembangun generasi emas bangsa besar ini.

SNI merupakan bentuk umum dalam bidang-bidang yang ada dihadapan kita yang dihasilkan oleh dunia pendidikan kita, yang membentuk kita mempunyai ilmu dan teknologi serta keahlian-keahlian lainnya. Boleh jadi, mengapa SNI kita mempunyai mutu rendah dan sangat diragukan keunggulannya oleh kita bangsa sendiri, hal itu disebabkan SNP kita mengalami karut-marut akut dan keunggulan mutunya sangat rendah serta sangat diragukan. Standar pendidikan kita telah tergerus oleh sebuah sistem pendidikan nasional yang mengangkangi dan memasung sebuah proses dialektika berpikir. Kita terkungkung dan terjerembab pada sistem pendidikan yang menghasilkan pola pikir instant dan asal jadi, sementara jalan berat berliku dan bertungkus-lumus dalam mencari sebuah proses pendewasaan berpikir telah sirna dari sistem pendidikan kita.

Jangan salahkan seorang rektor di sebuah perguruan tinggi di negeri kita tercinta, sebagaimana Kompas memberitakan,[5] menempuh penddikan S3 (Doktoral) hanya satu tahun sebelas bulan di perguruan tinggi yang dipimpinya dan ijazahnya pun ditandatangani sendiri. Ajaib! Ini semua hasil daripada sistem pendidikan kita yang meninabobokan pemikiran kreatif dan memasung sebuah proses. Jika seperti ini, jangan tanya bagaimana SNP kita, dan lebih lanjut bagaimana SNI kita untuk duapuluh tahun sampai satu abad ke depan. Hancurlah kita!!!

***

ANTARA KELUH-KESAH

DAN  SERTIFIKASI-PROFESIONALISME GURU

 

  1. KELUH-KESAH

“Barangsiapa mau menjadi guru, biarkan dia memulai mengajar dirinya sendiri
sebelum mengajar orang lain, dan biarkan dia mengajar dengan teladan,
sebelum mengajar dengan kata-kata….” (Chairil Anwar)

“Guru kita terkungkung dalam makna profesionalisme yang materialistik: Tunjungan profesi.” (Mohammad Abduhzen)

“Sebuah bangunan nan besar, megah, dan tinggi berasal dari susunan bata, kalau di Madura bata putih alami yang ditambang di wilayah kecamatan Batuputih, Sumenep, di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan daerah lainnya dengan batu merah dan batu-batu lainnya. Pada awalnya, sebuah pondasi nan kuat disiapkan. Selanjutnya, satu demi satu batu itu ditata, diplester, dicat, diplafon, dan dikeramik. Maka, betapa megahnya gedung besar itu. Tak pernah terbayangkan betapa jeleknya ketika kita menengok sejarah pembangunan. Mungkin bangunan itu terletak di tanah rawa atau bukit yang teramat sulit diwujudkan menjadi sebuah bangunan. Namun, berkat kemahiran dan keuletan tukang batu, tanah gersang tak layak dibangun itu berubah 180 derajat menjadi sebuah bangunan nan mahal lagi perkasa. Lalu, mengapa bangunan itu dapat terwujud sedemikian indahnya?

Bangunan nan megah itu terwujud karena tukang batu yang membangun adalah tukang batu yang asli, berpengalaman, dan memiliki jam kerja lumayan tinggi. Belajar dari pengalaman tukang batu yang pernah membantu saya, tukang batu itu tidak memiliki piranti pekerjaan yang mahal, lengkap, dan modern. Justru tukang batu itu menggunakan piranti sederhana. Karena kemahirannya itulah, bangunan nan megah terwujudkan. Apalah guna alat modern dan mahal jika tukang batunya tak becus bekerja. Justru bisa jadi alat bantu itu dapat mengganggu pekerjaan tukang batu karena mungkin mudah rusak dan tak mengetahui cara memperbaikinya.

Kiasan atau analogi pembangunan sebuah gedung di atas dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi pembangunan dunia pendidikan. Berkali-kali saya menuliskan pengalaman ketika mengetahui dunia pendidikan. Kian hari, saya memperhatikan bahwa dunia pendidikan kita seakan melangkah mundur. Jauh dari kesan maju, apalagi pendidikan ideal. Mungkin gambaran yang saya tulis ini terkesan basi dan mengada-ada. Namun, marilah kita menengok ke belakang tentang dunia pendidikan kita. Ya, sekitar tahun-tahun awal kita merdeka. Sebagaimana telah saya ungkap di bagian pertama di atas mengenai tokoh-tokoh pendiri bangsa ini. Mari kita lihat dunia guru kita pada masa-masa itu.

Dahulu, para guru mengajar kita dengan peralatan dan media sederhana. Guru-guru itu begitu menguasai bahan ajar dan teknik menyampaikannya. Ketika menerangkan bahan ajar, guru itu sangat sabar tetapi juga tegas dan keras. Banyak guru menghukum muridnya karena tidak mengerjakan PR, tidak mampu menghafal pelajaran yang diwajibkan, atau mendapat nilai merah. Meskipun sering dimarahi oleh guru-gurunya, tak pernah terdengar protes dari mantan-mantan murid saat ini. Justru para murid sekarang merasa bersyukur karena gurunya pernah menghukumnya.

Akan tetapi sekarang, keadaan itu berbalik 180 derajat. Konon, saat ini pemerintah berusaha memberikan pendidikan berkualitas. Kebijakan ini dimulai dari pemberian Bantuan Operasional Sekolah (BOS), penyaluran bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK), dan pemberian tunjangan profesi guru. Beratus triliun uang telah digelontorkan kepada dunia pendidikan. Namun, apakah dunia pendidikan sudah berubah menjadi lebih baik? Saya menilainya bahwa dunia pendidikan kita justru berjalan mundur. Apa dasar pendapat ini? Pertama, cobalah kita perhatikan kualitas guru dan dosen. Baru-baru saja, guru yang tersertifikasi telah mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG). Namun, sungguh hasilnya teramat mengagumkan. Bukan hasilnya menggembirakan melainkan menyedihkan karena 95% guru dinyatakan tidak lulus. Begitu dinyatakan tidak lulus, sontak protes bermunculan dan menyalahkan soal-soal UKG. Entah soalnya memang salah, tetapi itu justru menjadi jawaban. Jika soalnya memang salah, bukti itu menunjukkan bahwa pejabat dan staf Kemendikbud dihuni oleh orang-orang yang tidak profesional secara keilmuan sehingga tidak dapat menyusun soal dengan benar. Jika soalnya benar dan guru tidak dapat menjawab, bukti itu menunjukkan bahwa guru itu semestinya tidak menjadi guru karena tidak menguasai disiplin ilmunya. Kedua, sistem karier di pusat. Semestinya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dihuni oleh mantan-mantan guru hebat dan tidak dijabat profesor atau doktor-doktor perguruan tinggi. Mestinya pejabat eselon 2 ke bawah merupakan guru yang memiliki prestasi di bidangnya sehingga semua kebijakannya dapat diterapkan di level bawah. Bukankah setiap tahun Kemendikbud mengadakan pemilihan guru berprestasi, lomba kreativitas guru, sayembara menulis naskah buku, lomba media pembelajaran dan lain-lain. Karena lomba dan sayembara itu diikuti oleh semua guru dari seluruh jenjang, mestinya peraih juara diberi kesempatan untuk ikut mewarnai kebijakan Kemendikbud. Namun, justru guru-guru yang berprestasi itu hanya diberi selembar piagam dan uang. Setelah itu, guru itu pun disuruh pulang kampung. Sayang dan teramat disayangkan. Guru yang memiliki segudang prestasi tetapi tak digunakan negaranya. Ketiga, lakukan seleksi ketat terhadap mutu bahan ajar. Belum lama dunia pendidikan dihebohkan oleh buku yang berisi materi porno. Kasus itu belum selesai, lagi-lagi dunia pendidikan dihebohkan dengan bahan ajar yang cenderung menentang Pancasila. Kasus itu belum selesai lagi, kita dikagetkan oleh LKS bahasa Inggris di Jawa Timur yang berisi tokoh porno tetapi dijadikan bahan pelajaran. Mengapa Kemendikbud sering kecolongan masalah bahan ajar? Karena saya tak melihat keseriusan Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kemendikbud untuk menindak dan menindaklanjuti semua temuan itu. Sangat terkesan bahwa mereka membiarkan kasus itu agar menguap begitu saja. Tak terlihat keseriusan untuk menanggapi kasus itu agar tidak terjadi lagi. Keempat, pergantian kurikulum. Tahun 2013 ini kurikulum akan diganti. Jam pelajaran akan ditambah. Mendengar dan mendapat kabar ini, saya tertawa dalam hati. Apa maunya Kemendikbud menambah jumlah pelajaran? Mengapa Kemendikbud mengutamakan kuantitas daripada kualitas pelajaran? Dahulu Kemendikbud mengkritisi jumlah pelajaran yang mencapai 12 buah karena dianggap terlalu banyak dan tidak memberikan kesempatan anak-anak untuk istirahat. Lalu, jumlah itu dipangkas agar pelajaran yang ada dapat terlaksana efektif. Tahu-tahu, justru sekarang Kemendikbud menambah pelajaran lagi dengan alasan agar guru-guru tersertifikasi mudah mendapatkan 24 jam per minggunya.

Khusus Kemendikbud dan jajarannya, belajarlah kepada model pendidikan luar negeri. Saya yakin bahwa orang-orang yang ada dijajaran ini sering bepergian ke luar negeri. Di sana, pelajaran dasar hanya diberikan di jenjang SD (elementary school) yang mencakup bahasa dasar, matematika dasar, dan budaya dasar. Setelah masuk ke jenjang SMP, semua siswa mulai dibebaskan mendapatkan pelajaran berdasarkan cita-citanya. Pengetahuan lebih spesifik mulai diterapkan ketika anak duduk di bangku SMA. Maka, tak heran jika seorang mantan murid SMA yang baru berusia 18 tahun di Amerika Serikat sudah menjadi pengacara hebat. Bukankah demikian model pendidikan di luar sana, Bapak para pejabat?

Sebagai guru, saya sering dibuat bingung ketika mengikuti irama pendidikan di sini. Guru tidak memerlukan piranti canggih nan mahal. Guru tidak memerlukan kurikulum baru. Guru tidak memerlukan gedung baru nan megah. Guru tidak berharap agar pendidikan gratis karena toh itu hanya akal-akalan. Namun, guru memerlukan motivasi dan apresiasi dari Kemendikbud. Mengapa Kemendikbud cepat sekali mengubah kebijakan dan tidak menindaklanjuti beragam kesalahan dan kekeliruan di masa silam. Mestinya kesalahan dan kekurangan di masa silam cukup dianalisis dan diperbaiki. Jika hanya kuku yang sakit, tentunya kita tak perlu memotong tangan. Ini bukannya sekadar memotong tangan, melainkan memotong leher. Mau diapakan dunia pendidikan bangsa ini? Jika kesalahan terus dibiarkan dan kebijakan baru terus diberlakukan, saya justru teramat khawatir bahwa dunia pendidikan kita berjalan tanpa arah. Mudah-mudahan sih tidak!”[6]

  1. Sertifikasi Dan Profesionalisme Guru

Untuk membahas bagian ini, mari kita mulai dengan mengukutip Undang-Undang Nomer 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Penulis akan memulainya dari Sertifikasi dan kemudian prinsip Profesionalitas, sebab secara teori, adanya sertifikasi guru adalah jalan menuju keprofesionalan seorang guru.

 

  1. Sertifikasi Guru

            Sertifikasi adalah satu upaya untuk memperoleh pengakuan atas kelayakan dan kemampuan (fit and profertest) guru dalam melakukan tugas atau pembuktian atas kemampuan yang dimiliki oleh guru berdasarkan profesi yang dilakukan. Dengan bahasa yang lebih  sederhana, sertifikasi guru adalah pengakuan atas eksistensi terhadap profesi guru tersebut.

Pengakuan eksistensi ini merupakan hal yang cukup penting dalam kehidupannya sebagai tenaga kependidikan. Apakah guru punya kemampuan dan eksistensi jika yang bersangkutan tidak diakui secara umum? Seharusnya mereka mengikuti sebuah keputusan untuk dimiliki yaitu program sertifikasi ini adalah untuk pengakuan terhadap kompentensi yang dimiliki oleh guru sebagai tugas pendidik. Pengakuan ini merupakan hal pokok yang seharusnya menjadi dambaan hidup seorang guru jika memang menginginkan profesionalisme dalam melaksanakan tugasnya sebagai tenaga kependidikan di tempat mereka mengajar dan mengabdi.

Di sinilah sisi penting kreatifitas dalam melaksanakan tugas bagi seorang guru sehingga tidak perlu menceritakan kompentensi yang mereka miliki, hanya dapat diketahui orang secara langsung dalam melakukan penilaian secara obyektif terhadap hasil kerja dan kreatifitas yang ditampilkan secara terbuka. Untuk dapat mencapai kondisi tersebut maka guru perlu melakukan berbagai kreatifitas dalam mendidik dan mentransferkan ilmunya. Agar guru mempunyai kualitas dihadapan umum khususnya mendidik anak maka setidaknya mereka dapat menampilkan kreatifitas dan gagasan-gagasan sehingga menumbuhkembangkan di hati anak-anak didik sebagai guru yang mampudankreatif.

Diakui bersama bahwa kualitas seseorang adalah tergantung pada kompetensi yang ada di dalam dirinya, semakin banyak kompentensi yang dimiliki maka secara langsung kualitas dirinya semakin tinggi. Dengan kompetensi yang dimiliki oleh guru maka seharusnya dapat menjadikan sebagai sarana pengembangan dunianya secara maksimal. Untuk itu kepedulian semakin ada dalam mengaktualisakan diri secara utuh terhadap dunia pendidikan yang digelutinya.

Kita harus mengakui bahwa selama ini masih banyak guru yang terlena oleh tugas dan kewajiban yang monoton tanpa ada perkembangan yang berarti, mereka terlena oleh sebuah pekerjaan yang statis, kita akui atau tidak sama sekali tidak memberikan tantangan yang berarti terhadap profesi mereka. Selama ini dapat dilihat dalam kenyataaan bahwa guru-guru hanya bergelut dengan tugas-tugas yang rutin mereka lakukan terus mengalir tanpa dibendung sehingga tidak ada waktu untuk kegiatan-kegiatan lain. Rutinitas ini jelas sangat tidak enak bagi profesi guru, dan perlu impromisasi kegiatan agar nampak dinamis dan menyegarkan. Di sinilah peran kreatif guru, sebagai mana pernah saya singgung, sangat dibutuhkan oleh seorang guru itu sendiri.

Dalam tataran idealisme inilah program sertifikasi guru yang pemerintah canangkan adalah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada guru untuk pengembangan diri semaksimal mungkin dalan upaya meningkatkan kualitas diri dan anak didiknya. Dengan program sertifikasi ini mau tidak mau guru harus memikirkan cara dan langkah-langkah untuk mengembangkan diri mereka sebagai tenaga pendidik dan kependidikan. Pengembangan diri ini menjadi penilaian terbesar untuk megetahui tingkat kreatifitas guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Rencana awal, program sertifikasi guru yang telah disusun oleh pemerintah sebenarnya berfungsi untuk menyeleksi guru yang berkualitas dan kreatifitas demi pengembangan dan peningkatan kualitas dunia pendidikan sehingga seharusnya hal tersebut dilakukan secara oyektif dan serius untuk mencari guru-guru yang berkualitas dan kreatif tadi untuk kebutuhan di dunia pendidikan kita yang bertambah karut-marut ini.

Oleh karena itulah, pihak-pihak terkait membikin perangkat-perangkat aturan ideal supaya program sertifikasi ini menghasilkan person-person yang benar-benar berkualitas dan berdedikasi tinggi dalam memajukan dunia pendidikan tanah air.

Pasal 11 berbunyi : (1). Sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. (2). Sertifikat pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh pemerintah. (3). Sertifikat pendidik dilaksanakan secara  objektif, transparan dan akuntabel. (4). Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur  dengan Peraturan Pemerintah.

Persyaratan untuk mendapat pengakuan guru profesional yang ditunjukkan oleh sebuah sertifikat pendidik sebagaimna saya salin dari buku panduan sertifikasi 2013 adalah :

 

  1. PersyaratanUmum

a). Guru yang belum memiliki sertifikat pendidik dan masih aktif mengajar di sekolah di bawah binaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kecuali guru Pendidikan Agama. Sertifikasi bagi guru Pendidikan Agama dan semua guru yang mengajar di madrasah diselenggarakan oleh Kementerian Agama dengan kuota dan aturan penetapan peserta dari Kementerian Agama (Surat Edaran Bersama Direktur Jenderal PMPTK dan Sekretaris Jenderal Departemen Agama Nomor SJ/Dj.I/Kp.02/1569/ 2007, Nomor 4823/F/SE/2007 Tahun 2007).
b).  Memiliki kualifikasi akademik sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV) dari program studi yang terakreditasi atau minimal memiliki izin penyelenggaraan.
c).Guru yang diangkat dalam jabatan pengawas dengan ketentuan:
1. diangkat menjadi pengawas satuan pendidikan sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru (1 Desember 2008), dan
2. memiliki usia setinggi-tingginya 50 tahun pada saat diangkat sebagai pengawas satuan pendidikan.
d).Guru yang BELUM memiliki kualifikasi akademik S-1/D-IV apabila:
1. pada 1 Januari 2013 sudah mencapai usia 50 tahun dan mempunyai pengalaman kerja 20 tahun sebagai guru, atau
2. mempunyai golongan IV/a atau memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/a (dibuktikan dengan SK kenaikan pangkat).
e). Sudah menjadi guru pada suatu satuan pendidikan (PNS atau bukan PNS) pada saat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen ditetapkan tanggal 30 Desember 2005.
f). Guru bukan PNS pada sekolah swasta yang memiliki SK sebagai guru tetap minimal 2 tahun secara terus menerus dari penyelenggara pendidikan (guru tetap yayasan), sedangkan guru bukan PNS pada sekolah negeri harus memiliki SK dari Bupati/Walikota.
g). .Pada tanggal 1 Januari 2014 belum memasuki usia 60 tahun.
h). Sehat jasmani dan rohani dibuktikan dengan surat keterangan sehat dari dokter. Jika peserta diketahui sakit pada saat datang untuk mengikuti PLPG yang menyebabkan tidak mampu mengikuti PLPG, maka LPTK berhak melakukan pemeriksaan ulang terhadap kesehatan peserta tersebut. Jika hasil pemeriksanaan kesehatan menyatakan peserta tidak sehat, LPTK berhak menunda atau membatalkan keikutsertaannya dalam PLPG.
i). Memiliki nomor unik pendidik dan tenaga kependidikan (NUPTK).

 

2.Persyaratan Khusus untuk Guru yang mengikuti Pemberian Sertifikat secara   Langsung (PSPL)

a). Guru dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang memiliki kualifikasi akademik magister (S-2) atau doktor (S-3) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya, atau guru kelas dan guru bimbingan dan konseling atau konselor, dengan golongan sekurang-kurangnya IV/b atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/b.
b). Guru dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang memiliki golongan serendah-rendahnya IV/c atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/c.

Persyaratan ini boleh-boleh saja secara apik terpampang di lembara kertas. Tapi mari kita renungkan secara mendalam kemudian kita diskusikan apa persyaratan di atas mencerminkan rasa kemanusiaan dan keadilan?

Secara umum, persyaratan di atas tak ada yang perlu dipermasalahkan, tetapi bila kita cermati point b pada persyaratan umum, maka timbullah apa yang saya namakan ‘kepedulian yang kurang memihak’ pada sarjana lulusan IKIP, FKIP atau STKIP serta Tarbiyah. Karena bunyi kalimat persyaratan tersebut adalah “memiliki kualifikasi akademik sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV) dari program studi yang terakreditasi atau minimal memiliki izin penyelenggaraan”, maka segala bentuk lulusan peguruan tinggi dari program studi mana pun dapat diikutsertakan dalam sertifikasi guru.

Dilihat dari persfektif ini, guru tanah air telah mengalami proses penyampahan dan pendangkalan nilai. Bagaimana tidak, mereka yang notabene tak punya niat menjadi guru tiba-tiba  saja terdampar diruang kelas mengajar pelajaran yang jauh pula dari program studinya. Mengajar pelajaran yang sejenis dengan program studi, masih perlu kita kritisi, apalagi pelajaran yang diajarkan  tak sejenis. Dari sinilah titik pangkal proses terjadinya penyampahan dan pendangkalan mutu keguruan di negeri ini.

Mutu guru kemudian menjelma menjadi  sebuah kegiatan yang instant dan cenderung mematikan kewibawaan guru. Guru bak centang berenang, tak punya pijakan kokoh dalam dunia keguruannya. Sebagaimana telah saya singgung di bagian pertama, bahwa permasalahan dalam dunia pendidikan di Indonesia seakan tiada habisnya dan mutu pendidikan seolah-olah berada pada tingkat memprihatinkan. Setiap saat kita bisa melihat begitu ramainya pemberitaan di media, dari tawuran pelajar antar sekolah, tawuran mahasiswa, penggunaan narkoba yang sudah merambah hingga siswa sekolah dasar, kekerasan oleh oknum guru terhadap siswa, pornografi yang semakin intens melibatkan siswa dan guru dan berbagai permasalahan lain, adalah diberikesempatanya segala lulusan program studi di luar keguruan untuk masuk kepada  profesi keguruan ini. Ironis!

Coba kita bandingkan dengan sistem rekrumen guru di Malaysia. Pada tahun 2012 tahun kemarin, terjadi perubahan yang cukup mendasar dalam penyediaan pendidikan guru di Malaysia. Suatu hal yang kontras dengan kondisi aktual di tanah air, dimana jurusan dan program studi S1 kependidikan/keguruan di universitas-universitas kita malah kelebihan ‘demand’ berhubung daya tarik imbalan untuk guru dengan adanya program sertifikasi. Yang terjadi di Malaysia adalah kelebihan ‘supply’ lulusan S1 kependidikan, sehingga diputuskan untuk memberhentikan sementara (moratorium) pendidikan calon guru baru mulai tahun depan (tahun akademik 2013/2014).

Sektor pendidikan di Malaysia dari segi volume kurang lebih satu-per-sepuluh dari yang ada di Indonesia, baik dari jumlah siswa (5 juta jiwa), jumlah guru (300 ribu orang) atau jumlah sekolahnya (10 ribu buah).  Lebih dari 96% sekolah-sekolah di Malaysia adalah sekolah publik (sekolah negeri) dan ini berlaku di jenjang SD sampai SMA; peningkatan partisipasi sekolah swasta yang baru, banyak muncul dalam dua dekade terakhir ini, dan itupun lebih banyak di daerah perkotaan, seperti Kualalumpur dan kota negara bagian lainnya. Hal yang unik dalam sistem pendidikan Malaysia sejak mulai merdeka adalah arus privatisasi-nya (khususnya pendidikan dasar) malah terbalik, dimana hampir semua sekolah swasta yang ada sejak peninggalan masa penjajahan Inggris berubah menjadi sekolah negeri dengan menerima bantuan pemerintah dan gurunya berubah status jadi pegawai negeri. Ini jelas menandakan pasar tenaga kerja bidang pendidikan memang hampir dikuasi oleh sektor publik, dimana pemerintah sangat menentukan ‘supply-demand’-nya.

Untuk menjadi guru di Malaysia kualifikasinya harus sudah S1  (untuk guru SD sampai SMA), dalam hal ini negeri kita kalah jauh, pendidikannya didapatkan di Institut Pendidikan Guru (IPG) bila ingin menjadi guru sekolah dasar (disini disebut sekolah rendah) ataupun di fakultas pendidikan di universitas bila ingin menjadi guru SMP dan SMA (disebut sekolah menengah). Untuk IPG maka itu berada dibawah Kementrian Pelajaran Malaysia (KPM), sedangkan yang fakultas pendidikan di universitas, induknya adalah Kementrian Pengajian Tinggi (KPT)[7]. Yang akan dibahas lebih lanjut adalah lingkup pendidikan guru yang ada di universitas yang berada di bawah KPT. Kelayakan cikgu di Malaysia menjadi S1 seperti sekarang pun dilakukan secara bertahap dan transformasi perubahan kualifikasi dari lulusan diploma berlangsung mulus sejak era 1990-an dengan program pendidikan lanjutan bagi guru dalam jabatan.[8]

Satu yang unik di Malaysia dibandingkan di Indonesia, program studi dan jurusan pendidikan (untuk menghasilkan guru SMP dan SMA) di tingkat universitas semua dikelola oleh universitas negeri (ada di 13 dari 20 universitas negeri di Malaysia), Pemerintah Malaysia tidak memberikan banyak keleluasaan pada perguruan tinggi swasta, hal yang sama juga sebenarnya berlaku untuk calon guru SD, semua IPG dimiliki dan diatur oleh KPM. Hal yang rutin terjadi setiap tahunnya sehubungan dengan rekrutmen calon mahahasiswa fakultas pendidikan ini adalah, pihak KPM mendata berapa jumlah kekurangan guru per bidang mata pelajaran yang diproyeksikan untuk empat atau lima tahun mendatang (waktu yang dibutuhkan mendidik guru). Bila sudah didapat angka tersebut, untuk guru SMP dan SMA, maka angka kebutuhan guru itu diberikan ke KPT. Kemudian oleh KPT  angka kebutuhan didistribusikan ke 13 universitas yang mempunyai fakultas pendidikan sesuai dengan program studi/jurusan yang diminta.

Bila kuota sudah didapat, maka biasanya universitas menawarkan bangku kuliah bagi calon mahasiswa yang telah lulus pendidikan pra-universitas (matrikulasi atau STPM); dimana seleksi dilakukan secara administratif, kelayakan hanya dinilai dari prestasi akademik sebelumnya (hasil ujian nasional). Tambahan lainnya adalah adanya ujian wawancara langsung dengan calon mahasiswa yang dipusatkan di satu universitas tiap negara bagian yang berdekatan dengan domisili mahasiswa (walaupun dia mau studi di negara bagian lain), khusus untuk mengetahui kepribadian, kemampuan berkomunikasi dan minat studi mereka; walaupun berprestasi akademik bagus, namun bila gagal ujian wawancara maka dia tidak akan diterima.[9]

Kondisi aktual yang terjadi di tahun 2012 lalu didapati bahwa ternyata makin banyak lulusan pendidikan guru, khususnya dari fakultas pendidikan di universitas, yang belum bekerja sebagai guru. Jumlah pengangguran calon guru ini mencapai angka lebih dari satu persen dari populasi guru yang telah bekerja. Berbagai keluhan susahnya mendapatkan “posting” (penempatan sebagai guru pegawai negeri di Malaysia), banyak muncul di media cetak dan elektronik yang tentu isinya menyudutkan pemerintah sebagai pemberi kerja utama dalam sektor ini. Kondisi ini ditambah sulit, dengan dikeluarkannya aturan usia pensiun baru bagi pegawai negeri di Malaysia, yang asalnya bisa pensiun di usia 56 atau 58 tahun, berubah menjadi 60 tahun. Sehingga usia guru aktif untuk pensiun supaya nanti digantikan oleh generasi baru yang memerlukan pekerjaan, akan lebih lama lagi menunggunya.

Tidak mempekerjakan pengangguran terdidik dimana pasar kerja-nya memang dikuasai oleh pemerintah tentu bukan kondisi yang menyenangkan. Bila terus dibiarkan menumpuk akan memberikan tekanan dan bisa berdampak lanjutan yang makin meresahkan masyarakat, serta tentu jadi sasaran empuk untuk bulan-bulanan pihak oposisi atau kelompok penekan. Keputusan berat yang diambil oleh KPM dan KPT adalah melakukan moratorium pendidikan guru di semua universitas negeri mulai tahun depan. Tentu saja keputusan berat ini berdampak lanjutan kepada fakultas dan universitas yang biasa menyelenggaran pendidikan calon guru, dan tidak aneh reaksi dan penentangan pun bermunculan baik secara terang-terangan atau diam-diam.

Berbagai universitas lebih banyak bersikap menunggu perkembangan baru, berhubung pendidikan S1 kependidikan di fakultas pendidikan-nya masih tetap akan terus ada sampai angkatan yang masuk tahun akademik kemarin (2012/2013) selesai masa studinya empat tahun kedepan (sampai tahun 2016 nanti). Bagi beberapa universitas lain, kesempatan ini ‘menyadarkan’ mereka bahwa memang menggantungkan ‘jatah mahasiswa’ dari captive market yang dikuasai pemerintah memang beresiko tinggi dan tidak banyak alternatif bisa dilakukan. Artinya memang harus dicari ‘niche market‘ tersendiri berdasar potensi yang dimiliki.

Ketiadaan mahasiswa baru S1 kependidikan, bagi pihak universitas tentu mengalihkan fokusnya ke pendidikan di tingkat pasca sarjana (S2 dan S3) kependidikan. Satu konsekuensinya adalah mengubah nama dari ‘faculty of education’ (disebut fakultas karena mengajar dari S1 sampai S3) menjadi bentuk ‘graduate school of education’ (hanya mengajar S2 dan S3 saja) dan ini membawa berbagai perubahan struktur dan fokus organisasi. Karena di Malaysia untuk bisa mengajar dan membimbing mahasiswa S2 kualifikasi minimal dosennya adalah S3, maka dosen-dosen yang masih S2 jelas akan tergusur dengan sendirinya, pilihannya adalah pindah kerja ke IPG, mengajar di universitas yang menawarkan program diploma, menjadi guru di sekolah atau masuk ke sektor publik lainnya sebagai pegawai. Pada saat yang sama di berbagai  fakultas pendidikan di 13 universitas negri itu kondisi ini relatif bisa ditangani dimana dosen yang sudah S3 adalah mayoritas (70-90% dari tenaga pengajar), dan hanya sedikit saja yang memang akan merasakan desakan harus mencari tempat kerja baru.

Dari segi masukan mahasiswa (intake) S2 di berbagai universitas yang punya fakultas pendidikan di Malaysia, ternyata didapati sekitar 40%-nya adalah ‘captive market‘ yang merupakan alumni universitas yang bersangkutan. Biasanya mereka ini memilih universitas tempat dia belajar dulu karena memang merasa betah, sudah mengenal lingkungan kampus, kenal dengan dosen-dosen-nya; dan biasanya sambil menunggu penempatan (posting) menjadi guru oleh pemerintah, dari pada nganggur tentu lebih produktif bila digunakan dengan melanjutkan studi S2 di almamaternya. Terlebih karena biaya kuliah S2 di Malaysia tidak jauh beda dengan saat di S1, dan kalaupun tidak punya dukungan finansial dari keluarga, mereka bisa meminjam ke pemerintah melalui PTPTN. Artinya bila fakultas pendidikan menjadi graduate school of education, potensi 40%  calon mahasiswa S2-nya pun hilang dengan sendirinya. Kondisi yang berkebalikan bersifat menguntungkan tentu juga bisa terjadi, misalnya bisa saja muncul aturan baru bahwa penetapan syarat menjadi cikgu (guru) di Malaysia dinaikkan menjadi S2 ataupun guru yang mempunyai ijasah S2 akan mendapat insentif berlebih dari pemerintah, maka kondisi ini akan membuat ‘graduate school of education’  jelas akan booming.

Tantangan lebih lanjut adalah, apa yang perlu dibuat dengan menjadi ‘graduate school of education’? Maka membuat keputusan strategis dalam memilih ceruk pasar pendidikan pasca sarjana dan aktivitas akademik lainnya menjadi fokus yang krusial. Menawarkan program studi untuk setara S2 yang menggunakan metode kuliah misalnya, harus dimulai dengan riset pasar yang teliti; salah menawarkan program studi bisa jadi malah akan ditutup dalam waktu singkat. Terlalu banyak menawarkan berbagai program studi juga tidak jaminan bisa menjaring mahasiswa lebih banyak, karena memang ‘pasar’ pendidikan pasca sarjana (masih) bersifat selektif dan elitis, terkadang yang mau pusing-dan-bingung studi lagi memang ’spesies’ manusia yang berbeda dari yang umum.

Pilihan lain yang ditempuh KPT adalah menjadi ‘graduate school’ yang juga memiliki identitas sebagai lembaga riset jempolan, paling tidak di tingkat nasional atau regional ASEAN lah, kalau memang belum bisa unjuk gigi di peringkat internasional. Hal ini bisa secara otomatis dilakukan, karena kualifikasi mahasiswanya di tingkat pasca sarjana sehingga mereka lebih banyak melakukan aktivitas riset dan publikasi, dibanding rutinitas mengajar seperti S1. Namun untuk mencapai taraf itu, syaratnya balik lagi ke reputasi dan kualifikasi para peneliti dan pakar yang terdaftar sebagai staf di ‘graduate school’ itu. Menjadi semacam pusat riset unggulan (center of excellence) tentu juga bukan urusan enteng bila tidak ditunjang dana dan fasilitas serta oleh portofolio prestasi publikasi dan kepakaran yang telah teruji secara internasional. Namun bila memang sudah teruji, maka potensi pasar yang dimunculkan akan datang dengan sendirinya dalam bentuk permintaan riset, kerjasama, konsultansi, pendampingan ataupun menjadi rujukan terhadap isu-isu pendidikan kontemporer. Mungkin salah satu alternatif yang menarik yang bisa digagas oleh mereka adalah bekerja sama dengan pusat riset pendidikan Indonesia, misalnya University Utara Malaysia (UUM) berkerja sama dengan Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Gulukguluk, Sumenep, sebab berhubung kalau bidang politik sudah oleh Cornell University di Amerika Serikat, dan bidang ekonomi oleh Australian National University.

Inilah sekelumit kebijakan-kebijakan tentang bagaimana membentuk dunia guru di negara jiran itu. Paling tidak, sisi keunggulan sistem pedidikan yang mereka bentuk telah membuat kita terpesona. Kualitas sumber daya manusia yang membina sistem pendidikan di Malaysia membuat kita iri. Tapi bukan berarti  kita terus-terusan tenggelam dalam kegalauan sistem pendidikan kita yang terus merosot. Kita harus beranjak segera, tapi jangan sampai mengorbankan substansi pendidikan itu sendiri sebagai penyangga peradaban bangsa.

Dan yang kedua, yang juga perlu disikapi dengan jujur atas pernyataan dari persyaratan mengikuti sertifikasi adalah point f, yang berbunyi: “Guru bukan PNS pada sekolah swasta yang memiliki SK sebagai guru tetap minimal 2 tahun secara terus menerus dari penyelenggara pendidikan (guru tetap yayasan).” Dimanakah letak kejanggalan daripada bunyi aturan di atas? Sama sekali tak ada kesalahan dalam persyaratan terebut. Yang menjadi kacau-balau adalah pemalsuan SK penetapan guru yang layak ikut sertifikasi yang terlebih dahulu harus berstatus guru tetap yayasan, sebab sebenarnya yayasan tidak punya kemampuan finansial dalam menggaji guru tetap, yang aturannya harus sesuai dengan UMR daerah masing-msing. Inilah alasan mengapa yayasan memberi status guru itu dengan SK GTTY (Guru Tidak Tetap Yayasan) Pertanyaan selanjutnya, mengapa yayasan berani menetapkan guru yang diajukan untuk ikut sertifikasi dengan menerbitkan SK GTY (Guru Tetap Yayasan) padahal gaji mereka dihitung per tatap muka? Jawaban pihak yayasan sangat instant. Mereka bilang ‘Angkat saja jadi guru tetap yayasan sebatas SK agar syarat ikut sertifikasi terpenuhi, toh bila mereka lolos dan dapat tunjangan akan mengenakkan mereka, dan mereka merasa berhutang budi pada yayasan’. Dan bukan cuma hal itu yang cukup kacau, yang menjadi sorotan saya selama ini adalah pemalsuan tugas mengajar. Karena SK yang diterbitkan pihak yayasan instant maka penambahan masa tugas ini sering terjadi. Misalkan, guru itu sebenarnya masih mengabdi satu tahun, tetapi karena ada kecenderungan nipotisme maka dalam SK yayasan ditambah menjadi dua tahun agar sesuai dengan persyaratan pengajuan sertifikasi.[10]

Sebenarnya, berbagai upaya peningkatan mutu guru telah dilakukan. Seperti peningkatan kemampuan/penguasaan tentang berbagai macam strategi ataupun metode pembelajaran melalui berbagai kegiatan (workshop, diklat, dsb), dan tidak kalah menariknya adalah peningkatan kualitas guru melalui program sertifikasi guru. Namun program sertifikasi tersebut yang sejatinya adalah untuk meningkatkan kompetensi guru ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan, guru yang telah lolos sertifikasi pun ternyata tidak menunjukkan kompetensi yang signifikan. Menurut Prof. Dr. Baedhowi, dalam pidato pengukuhan guru besar pada FKIP Universitas Sebelas Maret Solo pada tanggal 12 November 2009 lalu, memaparkan kajiannya, bahwa motivasi para guru mengikuti sertifikasi umumnya terkait aspek finansial, yaitu segera mendapat tunjangan profesi, agar kemudian segera sejahtera secara dhahir. Motivasi yang sama ditemukan oleh Direktorat Jenderal PMPTK Depdiknas ketika melakukan kajian serupa di Propinsi Sumatera Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat tahun 2008 pada tanggal 13 November 2009. Hasilnya menunjukkan, walaupun alasan mereka bervariasi, secara umum motivasi mereka mengikuti sertifikasi ialah finansial. Tujuan utama sertifikasi untuk mewujudkan kompetensi guru tampaknya masih disikapi sebagai wacana semata

Terlepas dari permasalahan di atas, hal yang menarik saya kira untuk dicermati adalah kualitas pendidik (guru secara umum) di Indonesia, terlebih setelah era otonomi daerah, dan fenomena sertifikasi ini bagi kalangan guru. Sertifikasi pendidik yang telah dilaksanakan sejak 2007, serta otonomi keuangan daerah membuka peluang upaya peningkatan kesejahteraan Guru. Pemberian tunjangan tambahan satu kali gaji pokok bagi guru PNS, walau hal ini tak adil dalam kacamata guru swasta, terbukti mampu mengangkat derajat kesejahteraan guru, lebih-lebih guru PNS tadi. Selain mengangkat derajat kesejahteraan pendidik, tujuan lain dari Sertifikasi Pendidik terutama adalah bagaimana agar Guru lebih bermutu dalam menjalankan tugas fungsionalnya sebagai pendidik, meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan serta kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Walau sertifikasi guru tanah air mengalami karut-marut seperti sekarang ini, akan tetapi guru kita tak terkecuali, wajib memperbaiki kinerja dan mutu pendidik. Paling tidak, di bawah ini bisa dijadikan gambaran untuk menjadi hal seperti itu:

Pertama, saya yakin Anda semua setuju, bahwa namanya seorang pendidik, wajib memiliki rasa tanggung jawab yang besar, baik terhadap pekerjaan, siswa, sekolah terlebih lagi tanggung jawab moral dan agama sebagai makhluk Tuhan. Apalagi jika guru tersebut sudah PNS dan sudah memiliki Sertifikat Pendidik. Bagaimana cara menumbuhkan kesadaran tersebut? Silakan saya kira Anda bisa menjawabnya.

Kedua,  Guru hendaknya memiliki niat dan kemampuan yang kuat dalam hal penguasaan komputer dan media pembelajaran. Saya kira, penguasaan dasar-dasar Microsoft Office Word, Microsoft Excel dan Power Point sudah cukup memadai bagi seorang guru.  Diakui atau tidak ini memang sulit, karena terkadang guru harus berbenturan dan membagi  waktu antara urusan keluarga dan kewajiban sebagai guru. Faktor usia juga menghambat upaya ini. Tak mungkin juga memaksakan jika seorang guru yang sudah berusia lanjut harus bisa menguasai aplikasi Word dan Excel tadi. Ketersediaan prasarana penunjang misalnya jaringan internet dan buku-buku untuk belajar komputer menjadi kendala besar, khususnya untuk daerah-daerah pedalaman. Kalau dibilang guru yang sudah sertifikasi tidak punya komputer/laptop saya kira alasan berlebihan, karena gaji guru saat ini sudah lebih dari cukup untuk membeli notebook yang bisa dibeli pada kisaran minimal harga Rp 2,5 jutaan. Hanya tinggal bagaimana kemauan diri saja lagi, mau belajar atau tidak.

Ketiga, Masih terkait dengan poin di atas, Kelompok-kelompok kerja guru hendaknya kreatif dan tidak monoton membahas masalah-masalah pengajaran saja, sesekali sebagai penyegaran, perlu juga diberikan pelatihan-pelatihan pengenalan komputer plus pemakaian media pembelajaran yang ada misalnya cara penggunaan proyektor. Berat rasanya jika mengharapkan pihak dinas terkait untuk memberikan bimbingan pelatihan lanjutan, karena pada prinsipnya “Bukan Zamannya Lagi Memberikan Ikan yang Sudah Masak” kepada guru.

Keempat, Perlu pengawasan yang lebih ketat terhadap sekolah dan kepada oknum guru yang terindikasi malas tadi, baik oleh Kepala Sekolah, Pengawas maupun masyarakat sekitar yang notabene lebih mengetahui kondisi sekolah. Keadilan antara guru sertifikasi dan non sertifikasi perlu diperhatikan, jangan sampai terjadi kesenjangan yang lebar dan ujung-ujungnya muncul iri diantara sesama guru.

Kelima, Pemerintah, diharapkan agar lebih lagi memperhatikan sekolah-sekolah di daerah pedalaman, baik dalam hal penyediaan sarana maupun prasarana sekolah. Dibutuhkan kerjasama semua instansi pemerintah, karena secanggih dan semodern apapun sekolah, misalnya jika kondisi jalan yang rusak dan sarana transportasi yang kurang memadai juga berdampak pada keadaan sekolah.

 

  1. Profesionalisme Guru

Secara hakiki,  guru adalah kelompok orang-orang yang berkulitas dan kreatif, tetapi karena jarang diasah dan dibiasakan maka kemampuan yang mereka miliki tidah dapat berkembang sebagaimana seharusnya. Seorang guru yang memiliki kemampuan tinggi dapat berkembang jika mereka dapat mengasah kemampuannya dengan baik dan terarah. Sebagaimana ibarat sebuah pisau yang diasah akan lebih tajam dan berguna. Akan tetapi, pengasahan kemampuan seorang guru harus benar-benar terarah agar kemampuan yang terpendam tersebut memunculkan aura positif terhadap dunia peserta didiknya. Ibarat pisau lagi, semakin sering di asah secara semabarangan, pisau itu akan semakin mengecil dan menipis. Dan semakin sering pisau itu digunakan, apalagi digunakan pada sesuatu yang bukan kegunaannya, maka pisau itu pun lama-lama akan menjadi tumpul. Kias ini harus kita renungkan dengn baik, agar tidak sembarangan atau serampangan membikin sebuah aturan terhadap dunia guru, di mana aturan tersebut malah membuat dunia guru menjadi miskin dan bersampah.

Jadi profesionalisme guru adalah menuntut para guru untuk meningkatkan kualitas dirinya maka sudah seharusnya guru secara terus menerus meningkatkan dan mengasah kemampuan yang dimilikinya dengan tepat sehingga benar-benar menjadi berkualitas dibidang profesinya. Maka jalan terbaik, meningkatkan daya kreasi secara signifikan dengan tugas dan tanggung jawab yang diembannya sehingga secara langsung menunjukkan eksistensi diri di lingkungan kerjanya, baik di depan teman sejawat, maupun terhadap atasannya.

Bagaimanpun juga jika seseorang dapat menunjukkan kualitas dirinya secara baik, maka hal tersebut dapat menposisikan dirinya pada pola kehidupan seorang guru yang intelek di hadapan masyarakat secara umum. Dari itu mulai sekarang guru dapat mengasah dengan sebaik-baiknya tanpa harus menghubungkan dengan program sertifikasi. Sebab peningkatan kualitas diri sebenarnya merupakan satu keharusan bagi setiap guru guna meningkatkan kompetensi mereka dalam upaya mencerdaskan kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Untuk itu, perangkat aturan untuk menuju dunia guru yang berkualitas dalam tataran ideal sebenarnya telah cukup bila kita, para guru, tidak melencengkan niatan awal bahwa mengajar bukanlah untuk mengejar finansial, tetapi finansial adalah efek lanjutan daripada kompetensi dan profesioniltas seorang guru. Artinya, bila seorang guru telah mencapai tingkat kompetensi yang baik dan bertindak secara profesional, maka imbalan materi dengan sendirinya akan kita dapatkan.
Pasal 7 Undang-Undang Nomer 14  Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, menyatakan: Profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut:

  1. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme
  2. Memiliki komitmen untuk meningkkatkan pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia
  3. Memiliki kualifiksi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas
  4. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas
  5. Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan
  6. Memperoleh penghasilan yang ditentuka sesuai dengan prestasi kerja
  7. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat
  8. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan
  9. Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitaan dengan tugas keprofesionalan guru.

 

Galipnya, seorang guru yang telah memperoleh pengakuan guru profesional dengan ditandai oleh sertifikat pendidik, tidak akan membentur ketentuan yang ada pada pasal dan ayat-ayat di atas. Namun, karena dalam memperoleh sertifikat tersebut diwaranai dengan niat dan perbuatan yang kurang baik, misalkan diniatkan untuk kebutuhan finansial; dalam memenuhi fortofolio mereka membeli sertifikat-sertifikat seminar, lokakarya, serasehan, dan lain-lain, padahal sebenarnya tak ikut kegiatan itu; penambahan fiktif jam pelajaran, dan semacamnya, maka sebagian guru kita jauh dari prinsip-prinsip keprofesionalan.

Mari kita lihat fakta berikut yang ada di lapangan selama kurang lebih 12 tahun saya menjadi tenaga pendidik: (1). Berdasarkan pantauan saya terhadap sekolah-sekolah dan madrasah-madrasah ditambah hasil wawancara dengan kepala sekolah dan madrasah tersebut, ternyata masih ada beberapa oknum guru yang kurang professional, padahal sudah memiliki sertifikat pendidik, namun masih sering terlambat untuk mengajar di kelas. (2). Persiapan mengajar yang kurang, indikasi ini terlihat dari masih malasnya guru untuk membuat dan membawa perangkat mengajar yang dibutuhkan saat mengajar, misalnya RPP dan Silabus yang seharusnya dibawa pada saat mengajar. (3). Masih ada guru bersertifikat, terlihat keluyuran pada jam kerja sekolah. Saat ini sepertinya ada anggapan di kalangan guru bahwa guru itu tugasnya hanya mengajar di kelas. Setelah jam mengajar selesai, hilang. Ya ini sebuah fakta, ucapan dari seorang oknum guru pasa saya begini, “yang penting kan tugas saya mengajarkan mata pelajaran ini sudah selesai”. (4). Sudah menjadi rahasia umum di kalangan guru, RPP, silabus dan perangkat mengajar adalah hasil copy paste, maupun  membeli hasil unduhan dari internet lalu mengupah seseorang untuk mengeditnya.  Kemudian Guru mengubah nama sekolah, nama kepala sekolah dan nama pengajar yang ada. Saya sendiri bingung dan masih bertanya-tanya, apakah memang sudah aturan bahwa RPP dan SILABUS dibuat dan dikumpul sekaligus  per Semester tahun ajaran lalu dikumpulkan ke Kepala Sekolah untuk ditandatangani? Ini banyak terjadi. Jika memang demikian, hal yang wajar, jika akhirnya seorang guru mengambil jalan pintas, copy paste atau membeli tadi. Padahal menurut pengetahuan yang saya dapatkan di bangku kuliah, tugas membuat RPP dilakukan per pokok bahasan pada saat bahasan itu akan di ajarkan di kelas. (5). Masih banyaknya guru yang gaptek (gagap teknologi) serta kurangnya penggunaan media pembelajaran. Yang saya maksud gaptek disini adalah, pengetahuan dan praktek keseharian serta kemampuan seorang guru dalam menggunakan media komputer, media pembelajaran serta jaringan internet yang ada. Di tempat saya mengajar, saya tidak bisa mengatakan secara pasti ada berapa orang. Namun terlihat, hanya beberapa guru saja yang sering membawa dan mengoperasikan laptop untuk keperluan pembelajaran. Selain itu, (hubungannya dengan point 4 di atas) sudah menunjukkan sejauh mana tingkat kemampuan seorang guru dalam mengoperasikan komputer. Bagaimana mungkin seorang guru yang tidak bisa menggunakan komputer bisa membuat RPP, Silabus, ProTa maupun ProMes dalam waktu singkat? Media pembelajaran, sebagai contoh KIT IPA banyak terbengkalai dan mubazir karena tidak digunakan, banyak bantuan media-media pembelajaran tersebut yang tidak digunakan, entah karena malas atau tidak bisa menggunakan, hanya guru tersebut yang bisa menjawabnya. Jaringan internet yang adapun hanya segelintir guru saja yang mau menggunakan, itupun di saat ada keperluan.

Mengapa hal-hal demikian di atas bisa terjadi? Barangkali jawaban yang bisa kita sampaikan antara lain : (1). Kurangnya kesadaran dan tanggung jawaguru dalam menjalankan tugasnya. Padahal tanpa disertifikasi pun seharusnya seorang guru mampu menjalankan amanah dan tanggung jawabnya sebagai seorang guru dan khususnya sebagai PNS abdi negara dengan segala daya dan kekurangan yang ada. (2). Kurangnya wibawa Kepala Sekolah. Terlihat bagaimana seorang Kepala Sekolah terkadang membiarkan guru terlambat dan tidak membuat perangkat mengajar tanpa memberikan teguran dan sanksi yang jelas dan tegas, salah satu efeknya…  muncul kecemburuan antara guru yang sudah sertifikasi dan non sertifikasi.  (3). Pengawas Sekolah kurang optimal menjalankan fungsi kepengawasannya. Bisa dikatakan pengawas mengadakan kunjungan paling-paling 4-6 bulan sekali, atau Inspeksi Mendadak hanya pada saat setelah libur Idul Fitri. Praktis sangat jarang seorang pengawas mau berkunjung ke sekolah. Fungsi pengawas saya kira sangat penting, terlebih saat fungsi kepemimpinan Kepala Sekolah tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka Pengawas Sekolah kiranya bisa mengambil tindakan atau kebijakan yang dianggap perlu untuk kepentingan sekolah[11]. (4).Masih minimnya kemauan dan motivasi seorang guru untuk mengenal dan mempelajari lebih jauh teknologi, alat dan media pembelajaran yang tersedia. Banyak alasan yang mengemuka mengapa bisa demikian, antara lain; sulitnya membagi waktu antara mengajar, urusan keluarga dan urusan masyarakat; usia rata-rata guru juga berpengaruh, tentu berbeda antara guru yang tua (usia 45 tahun keatas) dengan guru yang masih muda dalam hal menangkap ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru, misalnya dalam mempelajari penggunaan komputer; masih ada guru yang takut, takut laptop/komputer rusak, jika terjadi kesalahan; di beberapa daerah pedalaman masih kekurangan prasarana yang memadai seperti listrik, jaringan komunikasi / internet mobile.  5. Kurangnya tindak lanjut upaya pengembangan diri dari Dinas Pendidikan dalam hal pelatihan.

Setiap tahun baik itu dinas pendidikan propinsi maupun kabupaten sering mengadakan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru. Sebagai contoh, berbagai macam bantuan barang media pembelajaran telah diberikan. Namun bisa dilihat di lapangan, media atau alat pembelajaran tadi mubazir, karena jarang bahkan tidak digunakan. Pertanyaannya? Apakah hal seperti ini tugas Dinas Pendidikan, ataukah guru itu sendiri yang harus memiliki kesadaran.

Salah satu upaya pengembangan kompetensi guru  sebenarnya sudah berjalan melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan Kelompok Kerja Guru (KKG), namun  pemantauan saya, beberapa kelompok kajian guru tadi ada yang jalan ditempat bahkan mandeg. Sebuah pemandangan sedap bila kita memperhatikan papan nama MGMP dan KKG tertulis masih bercat bersih, tapi isi dalam ruang di dalam tak ada kegiatan spektakuler untuk memperbaiki keprofesionalan guru-guru tanah air. Yang jamak saya temui adalah arisan ibu dan bapak guru setiap ada pertemuan di ruang tersebut.

Dari berbagai permasalahan di atas, dan melihat standar mutu guru di tanah air tercinta ini yang semakin mendekati titik nadir, nampaklah sampai sejauh mana tujuan tunjangan tambahan dan sertifikasi pendidik tadi, belum bisa dikatakan berhasil. Malah ada yang mengatakan gagal. Mereka yang berasumsi gagal tadi bisa jadi setelah melihat hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) Online yang baru-baru ini digelar serta nilai Ujian Akhir yang tidak ada bedanya bahkan menurun antara era sebelum ada sertifikasi pendidik dan setelah ada Sertifikasi Pendidik.

Dari untaian butir-butir dari pasal Undang-Undang Guru dan Dosen di atas, praktis yang berlaku bagi kalangan pemangku pendidikan di tanah air kita adalah hanya ayat ke (f) yang telah di potong enam kalimat terakhirnya, yaitu memperoleh penghasilan … Sungguh sebuah gejala yang tak cukup diratapi, tetapi bagaimana hal itu menjadi lecutan kita untuk saling berbanah.

***

 

 

PERTARUHAN KEJUJURAN SEORANG GURU

Sekolah atau madrasah, apapun jenis sekolah atau madrasah itu, sejatinya adalah tempat disemaikannya nilai-nilai kebaikan, yang memberi manfaat untuk perbaikan akhlak mulia, moral atau etika siswa. Tapi mengapa kini kasus ketidakjujuran akademis mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi menjadi makin marak? Meski dengan kadar pelanggaran yang berbeda, apakah ada sesuatu yang keliru dengan pola pendidikan untuk anak-anak bangsa ini?

Masih ingatkah kita dengan seorang ibu dari Surabaya yang anaknya dipaksa oleh oknum guru di sekolahnya untuk memberi bantuan contekan pada teman-temanya saat ujian nasional? Meski ibu Siami, demikian nama seorang ibu itu yang mengungkap kecurangan, mengambil resiko keluarganya dibenci masyarakat dan terusir dari kampungnya, namun kini Alifa’ Ahmad Maulana, sang anak yang akrab dipanggil Alif itu menikmati masa SMP-nya di sebuah sekolah swasta di Kota Baru, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dengan nyaman.

Saya mencoba menampilkan Narasumber Kick Andy yang insya Allah sangat relevan dengan subtema yang akan saya bahas. Yang akan saya tampilkan ke hadapan pembaca  adalah sosok-sosok yang “membayar mahal” atas kejujuran yang telah mereka lakukan. Salah satunya, Nur Hidayatusholihah, seorang siswi di SMA Muhammadiyah 1 Kali Rejo, Kabupaten Lampung Tengah, tiga kali tidak lulus ujian nasional (UN). Padahal, peserta didik tersebut selalu menjadi juara kelas di setiap tahunnya.. Nur yang akrab dipanggil Aya ini adalah murid berprestasi. Namun, juara kelas ini harus tiga kali mengulang ujian nasional untuk bisa lulus SMA. Tujuannya hanya satu: ia tak mau mendapatkan ijasah kelulusan dengan cara curang, tetapi lulus dengan kemampuannya sendiri. Walau sempat dicemooh oleh teman-teman dan tetangga di lingkungan rumahnya, namun Nur bergeming. Baginya, kejujuran dengan mendapatkan ijasah ‘halal’ adalah modal utama untuk menjalani masa depannya kelak.

Praktek beberapa oknum pendidik dalam menjual lembar jawaban soal ujian nasional sudah bukan menjadi hal yang baru di tengah masyarakat. Meski melanggar, namun banyak pihak sekolah yang rela membantu siswa-siswi-nya agar bisa lulus ujian. Seperti kasus yang terjadi di Medan Sumatra Utara pada tahun 2007 lalu. Pihak sekolah terbukti memberikan kunci jawaban pada siswa saat ujian nasional berlangsung. Kecurangan itu terungkap berkat kesaksian seorang guru, Daud Hutabarat. Bagi Daud Hutabarat menjadi guru bukanlah menjalani pekerjaan, tetapi merupakan panggilan hati. Menyaksikan sendiri kecurangan yang dilakukan oleh pihak sekolah dan murid-muridnya saat ujian kelulusan membuat hatinya tercabik-cabik. Tercatat ia sudah 4 kali keluar masuk berbagai sekolah sebagai tenaga pengajar. Alasan ia keluar pun semua karena adanya pembiaran praktek kecurangan oleh pihak sekolah saat berlangsungnya ujian. Ia merasa seakan sudah gagal menjadi seorang pendidik. Walau harus mempertaruhkan karirnya sebagai guru, Daud bersama beberapa guru membentuk Komunitas Air Mata Guru. Tujuannya adalah berupaya untuk menolak segala jenis kecurangan saat ujian kelulusan dengan mengadukan kecurangan yang terjadi kepada dinas pendidikan dan lembaga terkait.

Winda dan Aswari selalu mengajarkan pentingnya arti kejujuran kepada anak mereka, Muhammad Abrary Pulungan. “Kami diminta membuat kesepakatan tertulis untuk kasih jawaban saat ujian kepada teman-teman. Dan dilarang untuk memberitahukan kepada siapapun, orangtua, keluarga, teman, apapun yang terjadi saat un (Ujian Nasional)- sampai kami dewasa. Maksudnya adalah untuk tutup mulut. Kalau saya membocorkan rahasia ini, saya akan mendapatkan hukuman berat,” kata Abrary. Namun, kejujuran itu membuat Abrary dibenci dan dikucilkan oleh teman-teman dan guru-guru di sekolahnya. Pasalnya, Abrary mengadukan bahwa dirinya dipaksa untuk membuat komitmen contek massal bersama dengan teman-temannya saat ujian kelulusan SD. Winda pun mengadukan kasus tersebut ke Dinas Pendidikan, serta beberapa instansi hukum dan anak. Namun, hingga kini hasilnya nihil. Kisah yang dialami Muhammad Abrary Pulungan, dan perjuangan ibunya didokumentasikan ke dalam sebuah film dokumenter berjudul “Temani Aku Bunda” yang dibuat oleh Tim Produksi Yayasan Kampung Halaman.[12]

Bukan suatu hal yang mustahil jika dugaan saya benar bahwasanya kecurangan-kecurangan tersebut telah menggurita diseantero negeri. Dari Sabang sampai Merauke. Berjajar membelasah onggokan ketidakjujuran sistem pendidikan kita, dari masalah UN, Sertifikasi, Plagiat karya ilmiah, teror buku pelajaran disesaki kalimat-kalimat porno dan sebagainya.

Baru-baru ini masih segar dalam ingatan kita bagaimana gelar seorang professor dicabut di perguruan tinggi negeri tanah air kita karena plagiat. Juga pegguruan tinggi negeri yang lain membatalkan gelar Doktor yang hendak diraih oleh dosennya sendiri karena ketahuan memplagiat laporan mahasiswa S1-nya. Dan, jika saya terus tarik lebih ke bawah pada jenjang S1 dan S2, praktik-praktik tak terpuji itu adalah suatu hal yang lumrah bagi calon-calon sarjana di tanah tumpah darah Indonesia ini. Penelitian yang saya lakukan kepada 10 informan S2 di tempat kelahiran saya, ada 6 orang yang menyuruhkan menyelesaikan tesisnya pada orang lain, 4 orang dengan cara instant, yakni men-copy-paste karya tesis teman dan laman-laman di internet dengan sekedar perubahan judul saja. Praktis ke 10 informan tersebut tak satu pun susah-payah mengarang dengan olah kata dengan pikiran sendiri. Dan 7 dari informan tadi telah mengajar di jenjang S1 sedangkan 3 yang lain mengajar di sekolah menengah.

Pertanyaannya, jika para dosen dan guru terebut telah mengkhianati kejujuran membuat karya tulis ilmiah, lalu bagaimana dengan para mahasiswa dan siswanya nanti? Dan jika perbuatan-perbuatan plagiat ini terus berlanjut, si mahasiswa menjadi sarjana dengan cara serupa, kemudian si siswa menjadi mahasiswa dengan cara-cara serupa pula, kita bayangkan, bagaimana nasib bangsa ini 50 atau 100 tahun yang akan datang? Jawab bukan ada pada saya, tapi ada pada kita. Ya, kita semua komponen bangsa ini.

Ada kisah menyedihkan di alami saya sendiri. Dari 2003 lalu, waktu saya baru menyelesaikan pendidikan S1, hingga saat ini, saya telah membantu menyelesaikan tugas akhir mahasiswa tak kurang dari 20 mahasiswa yang telah menjadi sarjana. Saya lakukan dengan niat benar-benar membantu keterbatasan mereka dalam membuat karya tulis ilmiah, bukan bermaksud profit karena saya tak mengambil bayaran sebagaimana calo-calo dosen yang dengan sengaja menyediakan kesempatan ini demi keuntungan semata. Saya latih mereka bagaimana menulis yang baik. Saya beri cara-cara praktis menyusun kalimat-kalimat dasar sebagai pijakan dapat menulis  lebih lanjut. Saya latih cara-cara membikin judul, alasan memilih judul, rumusan masalah, metode penelitian, cara mengutip karya orang lain atau mengadaptasi tulisan orang lain, dan sebagainya. Di sela-sela itu, kemudian saya wawancarai mereka, bagaimana dengan teman-teman yang lain? Semuanya menjawab, yang lainnya lebih parah mengerjakan tugas akhir, yakni dengan cara-cara membeli dan atau dengan cara copy-paste. Saya mengelus dada, apa sih orientasi mereka kuliah kemudian memperoleh gelar sarjana jika menulis laporan sendiri saja tidak tahu? Ternyata, jawaban ini baru saya dapatkan setelah menggarap tulisan ini, yaitu syarat sertifikasi yang berujung pada cara mendapatkan finansial. Sekali lagi, kejujuran elegan dengan bermaksud mengembangkan ilmu pengetahuan demi peradaban gemilang hanya tinggal kultus atau bahkan mitos, yang semuanya tenggelam dalam sistem pendidikan kapitalis materialistis.

Dengan mengutip republikaonline,[13] di Bogor dan Samarinda telah beredar buku paket bahasa Indonesi kelas V SD/MI berdimensi pornografi, karena ada susunan kalimat di dalam konten buku tersebut yang tak sesuai dengan siswa seumuran kelas V. Saya penasaran dengan keberadaan buku itu, ternyata buku tersebut di terbitkan oleh sebuah penerbit di kota Bogor yang penulisnya jelas-jelas bernama dengan nuansa islami. Nyata sekali kalimat yang dipopulerkan oleh sastrawan dan dramawan Inggris abad XVII, William Skespaere ada benarnya, ‘apa artinya sebuah nama’, jika memang berjiwa suu’ maka sebuah nama tak ada manfaatnya. Lihat saja Nashiruddin, Mohammad Fathonah, Helmi, Hasan, dan sebagainya. Bukankah nama-nama islami yang kini terkait dengan korupsi? Yang jelas, mereka hasil keluaran sekolah kita juga, utamanya sekolah-sekolah berbasis kelembagaan Islam. Agama kita yang manyoritas kena batu oleh para oknum pemeluknya. Padahal agama ini tak mengajarkan kekorupsian, malah terang sekali menyangkal dan mengharamkan perbuatan itu. Hanya gara-gara lemahnya pembinaan mental jujur dalam lembaga-lembaga tersebut, agama pun seolah ternoda.

Kini, pendidikan bangsa yang menjadi tanggung jawab nasional berbagai pihak ini menjadi pertaruhan eksistesi kita, para guru, dan  obyek target institusi-intitusi pendidikan harusnya menghargai hasil dengan tetap memelihra suatu proses, bukan instant, apalagi mentaruhkan kenikmatan dunia semata. Bapak Arief Rahman, praktisi dan pemerhati pendidikan telah  memberikan pemaparan yang gamblang mengenai hal tersebut. Dan sungguh, kejujuran kita, para guru sedang  menjadi taruhan. Kejujuran kalah, bangsa ini akan hancur, dan kejujuran menang bangsa ini akan beradab secara gemilang.

***

 

SERTIFIKASI DAN KOMPETENSI GURU

ANTARA FAKTA DAN DATA

 

“The devils are in the details adalah sebuah peribahasa yang menggambarkan, bahwa detail yang terlihat kecil dan sederhana bisa sangat berpengaruh terhadap hal yang lebih besar. Detail bisa menjadi sesuatu sangat penting. Hal tersebut juga berlaku di dunia pendidikan”.  Dhitta Puti Sarasvati[14]
Di dunia pendidikan, detail misalnya, adalah apa yang terjadi di dalam kelas, apa yang dibaca oleh siswa, kapasitas masing-masing guru dalam menyampaikan pembelajaran dan juga praktek pembelajaran (di dalam maupun luar kelas) itu sendiri. Itu semua sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan Indonesia secara keseluruhan. Apa yang siswa pelajari hari ini akan membentuk pemikirannya di masa yang akan datang.
Pada pembukaan Rembuk Nasional Pendidikan, sebagaimana saya kutip dari kompas.com edisi 3/3/2010, Pak Nuh (Menteri Pendidikan Nasional dan Kebudayaan) mengungkapkan, “Potensi-potensi yang berupa kekuatan batin, karakter, intelektual, serta fisik. Semua itu harus kita integrasikan menjadi sesuatu kekuatan dari sang anak,”
Sebenarnya, pernyataan Mendikbud tersebut dan berbagai slogan lainnya, seperti “Pentingnya Pendidikan Karakter” tidak ada artinya saat berbagai masalah dalam keseharian dunia pendidikan Indonesia tidak diperhatikan. Kasus seperti beredarnya Lembar Kerja Siswa (LKS) berkualitas rendah di sekolah-sekolah di Indonesia (termasuk di sekolah negeri), perefaran buku-buku paket berkonten porno dan kekerasan,  merupakan salah satu contoh bagaimana pemerintah lalai memperhatikan detail dalam kondisi pendidikan di Indonesia. Kasus terungkapnya materi LKS untuk siswa kelas 1 dan 2 SD mengenai “Istri Simpanan” dan “Si Angkri”, yang isinya tidak mendidik, hanya puncak dari gunung es. Para pengamat dan praktisi pendidikan sudah lama tahu mengenai beredarnya LKS dan buku pelajaran yang rendah kualitasnya di sekolah-sekolah di Indonesia. Mereka sudah memprotes masalah ini sejak lama, meskipun kasusnya belum terungkap seheboh sekarang.
Beberapa tahun lalu, saat Pendidikan Lingkungan dan Budaya Jakarta (PLBJ) masih bernama Pendidikan Lingkungan Kehidupan Jakarta (PLKJ), sudah ada materi ajar beredar di SD di Jakarta yang berisi mengenai pentingnya pusat perbelanjaan untuk warga kota. Di dalam salah satu buku yang digunakan untuk pengajaran di dalam kelas itu tertulis: “Dibangunnya pusat perbelanjaan yang non-tradisional (moderen) merupakan kebutuhan warga kota. Warga kota menghendaki keamanan dan kenyamanan berbelanja. Di kota-kota seperti Jakarta banyak dibangun pasar swalayan (supermarket). Pasar swalayan memenuhi kebutuhan masyarakat. Berbelanja di pasar swalayan akan merasa aman dan nyaman. Tempatnya bersih sejuk, serta pelayanannya memuaskan. Di sana tidak terjadi permainan harga sehingga pembeli tidak merasa dirugikan,” (http://mahkotalima.blogspot.com/2012/02/reposting-pendidikan-lingkungan.html). Di dalamnya juga disebutkan berbagai nama pusat perbelanjaan yang ada di Jakarta. “Tempat perbelanjaan moderen di Jakarta, misalnya Mall Kelapa Gading di Jakarta Utara, Plaza Senayan di Jakarta Pusat, Pasaraya Manggarai di Jakarta Selatan, dan Supermarket Hero,”[15] (
Penggunaan bahan ajar sebagai saya kutip di atas, sama sekali tidak membantu siswa untuk bisa menjadi lebih tercerdaskan. Kalaupun siswa ingin diajak belajar mengenai pusat perbelanjaan misalnya, seharusnya mereka diminta mewawancarai petugas kebersihan di sana, manajer, dan orang-rang yang terkait dengan masalah itu. Mereka bisa diminta untuk menganalisis jam kerja berbagai pegawai serta, misalnya, perbedaan gaji yang diperoleh kedua pihak.
Kasus semacam ini terjadi semenjak lama. Apakah pemerintah tahu hal ini? Apakah Pemerintah benar-benar tahu kondisi pendidikan Indonesia di lapangan? Beredarnya LKS dan buku pelajaran yang rendah kualitasnya sebenarnya sudah menjadi rahasia umum. Materi-materi semacam ini beredar di banyak sekolah di Indonesia. Lucunya, pemerintah seakan-akan kaget dengan hal ini. Mereka pikir ini adalah kasus khusus, yang tidak umum. Padahal, kejadian seperti ini bukan pertama kalinya terjadi. Entah mereka benar-benar tidak tahu (karena tidak pernah turun ke lapangan) atau mereka memang pura-pura tidak tahu.
Memang benar, di beberapa sekolah, guru sudah bisa membuat bahan ajar sendiri, seperti di SD Hikmah Teladan Cimahi (http://hikmahteladan.com/), SD Semi Palar Bandung (http://semipalar.blogspot.com/), dan berbagai sekolah lainnya, baik sekolah negeri maupun swasta. Tetapi, berapa persen guru yang memang memiliki kemampuan membuat bahan ajar sendiri? Apakah pemerintah memiliki database itu? Jangankan membuat bahan ajar sendiri, sejumlah guru bahkan belum tahu caranya memilih mana bahan ajar yang memang edukatif, dan mana yang tidak. Ini dikarenakan tidak semua guru memiliki literasi yang baik.
Menurut Ikatan Guru Indonesia (IGI), masih sering ditemui guru yang bahkan tidak membaca satu buku pun dalam sebulan. Dalam sebuah seminar IGI pada 2011 lalu, sekitar 500 orang guru mengaku tidak pernah membaca kurikulum. Mereka hanya mengandalkan buku teks yang ada. Boro-boro merancang bahan ajar sendiri! Ini fakta di non jauh di sana, di kota besar telah jumawa seperti itu, bagaimana dengan sikap guru-guru  di pelosok negeri terpencil ini? Pelacakan saya memang sangat memperihtinkan, di tempat saya mengajar, yaitu MTs dan SMA, semua guru yang ada tak satupun mempuyai buku-buku pembanding sebagai rujukan otoritatif, semua memakai buku-buku paket sejenis yang ada di sekolah, atau LKS yang beredar di sekolah. Tak pernah saya lihat ada guru memakai buku paket lintas penerbit atau lintas penulis. Nyaris buku-buku babon yang ada di perpustakaan sekolah hanya berhias debu karena sejak datang tak pernah disentuh para guru. fakta ini menggambarkan betapa literasi guru-guru Indonesia memang sangat rendah, bahkan menurut penelitian, terendah di negara-negara anggota ASEAN.
Meskipun begitu, sebenarnya banyak di antara mereka bersemangat meningkatkan kualitas dirinya. Sebab saya juga mempunyai beberap guru, saya sebut ‘beberapa’ karena dari per sekian ribu guru, hanya satu yang  seperti itu, mempunyai tingkat literasi yang tinggi sehingga mereka menjadi guru berkualitas dan menjadi penulis. Sayangnya, mereka tidak selalu terfasilitasi dengan baik. Untuk pemerintah sendiri, sebenarnya ada beberapa pertanyaan. Apakah pemerintah benar-benar tahu kondisi pendidikan di lapangan? Terlepas dari nilai guru pada hasil uji kompetensi guru, apakah pemerintah benar-benar tahu kapasitas guru yang sesungguhnya? Apakah pemerintah tahu bahwa masih banyak guru yang tidak bisa membuat bahan ajar sendiri?
Merasa sudah berbuat sesuatu? Memang, pemerintah sudah merasa “berbuat sesuatu” dengan menyeleksi berbagai buku pelajaran melalui Pusat Kurikulum dan Buku Kementerian Pendidikan Nasional (Puskurbuk). Tentu hal ini patut kita apresiasi. Tetapi, apakah hal tersebut berarti tanggung jawab pemerintah selesai? Apakah pemerintah boleh lepas tangan terhadap apa yang terjadi di dalam kelas?.Sebagaimana diberitakan di Kompas.com (12/4/2012), Diah Hariyanti (Kepala Puskurbuk) mengatakan, “Itu bukan tanggung jawab kami karena LKS diedarkan tanpa harus melewati seleksi Puskurbuk“. Jika ia bilang demikian, lalu bagaimana dengan peredaran buku-buku berkonten porno yang beredar di Bogor dan Kalimantan Timur? Seorang yang menduduki tepat strategis karena terkait dengan literasi anak bangsa, apiknya tak berbicara demikian. Pemerintah dalam setiap jenjangnya, dari pusat sampai daerah, harus selektif pada semua unsur pendidikan.
Tampaknya, yang dilupakan pemerintah adalah bahwa pemerintah terdiri dari berbagai komponen. Puskurbuk hanyalah salah satu komponen dari pemerintah. Baik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Dinas Pendidikan Tingkat Kota, Pengawas Sekolah, sampai guru-guru (khususnya yang bergelar PNS), juga merupakan bagian dari pemerintah. Dalam hal ini, mereka bertugas melayani peserta didik sebaik-baiknya, agar semua peserta didik bisa menjadi lebih cerdas dan berkembang potensinya.
Lalu, di mana fungsi pengawas sekolah? Sebenarnya di dalam sistem pendidikan Indonesia yang sekarang ada fungsi pengawas. Pengawas ini seharusnya bisa berperan banyak untuk mencegah penggunaan bahan ajar yang rendah kualitasnya dan mencegah pelaporan fiktif. Mereka harus memeriksa berbagai dokumen pembelajaran seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan bahan-bahan literasi untuk guru. Tak hanya itu. Mereka juga harus melakukan observasi untuk menilai Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di dalam kelas. Kalau observasi, analisa, dan hasil evaluasi mengenai KBM dilakukan secara benar, kasus seperti penggunaan LKS “Istri Simpanan” dan buku konten porno,  bisa dihindari. Setidaknya, pengawas seharusnya tahu sekolah mana yang masih menggunakan LKS atau buku pelajaran yang rendah mutunya. Mereka harus merekomendasikan buku lebih berkualitas dan malah seharusnya membantu meningkatkan kualitas guru, sehingga mereka bisa membuat bahan ajar sendiri. Mereka juga secara detail mengatahui perkembangan jumlah siswa yang tepat dari sekolah/madrasah yang mereka awasi.
Di sisi lain Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional harus mulai membuka mata. Mereka harus terus mengumpulkan data base berupa berbagai kondisi pendidikan di Indonesia (bukan hanya sekolah yang bagus), mengevaluasi kinerja pengawas sekolah, serta membantu meningkatkan kapasitas guru agar bisa menyeleksi dan membuat bahan ajar sendiri, yang bersifat edukatif tentunya!

Sertifikasi guru dan beragam kompetensinya seharusnya dapat menghilangkan fakta dan data kecurangan sistemik di lapangan pendidikan kita. Adanya pembocoran jawaban UN, adanya penggelembungan jumlah siswa yang ujung-ujungnya hanya demi bantuan (BKM. BKSM, BOS dan sebagainya), adanya copy-paste silabus, adanya copy-paste RPP, adanya ketidakmampuan guru dalam masalah literasi, adanya pelaporan fiktif terkait fungsi-fungsi batasan agar bisa memenuhi syarat 24 jam pelajaran per minggu, adanya LKS dan buku-buku paket berkonten amoral, adanya kasus perzinahan antara guru dengan murid, atau antara guru dengan guru, dan sebagainya disebabkan adanya sebagian guru yang tak kompeten untuk menjadi guru dan memaksa masuk ke dunia profesi keguruan. Malapetaka ini tidak bisa diatasi dengan program sertifikasi guru tanpa mengubah karakter dan orientasi, yaitu sebuah karakter pendidik yang berorientasi pada niatan keilmuan semata, bukan pada orientasi finansial.

Teramat sulit mengubah karakter dan orientasi yang telah dibentuk puluhan tahun. Teramat banyak perubahan yang harus dilakukan dari hulu sampai ke hilir sistem pendidikan bangsa kita. Mulai dari silabus untuk calon-calon pendidik, mencari calon pendidik, proses calon pendidik menuntut ilmu di suatu LPTK, karakter LPTK itu sendiri, dan cara-cara rekrumen calon pendidik nantinya. Itu semua harus terintegrasi dengan baik dan harus ditangani dengan serius.

Fakta yang terjadi kini tak menjamin perubahan karakter dan orientasi untuk  menjadi guru yang baik. Dari segi kurikulum di LPTK misalkan, masih adanya ketumpangtindihan atau pengulangan bahan kuliah dengan pelajaran di SMA. Dunia perkuliahan yang semestinya diperkuat dengan berbagai penelitian dan observasi lapangan, apa pun jurusan si calon guru tersebut, malah dipenuhi oleh bahan kuliah pendiktian dan penceramahan. Jika sistem ajar di LPTK di seluruh Indonesia masih terus berkutat dengan hal itu maka untuk membentuk karakter guru peneliti tentu tak akan bisa. Ini yang pertama.

         Kedua, mencari calon-calon guru yang memang mempunyai niat untuk menjadi tenaga pendidik tentu keharusan yang harus dipatenkan. Fakta di lapangan bahwa banyaknya calon guru kuliah di berbagai perguruan tinggi yang bukan hanya LPTK tentu fenomena yang sangat merisaukan. Bagaimana mereka dapat menjadi guru yang berkarakter dan berorientasi keilmuan semata sementara dasar-dasar untuk menjadi guru saja mereka tak ada? Barangkali cara-cara rekrument calon-calon guru perlu kita mencontoh Malaysia sebagaimana pernah saya bahas di bagian kain buku ini.

          Ketiga, membikin LPTK yang harus berkarakter kuat dan berorientasi masa depan. Saya tulis kata ‘membikin, sebab memang kenyataannya LPTK yang ada di tanah air sebagian besar belumlah lembaga yang berkarakter kuat yang siap mencetak tenaga kependidikn punya karakter kuat pula. Fakta di lapangan berbicara bahwa LPTK-LPTK kita telah mencetak tenaga-tenaga pendidik miskin kreatifitas dalam segala aspek. Hal ini dimungkinkan sebab para pengajar di LPTK itu juga tak berkarakter kuat dan orientasinya demi pengembangan ilmu semata,  sama sekali tak muncul.

          Keempat, cara-cara rekrumen yang transparan dan sesuai  dengan panggilan jiwa untuk menjadi guru merupakan kebutuhan mendesak untuk mengubah karakter guru dari semula berbentuk instant menjadi kerakter kuat. Fakta yang selama ini menjadi rahasia umum di lingkungan dunia keguruan, atau mungkin di dunia profesi yang lain,saya tidak tahu, seperti kata-kata ‘150 juta bisa jadi guru PNS, tanpa itu jangan mimpi deh!’, haruslah diberantas dengan cara apa pun.

Dalam hal rekrumen tenaga kependidikan ini kaitannya dengan sertifikasi, saya sepakat dengan teman guru saya di SMA 1 Annuqayah Gulukguluk, Subaidi Mukhtar. Waktu saya melacak bahan-bahan yang ada dalam buku ini, saya bertemu dia    dan kemudian terjadi perbincangan secara mendalam terhadap dunia pendidikan kita. Dia bilang ‘saya tak pernah setuju dengan cara-cara rekrumen guru PNS dan kaitannya dengan sertifikasi. Merekrut guru PNS harusnya transparan dan diketahui betul tingkat kapabelitasnya untuk dijadikan guru. Guru PNS harus telah mencapai tingkat kompetensi yang tinggi sebelum mereka diangkat menjadi guru. Jadi karena mereke telah mencapai tingkat kompetensi yang baik, maka sertifikasi telah melekat pada SK mereke sebagai PNS, dan hal ini tak diperlukan lagi sertifikasi guru sebagaimana kini. Sertifikasi ini difokuskan saja pada guru-guru swasta yang sudah pasti mereka memang belum kompeten menjadi guru’. Apa yang diungkap oleh sejawat  saya adalah kegelisahan menyangkut ketidakadilan sertifikasi dan kesimpang-siuran kompetensi guru. Tentu, pemerintah harus berpikir ulang bagaimana membuat rasa keadilan benar-benar sesuai dengan nilai Sila ke dua dari fahsafah negara kita, Kemanusiaan yang adil dan beradab.

***

ARAH BARU GURU INDONESIA

Kini saatnya kita, sebagai guru harus mempunyai arah masa depan yang pasti dan jelas, mau kemana anak cucu kita di tanah air ini akan kita bawa. Dan saatnya pula kita beranjak dari kekarut-marutan sistemik dari dunia pendidikan kita, jika memang berhasrat untuk menjadi bangsa besar yang berwibawa, yang selalu disegani dan dihormati bangsa-bangsa lain. Kita harus terus memupuk idealisme dan merefresh niatan kita, agar dalam menyogsong arah baru guru Indonesia, kita dapat berpartisipasi dengan sangkal dan mangkus, dan dapat segera berpacu untuk berkompetisi dengan berbagai guru di seluruh dunia demi peradaban gemilang bangsa kita yang selalu dicita-citakan untuk kita raih, walau jalan di depan kita teramat terjal dan beliku.

Kita pun harus segera mahfum, bahwa pendidikan merupakan pilar tegaknya sebuah bangsa, karena melalui pendidikanlah bangsa akan mampu menjaga martabatnya. Dalam Undang-Undang,  Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sebagaimana telah sering saya kutip, Pasal 3 disebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab”. Dengan kata lain, pendidikan adalah kunci utama yang menentukan maju atau mundurnya bangsa Indonesia.

Dalam UU di atas sebenarnya telah jelas bagaimana kita membawa dunia pendidikan bangsa ini ke depan. Dalam pasal 3 tersebut telah ada prasa kunci, yaitu ‘membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat’ yang bisa memupuk idealisme dan niat suci kita untuk sama-sama bagaimana cara mengelola sistem pendidikan ini dengan apik. Tetapi sayanng, kita terus-terusan terjebak dalam dunia autopia yang dipenuhi oleh berbagai wacana kosong tak menyentuk fakta dan tak bisa diimplimentasikan di dunia nyata. Kita terjebak pada tataran teoritis dan bualan. Kita berjalan hanya di dunia mimpi. Jika berbicara masalah teori pendidikan, Indonesia memang jagonya. Bagaimana tidak? Sekitar tahun 1960-1970 Indonesia mengirimkan tenaga pendidiknya “guru” ke Malaysia atas permintaan pemerintah Malaysia dengan pertimbangan kualitas guru di Indonesia sangat baik. Tidak hanya Malaysia, Singapura dan Thailand pun mengakui kualitas pendidikan kita, sehingga mereka ikut beramai-ramai belajar ke Indonesia. Bagai air yang terus mengalir dan mengikuti lajunya waktu, lantas bagaimanakah potret wajah pendidikan Indonesia saat ini?
Fakta membuktikan, Indonesia belum mampu mempertahankan kualitas pendidikannya untuk membentuk watak bangsa yang beriman dan berakhlak mulia. Hal ini terlihat jelas dengan banyak adanya tindak kekerasan, tawuran pelajar dan yang tidak kalah peliknya permasalahan bangsa Indonesia adalah terorisme dan KKN yang merajalela.

Seperti yang termuat dalam harian Bali Post edisi 19 Oktober 2011, dan semakin banyak contoh yang lain saat ini (2013), seorang oknum kepala sekolah pada salah satu sekolah dasar di Denpasar, melakukan tindakan penipuan dan harus terbaring lesu di balik jeruji besi selama 6 bulan. Inikah figur yang patut ditiru oleh generasi penerus bangsa Indonesia? Mau dibawa kemana arah pendidikan Indonesia? Resapilah sebuah pepatah lama ini, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, artinya, guru merupakan sosok yang patut digugu dan ditiru atau menjadi teladan. Apabila guru berbuat satu hal yang tidak terpuji, maka siswa akan menirunya dengan melakukan seribu hal yang lebih tidak terpuji.

Rupanya pepatah ini benar adanya, sebagaimana terungkap dalam acara Warung Global yang disiarkan Radio Global FM 96,5 FM, 18 Oktober 2011 lalu, dan kejadian itu sampai kini bukan semakin surut, malah tambah faktual, “Siswa sekarang semakin pintar dan kreatif dalam melakukan hal-hal negatif. Bukannya fokus pada pelajaran malah bekerja sampingan sebagai preman, prostitusi, memalak. Menambah kelam sejarah pendidikan di Indonesia. Kurikulum yang amburadul, sekolah mencari untung, proyek disunat, tidak adanya pelajaran karakter dan budi pekerti, inilah hasilnya. Tidak ada gunanya kecerdasan tanpa moral.” Apakah ini yang menjadi cita-cita bangsa Indonesia? Jawabannya, tentu tidak. Kita pasti tidak menginginkan hal ini terus berlanjut dan harus dicarikan jalan keluarnya. Sebuah jalan keluar yang benar-benar cemelang dan terarah, bukan bualan semata yang selama ini telah diwacanakan oleh sebagian teoritis bangsa kita.

Para pakar pendidikan yang bernat demi pengembangan ilmu itu sindiri, telah banyak berlomba merumuskan teori dan menawarkan solusi yang terbaik guna menyelesaikan masalah tersebut. Akhirnya, ditemukanlah alternatif pemecahannya, yaitu melalui pendidikan berkarakter[16] yang dicanangkan sebagai langkah pencegahan untuk menghindarkan generasi penerus bangsa melakukan tindakan-tindakan tidak terpuji. Hal tersebut sesuai dengan surat edaran menteri pendidikan yang tertuang dalam Inpres No. 1 tahun 2010, “ yang menekankan pembentukan daya saing dan  sebuah jalan keluar yang benar-benar cemelang dan terarah, bukan bualan semata yang selama ini telah diwacanakan para teoritis bangsa kita. Karakter bangsa ini, adalah pendidikan berkarakter yang dimaknai sebagai pendidikan nilai, budi pekerti, moral dan watak, yang tujuannya mengembangkan kemampuan siswa itu dalam segala hal yang positif, memelihara apa yang baik itu, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Pendidikan berkarakter ini meliputi 18 nilai karakter bangsa, yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli sosial dan lingkungan, serta tanggung jawab.

Dalam tataran pemikiran, lagi-lagi masih di dunia awang-awang, sungguh sempurna dan ideal program ini. Selang tiga tahun sudah Inpres No. 1 tahun 2010 itu ada, dan sampai kini bangsa kita masih terus berkutat dengan berbagai sistem bobrok, baik yang dimunculkan anak didik, guru-guru, ataupun birokrasi sekalipun. Sampai kini, saya kira, kita masih bingung pada siapa pendidikan karakter itu dipertanggungjawabkan, sehingga sering berkelindan pertanyaan, tanggung jawab siapakah pendidikan berkarakter tersebut? Pemerintah, sekolah, masyarakat atau siapa? Hemat saya, tanggung jawab ini bukanlah milik siapa-siapa, melainkan semua pihak ikut terlibat secara proaktif, mulai dari lingkungan keluarga, kemudian dilanjutkan di tingkat sekolah dan masyarakat.

Pertama, di lingkungan keluarga, orang tua seharusnya memberikan contoh dalam bentuk tindakan nyata, misalnya membiasakan diri bangun pagi, membuang sampah pada tempatnya, menata lingkungan rumah dengan baik, beribadah sesuai agama yang dianutnya, menghindari KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) yang semuanya itu diimplementasikan dalam bentuk perbuatan yang berkelanjutan, sehingga orang tua benar-benar menjadi figur yang patut dicontoh oleh anaknya. Kesan selama ini yang terjadi adalah orang tua sibuk di luar rumah, sementara anak sibuk di luar sekolah. Hal ini merupakan tantangan besar keluarga, karena di sinilah sesungguhnya tempat pendidikan yang pertama dan utama bersemai. Bila persemaiannya bagus maka tumbuh kembang pun juga bagus.

Kedua, kemudian peran sekolah. Hal ini tentu menjadi tanggung jawab semua warga sekolah. Guru sebagai ujung tombak dalam pembentukan karakter siswanya, dituntut tidak hanya menyelipkan pendidikan berkarakter tersebut ke dalam silabus dan RPP saja, tetapi yang diperlukan oleh siswa adalah keteladanan guru bukan sekedar wacana semata. Ada pun penerapan yang paling sederhana dan dapat ditiru oleh siswa, salah satunya adalah guru membiasakan diri datang tepat waktu, bertutur kata yang sopan baik sesama guru maupun dengan siswa, memeriksa pekerjaan siswa dengan jujur. Sehingga, figur guru seperti inilah yang benar-benar bisa menjadi panutan bagi semua siswanya.

Ketiga, di lingkungan masyarakat, penerapan pendidikan berkarakter ini juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Tokoh masyarakat dan pemuka agama merupakan pemeran utama dalam pembentukan karakter masyarakatnya, dengan cara memberikan contoh riil, misalnya tidak berjudi, tidak minum minuman keras dan narkoba, serta tidak bermain perempuan, apalagi mengambil istri orang lain adalah contoh penanaman karakter yang sangat baik dan membumi untuk mewujudkan jati diri bangsa yang bermartabat.

Kesuksesan pendidikan berkarakter ini sangat tergantung pada peran aktif keluarga, sekolah dan masyarakat guna membentuk generasi penerus bangsa yang berwatak dan berkarakter luhur. Dan jika sampai detik ini kita sering disuguhi berbagai informasi berkaitan watak dan karakter tak terpuji, maka sesungguhnya ke tiga komponen di atas pada salah satunya tidak berjalan secara semestinya, atau ketiga-tiganya memang tak pernah berjalan. Ke tiga hal di atas harus terintegrasi secara padu. Diharapkan dengan adanya sinergi yang baik dan berkesinambungan antara semua pihak, nantinya akan mampu merubah wajah suram pendidikan di Indonesia ke arah yang lebih terang dan berkualitas.

Arah baru guru Indonesia akan terbentuk dari keluarga yang berkarakter kuat. Karena guru-guru kita dilahirkan dan besar dari sistem ini, menimba watak dari sistem ini pula, maka bukan sesuatu yang tak bisa, atau terlambat, jika semenjak kini kita membentuk keluarga sakinah yang berkarakter untuk kemudian, melahikan calon-calon guru yang akan berwatak kuat juga. Tak cukup hanya itu, calon-calon guru tanah air ini harus dibekali oleh ilmu-ilmu dasar dari sistem keluarga ini, lalu kemudian, disekolahkan pada sistem pendidikan atau lembaga yang berkarakter kuat jika ada, tapi kalau tak ada, pola pendidikan yang dilakukan oleh KH. Agus Salim, nama sebenarnya Masyhudul Haq, (L. 8 Oktober 1884 – W. 4 November 1954), sebagaimana digambarkan oleh Mr. Mohammad Roem, mempunyai motto hidup ‘LEIDEN IS LIJDEN’, memimpin itu mendeita, barangkali bisa kita terapkan, yaitu tidak menyekolahkan putra-putrinya pada lembaga atau sekolah formal yang tak berkerakter, tapi beliau usahakan mendidik secara mandiri oleh sistem keluarganya sendiri dengan menerapkan kurikulum otodidak, dari kurikulum homeschooling ini lahirlah nama-nama seperti Theodora Atia (Dolly) Salim, putri pertama waktu berumur 15 tahun telah mencatatkan namanya di tinta sejarah sebagai pemain piano saat WR. Supratman memperdengarkan Indonesia Raya tanggal 18 Oktober 1928, Yusuf Taufik (Totok) Salim, Violet Hanisah Salim, Maria Zenibiya Salim, Islam Bashari Salim, Syaukat Salim, Sitti Aisiah Salim, dan Manshur Abdurrahman Siddiq Salim, yang semuanya telah biasa berbicara lima bahasa asing waktu berumur 4 tahun. Jika hal ini tidak mungkin, karena tidak semua keluarga Indonesia berkemampuan layaknya KH. Agus Salim, maka sekolahkanlah di lembaga pendidikan yang mencetak siswa-siswanya berwatak mandiri untuk mengutamakan proses, bukan instant. Sepertinya, di nusantara ini ada lembaga pendidikan demikian, walau saya sendiri tak tahu di mana tempatnya.

Lebih lanjut, arah baru guru Indonesia adalah mereka yang menjadi pendidik dengan niatan murni demi ilmu, ilmu dan ilmu semata. Bukan kemudian dikotori oleh niat memupuk finansial, apalagi untuk menjadi orang kaya. Sebab sejak fitrahnya profesi guru tidak menjanjikan untuk menjadikan orang kaya secara materi. Menjadi guru sebagai ujung tombak tersampainya ilmu pengetahuan adalah pilihan mulia, semulianya para Nabi dan Rasul, yang dapat memberikan penerangan terhadap dunia kejahiliahan yang gelap. Dan kemuliaan ini bukan karena harta melimpah, tetapi mulia karena ilmu yang tersampaikan pada generasi sesudahnya berawal dari jiwa yang mulia, yang tanpa tendensi niatan lain, selain niatan murni tadi.

Arah baru guru Indonesia juga adalah para pendidik yang mengkekalkan proses untuk mencapai pada sesuatu. Cita-cita dan harapan hidup yang hendak diraihnya dilalui oleh jalan panjang penuh penderitaan dan berliku. Jalan pintas yang hanya melenakan libido sesaat, mereka jauhi. Prinsip bimsalabim abakadabra atau mindshet instant, mereka lempar jauh-jauh dari khayalannya. Mereka yakin bahwa penderitaan hidup menjadi guru, atau proses panjang untuk menjadi guru merupakan latihan jiwa menjadi kuat yang kelak akan  ditularkan kepada peserta didiknya bila telah menjadi pendidik.

Arah baru guru Indonesia itu adalah mereka yang berprinsip hampir sama dengan prinsipnya William Shaekespiere, ‘apa artinya sebuah nama’, tetapi mengubah kata terakhir menjadi ‘apa artinya sebuah gelar’. Jika guru instant hanya berprinsip ‘apa artinya tanpa gelar’, dan hampir mustahil, tanpa gelar, memang kini tak mungkin jadi guru, maka arah baru guru tanah air Indonesia ialah insan-insan yang dengan ikhlas mendedikasikan dirinya untuk mewakafkan pada pengembangan ilmu pengetahuan.

Kiranya ada sebagian pembaca masygul dan tak yakin pada kebenaran kalimat yang saya tulis, karena seperti dunia dongeng saja. Tetapi inilah hasil rekaman jejak saya, guru-guru saya sejak dari MI di kampung, sampai MA di Pondok Pesantren Annuqayah, (setingkat SD dan SMA), mereka adalah para guru yang tamatan MUALLIMIN tahun 50-an sampai 70-an. Mereka tak bergelar akademik kebalikan dari guru-guru saat kita kini, dan mereka tak pernah digaji. Tapi soal dedikasi dan kemuliaan mengajar tak satu pun para muridnya menyangsikan mereka. Dan hasil lulusan dari pembelajaran guru-guru saya itu saat ini menyebar ke seantero nusantara. Gambaran ini saya maksudkan bahwa gelar kesarjanaan bukan jaminan pada pemegang gelar itu telah sesuai dengan ilmu yang ada di keterangan ijazahnya. Dan para guru yang tak bergelar akademik bukan juga mereka tak kompeten dan profesional dalam mendidik. Hati-hatilah dengan segala bentuk gelar. Kadang hal ini membuat kita ambigu!

Dan terakhir, arah baru guru tanah air Indonesia adalah penjunjung adab kesopanan, pengaplikasi akhlak mulia dalam segala bentuknya, para pengamal ajaran agama masing-masing, dan konsisten (istikamah) terhadap apa yang diniatkan, diucapkan, dan dilakukan. Hal-hal di atas ini menurut saya, harus jadi barometer penilaian kompetensi di samping beberapa hal komponen kompetesi untuk menjadi guru yang profesional, sebagaimana saya ulas terdahulu. Semua guru, tak peduli pengajar ilmu-ilmu non-agama, haruslah mencapai derajat keberhasilan dalam hal-hal yang saya singgung itu. Dengan begitu, bila kita telah berhasil menyusun ulang mindshet kita di dunia keguruan ini, kemudian berikrar dalam jiwa bahwa kita harus :

  1. Ikhlas mengajar;
  2. Jujur mengajar;
  3. Pengabdi terhadap ajaran agama masing-masing;
  4. Aplikasikan akhlak mulia;
  5. Dedikasikan sebuah proses panjang pencari ilmu dan pengamalnya;
  6. Hilangkan hasrat mengeruk finansial dari dunia pendidikan;

Maka, saya yakin untuk waktu tak lama lagi bangsa ini akan melaju pada peradaban gemilang. Bangsa ini tak akan jadi cibiran bangsa lain. Bangsa ini akan berwibawa di depan bangsa lain di dunia. Maka sebagai penutup, kita renungkan firman Allah SWT ini: ‘Sesungguhnya, Allah SWT tak akan mengubah keadaan suatu kaum bila (ternyata sang kaum) itu tidak (berhasrat) untuk mengubahnya”. Selamat menuju guru baru Indonesia.

 

***

Daftar Bacaan yang menjadi inspirasi :

  1. J. Sumardianta, 2013, Guru Gokil Murid Unyu, (Yogyakarta: Bentang Pustaka)
  2. Asvi Marwan Adam, 2012, Menyingkap Tirai Sejarah, (Jakarta : Kompas)
  3. E. Mulyasa, 2011, Sertifikasi dan Kompetensi Guru, (Bandung : Rosda Karya)
  4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 20 Tahun 2003
  5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 14 Tahun 2005
  6. Peraturan Pemerintah (PP) Nomer 19 Tahun 2005
  7. Kemendikbud, 2004, Standar Kompetensi Guru SMA, (Jakarta : PP2TK, DTK)
  8. Kemendikbud, 2004, Standar Kompetensi Guru SMP/MTs, (Jakarta : PP2TK, DTK)
  9. Kemendikbud, 2004, Standar Kompetensi Guru SD/MI, (Jakarta : PP2TK, DTK)
  10. Koran Kompas, edisi 29 Mei 2013, 21 Juni 2013  dan 2 Juli 2013.

 

Daftar kutipan dari Internet

  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Kompasiana.com
  4. Kompas.com
  5. http://mahkotalima.blogspot.com/2012/02/reposting-pendidikan-lingkungan.html
  6. http://ahmadmuhli.wordperss.com

Biodata Penulis :

Lahir tanggal 13 Maret 1978 lalu, ia kini telah berputra dua, satu berumur 5 tahun ada di TK homeschool-nya, dan satunya masih berumur 20 bulan masih tetap konsisten disusui dengan ASI murni tanpa susu instant. Cita-citanya sejak kecil menjadi guru, maka kini menjadi guru di SMA As-Salam Cenlecen, SMA 3 Annuqayah dan MTs 1 Putri Anuqaayah. Sesuai  dengan jurusan yang ia tempuh waktu kuliah di IKIP PGRI Jember, maka sampai kini, ia pun istikamah mengampu bidang studi Sejarah, yang menurutnya, Sejarah adalah gudangnya inspirasi dan pemaangku  peradaban.

Sebagai penulis ia memang tidak banyak mempublikasikan tulisannya ke masyarakat luas dalam bentuk buku, sebab baru satu karya yang diterbitkan oleh DIVA Press, tahun 2010 lalu dengan judul Belajar Bersama Upin dan Ipin. Tulisanya hanya tersebar di majalah-majalah dan buletin-buletin lokal. Dan karena didorong oleh saudaranya yang kuliah S2 di Turki, baru ia terhasrat untuk menulis buku lagi.

Buat seluruh pembaca setianya, ia sangat bersyukur bila ada yang menghubunginya melalui laman di bawah ini :

  1. Facebook, dengan nama akun yang sama dengan penulis buku ini.
  2. Twitter, juga sama dengan yang tertera di buku ini.
  3. http://www.ahmadmuhli.wordpress.com.

 

[1] Judul bab ini penulis ambil dari judul buku karya E. Mulyasa, (2011) dengan sedikit perubahan.

[2] Mohammad Abduhzen, Kompas, 2 Juli 2013.

[3] Sejak kebijaksanaan Sertifikasi harus minimal S1 (2006) maka sejak saat itu banyak guru yang kuliah lagi ke jejang tersebut guna memenuhi panggilan Sertifikasi menuju guru yang profesional.

[4] I Wawang Setyawan, Kompas, 21 Juni 2013, dikutip dengan beberapa perubahan.

[5] Opini Kompas edisi 2 Juli 2013

[6] Disalin dengan beberapa  perubahan dari Kompas edisi online, 22 September 2012. Walau keluhan di atas terjadi pada dua tahun lalu, akan tetapi, nuansa riilnya tetap dapat kita rasakan detik ini. Berbagai hal, dari masalah kebocoran soal UN, anarkisme guru pada murid atau sebaliknya, tawuran pelajar dan mahasiswa, kemesuman guru pada murid atau tindakan mesum para pelajar itu sendiri, merupakan info langganan kita tiap saat.

 

[7] Bandingkan dengan kita, Di Malaysia ada dua kementerian dalam mengurus pendidikan umum padahal siswa dan mahasiswanya sekitar sepersepuluh dari jumlah siswa dan mahasiswa Indonesia. Di negara kita, dari SD sampai perguruan tinggi di kelola oleh satu kementerian, betapa beratnya kerja kemeteian Pendidikan dan Kebudayaan kita.

[8] Dan kita, transformasi perubahan jejang SPG, PGA ke PGSD atau PGMI (D2) dimulai tahun 1996. Dari diploma dua tersebut ke jenjang S1 pendidikan, dimulai 2007 pada waktu sertifikasi diterapkan hingga kini belum tuntas.

[9] Hal yang terjadi di negeri kita adalah semata-mata melului Ujian Tulis (SMPTN atau SPMB) dengan model soal multycple choise yang akurasinya mulai dipertanyakan, tanpa ada wawancara khusus, yang menurut penulis, sesi ini lebih baik dari hanya sekedar tes tulis.

[10] Yayasan-yayasan yang saya ambil contoh kasus adalah yayasan-yayasan yang ada di wilayah saya, dengan pengecualian lembaga yang ada di bawah naungan Majlis Pendidikan Dasar dan Menengah  Pimpinan Pengurus Daerah Muhammadiah Sumenep, yang menaungi SMA 1 Muhammadiyah Sumenep, sebab menurut kepala sekolahnya, Bapak Wagimin, MPd. sekolah yang beliau pimpin telah mempunyai guru tetap sesuai dengan kebutuhan, dengan sistem gaji di atas UMR kabupten Sumenep.

[11] Suatu kejadian yang luput dari pantauan pengawas, atau mudah-mudahan bukan bentuk kerja sama curang antara kepala sekolah dengan sang pengawas, adalah terjadi di suatu desa di kabupten penulis. Masyarakat menjuluki lembaga pendidikan itu dengan “Perusahaan ME”. Penasaran saya menelusuri perusahaan tersebut Wal hasil, bukan perusahaan me instant yang memang pada mulanya ada pada anggapan saya bahwa lembaga pendidikan itu mempunyai unit usaha dari me instant. Bukan! Yang terjadi adalah bentuk kerja sama antar lembaga pendidikan di  desa itu.  Apa bentuk kerjasamanya? Yaitu setiap ada survei dari pengawas kabupaten, misalkan yang disurvei lembaga A, maka siswa-siswa yang ada di lembaga B, C dan D secara manasuka mengirimkan siswa-siswanya ke sekolah yang disurvei tadi. Dan juga sebaliknya, lembaga B yang disurvei maka lembaga A akan mnegutus semua muridnya, dan seterusnya. Maka yang terjadi adalah penggelembungan jumlah siswa untuk meraup BOS sebanyak-banyaknya.

[12] http://www.kickandy.com/theshow/1/1/2491/read/mahalnya-sebuah-kejujuran. Ditulis kembali dengan beberapa tambahan dari penulis.

[13] www.republika.co.id, di kutip tangggal 15 Juli 2013.

[14] Direktur Riset dan Pengembangan Program Ikatan Guru Indonesia, dikutip dari Kompas online, 05 Juli 2013.

[15] http://mahkotalima.blogspot.com/2012/02/reposting-pendidikan-lingkungan.html

[16] Bukan model  istilah yang dipopulerkan oleh Joko Widodo waktu kampanye pemilihan presiden lalu dengan nama ‘revolusi mental’, karena makna istilah tersebut sangat tidak jelas.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 31, 2015 in PENDIDIKAN

 

TAHUN 2015


Di tahun ini, saya akan tingkatkan daya kepenulisan di blog pribadi saya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 30, 2015 in SASTRA

 

BERPIKIR KRITIS


Ditulis dengan harapan ‘watawashou bi al-haqqi watawahou bi al-shobr’
Prolog
Satu anugerah yang Allah SWT berikan kepada kita adalah kapasitas akal atau pikiran yang tersimpan dalam memori otak. Akal atau pikiran ini pembeda antara kita dengan makhluk-makhluk ciptaan Allah SWT lainya. Perbedaan inilah yang menempatkan kita satu strip, atau bahkan, lebih tinggi kederajatannya daripada makhluk-makhluk tersebut, bahkan dibandingkan malaikat sekalipun, jika dibekali tingkat ketakwaan atau kesalehan yang baik. Sebalikya, kapasitas akal atau pikiran dapat membawa sang pemangkunya kepada kenistaan berkepanjangan jika hal itu dikendalikan nafsu syahwat yang menyebabkab kita sombong, angkuh, merasa pintar, merasa alim, congkak dan sebagainya.
Kita dibekali pikiran sudah barangtentu agar kita menggunakannya dengan baik. Penggunaan pikiran tersebut adalah bagai mana agar kita berpikir dengan baik dan benar, yaitu sebuah proses pencarian terhadap berbagai hal yang menyangkut landasan kita dalam kehidupan dengan tujuan bagai mana kita menjadi insan yang selalu bertakwa dan bersyukur atas segala karunia Allah SWT. yang telah Dia berikan pada kita. Salah satu dari berbagai hal yang berkaitan dengan dasar kita dalam kehidupan ini adalah berpikir kritis. Tetapi sebenarnya, ada gandingannya dalam berpikir kritis ini yaitu berpikir kreatif. Tetapi dalam hal ini, saya jelas tak akan menyinggung masalah berpikir kreatif di sini. Saatnya nanti akan saya poskan juga di laman FB Pondok Pesantren Annuqayah ini tentang apa dan bagaimana berpikir kreatif. Dengan adanya tulisan ini, saya berharap semoga sidang pembaca di laman ini mendapatkan sedikit tambahan ilmu, dan dapat mengaplikasikannya dalam setiap kesempatan.

Apa dan bagaimana berpikir kritis itu?
Untuk memahamkan agar kita runut atas tema yang kita bahas malam ini, mari kita mulai dari pengertian; apa yang dimaksud berpikir kritis. Kita bedah dari hal yang paling rendah dahulu, yaitu secara etimologi (bahasa), dan kita pecah kalimat ‘berpikir kritis’ ini menjadi kata ‘berpikir’ dan kata ‘kritis’. Mari kita buka KBBI dan kita dapatkan bahwa ‘berpikir’ berasal dari kata dasar ‘pikir’, artinya 1. akal budi; ingatan; angan-angan. 2. kata hati; pendapat (pertimbangan); perkiraan. Dalam ilmu bahasa, bila suatu kata dasar diimbuhi awalan ‘ber’ seperti kata berpikir ini, mepunyai arti sebuah proses penggunaan. Maka arti ‘berpikir’ adalah menggunakan akal budi, ingatan, angan-angan, kata hati, pendapat (pertimbangan), perkiraan untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu. Adapun kata ‘kritis’ yang merupakan ajektif mempunyai arti 1. keadaan krisis; gawat; genting (tentang suatu keadaan); keadaan yang paling menentukan berhasil atau tidaknya suatu usaha. 2. bersifat tidak lekas percaya; bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan; tajam dalam menganalisa. Maka, jika kita gabungkan kedua kata dasar ini menjadi ‘berpikir kritis’ ialah menggunakan akal budi, ingatan, angan-angan, kata hati, pendapat (pertimbangan), perkiraan untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu disikapi sifat tidak lekas percaya atau berusaha menemukan kekeliruan dengan dibarengi analisa yang tajam. Inilah pengertian dari segi kebahasaan.
Tentu pengertian di atas masih kurang memuaskan jika kita berhenti pada tataran ini tanpa melihat bagaimana pengertiannya dari sudut terminologi (istilah). Oleh karena itu, agar kita tidak salah persepsi pada pengertian ‘berpikir kritis’ mari kita lihat beberapa pendapat di bawah ini.
Menurut Ennis (1962), berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pada pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan . Perhatikan kata yang saya garis bawahi. Dikatakan kita berpikir kritis bila kita mempunyai argumentasi baku yang bisa menggambarkan sesuatu untuk kita percayai kebenarannya. Adapun menurut Beyer (1985) istilah berpikir kritis dijabarkan lebih jelas lagi, yaitu kemampuan menentukan kredibilitas suatu sumber, kemudian membedakannya antara yang relevan dengan yang tidak, membedakan fakta dari penilaian, mengidentifikasi asumsi yang tidak akurat, menghilangkan bias, mengidentifikasi sudut pandang kita, dan mengevaluai bukti yang ditawarkan untuk mendukung pengakuan. Hampir senada dengan pendapat Ennis, Mustaji mengatakan bahwa berpikir kritis itu adalah berpikir secara beralasan dan reflektif untuk mencapai suatu keputusan yang dapat dipercaya kebenarannya. Sedikit berbeda apa yang diungkap oleh Paul Walker (1999) , berpikir kritis adalah suatu proses intelektual dalam pembuatan konsep, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesis, dan atau mengevaluasi berbagai informasi yang didapat dari observasi, pengalaman, refleksi di mana semuanya merupakan hasil proses. Terakhir, mari kita tengok pendapat dari mbah eksiklopedi tapa batas kita, mbah wikipedia, katanya ‘critical thinking is a way of deciding whether a claim is true, partially true, or false, (Berpikir kritis adalah sebuah jalan yang menentukan apakah klaim itu benar, sebagian benar, atau salah). Inilah lima pendapat yang saya ambil dari berbagai sumber tentang berpikir kritis ini. Pengertian terminologi di atas dapat kita sarikan ke dalam beberapa kata singkat, yaitu sebuah proses untuk mendapatkan sesuatu yang sahih.
Lebih jauh, bagaimana metode atau manhaj agar kita dapat membiasakan diri berpikir secara kritis?
Metode berpikir kritis ini mempunyai banyak cara yang telah diungkapkan oleh berbagai ahli pikir dunia. Dari berbagai cara tersebut dapat saya ambil garis besarnya sebagai berikut: (1). Mengadakan perbandingan (komparasi) dan pembedaan, (2). Membuat kategori penelitian bagian-bagian kecil dan keseluruhan, (3). Menerangkan sebabnya, (4). Dapat membuat urutan/sekuen, dan (5). Dapat menentukan sumber yang dipercaya, serta (6). Dapat membuat interpretasi/penafsiran/ramalan.
Contoh aplikatifnya seperti ini: Tentukan sebuah objek, peristiwa, pernyataan, sistem, atau apapun yang akan dijadikan untuk melatih diri. Contoh: Anda akan mengkritisi apa yang selama ini Anda lakukan untuk meraih sukses tertetu. (1). Ambillah dan tentukan kriteria atau ukuran yang menjadi dasar penilai/penetapan sesuatu tertentu (misalkan kita berkriteria berupa cita-cita ingin menjadi guru teladan atau kriteria-kriteria lainnya yang amat banyak itu). (2). Coba pecahkan cara kita ke dalam bagian-bagian lebih kecil/detailnya. Atau bisa jua dengan meninjau dari beberapa aspek yang terkait. (3). Amatilah tiap bagian/detailnya itu mana yang benar/mempunyai kelebihan dan mana yang salah/mempunyai kelemahan. (4) Kuatkanlah bila pengamatan kita telah menemukan sisi positifnya dan hilangkan sisi-sisi kelemahan atau perbaikilah.
Untuk mendukung pembiasaan kita berpikir kritis, bisa dengan cara (1). Memenuhi wawasan di otak; membaca, menulis, browsing internet, tadzabbur alam, diskusi, debat, atau sekolah, dan (2). Mengasah metode berpikir; belajar logika atau mantik, memahami paragraf deduksi atau induksi dsb.
Kaitan berpikir kritis dengan sebuah kesuksesan adalah sangat erat. Dapat diulas, bahwasanya berpikir kritis itu dalah proses atau jalan menuju kesuksesan kita nanti. Saat ini memang Anda belum sukses, akan tetapi bila Anda dapat memilah mana jalan kebenaran dan mana sesuatu itu yang salah, dan kemampuan ini telah melekat dalam diri Anda, maka inilah sebenarnya hakikat berpikir kritis pada diri Anda sendiri. Kemudian, Anda dapat mengeksplor kebenaran itu setinggi mungkin, dan mempertahankannya sembari memperbaiki yang salah, maka sebenarnya pintu gerbang kesuksesan telah terbuka lebar. Berpikir kritis pada diri sendiri jauh lebih memberikan manfaat daripada kita sibuk mengkritisi orang lain.

Epilog
Kita memahami bagaimana cara berpikir kritis adalah semata-mata kita, dalam rangka mensyukuri akal pikiran kita. Bukan hendak menjatuhkan lawan debat kita atau hal-hal negatif lainnya. Tetapi merupakan sarana bagaimana kita mendapat atau mencari kebenaran dari mesteri alam semesta yang menurut sebagian tokoh ilmuwan, rahasia alam semesta ini baru terungkap 0,5%. Dan ada 99,5% rahasia Allah SWT yang belum bisa diungkap oleh manusia. Dan inilah tugas kita untuk berpikir kritis dalam mengungkap fenomena alam beserta segala isi baik yang tersirat atau pun yang tersurat.
Pun jua, dalam menyikapi fenomena sosial saat ini, kita tak boleh apatis atau berpangku tangan, sembari hanya menonton tanpa tahu bagaimana cara mengatasinya. Kita gunakan kekuatan pikiran kita untuk berjihad pada jalan yang diridhai Allah SWT. Tentu bukan rumus bimsalabim untuk mencari jalan keluar tersebut, tetapi sebuah proses yang panjang dan melelahkan. Disinilah kekuatan akal pikiran kita berperan! Wallahu a’lam bis showab.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 21, 2014 in PENDIDIKAN

 

MENGENANG AKTIVITAS SANTRI TAHUN 1990-AN


Tak ada salahnya, bila santri kini berbagi cerita dengan santri di era saya mondok di PP. Annuqayah dulu tahun 90-an. Barangkali, dengan cara berbagi pengalaman, para santri di era 2014 ini sedikit dapat gambaran nuansa zaman antara era saya dengan era kini. Dan nuansa itu mungkin dapat diambil manfaatnya oleh para santri kini. Atau mungkin, bila nuansa itu telah menjadi basi dan tak ada manfaatnya, biarlah akun FB ‘Pondok Pesantren Annuqayah’ ini dapat menyimpannya dengan baik dan suatu saat bila dibutuhkan sebagai cerita penghibur, bisa kembali dibuka oleh siapapun para santri atau mantan santri di laman PP Annuqayah tercinta.

Saya mondok di PPA Daerah Nirmala. Dalam catatan harian saya di waktu itu, saya diantar oleh kedua orang tua saya bersama kakek dan nenek pada hari Rabu, 14 Juli 1990, 22 hari sebelum Saddam Husien sang diktator Iraq, menginvasi Kuwait, 7 Agustus 1990. Tak sendirian saya diantar, sebab dari dusun Tanggulun, Montorna, saya bersama teman sekelas di SDN Prancak II, Mudda’ie Yusuf, yang kini sahabat saya itu sedikit mujur sebab dijadikan mantu bani Syarqawi yang berada di Karduluk, dan telah menjadi bagian staf pengajar di satuan pendidikan di PPA ini.

Tak ada alasan yang pasti mengapa saya pilih daerah Nirmala. Yang jelas, dan masih tersimpan dalam buku harian saya yang lusuh, saya diberi dua opsi pondok, yaitu Sawajarin atau Nirmala. Spontan saya pilih Nirmala sebab di pondok ini telah ada paman saya, Bakir Riyanto, dan Kakek jauh saya, Mustajab Suryadi. Nama yang pertama, kini telah sukses dengan lembaga bahasa Inggrisnya bernama Alif Institute di Pare, Kediri yang telah bercabang di APRI (Akademi Pelayaran Republik Indonesia) di Semarang. Sedangkan nama yang terakhir, yang saya sebut kakek jauh, adalah putra Buyut Qolah dari dusun Tononggul, Montorna. Buyut Qolah ini cucu dari Buyut Sraban, Lengkong, Bragung. Menurut riwayat nenek, Buyut Sraban ini masih ada hubungan nasab dengan orang tua ibunya nenek dari ibu saya. Alasan inilah yang menetapkan hati saya pilih Nirmala.

Dibandingkan dengan empat daerah lainnya di lingkungan PP Annuqayah kala itu, Nirmala merupakan daerah yang paling miskin. Waktu saya masuk, lokal santri yang bertembok hanya ada enam kamar. Lima kamar di paling timur yang sampai kini tetap ada, dan satu kamar yang saya tempati bersama anom Bakir, Abdus Salam almarhum, Fadil dan Rusdi adalah milik pribadi dari Nom Tajab, begitu saya panggil, berada di halaman tengah pinggir utara menghadap ke selatan, yang kini telah dipugar habis.

Saya mondok di Nirmala tak lama, hanya empat tahun, sebab di tahun ke lima, waktu saya naik ke kelas 2 di MA 2 Annuqayah, saya mutasi ke MAN 2 Jember. Tapi, walau hanya empat tahun, ternyata di sanalah karakterku terbentuk. Hingga kini, karakter itu terwariskan dengan baik dan tetap tertanam dengan kuat di sanubari. Dan sisi inilah yang akan saya kisahkan di laman FB PP Annuqayah ini.

****

Daerah Nirmala, walau miskin, sepanjang pengamatan dan ingatan saya, adalah daerah yang sangat independen dalam berafiliasi politik dan daerah yang sangat mengedepankan keberagaman pemahaman fiqh. Tak jarang, karena para kiai muda Nirmala non partisan, dan tidak secara eksplisit memihak pada partai-partai tertentu, di cap sebagai oportunis. Berkaitan dengan cap ini pernah saya alami di waktu pemilu 1992. Para santri di daerah lain dengan tumpangan bermobil-mobil lewat di sebelah barat musholla Nirmala yang baru datang dari acara kampanye suatu partai besar di era Orde baru. Waktu sampai di Nirmala dengan koor para santri dalam tumpangan tersebut berteriak “Nirmala GOLKAR, Nirmala GOLKAR, Nirmala GOLKAR……”. Terkesima saya mendenganya dan tak habis mengerti mengapa Daerah Nirmala yang non partisan di cap dengan teriakan yang kurang menyenangkan.

Kemudian, berkaitan dengan pengedepanan keberagaman paham fiqh, saya mengalami memori kurang menyenangkan perihal ini. Sering terlintas dalam ingatan saya, masa itu Daerah Nirmala dijuluki sebagai Muhammadiyah yang saya sendiri waktu itu tak paham apa itu Muhammadiyah. Padahal kitab fiqh yang kami baca, para santri Nirmala, tak ada bedanya dengan apa yang dibaca oleh para santri Annuqayah secara umum.

Cuma, barangkali ini yang tak ada di daerah lain, Nirmala adalah gudangnya dialogis antar madzhab karena banyaknya pembacaan yang berkaitan dengan itu. Seingat saya, sejak kelas 2 MTs saya telah biasa membaca Fiqhus Sunnah-nya dari karya Sayyid Sabiq. Padahal kitab ini yang merupakan rujukan Ikhwanul Muslimun, adalah sebuah kitab beraliran Hambaliyah. Kemudian, betapa banyaknya buku-buku terjamahan di perpustakaan Nirmala dari karangan Mutawalli Asy-Sya’rawi, Yusuf Qaradhawi, Said Hawwa, Mohammad al-Ghazali, Sayyid Qutb, Mohammad Qutb, Fathi Yakan, Mohammad Arkoun, Fatimah Mernissi, Abdul Halim Mahmud, dan tiap tiga bulan sekali perpustakaan Nirmla mendapat kiriman buku-buku ilmiah dari para donatur, misalnya dari Bapak Soeharto, Bintang Pamungkas dan Ridwan Saidi. Sedangkan dari Kedubes Belanda yang diterbitkan oleh INES, perpus Nirmala mendapat kiriman buku-buku karangan para orientalis dan pakar Islam Indonesia, dll. Ini adalah sedikit contoh betapa modernnya pemikiran santri Nirmala waktu itu. Kemudian, para santri juga sangat akrab dengan terbitan-terbitan golongan modernis dan salafi, misalkan Majalah Panji Masyarakat-nya Buya Hamka, Media Dakwah-nya DDII (Dewan Dakwah Islamiah Indonesia) yang di daerah lain dua majalah ini sulit beredar. Kemudian ada subsidi majalah mingguan TEMPO dan majalah bulanan Hidayatullah. Tapi sayang, kini cerita di atas tinggal kenangan, karena buku-buku dan majalah-majalah itu sudah lama tak beredar lagi. Stok dan rak-raknya telah kusam karena berbagai sebab. Dan sebab paling nyata kini adalah menipisnya daya jelajah pembacaan para santri itu sendiri.

Yang tak kalah hebohnya peri laku santri di era terebut, adalah immunitas dan daya juang yang luar biasa dahsyat. Di Nirmala, atau bahkan di Annuqayah secara general, para santri amat jarang yang ngekos. Dipastikan, setiap pagi sehabis mengaji kitab selesai shalat Shubuh, dapur Nirmala mengepulkan asap bertanda para santri sedang menanak nasi. Dan dapur-dapur daerah lainnya juga tak kalah remangnya karena diselimuti asap dari perapian. Kemudian, mereka pergi ke Nyih Ena dan Nyih Hawa untuk sekedar memesan kuah yang siap membanjiri talam-talam, plastik-plastik atau daun pisang mereka. Sungguh, pemandangan dan pengalaman yang amat baik mengingat aura itu adalah bak kawah cadradimuka pembentukan mental juang para santri dikemudian hari.

Daya juang yang dibentuk para pengasuh Nirmala juga tak kalah hebatnya. Dengan alasan Nirmala adalah daerah termiskin di lingkungan Annuqayah, maka tiap Jum’at pagi para kiai melalui santri senior  mengumpulkan santri-santri yunior untuk ikut menambang pasir di sepanjang sungai Saroka, dari paling barat Desa Dungdang, Pordapor, Bragung sampai ke Penanggungan. Saya mengalami keasyikan tersendiri ikut penambangan pasir dalam air ini, sebab disamping belajar renang di sungai yang dalam untuk menyehatkan badan, nanti setelah selesai nambang, perut akan menjadi kenyang. Alhamdulillah….hehehehe! Apa kaitannya antara menambang pasir dengan kenyangnya perut? Sangat erat, sebab masyarakat di sekitar tempat kami menambang, bila tahu bahwa ada santri Nirmala sedang kerja bakti seperti itu, tanpa disuruh oleh siapa-siapa, masyarakat itu berbondong-bondong membekali kami dengan kiriman nasi bungkus, roti tawar, susu, kopi, teh dan lain-lain. Apa tak asyik kerja seperti ini???

Dalam melatih kepekaan nalar dan berlatih berdebat secara logis, kami ditempa dalam forum kritis yang dilaksanakan setiap malam Selasa. Sungguh sangat luar biasa forum ini membentuk saya menjadi santri yang selalu haus membaca, pengalaman itu tetap membekas dari apa yang pernah saya alami dalam forum ini. Waktu itu, waktu saya masih kelas 1 di MA 2, saya ditugasi oleh Kak Suraji, sang ketua forum, sebagai penyaji utama dalam pidato sistem dialog. Saya hanya diberi dua tema, pertama, masalah kapitalisme dunia dan kedua, masalah paham Syi’ah. Saya pilih tantangan kedua.

Tak boleh tidak, saya harus membaca literatur berkaitan dengan paham itu dan bagaimana perbedaannya dengan ahlu sunnah. Karya-karya ulama Syi’ah pun menjadi rujukan saya, ada Imam Khomeini, Ziaudddin Sardar, Sayyid Kilani, Pendapat aliran Qum, pendapat  aliran Basrah, al-Baqilany, Hujjatul Islam Rohullah Rafsanjany dan lainnya. Dari merekalah saya tahu Syi’ah aliran Istna Asyariyah. Kemudian saya mejadi tahu bahwa ada Syi’ah yang amat mirip dengan ahlu Sunnah, yaitu Syi’ah Zaidiyah di Oman, yang kitabnya juga banyak dikutip oleh kalangan ahlu sunnah, yaitu kitab Nailul Authar. Ada Syi’ah aliran Sabiyah yang ghulat dan amat sesat. Ada aliran Fatimiah di Mesir, ada aliran ‘Alawiyah di Libanon dan Suriah di mana presiden Suriah kini, Bashar al-‘As’ad,  merupkan tokohnya. Dan juga gerakan Hizbullah di Golan, Libanon, yang dipimpin oleh Syaekh Hasan Nasrullah. Tak dapat dibayangkan bahwa itu saya pahami waktu saya masih di kelas 1. Dan itu berkat adanya forum kritis yang kini sepertinya telah redup.

Untuk memupuk kedisiplinan santri Nirmala, dengan tegas pengasuh melarang merokok. Dan jelas sekali bahwa larangan ini cuma ada di Nirmala, sehingga menyisakan masalah, yaitu bagi santri yang bingal, tinggal pergi ke daerah lain jika mau merokok. Bagi saya, larangan ini telah membentuk karakter tersendiri sebab sampai kini pun saya mendapat manfaatnya. Alhamdulilah ya Rob!

Mengenai rokok ini, ada ilustrasi amat menarik yang disampaikan pengasuh Nirmala, KH. ‘Afif Hasan, yaitu: “JIKA KALIAN MEROKOK TIAP HARI MENGHABISKAN 2 BATANG ROKOK MEREK SURYA (waktu itu perbungkus masih Rp. 1000,- pen), MAKA ADA DUA RATUS UANG YANG KALIAN HAMBURKAN TAK ADA MANFAATNYA. JIKA YANG DUA RATUS INI KALIAN KALIKAN SELAMA SATU BULAN, MAKA TERKUMPUL UANG SEBANYAK Rp. 6.000,-. UANG INI BISA BERMANFAAT ABADI JIKA KALIAN INVESTASIKAN KE BUKU-BUKU ILMIAH”. Fatuah inilah yang sampai kini saya pegangi. Terima kasih kiai!

Untuk memupuk kediplinan ini pula, semua santri Nirmla diwajibkan mengikuti kegiatan Pekan Orientasi Pramuka, yang dilaksanakan satu tahun sekali. Demgan demikian, disepanjang tahun-tahun itu, seluruh santri telah bisa memahami kepanduan dan sedikit-banyak berpengaruh dalam hidup mereka kelak. Dan bahkan, warisan Nirmala itu kini tetap lestari berkat santri-santri menyebar ke berbagai tempat. Dapat dipastikan, bila di lembaga-lembaga pendidikan saat ini ada acara pawai obornya, maka itu adalah warisan Nirmala.

Bila musim duwet tiba, para santri terbiasa jalan kaki sampai ke Pragaan Utara untuk sekedar memanen buah duwet yang hitam manis itu. Para santri dari berbagai daerah pada Jumat pagi bertebaran keseantero tempat di mana pohon duwet lagi ranom. Jalan kaki sejauh 10 KM adalah hal yang lumrah. Kadang bila sampai ditujuan mencari buah duwet, bukan hanya buah ini yang kami dapatkan. Tapi ada saja orang selatan itu bersedekah buah siwalan dan aren yang amat menyegarkan. Mereka, para pemilik pohon siwalan itu, tanpa kami minta dengan lapang dada mereka memberikan minuman dan buah siwalan. Mereka berasumsi, jika ada santri yang kemudian diberi minuman aren dan buah siwalan, maka percikan dari manyang pohon siwalan itu akan bertambah deras dan buah siwalannya pun bertambah lebat. Subhanallah….!

Santri di era saya juga terbiasa panen undangan. Santri Nirmala biasanya sering diundang masyarakat Penanggungan dan Bragung. Undangan tadarus, tingkepan, 3 hari/7 hari orang wafat, dll adalah acara yang ditunggu-tunggu santri dahulu. Rumus simbiosis mutualisme terjadi dalam acara ini, si tuan rumah seperti mendapat berkah karena ada tamu santri, dan si santri pulangnya menejadi kenyang. Berkaitan dengan masalah hadir-menghadiri ini, ada cerita lucu yang menimpa kami. Waktu  jalan-jalan ke Jaddung, kami, (saya, Taufik, dan Fatholah, keduanya  dari Jember), mendengar suara loudspeaker yang diperhatikan lantunan suaranya seperti orang yang baru datang haji. Singkat cerita, kami langsung saja menuju tempat itu, dan benar saja bahwa yang kami tuju itu adalah orang yang baru pulang dari Makkah. Kami dipersilahkan masuk, lalu kami dihidangi setangkup kurma dan secangkir air putih, yang menurut kami itu adalah air zam zam. Setelah itu, kami dijamu oleh makanan yang dalam dunia santri, bersifat wah. Kami kenyang. Tapi aneh, si tuan rumah yang sejak kami sampai, biasanya menyalami sambil berpelukan, sampai detik ini kami kenyang, tak muncul-muncul. Lama kami menunggu, akhirnya saya beranikan diri bertanya pada orang yang melayani kami sejak tadi; mana bapak haji-nya. Jawaban yang muncul adalah bahwa yang haji bukan laki-laki, tapi perempuan. Walah, walah! Dalam hati kami malu. Tapi alhamdulillah kami disambut layaknya sebagai santri tempo dulu.

Santri dulu amat malu berpapasan dengan santriwati. Sehingga kondisi ini membuat santri putra ibarat pastorat. Tapi juga telah meminimalisir perbuatan menyimpang, yaitu tidakadanya kasus yang melanggar norma agama, misalkan pacaran. Di masa saya, terminologi ini benar-benar asing di telinga para santri. Cuma, hal yang menjadi biasa dan menjadi bahan goyonan sampai saat ini adalah kecenderungan hasrat pada sesama jenis. Banyak pintu bilik rusak gara-gara di waktu malam hari dipreteli oleh si petualang cinta sejenis.

 

***

EPILOG

Apa yang saya tulis tidak menggambarkan pengalaman para santri di era 90-an. Ini hanya refleksi saya pribadi, dan benar-benar hanya sebatas pengalaman saya saja. Oleh karena itu, tak dapat menutup kemungkinan ada cerita lebih heboh lagi, silahkan anda kirimkan ke laman FB tercinta ini. Semoga ada manfaatnya. Wallahu a’lam bishowab.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 25, 2014 in PENDIDIKAN

 

PREDIKSI SOAL IPS KELAS IX


SIMULASI SOAL DAN PREDIKSI UAS

MTs 1 PUTRI ANNUQAYAH TAHUN PELAJARAN 2013-2014

 

MATERI         : IPS Terpadu                                      GURU                                    : AHMAD MUHLI, SPd.

SEMESTER    : GASAL                                            KELAS                       : IX-A

 

  1. PILIHLAH JAWABAN YANG PALING TEPAT!
  1. Negara-negara bagian dari RIS yang tepat adalah …

a. NIT                                      b. Papua                                  c. Brunei                      d. Singapura

  1. Undang-Undang atau konstitusi RIS diganti dengan ….

a. UUD 1945                          b. UUD 1949                          c. UUDS 1950                        d. UUD 1959

  1. Sistem pemerintahan RI pada masa demokrasi liberal adalah …

a. Presidensial                         b. Parlementer                         c. Monorkhi                 d. Kerajaan

  1. Sebutan pemimpin pemerintahan pada masa demokrasi liberal adalah …

a. Presiden                               b.Raja                                      c. Perdana Menteri      d. Sultan

  1. Pemilu pertama dilaksanakan pada tahun …

a. 1950                                                b. 1952                                    c. 1953                                    d. 1955

  1. Kepanjangan dari UNCI adalah …
    1. United Nation Communication for Indonesian
    2. United Natios Comission For Indonesian
    3. United Natios Comission For Indian
    4. United Natios Comission For Hindia Duchland
  2. Perundingan Roem Royen dilaksanakan padaa tanggal …
    1. 15 April 1949- 5 Mei 1949
    2. 16 April 1949- 6 Mei 1949
    3. 17 April 1949- 7 Mei 1949
    4. 18 April 1949- 8 Mei 1949
  3.  Dibawah ini adalah komisi tiga negara kecuali

a. Belgia                      b. Australia                  c. Amerika Serikat                  d. Afganistan

  1. Dalam perundingan Renville, dilegasi Indonesia dipimpin leh …

a. Amir Syarifuddin    b. Abdul Kadir            c. Wijoyoatmojo                      d. Mohammad Yamin

  1. KMB adalah kepanjangan dari …
    1. Konfrensi Meja Bulat
    2. Kontroversi Meja Bundar
    3. Konfrensi Malaysia Belanda
    4. Konfrensi Meja Bundar
  2. Perang dunia kedua terjadi pada tahun …

a. 1914-1918               b. 1930-1935               c. 1935-1938                           d. 1939-1945

  1. Cermatilah nama-nama negara berikut ini :

1. Jerman         2. Amerika Serikat      3. Jepang         4. Inggris         5. Italia

yang termasuk blok fasis ditunjukkan oleh nomor …

a. 2 dan 4                    b. 4 dan 5                    c. 1 dan 3                                d. 2 dan 3

  1. Blok sekutu dibawah pimpinan ..

a. Jerman                     b. Amerika Serikat      c. Jepang                                 d. Perancis

  1. Sebab khusus terjadinya perang dunia  II adalah …
    1. Serangan Jepang terhadap pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di Hawai
    2. Serangan Inggeris terhadap Jerman
    3. Adanya politik mencari sekutu
    4. Adanya nafsu saling berebut tanah jajahan
  2. Fasisme Italia dipimpin oleh …

a. Adolf Hit1er           b. Benito Mussolini     c. Rosevelt                              d. Wiston Churcil

  1. Partai yang mengantarka Hitler berkuasa penuh di Jerman adalah ….

a. AVDS                     b. NASA                     c. ZSFD                                  d. NAZI

  1. Jerman menyerbu kota Danziq di Polandia pada tanggal ….

a. 1 September 1939   b. 1 Oktober 1939       c. 1 November 1939                d. 1 Desember 1939

  1. Semboyan fasisme Jepang adalah …

a. Hakoda Nitaga        b. Kordita Naga          c. Dokuritso Cosakai               d. Hakko I-Chiu

  1. Perjanjian Postdam pada tanggal 2 Agustus 1945 yang dihadiri Truman (USA), Stalin (Rusia) dan Churchil (Inggeris) untuk menentukan nasib ….

a. Italia                                    b. Jepang                     c. Jerman                                 d. Austria

  1. Jepang masuk ke Idonesia pertama kali pada bulan …

a. Januari 1942            b. Februari 1942          c. Maret 1942                          d. April 1942

  1. Pada tanggal 2 Maret 1942 tentara Hindia Belanda menyerah pada Jepang. Penyerahan dilakukan di …

a. Bandung                  b. Jakarta                     c. Surabaya                              d. Kalijati, Subang

  1. Semboyan tiga A adalah ….
    1. Nippon Petunjuk Asia, Nippon Pelindung Asia, Nippon Pemimpin Asia.
    2. Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, Nippon Pengayom  Asia.
    3. Nippon Penjaga Asia, Nippon Pelindung Asia, Nippon Pemimpin Asia.
    4. Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, Nippon Pemimpin Asia.
  2. Kerja paksa tanpa upah yang dilakukan penjajah Jepang di Indonesia disebut …

a. Kinrohosi                 b. Rodi                                    c. Romusa                               d. Hiehoda

  1. Meksiko termasuk negara …

a. Maju                        b. Berkembang            c. Mandiri                                d. Terkucil

  1. Mesir terletak di antara ….
    1. 12º LU – 33ºU dan 21ºBT – 37º BT
    2. 32º LU – 38ºU dan 26ºBT – 30º BT
    3. 21º LU – 39ºU dan 20ºBT – 31º BT
    4. 22º LU – 32ºU dan 24ºBT – 38º BT
  2. Yang mengganti bentuk negara Mesir dari semula kerajaan menjadi Republik Arab Mesir adalah …
    1. Jenderal Muhammad Naquib
    2. Jenderal Muhammad Nuh
    3. Jenderal Muhammad Syatho al-Qohiroh
    4. Jenderal Muhammad Syarqawi
  3. Ibu kota China adalah …

a. Hianchu                   b. Hongkong               c. Beijing                                 d. Haiwan

  1. Dua tokoh atau bapak kemerdekaan India adalah …
    1. Sonia Ghandi dan Ratabsing
    2. Mahatma Ghandi dan Pandit Tagore Herli
    3. Mahatma Ghandi dan Pandit Jawaharlal Nehru
    4. Mohammad Ali Jinnah dan Pandit Jawaharlal Nehru
  2. Batas-batas negara Inggeris adalah sebagai berikut ….
    1. Sebelah utara : Samudera Pasifik dan laut Norwegia. Sebelah selatan : Selat Inggeris. Sebelah timur : laut Kuning. Sebelah barat : Samudera Atlantk
    2. Sebelah utara : Samudera Atlantik dan laut Norwegia. Sebelah selatan : Selat Inggeris. Sebelah timur : laut Utara. Sebelah barat : Samudera Atlantk
    3. Sebelah utara : Samudera Hindia dan laut Baltik. Sebelah selatan : Selat Perancis. Sebelah timur : laut Utara. Sebelah barat : Samudera Pasifik
    4. Sebelah utara : Samudera Indonesia dan laut Bering. Sebelah selatan : Selat Inggeris. Sebelah timur : laut Baltik. Sebelah barat : Samudera Atlantk
  3. Negara Inggeris terletak antara ….
    1. 49º LU – 61º LU dan 2º BT – 10º BB.
    2. 40º LU – 60º LU dan 2º BT – 11º BB.
    3. 49º LU – 68º LU dan 0º BT – 16º BB.
    4. 45º LU – 65º LU dan 4º BT – 18º BB.
  4. Segala sesuatu atau benda yang diterima masyarakat sebagai alat pembayaran yang sah dan juga sebagai alat penukar disebut ….

a. Uang                                    b. ATM                                   c. Bank                        d. Pasar

  1. Sebelum uang ditemukan, manusia dalam melakuan pembelian atau penukaran barang menggunakan dengan cara …

a. Pembelian dengan uang      b. Barter                                  c. Alami                       d. Bisnis

  1. Perhatikan tahapan-tahapan Sejarah uang berikut ini :
  1. Tahap sebelum barter              4. Tahap uang logam
  2. Tahap barter                            5. Tahap uang kertas
  3. Tahap uang barang                  6. Tahap uang giral

Saat ini kita masuk pada tahapan yang ke ..

a. 1, 2 dan 4                            b. 2, 3 dan 5                            c. 3, 4 dan 6                d. 4, 5 dan 6

  1. Bank yang dikelola oleh negara adalah …

a. Danamon                             b. BCA                                    c.BNI                          d. BPRS

  1. Uang rupiah dicetak oleh …

a. Perum Peruri                        b. Perum KA                           c. Perumnas                 d. Pelni

  1. Pengertian perubahan sosial yang tepat menurut Max Iver adalah …
    1. Bahwa perubahan sosial berarti perubahan dalam hubungan soaial atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan hubungan sosial
    2. Bahwa hubungan sosial adalah perubahan struktur sosial dalam organisasi sosial sehingga syarat dalam perubahan itu adalah sistem sosial, perubahan hidup dalam nilai sosial, dan budaya masyarakat
    3. Bahwa perubahan sosial adalah suatu variasi cara-cara hidup yang telah diterima.
    4. Bahwa perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi-fungsi masyarakat.
  2. Perubahan kebudayaan meliputi …
    1. Kesenian, bahasa, sistem religi (kepercayaan), sistem ekonomi dan sistem sosial itu sendiri
    2. Keadaan adat istiadat, kepercayaan, dan tingkah laku
    3. Bangsa, Bahasa Dan Agama
    4. Budaya, sistem pergaulan, teknologi dan ilmu pengetahuan.
  3. Berdasarkan kecepatannya, perubahan sosial budaya meliputi …
    1. Perubahan stagnan dan dinamis
    2. Perubahan revolusi dan evolusi
    3. Perubahan terencana dan tidak terencana
    4. Perubahan kompleksitas dan tunggal
  4. Faktor penyebab terjadiya perubahan sosial budaya adalah …

a. Konflik                                b. Perdamaian                                     c. Gencatan senjata     d. Kesejahteraan

  1. Penemuan unsur kebudayaan baru berupa alat-alat atau gagasan yang diciptakan oleh seseorang, namun belum dapat diterima secara luas, disebut …

a. Discovery                            b. Invention                             c. Refloping                d. Besic Nature

 

  1. JAWABLAH PERTANYAAN DI BAWAH INI DENGAN TEPAT!
  1. Sebutkan berikut dengan ibukotanya masing-masing 4 negara maju di dunia!
  2. Apakah yang dimaksud dengan negara maju?
  3. Sebutkan 4 ciri-ciri negara maju!
  4. Sebutkan 4 ciri-ciri negara berkembang!
  5. Apakah yang kamu ketahui tentang negara berkembang? Lalu sebutkan 4 negara berkembang berikut dengan ibukota negaranya!

 

 

Tidak ada istilah tak bisa menjawab bila Anda belajar dengan tekun dan penuh kesabaran

Selamat mengerjakan!

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 9, 2013 in PENDIDIKAN

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.642 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: